
Eros tidak tahu bahwa memikirkan rencana akur dengan anak jauh lebih sulit daripada memikirkan perusahaan dan penurunan harga saham.
Memaksa bagaimana? Merayu dengan suara bagaimana?
Bicara sih mudah. Lakukan begini, lakukan begitu, tapi pada akhirnya mereka berdua anak keras kepala yang cuma menyukai ibu mereka.
Harus seperti apa dirinya membuat mereka lebih terbuka?
Ketika pikiran Eros dipenuhi pertanyaan sementara matanya memandangi komputer berisi pekerjaannya, tiba-tiba pintu kamar diketuk.
Norman muncul tapi tak masuk.
"Bos, kurasa kamu harus mendengarnya."
"Apa?" balas Eros tak berminat. Kepalanya sedang sibuk berpikir sekarang.
"Putrimu."
Mendengar nama itu, Eros beranjak tergesa-gesa. Berpikir Yuveria lagi-lagi bertindak gila entah itu berteriak-teriak memaki Eros dengan bahasa Jepang-nya yang kental atau mungkin mengamuk karena bosan.
Ternyata bukan.
Sebelum Eros sampai ke tempat yang Norman maksudkan, terdengar suara merdu nyanyian bernada tinggi hingga bulu kuduk Eros meremang.
"But you can turn it around just reach for me yeah~ You know that I will always be there~ My love will set you free oooow~"
Astaga. Itu suara Yuveria?
__ADS_1
Dia tidak menyanyi seperti itu saat di Jepang. Meski Eros sudah tahu suaranya bagus, kali ini terdengar sangat mengagumkan sampai ia tercengang. Nada setinggi itu bisa dia ambil tanpa tersekat?
Eros mengintip. Melihat Yujerian memainkan piano yang ia tak tahu ternyata ada di rumah ini sementara adiknya berdiri, memejam menghayati lagu itu.
"Yuje-nii, bagaimana? Yuve melakukannya dengan baik?"
Yujerian mengelus kepala adiknya penuh perhatian. "Kamu menguasainya lebih baik dari perkiraanku. Tapi bagian tingginya, kurasa kamu masih menahan suaramu."
Suara setinggi itu masih belum maksimal?
"Benarkah? Yuve akan melakukannya lebih baik!"
Eros mau tidak mau tersenyum. Terlepas dari apa pun, mereka berdua benar-benar saling memiliki. Yujerian memenuhi peran sebagai seorang kakak yang baik dan Yuveria menjadi adik yang terbiasa mematuhi kakaknya.
"Kamu tidak ingin ke sana?"
"Ayolah." Norman menyerahkan piring macaron yang entah sejak kapan ada di tangannya. "Pergi dan rayu mereka. Tidak ada gunanya terlalu banyak berpikir. Lakukan saja dulu."
Meski sempat diam, Eros menerima.
Memang ia mau mendekat, dan mungkin memang tidak salah juga.
Ketika ia datang, kedua anaknya langsung menoleh. Ekspresi mereka yang sempat lepas jadi terkunci lagi, sampai Eros sudah pundung duluan jika tak ingat pesan Hestia.
Mereka mau dipaksa.
"Kalian sedang latihan?"
__ADS_1
Yuveria membuang muka. "Yuje-nii, ayo pergi. Yuve ingin mandi."
Sepertinya gen Hestia dan Eros menciptakan manusia dingin berhati baja macam ini.
Dia bahkan tidak berpikir melihat macaronnya.
Tapi Eros tidak mau ditinggal begitu saja. Jadi ia menahan tangan Yuveria yang seketika menegang.
"Suaramu bagus." Eros tidak pernah memuji kecuali kinerja karyawan dan keharusan sopan santun yang basi. Agak canggung mengucapkannya. "Bisakah sa—Ayah mendengarnya lagi?"
Wajah dia langsung memerah.
Eros tersentak ketika tiba-tiba Yuveria menarik paksa tangannya, berlari menjauh sambil meneriakkan umpatan 'aku tidak mau melihatmu lagi, dasar orang tua mesum!'.
Tunggu. Maksudnya ia salah lagi?
"Yujerian."
"Aku juga tidak mau bicara padamu." Anak itu mengambil piring macaron di tangan Eros, lalu pergi menyusul adiknya yang sudah menghilang bersama Mandala.
Ya Tuhan. Eros memijat pelipisnya saking pening dibuat.
Bukankah mereka agak terlalu dingin? Masa dipuji dia malah lari?
Ibu dan anak sama saja, Eros mendumel.
...*...
__ADS_1