Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
31. Merindukan Tempat Jauh


__ADS_3

Untuk sejenak Norman tersentak. Anak di depannya bertingkah sangat dewasa dan berpikir luas, jadi tak ia sangka dia akan emosional membalas seolah-olah dia sudah sangat marah.


Tapi Norman kembali menguasai diri, paham bahwa anak ini hanya tidak mau didekati sebab takut ekspektasinya tidak sesuai kenyataan.


"Apa ibumu berkata bahwa dia membenci ayahmu?"


"Tidak. Ibu tidak perlu mengatakannya untuk aku membenci dia."


"Kalau begitu jawab aku, Bocah." Norman mengetuk-ngetuk dada Yujerian. "Apa di sini tidak merindukan sebuah tempat yang tidak pernah dia lihat?"


Tubuh Yujerian membeku.


...*...


Laut adalah tempat yang misterius. Sejauh mata memandang rasanya tidak ada ujung, tapi jika diseberangi dengan kapal, entah kenapa kalian bisa sampai ke sebuah pulau yang berbeda dengan manusia dan kehidupan yang berbeda pula.


Yujerian sering merasa bahwa ia tidak berada di tempat seharusnya ia berada.


Tapi setiap kali berpikir begitu, ia ketakutan. Rasanya seperti ia mengkhianati ibu dan adiknya sendiri, karena berpikir untuk meninggalkan tempat damai mereka ini.


Tidak apa kalau tempat ini membosankan. Tidak apa kalau tempat ini tidak seru dan tidak menyenangkan.


Tidak apa kalau segalanya begitu stagnan.


Jika itu yang Hestia suka dan Yuveria nikmati, maka Yujerian bisa tersenyum karena senyum mereka.


Namun ... jantungnya lagi-lagi linu oleh perkataan pria ini.

__ADS_1


"Anak kecil, ada sesuatu yang disebut takdir. Aku sudah hidup bertahun-tahun dan aku tahu sesuatu yang tidak direncanakan bisa saja tiba-tiba terjadi. Entah lewat cara apa pun."


"...."


"Menurutmu mengapa tiba-tiba kami tahu kalian bersembunyi di sini?" tanya pria itu lagi.


"Temanku yang mengirimnya."


"Lalu mengapa temanmu mengirimnya?"


Yujerian tidak bisa menjawab.


"Sesuatu digerakkan karena alasan dan kadang-kadang alasan yang sulit dijabarkan saking sederhananya. Temanmu itu orang yang menghubungkan kami denganmu. Bahkan kalau ibumu bersembunyi dan kamu takut menemui ayahmu, bukankah pada akhirnya kalian bertemu? Dan hatimu diam-diam tahu kamu berharap."


"...."


Yujerian diam, tapi tidak berkata tidak mau.


...*...


"Apa drone sudah diturunkan?"


"Sudah, Tuan."


"Cari ke titik di mana sinyal Norman berada. Mulai pencarian dari sana."


Eros duduk di depan sejumlah layar, menampilkan total enam kamera dari enam drone yang ia turunkan ke pulau itu. Salju membuat kamera sedikit buram, tapi cukup untuk digunakan melihat jika dari jarak dekat.

__ADS_1


Drone terbang ke arah sinyal Norman berkedip-kedip, lalu perlahan-lahan turun agar bisa melihat lebih jelas.


Jelas tidak akan mudah menemukan dia ada di mana, karena drone terbang sangat perlahan menyisiri sekitaran.


"Nan-ya are?!" [Apa itu?]


Terdengar suara teriakan anak kecil melihat drone mereka. Eros mendengar suara-suara bising dengan bahasa Jepang aneh yang ia nyaris tidak bisa mengerti.


Apa Hestia benar-benar tinggal di tempat yang bahasanya aneh begitu?


"Itu drone!" Suara laki-laki lebih besar terdengar. "Yuuki, jatuhkan itu!"


"Biar Yuve saja!"


Eros berdecak dan meminta mereka segera menjauh. Tapi tiba-tiba kamera terguncang bersamaan dengan pemberitahuan drone mereka dijatuhkan.


Drone lain yang terdengar bergegas terbang ke dekat lokasi untuk melihatnya lebih jelas.


"Ada kamera." Drone itu diangkat ke udara hingga terlihat jelas wajah seorang gadis bermata bulat.


Untuk sedetik, Eros mematung.


Matanya pasti perlu diperiksa, jika saja mendadak ia sakit mata sampai melihat anak itu memakai setelan wajahnya.


Namun itu nampaknya sungguhan karena beberapa orang di belakang mereka terkesiap juga.


...*...

__ADS_1


__ADS_2