
"Hah!"
Semua orang langsung tepar, termasuk Yujerian ketika komputer menunjukkan kata 'you win!' setelah pertarungan panjang itu.
Ketika melirik jam, kira-kira nyaris dua jam ia bermain dengan lawan terakhir, mendekati batas waktunya.
Yujerian tahu bahwa di langkah terakhir pria itu mengendurkan sikapnya. Dia seolah memutuskan untuk kalah meski Yujerian percaya diri bisa menang sekalipun dia melawan.
Sekarang sudah memasuki pukul sembilan malam, padahal mereka memulainya di siang hari.
Hari yang panjang memang.
Yujerian tidur bersandar pada kursi, dan yang lain tidur tak tentu arah setelah merasa lega. Cukup lama mereka tidur, sampai Yujerian tak sadar bahwa ibunya datang menjemput karena khawatir.
Melihat sang anak malah tidur di kursi sambil adiknya tidur di paha dia, bersama sekumpulan anak remaja yang entah habis melakukan apa, Hestia cuma bisa menepuk dahi.
Bocahnya selalu saja ajaib.
"Biarkan saja. Toh, mereka juga tidur bersama-sama di sana. Tadi aku dengar mereka berteriak-teriak. Mungkin bermain game." Ibunya Shin menenangkan.
Walau Hestia tidak khawatir dalam arti buruk. "Osewaninarimashita, Ane-san. Besok akan kubawakan sarapan sebagai ucapan terima kasih." [Maaf merepotkan, Kakak.]
"Baiklah, baiklah." Wanita itu menepuk-nepuk bahu Hestia ramah. "Ayo. Biarkan saja anak-anak dengan dunia mereka. Ayo. Minum denganku sebentar sebelum kembali."
"Yare yare." [Haduh.]
__ADS_1
Sok mengeluh, Hestia tampak terpaksa. Tapi waktu sake disajikan, tanpa ragu ia menenggaknya hingga memerah mabuk.
"Ane-san, aku benar-benar khawatir pada dua anakku itu. Mereka tidak pernah merengek! Aku sangat iri pada ibunya Hinatsuru yang selalu mengeluh mengatakan putrinya cemburu pada adik bayinya! Kenapa anakku tidak begitu?!" racau Hestia tak karuan.
"Aku yang iri pada otakmu. Mereka berdua anak yang menggemaskan."
"Hic." Hestia cengukan meski masih menambah porsi sakenya. "Kalau itu benar. Bayiku yang paling menggemaskan!"
Wanita yang dekat dengannya karena anak mereka dekat itu menopang dagu. Minum lebih tenang dari Hestia meski mukanya juga sudah memerah.
"Hestia-san."
"Hm?"
"Kamu belum berpikir menikah sampai sekarang?"
"Aku hanya khawatir pada mereka berdua. Aku sempat mendengar pembicaraan Shinichi dan Yuuki. Dia berbicara sesuatu tentang ayahnya."
Jelas, Hestia langsung duduk tegak. Padahal selama ini keduanya sedikitpun tidak pernah menyinggung.
"Apa yang mereka bicarakan?"
Mikoto menghela napas agak lemas. "Entahlah. Suara mereka samar. Namun yang kudengar, Shin bertanya pada Yuuki apa dia mau mencari ayahnya. Lalu saat aku bertanya pada Shin, dia hanya bilang bahwa Yuuki tidak benar-benar ingin bertemu ayahnya."
Sesuatu menusuk Hestia samar-samar.
__ADS_1
Selama ini ia berpikir bahwa pria itu, Eros Prajapati sedikitpun bukan bagian dari hidupnya.
Setelah mengalami semua hal 'menyenangkan' dengan Darius, rasanya laki-laki bagi Hestia cuma sebatas hiasan bumi. Biar bumi tidak datar-datar amat.
Namun ... kalau dipikir lagi, bocahnya yang paling mandiri justru laki-laki. Jelas Hestia tak membenci dia. Hanya saja, mungkinkah ia agak egois pada mereka?
"Hestia-san, apa pria itu melukaimu? Benar dia tidak ingin bertanggung jawab atas bayimu?"
Hestia menyesap minuman dengan lebih tenang. "Tidak, Ane-san. Sejujurnya aku yang meninggalkan dia. Walaupun aku tidak merasa meninggalkan juga karena ... yah, kamu tahu, hanya sekilas."
"Dia pria malam?"
"Lebih tepatnya orang dari lingkaran bisnis." Meski dalam arti negatif alias musuh. "Aku pun tidak menduga akan hamil. Aku pergi mendadak dan mengalami banyak hal, intinya."
Mikoto memandanginya. "Kamu tahu? Kamu dan anakmu memiliki kebiasaan yang sama."
"Hm?"
"Kalian tidak suka jujur jika tahu itu menyakitkan."
Hestia tertohok, lebih dalam. "Ane-san, aku tidak—"
"Setiap anak pasti ingin orang tuanya lengkap. Kamu merasa hidupmu lengkap, tapi kedua anakmu mungkin saja tidak. Aku tahu Yuui sangat membenci Hinatsuru. Bukankah itu sudah jelas karena iri?"
Hestia diam. Merenunginya dalam kepala.
__ADS_1
...*...