
...LIKE DULU DONG!!!!...
...~...
RUMAH SHAYBILA
Sinar matahari sudah menampakkan sinarnya di permukaan bumi, sinar itu pun masuk di sela-sela jendala yang tak tertutup oleh gorden.
Di sinilah tepatnya, di tempat tidur masih ada seorang perempuan yang masih bergulung di dalam selimutnya.
Yang tak lain Shaybila.
Ia merasa tubuhnya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Eunghhhh, kenapa kepala gue pusing banget ya kayak kena tiban benda berat." Keluh Shaybila saat membuka matanya serta ia sembari bersandar di kepala tempat tidurnya.
"Apa gue sakit karena ancaman juga bentakan dari si bos sok misterius itu? Ditambah kemarin juga jidak gue kena bentur meja, mana sakit terus berdarah lagi, untung kakek juga nenek gak fokus ke jidat gue dan pinternya gue, gue tutupin pake poni. Kenapa gue jadi lemah gini, kemana perginya Shaybila yang kuat, tangguh, judes, cuek dan gak takut apa-apa. Hufff, rasanya aku bersalah banget sama Gadis, gue gak bisa bantu dia lepas dari si bos sok misterius itu. God, tolong Hamba-Hamba-Mu ini. Arrrggggh."
Yang sudah baca dari awal pasti tahu kalau Shaybila selalu menggunakan kata 'gue' dengan tepat kepada siapa.
Shaybila yang frustasi akan semua yang tidak bisa membantu Gadis hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri serta mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut dan bertambah dua kali lipat kusutnya.
Disela-sela lamunannya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamarnya dari luar.
Tok
Tok
Tok
"Bila, sayang."
"Masuk aja, nek. Gak Bila kunci, kok!" Ucapnya dengan sedikit berteriak.
Ceklek
Pintu kamar Shaybila pun terbuka dan menampilkan sosok perempuan paruh baya yang sudah rapi dengan baju rumahannya.
"Bila." Panggil perempuan paruh baya itu sembari menghampiri Shaybila di tempat tidurnya.
"Iya, Nek." Jawab Shaybila.
"Cucu Nenek...kenapa kamu belum bangun gak biasanya kamu masih bergulung di dalam selimut?" Ucap perempuan paruh baya itu setelah duduk di tepian tempat tidur Shaybila dengan tangannya yang mengelus rambut Shaybila.
"Aku lagi kurang enak badan, Nek."
Seketika Nenek Memey tak lain Nenek Shaybila menempelkan telapak tangannya di kening Shaybila.
"Bila, kamu panas. Sebentar Nenek ambil kompresan, obat penurun panas juga Nenek akan buatkan bubur spesial kesukaan kamu. Kamu disini tidur jangan bergerak."
"Bila kalo gak gerak mati dong, Nek?"
"Kamu ini masih aja bercanda, maksudnya Nenek itu kamu jangan beranjak dari kasur kamu disini aja, awas aja kalo kamu bandel, Nenek jewer dan cubit perut kamu." Ancam Nenek.
"Lah, mainannya ancaman-ancaman, oke oke nenek ku yang super duper bawel tapi Bila sayang."
__ADS_1
Tanpa menanggapi ocehan cucunya, Nenek Memey segera keluar dari kamar menuju dapur untuk membuat air panas untuk kompresan cucunya.
...~...
Di Dapur
"Nenek buat apa? Ini kan Kakek udah buat teh hangat?" Tanya Kakek Mail yang tak lain Kakek Shaybila.
"Ini buat Bila, dia panas mau aku buatin kompresan sama bubur kesukaan Shaybila takut dia lagi gak bisa nelen dan gak mau masuk nasi kalau lagi sakit seperti ini, Kek. Kakek berjemur aja seperti biasa, nanti nenek akan nyusul, itu juga kalo sudah selesai ngurusin Bila." Ucapnya tanpa menolehkan wajahnya, karena si Nenek masih sibuk mencari wadah untuk kompres.
"Emm." Hanya gumaman yang Kakek Mail berikan.
Ia pun meninggalkan istrinya di dapur tanpa rasa berdosa.
"Kebiasaan si Kakek gak bisa peka dikasih kode kayak anak muda jaman sekarang, bantuin gitu atau nanya bisa Kakek bantu apa, lah ini tuh aki-aki hanya bisa nanya aja. Hufff, sifatnya gak jauh beda sama Bila. Grand pa like Grand daughter." Keluh si Nenek disela-sela ia mencari wadah kompresan.
Aduh, Nenek Memey yang super duper gahuul ini.
Akhirnya bubur kesukaan Shaybila pun sudah matang dan tertata diatas nampan serta tak ketinggalan air hangat dan obat penurun panas pun sudah Nenek Memey siapkan. Dan jangan lupakan wadah berisi air panas juga sudah ada dengan waslap tentunya.
Nenek Memey pun membawa nampan yang sedikit berukuran besar menuju kamar Shaybila.
Dengan berjalan hati-hati, supaya tidak terjatuh. Maklum si Nenek sudah tua umurnya sekitar 68 tahun, tapi masih sehat dan bugar.
Sampailah si Nenek di depan pintu kamar Shaybila, perempuan paruh baya itu pun membuka pintu, yang mana sudah ia letakkan dulu nampan dibawah lantai. Karena ia tidak akan kuat jika membuka pintu dengan satu tangan dan satu tangannya lagi memegang nampan yang lumayan berat itu.
"Nenek udah matang buburnya?" Tanya Shaybila yang sudah melihat neneknya membuka pintu kamarnya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Iya, ini si Kakek gak mau bantu Nenek, gak ada basa-basinya dikit, lihat Nenek jadi kesusahan bawa nampan juga mau buka pintu kamar kamu, jadilah Nenek letakin dulu tuh nampan di lantai. Tapi tenang bubur, air hangat juga obat kamu sudah ada penutupnya jadi gak kotor." Nenek Memey selalu berbicara panjang lebar.
Jujur, sebenarnya ia sangat malas untuk mengeluarkan suaranya apalagi ia harus berbicara panjang lebar. Karena saat ini semua hati, fikiran dan semua-muanya tidak dalam kondisi baik-baik saja. Banyak yang ia fikirkan terutama Gadis, sahabatnya yang cantik dan masih polos itu.
Nenek pun sudah duduk di tepian ranjang Shaybila, dengan nampan sudah di letakkan di meja samping tempat tidur Shaybila.
"Nenek, Bila minta tolong itu pintu kamarnya di tutup lagi." Ucap Bila yang tidak suka kamarnya terbuka.
"Ah, iya, nenek lupa." Ucapnya dengan refleks menepuk keningnya.
Shaybila hanya geleng-geleng kepala saja melihat neneknya itu.
Segera Nenek Memey beranjak dari duduknya dan menutup kembali pintu kamar itu.
Setelahnya, segera ia duduk kembali di tepian tempat tidur Shaybila dan di tangannya sudah memegang bubur hendak menyuapi cucu satu-satunya tersebut.
"Makan, yah! Biar nenek yang suapin, aaaaa." Paksa Nenek.
"Bila bisa sendiri, nek." Tolaknya dengan sedikit menjauhkan sendok yang sudah berisi bubur tepat di depan mulut Shaybila.
"Gak, kamu tetep nenek suapi, cepatan buka mulut kamu, aaaaaaa. Cepat Bila."
Nenek Memey yang sudah gemes dengan kelakuan cucunya pun segera menaikan sedikit nadi berbicaranya.
"Iya."
Shaybila hanya bisa pasrah jika sudah di suapi oleh sang Nenek.
__ADS_1
Bukan tanpa sebab ia menolak di suapi oleh perempuan paruh baya itu, karena setiap suapan bubur itu akan berisikan penuh oleh bubur, hingga batasan sendok yang paling bawah tidak terlihat.
Jika ia mengeluarkan kalimat 'dikit aja, nek' akan dibalas ucapannya dengan kalimat 'biar cepat sembuh jangan bawel, makan aja. Timbang makan aja susah banget'. Maka Shaybila tidak mau menolak ataupun mengeluarkan suaranya.
Toh, hasilnya akan sama neneknya itu akan sangat sulit diberi pengertian.
Tapi, dibalik itu semua Nenek Memey sangat menyayangi cucu perempuan satu-satunya itu, walau dengan cara yang lumayan sedikit memaksa.
"Kamu jangan kerja dulu, nanti nenek telpon bos kamu, bilang kamu lagi kurang sehat badan."
Ya, Nenek Memey juga Kakek Mail taha Shaybila kerja di Bar Rafaeli sebagai waiters bukan sebagai 'penghangat ranjang'.
"Memang nenek tau nomor Bos, Bila?" Goda Shaybila pada neneknya itu.
"Mintalah sama kamu,"
"Tapi Bila gak mau ngasih, gimana?"
"Nenek ambil ponsel kamu,"
"Gak bisa, weeee."
Shaybila menjulurkan lidahnya tanda ia menggoda sang Nenek, Perempuan paruh baya itu pun sudah terpancing emosi dengan tanpa aba-aba ia segera mencubit lengan Shaybila.
"Awuuuh, sakit Nenek!"
"Siapa suruh kamu ngerjain Nenek?"
"Gak ada yang nyuruh,"
"Biiiiiiiilaaaaaa."
"Iya, iya. Maaf, Bila hanya canda Nenek, jangan ngambek ah, nanti tambah kayak krupuk kulit tuh muka, hahahaha."
Tak tahan dengan ucapannya, tawa pun menggelegar.
Nenek Memey yang di goda hanya bisa cemberut tanpa mau membalas ucapan cucunya itu.
Tiba-tiba.....
...~...
Hay, apakah chapter ini sudah lolos review. T4 sudah upload jam 00.00 waktu setempat.
Semoga review cepat🙏
Maaf juga jika chapter ini sedikit membosankan☺️
Tak bosan-bosannya T4 berterima kasih kepada semuanya yang masih mau mampir, membaca, meninggalkan jejak like, koment juga kasih hadiah. Oiya, terima kasih juga sudah di favorit kan juga. T4 sangat-sangat senang loh☺️
Lagi lagi dan lagi, mohon beritahu T4 kalau ada kata-kata yang tipo atau kurang pas, segera koment supaya T4 segera perbaiki☺️
Jaga kesehatan yah, semuanya☺️
Jangan lupa juga vaksin, T4 sudah vaksin kedua loh, hehe pamer nih. Canda pamer✌️
__ADS_1
HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘