Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
47. Satu Kesempatan


__ADS_3

Yujerian sekarang menyesal. Harusnya sejak awal ia minta mereka pindah agar pria ini kesulitan mencari mereka. Harusnya sejak awal ia bilang saja pada Hestia bahwa orang ini akan datang bahkan kalau ibunya heran.


Hestia percaya padanya. Hestia menganggap ucapannya penting dan bermakna. Tidak mungkin Hestia mengabaikannya. Tapi Yujerian diam karena ia pikir ada sesuatu yang harus diselesaikan dengan pria ini!


Ternyata cuma dadanya yang nyeri dan omong kosongnya bertambah.


Yujerian berbalik begitu saja. "Shine, kuzu ga." [Matilah, dasar sampah.]


"Tidak bisakah kamu mendengar saya sebentar?"


"Adikku akan marah jika mendengarmu jadi pergi dari pulau ini! Pulang saja ke rumahmu dan hidup seolah tidak tahu ada kami!"


"Yujerian—"


"Ja nani ga iitai?!" [Lalu apa yang ingin kamu katakan?!]


Kehilangan ketenangan dalam jiwa kecilnya, Yujerian berbalik. Tak bisa lagi menahan sesak yang mencekik ini meski sekarang wajahnya terlihat menyedihkan.


"Kamu ingin aku memaafkanmu dan berkata 'ternyata begitu jadi baiklah yasudah'?! Kamu tahu apa yang kualami sendirian?! Adikku setiap saat merindukanmu, orang bodoh sialan yang hanya mengemis maaf tidak berguna! Ibuku terluka! Ibuku harus minum obat sialan ini dan sekarang sudah tidak berguna sampai rasanya aku lebih suka mati!"


Eros tertegun.


Bukan omongan Yujerian yang membuat ia tak mampu bergerak. Namun bagaimana anak itu melempar kantong obat di tangannya, berlutut sesak napas.

__ADS_1


Ketika jantungnya seperti tertarik turun, Eros beranjak meraih anak itu. Panik menemukan dia sesak napas sungguhan dengan kejang.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Eros tahu ia bisa mati memikirkan seseorang terluka.


*


Hestia berlari kencang membelah jalanan basah penuh salju, sedangkan Yuveria menangis di belakang sana, digendong oleh Shin.


Seumur-umur ia membiarkan anaknya pergi sendiri, tidak pernah sekalipun ia mendapat telepon bahwa mereka terluka sampai dilarikan ke rumah sakit.


Anaknya cuma sering terluka karena jatuh, lalu lututnya lecet dan dia sudah mengobati dirinya sendiri.


Anak itu selalu minta maaf karena membuat khawatir sampai rasanya Hestia malah khawatir karena dia tidak pernah membuat khawatir.


"Yujerian!"


Hestia yang tidak pernah menangis di depan siapa pun meremas tangan kecil itu dan terisak. Suara tangisannya nyaris tak terdengar namun nampak begitu pilu hingga Eros menelan ludah tak nyaman.


"Daijoubu dayou." Suster menepuk pundaknya dari belakang. "Shimpai shinakute. Yuuki hanya kelelahan. Jangan menangis di depannya begitu. Yuuki tidak akan senang, bukan?" [Semua baik-baik saja. Tidak perlu merasa khawatir.]


"Nii!" Yuveria mencengkeram pinggiran besi sambil berusaha melihat ke atas ranjang yang terlalu tinggi baginya. "Yuje-nii! Harusnya Yuve menemani Nii! Harusnya Yuve bersama Nii! Maafkan Yuve, hiks."


Lalu bocah itu menatap Eros penuh kemurkaan.

__ADS_1


"Kamu melukai Nii!"


"Yuve—"


"Orang palsu! Aku tidak mengakui orang palsu jahat sepertimu sebagai ayah! Pergi dari sini! Nii terluka karena kamu! Karena kamu! Kamu yang salah!"


Eros mengunci mulutnya.


Ia orang dewasa, jadi ia tahu itu hanya ucapan tak mengerti dari anak kecil.


Tapi melihat bagaimana kedua anaknya salah paham begitu berat sampai mereka berpikir keberadaan Eros melukai, rasanya jantung Eros tertusuk.


Setelah menarik napas, Eros berjongkok. Menatap wajah pucat putrinya yang menggigil ketakutan.


Bagi mereka, Eros selalu jadi orang asing dan melukai mereka. Jadi ia tak marah kalau mereka kecewa.


"Saya memang bersalah atas kalian." Eros mengucapkannya dengan bahasa Indonesia, agar cuma mereka yang mengerti. "Saya berbuat salah karena tidak tahu. Saya seharusnya tahu bahkan kalau saya tidak tahu."


"Urusai!!" [Berisik!]


"Karena itu saya datang bahkan kalau kamu memukul dan menghina saya." Eros mengulurkan tangan, namun ditepis sangat keras ketika Yuveria menangis terisak-isak. "Yuveria, beri saya kesempatan satu kali. Hanya satu kali saja untuk membuktikan bahwa saya menyayangi kalian."


Yuveria masih menyumpahinya.

__ADS_1


"Jika setelah itu saya ternyata masih melukai kalian dengan kehadiran saya, ibumu tahu tempat di mana saya tidak menemukan kalian."


...*...


__ADS_2