
Episode sebelumnya 117
"Iya, tapi ingat" Ucapnya dengan senyum menyeringai.
"Ingat apa, Sweetheart?"
"Ingat, kalau malam ini kamu tidak akan bisa tidur hingga pagi menjelang. Cuuup."
"Huuuufffftttt, nasib nasib. Nasib punya suami mesumnya kebangetan dan gak bisa ditakar, bisa bisa aku gak bisa jalan ini, udah mau jadi calon büyükbaba tapi kelakuan masih aja gak bisa ilang ilang, huuuufffftttt nasib nasib." Keluhnya dengan suara pelan, tetapi masih bisa didengar oleh sang suami.
Suaminya hanya bisa tersenyum menyeringai dan terdengar pula kekehan.
"Tidak semudah itu, Sweetheart. Aku tetap tidak akan mau menerima wanita yang tidak jelas asal-usulnya, dan ini hanya demi kamu seorang. Lihat! Akan ku buat wanita tidak jelas asal-usulnya itu hidup di rumah kediaman BEKLERKEN layaknya hidup di neraka. Ia tidak akan betah dan berakhir meninggalkan putraku satu-satunya itu," Ucap Papi si bos dalam hati.
...~...
...LIKE DULU DONG!!!!!...
"Ya sudah, aku mau menemui menantuku, sedari tadi pasti dia sudah selesai mandi. Aku takut putramu yang mecum itu berbuat yang tidak-tidak pada menantuku itu, Sweetheart," Ucapnya sembari meloloskan dirinya dari dekapan erat dari sang suami.
"Sebentar lagi, dia tidak akan berani. Kan sudah kamu beri dia peringatan," Ucap sang suami sembari mengendus-endus aroma leher sang istri.
"Ish, mana tau. Dia itu kan keturunan mu, Sweetheart. Yang mecum dan apa-apa pasti berhassrat dan akan bangkit gairahnya saat bersentuhan saja sudah berdiri pusaka lontong milik kalian itu," Bibirnya pun mencebik kala mengatai sang suami dengan terang-terangan.
Yang disindir hanya bisa menampilkan wajah tanpa dosanya juga disertai senyum menyeringai.
"Udah ah, awas!" Terus dan terus memberontak untuk dilepaskan.
Akhirnya Mami si bos pun terlepas dari pelukan yang sangat erat itu.
"Ingat! Persiapkan dirimu, Sweetheart untuk nanti malam. Akan ku buat kau tidak bisa tidur dan hanya bisa mendesaah dengan merdu disertai kau memanggil-manggil namaku," Ucapnya vulgar.
Wajah sang istri pun merah merona bak kepiting rebus.
"Dasar tua bangka, sialaand." Cibirnya lantang sembari membuka pintu kamar dan tidak lupa membantingnya dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya menimbulkan suara yang sangat keras.
"CK, kau masih saja malu-malu, Sweetheart.
Sepeninggal sang istri, ia pun terus menerus berfikir bagaimana caranya untuk memisahkan putra satu-satunya itu dari wanita yang menurutnya tidak jelas asal-usulnya juga apakah dari keluarga yang baik-baik. Ia juga tidak mau jika sang putra hanya menikahi wanita pengeret uang juga harta yang sudah ia miliki sejak menikahi sang istri.
Sungguh putranya ia membuat akal dan fikirannya tidak bisa berhenti berkata 'WASPADA'
"Siaal, aku harus gimana, supaya Deon mau membuang wanita ja*la*ng itu. Aku sudah tau persis watak wanita yang selama ini mendekati Deon putraku satu-satunya itu. Mereka semua hanya mengincar uang, harta juga kekayaan yang putraku saja. Mereka hanya binatang-binatang pengeruk harta, yang tidak bisa mencari pekerjaan juga hanya mau mendapatkan segalanya dengan cara instan. Cih,"
Semua fikiran negatif selalu berkubang didalam isi otaknya, ia tidak ingin itu semua terjadi.
"Hemm, aku punya ide," Gumamnya yang sudah mendapatkan ide yang bagus untuk sedikit demi sedikit membuat putranya itu renggang dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya.
__ADS_1
"Kita lihat saja!" Ucapnya sinis.
Seketika itu juga ia mendengar teriakan sang istri yang begitu kencang.
"Papiiiiiiiiii....."
"Apalagi?" Ucapnya dan kemudian ia keluar dari kamar untuk menghampiri sang istri.
Sungguh istrinya itu ada saja tingkahnya.
...~...
Lantai 1
POV MAMI DEON
Setelah aku terlepas dari kakek tua bangka itu, ku langkahkan kakiku menuju kamar menantuku eiits ralat calon menantuku yang berada tepat di lantai 1 kamar khusus para tamu.
Bukan maksud hatiku untuk membiarkan calon menantuku menempatkan kamar tamu, melainkan aku hanya berjaga-jaga dari kebuasan juga kemesuman putraku itu.
Aku sebenarnya sudah tau bagaimana sikap, sifat dan perangkai dari putraku itu. Ia tidak jauh berbeda dari suamiku itu.
Sama-sama mesum dan tidak akan bisa jauh dari hubungan in*tim ataupun Se*ks.
Disinilah aku berada, tepat di depan pintu kamar tamu yang berada di lantai 1.
Ku ketuk pintu kamar tersebut, tak lupa juga ku panggil-panggil nama menantuku.
Akhirnya ku beranikan diri untuk membuka handle pintu tersebut.
CEKLEK
Bunyi pintu kamar terbuka, ku edarkan pandanganku ke seluruh ruang di kamar tersebut. Tak lupa juga ku tajamkan indera pendengaran-ku. Tetapi semua nihil, tidak ada bunyi gemericik dari air di kamar mandi pun tak ada nampak tanda-tanda calon menantuku berada di kamar tersebut.
Fikiran-ku sudah berkelana dan akhirnya aku tahu siapa pelaku yang membawa kabur menantuku itu.
Segera dan akhirnya ku berteriak dengan sangat keras dan kencang.
"Papiiiiiiiiii,"
Ku dengar derap langkah kaki yang menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
Tidak Tidak.
Bukan hanya suamiku saja yang datang menghampiri ku, ada bibi Nam juga asisten rumah tangga yang lainnya pun datang serta ikut masuk.
"Ada apa, Sweetheart. Kau membuatku jantungan," Keluhnya disertai suaranya yang tersengal-sengal.
__ADS_1
"Ah, maaf." Sungguh ia sangat bersalah pada suaminya, hingga membuat laki-laki paruh baya itu bernafas dengan tersengal-sengal.
"Tidak apa. Katakan! Kenapa kau berteriak?"
Bibi Nam dan asisten rumah tangga lainnya hanya diam mendengar semua percakapan majikannya tersebut.
"Menantuku, Sweetheart hilang,"
"Cih, masih calon menantu bukan menantu, ingat itu!"
"Ish, kamu ini protes aja. Iya, iya calon menantu. Dia tidak ada di kamar. Aku pasti tau siapa ulah hilangnya menantuku, maksudnya calon menantuku."
"Hemm," Hanya deheman yang suaminya berikan.
Tiba-tiba saja Fitri mengeluarkan suaranya.
"Tuan muda tadi menggendong nyonya muda ke kamar tuan muda, Nyonya," Sungguh mulut Fitri seperti ember bocor.
"Kamu jangan asal tuduh, Fitri!" Bisik Bibi Nam, Retno hanya mendengarkan saja, ia tidak ingin ikut campur.
"Benar loh, bibi Nam. Aku lihat dengan mata hidung mulut dan kepalaku sendiri. Tuan muda menggendong nyonya muda dengan keadaan nyonya muda hanya melilit tubuhnya dengan selimut saja!" Jawab Fitri dengan menggebu-gebu disertai rona merah di wajahnya itu, ia pun sedikit kesal bercampur kecewa dengan bibi Nam yang tidak mempercayainya.
"Diam!" Ucap bibi Nam kembali.
"Lebih baik kalian kembali melanjutkan pekerjaan kalian," Pinta Tuan besar mereka pun.
"Kami permisi melanjutkan pekerjaan kami, Tuan dan Nyonya besar." Ucap bibi Nam mewakili semuanya, jangan lupakan Fitri yang bibirnya sudah mengerucut, akibat bibi Nam yang tidak mempercayainya juga diusir secara tidak langsung oleh majikannya tersebut.
Akhirnya, hanya tinggal kedua pasang suami istri itu saja di kamar tamu tersebut.
"Kamu lihat! Putramu sudah tidak bisa diatur dan itu semua karena wanita ja*la*ng itu yang membawa dampak yang buruk. Urus saja itu, aku sudah muak," Setelah mengatakan itu, sang suami pergi meninggalkan istrinya begitu saja dengan keadaan marah dan tidak bisa di toleransi lagi.
"Ish, aku di tinggal sendiri. Gitu tuh, kalau yang jelek-jelek aku yang kenak imbasnya, Deon juga anakmu, putra satu-satunya yang kita miliki dan jangan lupakan semua sikap, sifat dan perangainya mirip dirimu, dasar kakek tua bangka me*sum." Ucapnya sendiri.
"Awas kamu, Deon! Akan Mami jauhkan kami dari menantu Mami, supaya tuh pusaka lontong milikmu itu tidak terus menerus mengeluarkan racunnya."
Ia pun bergegas menuju lantai 3, tepatnya kamar tidur sang putra tanpa menutup pintu kamar tamu tersebut.
Sungguh ia sudah tersulut emosi, ditambah sang suami sudah marah kepadanya.
Ia tidak akan memberi ampun pada putranya tersebut.
"Lihat saja kamu anak me*sum!"
Terus dan terus ia merutuki semua yang terjadi pada putranya tersebut.
...~...
__ADS_1
...Maaf baru update, semoga masih ada ada yang membaca, like juga koment yah🙏😊...
...HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘...