Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
52. Tidak Ada Yang Berubah


__ADS_3

Yujerian dan Yuveria terbaring lemas di atas tempat tidur setelah mandi. Mereka berdua kelelahan lepas berkeliling di sekitaran rumah, melihat banyak hal-hal tidak biasa bertebaran.


Mereka mencoba berbagai hal sampai rasanya tak lagi bisa melakukan apa pun selain berbaring ngantuk.


"Nii." Yuveria melirih di antara kedua matanya yang lowbatt. "Haha-ue pergi ke mana?"


Tentu saja keduanya bukan tidak memikirkan itu.


Entah pergi ke mana Hestia dan sedang apa dia, tapi pasti urusannya sangat penting sampai-sampai meninggalkan mereka berdua di rumah ini hanya bersama Mandala.


Eros? Tidak tahu. Mungkin dia pulang atau menginap karena keduanya langsung pergi mandi begitu kembali.


"Haha-ue tidak merasa ditinggalkan kan karena kita hanya bersenang-senang berdua?"


Yujerian mengusap kepala adiknya dan memejam. "Tentu saja tidak. Haha-ue mungkin akan bersemangat mendengar cerita kita nanti. Besok Haha-ue pasti sudah kembali."


"Besok kita akan ke mana lagi, Nii?"


"Haha-ue bilang kita akan melihat sekolah baru. Mungkin besok kita akan berangkat ke sana."


Yuveria menyengir. "Tanoshimi." [Tidak sabar.]


...*...


"Untuk apa kamu kembali?"


Hestia mengerjap kaget ketika ibu tirinya menatap penuh kebencian. Ia tak ingat hubungannya dengan wanita ini baik atau buruk, tapi setahu Hestia, dia bukan wanita yang akan menatap seperti ini terang-terangan.


"Aku—"


"Setelah kabur dan membuat semua orang mencarimu, kamu berpikir untuk kembali lalu semuanya baik-baik saja?"


Mulut Hestia kelu.

__ADS_1


"Apa pernah sekali kamu berpikir sesuatu mungkin terjadi karena kamu pergi? Kamu pernah menanyakan apa yang kamu tinggalkan di sini? Kamu pikir kami menunggumu kembali?"


Hestia terdiam murung.


Sejujurnya ia tidak berpikir ditunggu. Ia kembali hanya untuk menemui Darius, bukan bermaksud yang lain.


Tapi ketika ia masuk ke lingkungan ini lagi, memang Hestia mendadak tersadar bahwa ada beban yang ia tinggalkan tanpa sengaja.


"Atau apa? Kamu sudah lelah hidup tanpa keluargamu jadi kamu kembali untuk bermain-main lagi di sini?"


"Ibu, aku tidak—"


"Melia tersiksa untuk kamu!"


Hestia tersentak. "Melia?"


Wanita itu menatapnya geram dengan kesan dia bisa memuntahkan seluruh organnya hanya dari menatap Hestia.


"Ibu—"


Belum sempat Hestia bicara, wanita itu beranjak pergi. Membanting pintu kamarnya sangat keras sebelum menyisakan sunyi.


Hestia menelan ludah gamang. Duduk di tempat tidurnya, memikirkan berbagai hal di kepala.


Jadi Darius tetap melakukan itu? Setelah dirinya, dia melakukan pada Melia agar anaknya sempurna?


Tapi tadi, pelukan dan mata itu tidak palsu. Dia benar-benar merindukan Hestia sebagai anaknya. Lalu kenapa dia tetap melakukannya pada orang lain?


...*...


Hestia beranjak dari tempat tidurnya. Bergegas menuju kamar Melia yang ia tahu cukup dekat untuk dicapai.


Karena pintu tidak terkunci, Hestia langsung membukanya.

__ADS_1


Tapi dibuat membatu oleh pemandangan Melia terikat di tempat tidur, dan seorang pria baru saja menampari wajahnya.


"Melia!"


Adiknya hanya berekspresi datar. Pipinya memerah saga dan sedikitpun dia tak meringis atau menangis.


"Aku sedang menahan diri dari membunuhmu, Kakak." Melia menjatuhkan kepalanya ke belakang. "Pergilah agar aku tenang."


"Jangan gila! Hentikan sekarang! Kamu, keluar dari sini!"


"Jangan gila? Aku memang gila. Siapa yang tidak gila di antara kita?"


Melia terkekeh dan pria itu tak sedikitpun beranjak darinya.


"Kesenangan apa yang kamu nikmati di sana? Wajahmu terlihat semakin cantik kulihat. Kulitmu jadi putih dan mulus. Astaga, bahagianya hidup kakakku yang meninggalkan tanggung jawabnya karena bosan."


"Melia—"


"Berhenti memperdengarkan suaramu yang menjijikan!" Perempuan itu tiba-tiba berteriak. "Lalu apa sekarang?! Kamu ingin berkata kamu tidak sengaja?! Aku menggantikan tempatmu bertahun-tahun! Bertahun-tahun! Aku mengalami penyiksaan dua kali lipat darimu karena aku bukan kamu dan dia terus menyebut kamu! Aku harus jadi kamu, hah?! Harus jadi pengecut yang lari begitu saja?!"


Hestia mengetatkan rahangnya. "Aku mengalaminya lebih lama."


"LALU KAMU INGIN BILANG KAMU SUDAH TERLALU LAMA JADI SEKARANG GILIRANKU?!"


"AKU JUGA LELAH!"


"LALU AKU TIDAK?!"


Seketika itu, Hestia menyadarinya.


Pada akhirnya tidak ada yang berubah.


*

__ADS_1


__ADS_2