
"Mau sampai kapan kamu diam membiarkan dia? Kamu ingin melihat dia bahagia begitu saja?"
Melia tidak membuat banyak suara, hanya diam menikmati makan malamnya.
"Melia, Mama tidak bisa hidup tenang jika Hestia benar-benar pergi begitu saja!"
"Apa aku terlihat akan membiarkan dia pergi begitu saja?" Melia membalas ibunya kesal, tapi sejurus kemudian diam.
Terburu-buru melakukan sesuatu itu sangat menyebalkan.
Melia paham perasaan tak sabaran ibunya. Hestia terlihat akan menjemput kebahagiaan menikahi pewaris kekayaan Prajapati berdarah Kaukasia itu.
Tapi tidak berarti ketika dia menikah maka dia akan bahagia, happily ever after lalu Melia menderita sendirian.
Hestia adalah Hestia. Selama dia Hestia, Melia punya seribu satu cara menyiksa batinnya. Tamara mana paham. Yang dia lihat hanya Hestia memakai gaun pengantin dua hari lagi, lalu selesai.
Dia tak bisa melihat kegelisahan Hestia pada Darius.
Dia tak bisa melihat perasaan tercekik Hestia.
Hestia mencari apa yang Melia cari. Dan Hestia tidak mendapatkan apa yang tidak Melia dapatkan.
Apa Tamara pikir itu kebahagiaan?
Ya, menikah dan nikmati malam pertamamu bersama belatung.
__ADS_1
Melia membayangkan sekumpulan belatung menggeliat di piringnya sekarang, di mana ia yakin rasa jijiknya akan sama seperti Hestia jijik nanti.
...*...
"Yuui, Yuuki." Hestia mengisyaratkan kedua anaknya datang sebelum mereka akan berpisah selama dua hari.
Karena yang publik tahu keduanya hanya anak Eros, Hestia tidak bisa membawa mereka bersamanya namun harus bersama Eros.
"Kalian sudah mengerti, kan?" Hestia membelai wajah keduanya. "Di depan umum, kalian tidak mengenali Mama. Kalian bisa menahan diri setidaknya sampai Oba membawa kalian pada Mama, kan?"
Keduanya diam saja.
"Yuui-san, Yuuki-san, henji wa?" [Jawaban kalian?]
"Hai," jawab keduanya lesu. [Baik.]
"Tidak apa-apa." Hestia memeluk mereka berdua kuat-kuat. "Mama sangat-sangat-sangat menyayangi kalian. Jika orang mengira kalian bukan anak Mama pun tidak masalah. Bukankah yang paling penting adalah kalian yang tahu siapa Mama?"
Tapi mereka ingin ibu mereka juga dipuji, bukan hanya sebatas ibu tiri.
Meski begitu, demi Hestia, mereka diam. Memeluknya puas-puas sebelum patuh mengikuti Mandala.
Dalam dua hari kedepan, mereka akan menginap di kediaman Eros. Yang menemani mereka hanya Rion dan Astria, karena Laura, Panji juga Eros sedang sibuk mempersiapkan pernikahan.
"Gaki." [Bocah.]
__ADS_1
Rion menepuk kepala Yujerian ketika kini mereka bersantai di halaman rumah, bermain catur sementara Yuveria memeluk kucing peliharaan barunya.
"Ureshikunai no?" [Kamu tidak senang?]
Yujerian lesu melangkahkan buah caturnya. "Aku tidak tahu bagaimana cara membuat Haha-ue bahagia," jawabnya dengan bahasa Jepang, agar Astria tak paham.
"Aku sudah bilang padamu, Bocah, kakakku mungkin akan mempersembahkan semua egonya untuk Hestia jadi dia pasti tidak akan menyakitinya." Rion pun membalas dengan bahasa Jepang, mengikuti alasan Yujerian.
Astria sangat cerewet, jadi keduanya mau mengobrol santai saja, tanpa harus ditimpali oleh banyak ocehan.
"Bagaimana jika Haha-ue tetap tidak bahagia?"
"Yujerian." Rion menghela napas samar. "Jika orang dewasa melakukan sesuatu yang 'tidak disukai', artinya dia masih melihat ada peluang."
"...."
"Artinya, walaupun sekarang ibumu mungkin tidak terlalu bahagia, masih ada kesempatan untuk dia bahagia. Kalau ibumu tahu dia tidak akan pernah bisa bahagia dengan ayahmu, dari awal dia tidak menerimanya. Mengerti?"
Yujerian tidak mengerti apakah benar atau tidak.
Tapi ketika ia berada di samping Laura dan Astria, menyaksikan prosesi pernikahan ibu dan ayahnya, Yujerian berharap dia benar.
Tangannya menggenggam kuat tangan Yuveria, rasanya ingin menangis melihat Hestia pura-pura tersenyum di depan para tamu.
Pria itu, awas saja kalau dia tidak membuat Hestia bahagia.
__ADS_1
Yujerian akan menyuruh Yuveria memukulinya dengan batu.
...*...