
...LIKE DULU DONG!!!!...
...~...
BAR REFAELI
Setelah kejadian di taman beberapa jam lalu, Mamih Veliz juga Shaybila memutuskan untuk ke Bar guna menenangkan pikiran mereka.
Kejadian tersebut membuat Mamih Veliz juga Shaybila tidak bisa berbuat apa-apa, yang ditakutkan adalah keselamatan Gadis serta kedua Kakek dan Nenek Shaybila yakni keluarga kandung yang Shaybila punya.
Mamih Veliz juga Shaybila tengah diam seribu bahasa.
"Mih, maafin Bila, Bila gak maksud mau jual Gadis ke si Bos sok misterius itu, tapi dia udah ngancem buat ratain ini bangunan, juga mau nyakitin Kakek juga Nenek, Bila. Bila gak bakal biarin itu, hanya Kakek dan Nenek keluarga kandung yang Bila punya, Mih." Shaybila memulai percakapan.
"Iya, Mamih gak salahin kamu, hanya Mamih gak abis fikir sama si bos misterius itu, kenapa sampe dia mau Gadis yang jadi penghangat ranjangnya, bukannya kemarin Mamih udah bilang kalo Gadis itu sahabat kamu dan hanya nemenin kamu kerja, jangan lupa juga kan Gadis memakai masker, Mamih gak abis fikir aja, Bila."
"Mamih merasa bertambah lagi dosa yang Mamih perbuat, menjual anak yatim-piatu yang hidup sebatang kara, hiks hiks." Sambung Mamih Veliz dengan air mata yang akhirnya menepis juga di pipinya.
Shaybila pun mendekat dan memeluk Mamih serta mengelus-elus punggung yang sudah sedikit renta itu.
"Bila juga ngerasa jahat sama Gadis, biarin si bos sok misterius itu bawa Gadis dengan santainya, tapi kita disini yang tertekan."
Gadis yang malang.
"Mamih gak mau nanti Gadis menjadi seperti Mamih di masa lalu." Mamih Veliz pun menumpahkan semua kegelisahan hatinya yang sudah ia tutup rapat-rapat hingga saat ini akhirnya terbuka kembali.
"Memang kejadian tadi sama persis saat dimana Bila keinget masa lalu, Bila yang mengambil keputusan tanpa berfikir panjang menjual virginity kepada laki-laki yang mau sama Bila dulu, itu pun karena Nenek sakit jantung yang butuh pasang ring juga Kakek yang terkena tipu orang yang hendak membeli tanah. Bila hanya bisa berdoa dan berharap Gadis disana baik-baik aja juga gak si rusak oleh si bos sok misterius itu."
"Amin." Jawab Mamih Veliz.
"Bila..." Panggil Mamih.
"Iya ada apa, Mih."
"Emm...Kamu gak pulang takut Kakek dan Nenek mu mencari."
Mamih Veliz ragu untuk bercerita dengan Shaybila akhirnya ia tidak jadi bercerita.
"Ah iya, tadi pagi pamitnya mau ajak Gadis beli bubur ayam, astaga Bila sampe lupa, makasih Mih udah diingetin. Bila pamit pulang, Mih."
"Iya, hati-hati."
Setelah Shaybila mencium tangan dan keduanya saling cipika-cipiki, Mamih Veliz hanya bisa menatap kosong kearah pandangan entah kemana.
"Anak Mama semoga kamu sehat-sehat bersama kedua orang tua angkat-mu, Nak. Mama hanya bisa berdoa kelak dipertemukan dengan kamu dan melihat kau bahagia dengan kedua orang tua angkat-mu Mama hanya bisa berdoa kau bahagia. Amin."
...~...
Rumah kediaman Shaybila
Shaybila pun sudah sampai di depan rumah nya. Ia melihat Kakek dan Neneknya tengah menikmati sinar matahari dengan duduk bersantai di kursi dengan di depan tersaji 2 gelas teh serta camilan pisang goreng.
Shaybila pun mengucapkan salam dan duduk diantara kedua paruh baya itu.
__ADS_1
"Bila, Gadis kemana?" Tanya sang Nenek. Karena tidak melihat keberadaan Gadis.
Shaybila yang gugup hanya bisa melinting ujung bajunya dan menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Neneknya itu.
"Gadis udah pulang, Nek. Dia bilang kangen rumah, kangen suasana rumah peninggalan mendiang kedua orang tuanya."
"Oh." Sang kakek pun ikut mendengarkan dan hanya bisa ber-oh ria saja
"Om-Tante maafin Bila yang sudah bohong serta bawa-bawa nama Om juga Tante, sekali lagi maafin, Bila." Gumamnya dalam hati
Shaybila beserta Kakek dan Neneknya pun masih duduk santai dibawah teriknya pagi hari dengan diselingi canda dan tawa.
Tanpa mereka sadari ada 2 pasang mata yang melihat serta mengabadikan moment mereka dengan vidio didalam kamera ponselnya, lalu si perekam pun mengirim vidio itu kepada sang bos.
Si perekam itu Greg anak buah sekaligus bodyguard yang bekerja dengan si Bos.
...~...
TING
Bunyi pesan masuk di ponsel si Bos.
Selang beberapa detik si Bos masuk ke kamar mandi bunyi pesan itu masuk.
Entah siapa yang berani menganggu si Bos.
Di dalam kamar mandi si bos menghidupkan air untuk diisi kedalam bathup dan menuangkan sabun cair yang beraroma wangi didalamnya.
Siapa sangka kalau si lontong panjang berdaging itu kembali bangun karena tidak sengaja Gadis bergerak membenarkan posisi duduknya dalam bathup.
"Ma...maaf, Tuan." Ucap Gadis terbata juga takut kerena ia tahu dibawah sana sudah berdiri tegak layaknya bendera pada tiangnya.
"Kau harus bertanggung jawab, sayang. Kau yang harus menidurkannya kembali."
Tanpa aba-aba si bos pun melakukan aksinya, seharusnya mereka sudah selesai tapi ini sudah hampir 1 jam di dalam bathup dan tubuh Gadis pun menggigil.
"Tu..tuan...aku sudah gak kuat lagi, aku mohon, ini dingin sekali." Lirihnya meminta menyudahi semua yang si bos lakukan.
"Sedikit lagi, sayang...aaaaah..." Si bos pun sudah mendapatkan pelepasannya dan kembali membersihkan tubuhnya juga tubuh Gadis, lalu ia keringkan dengan handuk dan membawa Gadis dalam pelukannya.
Jangan lupakan si Bos yang tidak memakai apapun setelah mengeringkan tubuh serta rambutnya.
Gadis pun di tidurkan ke ranjang dan menyelimuti dengan selimut karena si Bos tidak mau memakaikan baju pada Gadis.
"Wow, kerja bagus Bibi Nam." Ucapnya saat keluar kamar mandi, keadaan ranjang serta baju yang berserakan sudah tidak nampak dan hanya penampakan ranjang rapi serta bersih, jangan lupakan ada 1 troli berisikan makan siang untuknya dan Gadis.
FLASHBACK ON
Bibi Nam pun segera memberitahukan asisten rumah tangga lainnya untuk menyiapkan makan siang yang diminta si bos serta seorang asisten rumah tangga lainnya Bibi Nam memintanya untuk mengambil keranjang baju kotor serta sprei bersih, sedangkan Bibi Nam membuat susu khusus Gadis juga mengambilkan obat yang diperintahkan si Tuan.
Setelah sudah siap Bibi Nam dibantu 2 asisten rumah tangga lainnya, yang mana sebelumnya sudah mendapat izin masuk ke rumah utama dengan Bibi Nam membawa serta kunci cadangan kamar si Tuan nya itu.
"Mbak Ratih juga Mbak Fitri, tolong bantu Bibi bawa ini ya, karena gak mungkin Bibi bawa makan siang, keranjang kotor juga sprei sendiri bisa-bisa Bibi Nam encok, haha." Gurau Bibi Nam.
__ADS_1
"Bibi ini bisa aja." Jawab Mbak Ratih.
"Tau nih, Bibi Nam ada-ada saja, ini kan juga tugas kita." Timpal Mbak Fitri.
"Yaudah, kita segera keatas takut nanti si Tuan ngamuk bisa bahaya."
Mereka pun bergegas menuju lantai 3 kamar utama Tuan nya.
Mereka bertiga pun saling membantu mengangkat troli yang hendak menaiki setiap tangga karena di rumah mewah ini tidak ada lift atau eskalator karena si Nyonya Besar tidak mau ada itu semua di kediamannya.
KOLOT.
Kembali ke Bibi Nam juga kedua asisten rumah tangga itu sudah berada di depan pintu kamar si Tuan.
"Terimakasih kalian udah mau bantu Bibi, kalian sudah bisa kembali ke paviliun, biar Bibi disini yang mengurusi semua."
"Baik, Bibi." Jawab keduanya kompak.
Tok
Tok
Tok
"Tuan...Tuan...Tuan..." Panggil Bibi Nam namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Pasti Tuan sudah di kamar mandi, untung Bibi bawa kunci cadangan."
Setelah kebuka ia terkejut mendapati keadaan kamar yang begitu berantakan bak kapal pecah.
"Astaga, ini kamar apa kamar, kelakuan Tuan tidak berubah." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Bibi Nam.
Segera ia mendorong troli berisikan makan siang yang lengkap dengan susu juga obat.
Bibi Nam pun meletakkan sprei bersih di sofa dan mengambil semua baju yang tergelatak sembarang kemudian memasukkannya kedalam keranjang baju kotor juga tidak ketinggalan sprei yang sudah tidak jelas bentuknya serta ada bercak merah seperti darah.
"Oh God, ini apakah Tuan mengambil virginity perempuan yang Tuan bawa tadi, dia benar-benar masih virgin, tidak biasanya Tuan mendapatkan yang masih suci seperti ini, Bibi hanya bisa kalau perempuan itu kelak menjadi istri Tuan satu-satunya dan bisa membuat Tuan berubah. Amin."
Bibi Nam lalu mengganti sprei yang kotor dan yang bersih dan merapihkan sedikit kekacauan yang dibuat oleh si Tuan nya.
Di rasa sudah rapi Bibi Nam pun menata ulang troli berisikan makan siang dengan posisi agak jauh dari ranjang, segera keluar dengan membawa keranjang baju kotor kembali, tidak lupa juga mengunci pintu kamar si Tuan nya itu.
FLASHBACK OFF
"Tuan...apakah ada baju bekas yang bisa saya kenakan, saya merasa kedinginan."
"Tidak perlu kau memakai baju karena nanti kau akan hangat bersama dengan ku, tapi kau tunggu dulu disini karena aku ingin ke kamar mandi."
Si Bos pun mendekati troli makanan di samping ranjangnya, kemudian ia masuk kembali ke kamar mandi untuk melakukan sesuatu.
Tanpa mendengarkan ucapan Gadis, ia berlalu begitu saja.
"Tap..." Belum selesai berbicara si Bos lebih dahulu masuk ke kamar mandi.
__ADS_1