
"...." Hestia merasa akan muntah jika pembicaraan ini berlanjut. "Ohya, Pa. Aku membaca laporan di mejaku kemarin. Benarkah Trika Narendra meninggal dunia?"
"Itu benar. Beberapa hari sebelum Luka Narendra kembali dari Jepang tahun kemarin. Ini sudah setahun berlalu, tapi sepertinya mereka membuat tradisi rutin berkabung atau apa pun itu selama beberapa bulan."
"Jadi Al tidak tahu ibunya mati saat berlibur?"
"Kamu mengenal Narendra dengan baik. Lio berkata bahwa kematian itu terencana. Trika sengaja mengirim semua anak dan menantunya pergi agar bisa mati dengan tenang sendirian." Darius berdecak. "Keluarga mereka sedang melemah. Sampai sekarang belum ada pemberitahuan resmi mengenai kematian Trika itu."
"Kurasa sebaiknya Papa tidak bertindak gegabah."
"Hm?"
Hestia tersenyum kecil. "Trika Narendra memang pusat kekuatan Narendra. Tapi Al, Kaisar lalu Killua yang tahun kemarin baru menikah, istri-istri Narendra lainnya, semua tetap monster. Mengguncang mereka tidak bisa hanya karena satu orang mati."
"Menurutmu itu mustahil?"
"Jika itu kematian Lio Narendra, maka kurasa bisa. Tapi jika hanya Trika, dia membesarkan monster di seluruh sudut kastilnya. Lebih baik tetap berteman dengan mereka."
Darius berpikir serius, sementara Hestia hanya termenung.
Inilah alasan kenapa Hestia tidak mau meninggalkan Darius begitu saja.
Asal dirinya tidak berbuat salah, dan tetap memberi saran yang dibutuhkan Darius, maka omongan Hestia akan didengar.
__ADS_1
Jika ia melawan begitu saja, anaknya akan dalam bahaya. Jadi sementara Narendra melindungi mereka, Hestia akan bergerak dalam bayang-bayang Darius.
Memastikan mereka aman adalah satu-satunya yang Hestia mau.
Juga ... memastikan apa sebenarnya yang ia rasakan pada ayahnya sekarang.
...*...
Akademi Asgard adalah sekolah yang dikelola oleh Narendra dan Mahesa Mahardika. Sekolah yang bisa dibilang masih baru, namun membuktikan diri mencetak lulusan terbaik.
Di sekolah ini, nyaris seluruh lulusannya terarahkan, baik mereka yang kuliah bahkan mereka yang memilih tidak meneruskan pendidikan.
Memang sekolah yang sesuai untuk Yujerian dan Yuveria.
Eros tersenyum kecil melihat Yuveria dan Yujerian lagi-lagi tampak normal, memandangi sekitaran mereka dengan mata berbinar asing.
Memang jarang ada izin orang luar masuk ke lingkungan sekolah begitu saja.
"Yuje-nii, are mite!" Yuveria menunjuk semangat ayunan yang berjejer di masing-masing pohon sekitaran padang rumput, wilayah bebas siswa-siswi. "Yuve are yaritai!" [Kakak, lihat itu. Yuve ingin mencoba yang itu.]
Suara Yuveria melengking hingga beberapa orang menoleh. Karena mereka berada di wilayah bebas, kebanyakan yang terlihat justru anak-anak remaja SMP-SMA alih-alih yang seusia mereka.
Eros bergegas mengikuti sewaktu keduanya berlari ke sana, dan Yuveria duduk di ayunan penuh hiasan bunga-bunga natural.
__ADS_1
"Kalian menyukainya?" Eros coba bertanya, meski tidak berharap.
Ternyata Yujerian mengangguk. Hanya sekilas.
Sejenak mereka bersenang-senang dengan seluruh fasilitas menyenangkan yang mereka lihat, baru keduanya ikut memasuki bagian dalam sekolah, menuju gedung di mana keduanya akan menempuh pendidikan awal.
Yuveria agak terlalu bersemangat, menarik tangan Yujerian berlari. Mereka sangat jauh dari Mandala dan Eros sampai Yuveria malah tidak sengaja menabrak orang.
"Gomen." Yuveria langsung membantunya berdiri. [Maaf.]
"Hah? Apa katamu?"
Yujerian menarik Yuveria mundur. "Maaf menabrak kalian."
"Maaf?! Aku jatuh sampai terluka dan kalian minta maaf?!" Lalu mereka melihat penampilan Yujerian dan Yuveria. "Lagipula sejak kapan ada tulisan di sini wilayah bebas orang liar? Jika ingin lari, pergi ke lapangan bola sana!"
Kasihan.
Yujerian menghela napas ketika adiknya menarik kerah baju entah siapa itu, menatapnya lurus-lurus. "Aku sudah bilang maaf padamu. Artinya aku mengakui itu salahku. Tapi di mana aku memijak dan kenapa aku berlari itu urusanku. Mengerti?"
"Lepas!" Anak itu memberontak takut. "Hei! Panggil penjaga!"
"Kamu ingin tahu rasanya ditonjok perempuan, hah?!"
__ADS_1
*