
Hestia mau tak mau tertawa. "Tidak masalah. Jika saya di posisi kamu, saya pun akan langsung memikirkan hal itu. Terima kasih sudah jujur."
"Tapi, Nona, saya tidak ingin melangsungkan pernikahan berlandaskan hubungan kerja sama dingin. Bagaimanapun, saya dan Nona akan terlibat dalam banyak urusan pribadi kita berdua. Karena itu, jika tidak keberatan, bisakah saya mendekati Nona mulai sekarang?"
Hestia harus terus tersenyum formal. "Tentu. Saya akan menerima kebaikan hati kamu kapan saja."
Setelah pria itu menghilang, Hestia hanya bisa mengacak poninya. Menghela napas dingin sambil memikirkan mana yang paling menguntungnya baginya.
Haruskah ia menikah agar punya kekuatan lebih besar? Atau haruskah ia membatalkan ini meski harus melukai Yohannes?
Tapi dia Gouw. Power keluarganya juga tidak main-main.
Hestia menyandarkan punggungnya pada pintu kamar yang sunyi. Mendongak menatap lampu temaram, mendadak rindu pada kehangatan anak-anaknya.
Mama akan berusaha. Hestia memeluk dirinya sendiri. Mama akan berusaha sampai kalian tidak merasakan penderitaan Mama.
...*...
Esok harinya, Yujerian dan Yuveria turun dalam perasaan canggung. Mereka sudah terlanjur membuka tabir di antara mereka dan Eros, jadi mau tidak mau keduanya harus berhenti bersikap dingin.
Apalagi tatapan Eros pagi ini seperti berharap kemarin bukan mimpi.
"Chichi." Yuveria melakukan tugasnya dengan baik.
__ADS_1
Hanya perlu kata itu, Eros langsung bergerak mengangkatnya ke kursi. "Apa hari ini kalian ingin keluar? Ada tempat yang ingin kalian kunjungi?"
Yujerian langsung memikirkan satu hal. "Kami ingin menemui Haha-ue."
"Hestia akan datang menemui kalian. Untuk sementara, sulit menemui dia. Dia bekerja."
Lirikan mata Yujerian menjadi kode Yuveria bergerak lagi. "Kalau begitu, kami ingin bertemu keluarga Chichi."
Tentu saja Eros terkejut. Selama ini kedua anaknya sedikitpun tidak mau tahu mengenai Eros, jadi ketika mendadak mereka meminta dipertemukan, Eros jelas tidak menyangka.
Aku belum menjelaskan pada mereka apa-apa. Eros mengalihkan mata sejenak.
Meski ketika melihat mata Yuveria lalu memikirkan mereka akan kecewa dan bersikap dingin lagi, Eros langsung berkata, "Tentu saja."
Mungkin.
Ya, pasti.
Sementara Yujerian dan Yuveria langsung ber-high five riang.
Mereka berganti baju dibantu oleh pelayan. Keduanya sengaja meminta agar mereka memakai yukata, lengkap bersama sandal tradisonal Jepang yang berbunyi khas saat mereka berjalan.
Waktu melihat mereka berpenampilan aneh meski lucu itu, Eros bertanya. "Kenapa yukata?"
__ADS_1
"Kami memakai yukata saat ingin bertemu orang penting." Keduanya menjawab.
"Keluarga sa—Ayah bukan kolega bisnis sampai harus memakai seragam." Tapi Eros langsung menggendong Yuveria. Sementara Yujerian berada di gendongan Mandala.
Ada sebuah helikopter di halaman, membuat keduanya membelalak kagum. Apalagi mereka digendong untuk naik ke sana yang berarti mereka akan berkendara menggunakan heli.
"Chichi, kenapa tidak menggunakan mobil?"
"Ini masih terlalu pagi, jadi jalanan akan macet. Apalagi, akan lebih aman memakai heli."
Yujerian mengintip dari jendela helikopter ketika kendaraan itu mulai lepas landas. Keramaian asing memang terlihat di bawah sana. Seperti sekumpulan semut berkerumun, melewati jalan-jalan melingkar yang rumit.
Keduanya tak sampai harus mabuk agar sampai ke kediaman utama Prajapati. Mereka digendong turun, tapi keduanya minta agar berjalan saja.
"Besar sekali." Yuveria mendongak sampai mungkin lehernya sakit. "Apa keluarga Chichi berjumlah ratusan orang?"
Memang sepertinya rumah ini bisa ditinggali seratus orang. Yujerian menarik Yuveria untuk berjalan, menyusuri jalan setapak di antara taman menuju pintu utama yang nampak jelas di sana.
Keduanya baru akan naik ketika pintu dibuka lebar, memunculkan sejumlah orang menyambut mereka.
"Eros!"
...*...
__ADS_1