
Hestia memeluk dirinya sendiri ketika menyaksikan salju telah meleleh. Musim semi telah tiba dan seminggu lagi dirinya akan pergi—atau bisa dibilang kembali.
Diam-diam ia berharap waktu sedikit berjalan lebih lambat.
Hestia bukan orang jujur. Ia pembohong bahkan pada dirinya sendiri. Tidak. Hestia tidak akan pernah berkata dirinya terluka pada diri sendiri bahkan kalau ia tahu ia terluka.
Karena ia takut itu melemahkannya.
Jadi sekarang Hestia tak tahu harus mengatakan apa pada dirinya sendiri.
Haruskah bilang, aku takut bertemu Darius.
Atau mungkin, aku merindukan dan berharap dia bersedih karena aku menghilang.
Atau haruskah, semoga dia mati.
Ia tak tahu mana perasaannya yang asli.
"Haha-ue!"
Dan mungkin sebaiknya ia tidak perlu tahu agar kedua malaikatnya tidak tahu. "Hm? Nani?"
"Kami mengantar hadiah sesuai permintaan Haha-ue."
Sebagai salam perpisahan, keduanya berkeliling desa membagikan hadiah meski nanti tetap akan diadakan pesta makan bersama.
"Haha-ue," panggil Yujerian. "Ada seseorang yang mencari Haha-ue."
"Benarkah? Di mana orangnya?"
Yujerian mengintip ke luar pagar, menunggu sampai orang itu bisa terlihat.
Awalnya mereka berdua bingung, namun pria muda yang sedikit lebih tua dari Shin itu datang membungkuk pada Hestia.
__ADS_1
"Saya datang atas permintaan Tuan Muda Al, Nona."
Nona?
"Ah, aku lupa itu." Hestia langsung duduk dan mengisyaratkan keduanya mendekat. "Perkenalkan dirimu pada mereka."
Yujerian dan Yuveria mengerjap pada pria muda tampan itu.
"Salam, Nona Muda, Tuan Muda. Saya Mandala. Saya ditugaskan menjaga Nona dan Tuan Muda. Jangan sungkan berkata apa pun pada saya."
Keduanya saling memandang. Melihat sekilas juga tahu ada perasaan berbeda dari pria ini hingga rasanya sulit diabaikan.
"Boleh aku memanggilmu Mandala-nii?" Yuveria menyukainya.
"Tolong tidak perlu bersikap formal. Cukup Mandala."
Hestia mengacak rambut putrinya. "Panggil dia Mandala saja, Yuui. Bawahan Al seluruhnya dilatih seperti ini. Kamu akan membuatnya tidak nyaman."
"Baiklah."
"Haha-ue." Yujerian mendongak. "Apa Mandala bekerja untuk pria itu?"
"Al?"
Ayahnya.
"Tidak." Hestia menjawab lagi hanya dari ekspresi Yujerian. "Al menjaga kalian atas permintaan Ibu. Chichi-ue tidak ada hubungannya."
"Baiklah." Yujerian tersenyum. "Salam kenal, Mandala."
...*...
Yujerian melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum ia menyusul Yuveria dan Hestia. Ada banyak orang mengantar mereka pergi hari ini, membuat Yujerian agak menyayangkan harus meninggalkan mereka.
__ADS_1
Meskipun saat terakhir Hinatsuru menangis berkata jangan pergi, Yuveria masih saja tidak mau berdamai.
Naik pesawat untuk pertama kali ternyata membuat Yuveria mabuk. Dia tadinya tak mau melepaskan tangan Yujerian, tapi segera pindah ke pangkuan Mandala karena tak mau menyusahkan Hestia.
Dari tadi rasanya wajah ibu mereka pucat dan senyumnya sangat palsu.
Mereka mendarat di Tokyo dulu, transit di Singapura sebelum mendarat di Indonesia.
Pikir Yujerian setidaknya pria itu menyambut, ternyata tidak. Mereka langsung bertandang ke sebuah rumah berwarna hitam gelap aneh yang ia tahu adalah rumahnya Al Areza Narendra waktu itu.
Katanya dia meminjamkan rumah yang aman untuk mereka karena tempat itu kosong.
Tidak banyak yang bisa terjadi di hari pertama. Keduanya tidur nyenyak di kasur asing besar alih-alih melihat futon, lalu terbangun melihat ibu mereka tidak ada.
"Mandala, Haha-ue wa?"
Tak sengaja Yujerian menggunakan bahasa Jepang, namun ternyata dia paham.
"Nona berkata ada sesuatu yang harus dilakukan, Tuan Muda. Tapi ada ayah Anda di bawah."
Ke mana Hestia pergi tanpa bicara apa-apa?
"Nii, hara hetta." [Kakak, aku lapar.]
Yujerian menunggu sampai adiknya datang, menggandengnya turun bersama Mandala.
"Ada Chichi-ue di bawah. Haha-ue sedang pergi jadi Yuve jangan terlalu agresif hari ini."
"Haha-ue pergi ke mana?"
"Entahlah. Haha-ue akan menjelaskannya nanti jika harus."
...*...
__ADS_1