Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
106. Bercerai Saja


__ADS_3

"Terima kasih," gumam dia pada Eros. "Aku benar-benar menahan diri. Jaga dia agar aku tidak kelepasan."


Perempuan itu mundur.


"Ah, benar juga, Pa. Papa dan Mama akan bercerai. Aku tidak bisa percaya kita bersama setelah Mama berbuat ulah. Dia wanita lemah menjengkelkan, jadi setelah dia sadar dan kalian berdua mungkin di kamar, Papa bisa mencekik dia sepuas hati. Lebih baik aku segera mengamankannya. Soal harta, ambil saja. Aku punya v*gina yang bisa kujual demi kekayaan. Sampai jumpa."


Semua runtuh setelah Hestia meruntuhkannya.


Eros memandangi punggung adik iparnya itu, menyadari bahwa dia dan Hestia sungguhan sama.


Mereka telah memendam dendam mereka terlalu lama.


"Ayah."


Darius terhuyung. Bersandar pada tembok, luruh ke lantai.


Sebagai seorang ayah, dia luar biasa tercengang mendengar ucapan kasar putrinya.


Namun mungkin dia mengingat kesalahan yang dia buat, yang membuat putrinya demikian, hingga akhirnya justru Darius menangis.


...*...


"Kurasa Ibu terlambat?"


Laura menampar punggung Rion agar anak itu diam.


Padahal baru saja Laura mau menemui Darius untuk memintanya minta maaf, ternyata mereka semua sudah berada di rumah sakit karena pertengkaran Hestia dan ibu tirinya.


Mereka menguping perkataan Melia. Jelas langsung sadar pembicaraan soal maaf sudah dilakukan.


Di depan mereka, Melia lewat begitu saja.


Rion memandangi punggung perempuan itu. Terdorong untuk mengikutinya, menawarkan bahu atau pelukan, tapi sadar diri bahwa Melia itu benci pria.

__ADS_1


Dia menghina ayahnya terang-terangan, penuh kepuasan.


Jika aku mendekat, yang ada dia menendangku berulang kali.


"Menurut Ibu, ini sudah selesai?"


Laura menghela napas. "Sulit mengakuinya tapi ... jika setelah ini Hestia memutuskan berpisah dengan Eros, Ibu rasa tidak adil jika menghentikannya."


Eros yang malang, pikir Rion diam-diam.


...*...


Malam harinya, Melia duduk di antara ranjang Hestia dan Tamara yang disatukan dalam satu ruangan. Sesekali ia mengecek mana dari mereka akan sadar duluan, sampai melihat kelopak mata Tamara bergerak.


Segera Melia mendekat. Menutup buku bacaannya, lega ketika Tamara sungguhan membuka mata.


Tekanan darahnya melonjak naik hingga Melia takut ibunya tiba-tiba mati.


Tapi setelah itu Melia memeluk ibunya, tak menahan isak tangis.


Jauh di hatinya, ia takut jika harus kehilangan Tamara. Dengan cara apa pun, ia tak ingin. Karena hanya Tamara yang ia punya saat Hestia pergi.


Bahkan jika Tamara tak menolongnya dari Darius, Tamara tetap memeluknya ketika mereka berdua.


"Maaf." Melia berbisik. "Maaf menempatkan Mama dalam posisi sulit."


Tamara membalas pelukannya lemah. "Mama yang minta maaf tidak melindungimu."


Dengan tegas Melia menggeleng. "Aku lebih kuat dari Mama. Akulah yang seharusnya melindungi."


Air mata Melia menggenang deras ketika Tamara menangis terisak-isak.


"Maafkan Mama hanya diam," ucapnya tak kuasa. "Maafkan Mama melindungi diri sendiri. Seharusnya Mama menerima pukulan jika itu untuk membelamu. Maaf."

__ADS_1


Tidak.


Setelah dipikir-pikir, Melia lebih tidak senang jika harus melihat Tamara dipukuli. Buarlah ia yang gila. Sudah ia bilang, kan? Melia lebih kuat dari Tamara.


Itu keyakinannya.


"Hestia?"


Melia membantu ibunya duduk. Sekaligus melihat Hestia masih terbaring lemah.


"Itu hanya obat penenang. Stresnya melonjak terlalu tinggi, jadi dokter memberinya suntikan."


Tamara diam.


"Lukanya tidak dalam." Melia paham ibunya mulai menyesali.


Untuk ketiga kali ia bilang, Melia lebih kuat dari Tamara. Jadi Tamara itu lemah. Tidak seperti Melia yang bisa memukuli Hestia tanpa penyesalan, Tamara hanya berani saat dia terbawa emosi.


"Jika Mama menyesal, sebelum melakukan sesuatu katakan padaku dulu."


Tamara menunduk murung. "Papamu akan membunuh Mama."


Namun Melia cuek saja. "Mama bercerai saja."


"Apa?!"


"Aku tidak tahu Mama mencintai Papa atau tidak, tapi aku tidak akan membiarkan kalian kembali. Mau dia bersujud minta maaf dan berubah, dia itu pelaku yang memukuli aku dan Hestia. Lebih baik Mama tidur dengan gigolo tiap malam."


"Melia, mulutmu jadi sangat kasar."


"Aku sedang kesal." Melia beranjak. "Tidurlah lagi, Ma. Akan kupanggil dokter."


...*...

__ADS_1


__ADS_2