
Rembulan bintang dan bulan pun digantikan oleh sinar cahaya matahari yang masih malu-malu menampakkan cahayanya.
Kini, tepatnya di lantai 3 kamar Deon.
Seorang pria yang tidur dengan resah dan gelisah, nampak dari kantung matanya yang menghitam, menandakan ia tidak bisa tidur sedari malam.
Waktu sudah menunjukkan pu kul 05.40 waktu setempat, yang mana beberapa jam akan menuju waktu sarapan pagi.
"Sia-l, benar-benar mami sudah menguasai dan memonopoli wanitaku. Padahal semalam aku berusaha untuk mengendap-endap ke kamarnya. Tapi, tapi apa yang aku dapati. Kamar terkunci dari dalam dan terdengar suara-suara tawa dari 2 wanita kesayangan aku. Hufft, bisa-bisa ini lontong milik aku puasa sampai waktu yang tidak ditentukan. Sial-and!!!" Keluhnya.
Deon tengah memikirkan nasib senjata pusakanya yang tidak akan bisa memasuki goa favorit dari si lontong tersebut.
Lihat! Betapa gusarnya Deon, dan frustasinya dia, hingga ia duduk bersila memikirkan caranya untuk bisa berduaan dan melakukan 'hal menyenangkan' bersama Gadis, calon istrinya itu.
"Sia-l sia-l sia-l, bun tu ini semua fikiran aku."
Terus dan terus ia mengacak-acak rambutnya, ia sungguh teramat frustasi.
"Lebih baik aku mandi, karena sebentar lagi waktunya sarapan. Jika aku telat saja, yang ada mami marah dan menceramahi aku panjang pendek." Kelakarnya diakhir tawa yang entah apa maksudnya.
...~~~...
Dapur
Jika Deon tengah memikirkan bagaimana cara dia berduaan bersama Gadis, berbeda dengan Gadis.
Ia tengah membantu para ART di kediaman BEKLERKEN menyiapkan sarapan pagi.
Setelah banyak berdebat dengan bibi Nam, yang awalnya melarang Gadis untuk membuat mereka menyiapkan makanan untuk sarapan pagi, akhirnya bibi Nam pasrah dan sungguh calon menantu dari keluarga BEKLERKEN keras kepala.
Gadis sedang asik dengan spatula dan sedikit bersenandung gembira. Sikapnya yang riang pagi itu pun menular kepada semua ART yang ada di dapur.
Beberapa menit sudah Gadis selesai memasak, tak lupa ia tata cantik nasi goreng masakannya dan dihias dengan topping tomat yang lucu.
Setelahnya ia buka apron dan mencuci kedua tangannya.
"Semoga semuanya suka sama nasi goreng buat Gadis yah, Bik!"
"Pasti suka, buktinya...lihat duo FY mereka sedari tadi tidak bisa henti-hentinya makan itu nasi goreng. Padahal pekerjaan di pagi hari masih banyak dan mereka masih sempat-sempatnya makan dahulu." Keluh bibi Nam, karena mendapati Fitri dan Yeni yang asik memakan nasi goreng buat Gadis itu.
"Gak apa, Bik. Mungkin mereka lapar. Tapi, benar kan masakan nasi goreng Gadis rasanya enak?" Tanya Gadis lagi, ia masih belum tenang jika masakannya itu benar-benar enak.
"Enak, Nyonya." Bukan bibi Nam yang menjawab melainkan kedua orang yang sedari tadi hanya sibuk memakan masakan Gadis yakni, duo FY.
"Dasar kalian ini. Lebih cepat makannya, ketahuan tuan besar dan tuan muda, habis kalian!" Bibi Nam menakut-nakuti kedua wanita tersebut.
Seketika wajah keduanya menjadi pucat dan seakan-akan tubuh mereka tidak dialiri oleh darah.
Mereka semua yang ada di dapur tidak menyadari jika ada sepasang mata yang melihat semuanya.
Terutama ia menatap Gadis dengan tatapan yang sulit untuk di mengerti.
"Hahaha, bibi bibi, kasian itu mereka jadi takut. Tenang, masih banyak kok. Gadis mau letakan ini di meja makan dulu yah, Bik." Pamitnya.
"Gak usah, nak Gadis. Biar kami saja yang kerjakan. Kamu kembali saja ke kamar dan ganti baju, takut baju yang nak Gadis kenakan bau minyak dan dapur." Bibi Nam merasa tidak enak hati.
"Gak apa juga, Bik. Saya sudah mandi dan ganti baju, dan..." Gadis mencium aroma di tubuhnya. "Gak bau kok, masih harum."
"Ya sudah, lebih baik kamu duduk saja di ruang keluarga. Bibi merasa tidak enak kalau kamu, yang mana notebene calon menantu di rumah ini, masa harus berbau-bau di dapur."
"Siap, Bibi.
Gadis pun segera meninggalkan dapur menuju ruang keluarga.
"Bibi, nyonya muda Gadis itu udah cantik, baik, pintar masak, mana masakannya enak lagi. Udah pasti nanti tuan besar dan tuan muda langsung suka sama masakannya nyonya muda Gadis, Bik."
"Bibi juga berharap begitu."
"Amin" Semuanya berucap dengan kompak.
"Semoga saja Tuan besar Berto menerima Gadis menjadi calon menantunya. Bibi harap tidak ada lagi huru-hara. Bahkan nyonya Anggi saja bisa meluluhkan semua hati keluarga BEKLERKEN. Kamu harus kuat Gadis. Harus, Nak." Doa bibi Nam dalam hatinya.
...~~~...
__ADS_1
Ruang makan
Kini semua sudah duduk dengan formasi yang lengkap.
Tak lupa mami Anggiya mengambilkan nasi goreng untuk sang suami, sedangkan Deon masih menunggu untuk Gadis yang mengambilkan sarapan paginya itu.
Tetapi, hanya khayalannya saja.
Gadis masih belum peka atau ia masih takut-takut berbuat yang belum forsinya itu.
"Ayo ambil nasi gorengnya, Sayang. " Ucap mami Anggiya pada Gadis.
"Iya, Mom."
Gadis pun mengambil secentong nasi goreng dan ia letakkan di piringnya.
"Honey, ambilkan aku juga nasi goreng."
Sebelum Gadis mengambilkan Deon nasi goreng, sudah lebih dahulu suara sang mami yang berucap.
"Ambil sendiri makanan kamu, Deon. Gadis belum SAH menjadi istri kamu. Jadi kamu layani dirimu sendiri."
Muka Deon seketika cemberut, sedangkan sang papi menaikkan sebelah bibirnya dan tertawa meremehkan pada sang putra.
Di tengah-tengah keheningan yang tercipta di ruang makan, tiba-tiba saja Deon mengeluarkan suaranya.
"Ini siapa yang masak nasi gorengnya?" Ucapnya.
"Makan, jangan banyak bicara." Jawab papi Berto.
"Papi...Papi... Mami tahu, papi juga sangat heran siapa yang masak nasi goreng ini, Kan?! Papi akan terkejut mendapati kenyataan kalau Gadis yang memasaknya. Papi akan menelan semua perkataan dan juga pujian yang nanti akan papi ucapkan. Mami yakin. Kenapa mami bisa percaya diri seperti ini, dan mengatakan jika Gadis yang memasak? Karena, karena mami melihat secara langsung kalau Gadis lah yang memaksa sarapan pagi, nasi goreng kita ini. Mami diam-diam mengintip dari tiang pilar di ruang makan. Jika calon menantu aku itu sangat riang saat memasak. Mana yang papi fikir wanita matre, wanita yang hanya bisa menghabiskan, mengguras juga wanita jalangg yang sial-and yang papi kata-katai. Kita lihat dan saksikan pertunjukan sebentar lagi." Gumam mami Anggiya dalam hatinya.
Sembari sang mami memperhatikan gerak tubuh juga raut wajah sang suami, yang mana ia mendapati sang suami, menikmati sarapan pagi ini dengan berselera dan dengan suasana hati yang cerah ceria.
"Semoga ada hal baik yang terjadi. Dan papi bisa sedikit demi sedikit menerima keberadaan Gadis juga memberikan sikap yang baik dan tidak membuat calon menantu aku itu tegang bahkan takut untuk berhadapan langsung dengan suami galak ku itu." Kembali sang mami bergumam dalam hatinya.
Walau dalam hatinya juga berfikir sama dengan Deon, putranya.
"Ini siapa yang masak nasi gorengnya? Rasanya beda dari setiap bibi Nam yang masak atau yang lainnya. Minyaknya pas, asin dan manisnya juga pas, tidak terlalu pedas juga. Dan... Rasanya seperti makan nasi goreng di restauran mahal." Gumam papi Berto dalam hatinya.
"Bibi... Bibi Nam..."
Aktifitas makan pun terhenti, semua mata memandang papi Berto.
Bibi Nam pun datang dengan tergopoh-gopoh.
"Iya, Tuan."
"Siapa yang masak sarapan pagi ini?"
Bibi Nam mau menjawab, tetapi ia takut nanti Gadis akan terkena amukan dari papi Berto.
"A-aanu... Tu-tuan..."
"Kenapa bibi? Ini nasi gorengnya enak. Rasanya pas, tidak terlalu asin, tidak terlalu manis juga tidak terlalu berminyak. Rasanya seperti makan dari restauran bintang 5 dengan chef profesional.
"Syukurlah masakan nak Gadis enak. Aku bisa lega jawabnya. Syukur-syukur tuan Berto langsung mengungkapkan semua rasa masakan itu. Kalau langsung aku jawab nanti yang ada tuan marah dan memun tahkannya." Gumam bibi Nam dalam hatinya.
"Yang masak sarapan pagi ini, nasi gorengnya yang masak nyonya muda, Tuan." Jawab bibi Nam dengan tegas dan menundukkan kepalanya.
Seketika papi Berto terbatuk.
"Ekhmm," Papi Berto pun menetralkan rasa canggung yang ia rasakan.
"Enak kan, Pih. Siapa dulu masakan calon menantu kita. Udah cantik, baik, pintar memasak juga. Apa tadi kata papi, masakan dari restauran bintang 5 dengan chef profesional." Sindir mami Anggiya.
"Bibi bisa lanjutkan pekerjaan, makan kembali. Jangan ada yang bersuara." Ucap papi Berto yang malu akan kenyataan.
Mami Anggiya pun bertelepati dengan Deon, putranya.
Mengatakan bahwa, "Lihat, papi mu memuji masakan calon istri mu. Dan dia malu-malu."
Tak berbeda dengan sang mami Deon pun mengisyaratkan sebuah isyarat, "Jelas, siapa dulu wanitaku, aku tidak salah pilih bukan, Mih. Selera dari seorang keturunan BEKLERKEN tidak akan salah menemukan sebuah berlian indah dan langka."
__ADS_1
...~~~...
Ruang Keluarga
Sarapan pagi pun telah usai, kini semua sudah berada di ruang keluarga.
Seperti biasanya sang papi sudah duduk santai dengan tablet juga kacamata yang sudah bertengger di hidung mancungnya itu.
"Sayang nanti kamu ikut mami, yah!"
"Iy....
Belum sempat Gadis menjawab, Deon sudah menyela jawaban dari Gadis.
"TIDAK!!! Gadis nanti akan pergi sama aku berduaan saja."
"Oh, kamu mau main-main sama mami Deon. Lupa sama janji kamu, mau mami ingatkan lagi?"
"CK, selalu saja kalian berisik. Mengganggu saja." Keluh papi Berto, ia pun meninggalkan ruang keluarga entah ia mau kemana.
"Papi, papi mau kemana." Tanya mami Anggiya dengan suaranya yang melengking.
Papi Berto berlalu begitu saja tanpa mau mendengar panggilan sang istri.
"Ini semua karena kamu, Deon. Kamu selalu mencari masalah sama mami. Kamu sudah janji, untuk tidak lagi berduaan bersama Gadis. Apa mami harus menyuruh Gadis pindah dan keluar dari rumah ini. Mau kamu!!" Mami Anggiya sungguh suasana hatinya, pagi ini tiba-tiba dibuat hancur oleh sang putra.
"Baik, Mih. Deon salah. Huffft."
"Bagus. Ingat dan selalu ingat." Wajah garang mami Anggiya berubah seketika, "Sayang nanti ikut mami, nanti sekitar jam 9 kita berangkat."
"Iya, Mom." Jawab Gadis tanpa bertanya akan diajak kemana.
"Memang mami mau ajak Gadis kemana, Mih? Deon ikut yah, Deon jadi supir mami dan Gadis, yah!" Deon berusaha untuk bernegosiasi pada sang mami.
"Tidak. Ada supir yang akan mengantar kami. Ini urusan wanita. Kami mau perawatan. Bukannya kaum pria seperti kalian ini tidak akan betah berlama-lama menunggu pasangan melakukan perawatan, bukan? Hanya menemani berbelanja saja kalian kaum pria sudah mengeluh dan mengatakan kalau kaum wanita sangat lama." mami Anggiya sungguh meluapkan kekesalannya yang tidak ia luapkan kepada sang suami, melainkan ia luapkan kepada sang putra.
"Deon, paham."
"Maaf Deon, mami sengaja tidak mengajak kamu. Ini ada hal penting yang harus mami ungkap. Dan maaf kamu jadi terkena imbas amarah mami, yang mana harusnya mami memarahi papi kamu, papi kamu selalu saja sibuk dengan tabletnya itu. Dan mami rasa, papi mu juga benar-benar cuek dengan semua yang terjadi di rumah ini. Dan ia benar-benar terpaksa menerima Gadis, menjadi calon menantunya. Hufft." Gumam mami Anggiya dalam hatinya.
Tak berbeda jauh dengan mami, Deon pun sama, ia tengah melamunkan sesuatu.
"Apa benar mami mengajak Gadis untuk perawatan? Ah, buang jauh-jauh rasa negatif mu Deon. Mami itu menerima Gadis dengan tangan terbuka. Berbeda dengan papi, papi benar-benar tidak menyukai Gadis dan ia lebih menyukai wanita-wanita dari kalangan setara dengan keluarga BEKLERKEN. Hufft, papi papi. Papi tidak berkaca, mami itu juga dari kalangan yang sama dengan Gadis. Huuft, lebih baik Gadis dekat dengan mami. Mami bisa melindungi Gadis, disaat aku tidak ada di rumah." Gumam Deon dalam hatinya.
Suasana ruang keluarga seketika hening, karena Deon dan mami Anggiya sibuk dengan lamunan-lamunan mereka.
Tanpa sadar jika Gadis juga merasa canggung dengan suasana ini. Ia merasa suasana ini tercipta karena adanya dirinya ditengah-tengah keluarga besar ini.
"Mom," Panggil Gadis pada mami Anggiya.
Seketika mami Anggiya pun tersentak dari lamunannya.
"Iya, Sayang."
"Gadis mau ke kamar, mau siap-siap dulu."
"Iya, Sayang. Jangan lupa di kunci kamar kamu. Takut ada singa yang kelaparan." Sindir sang mami, dengan kedua matanya melirik sang putra.
Deon yang disindir hanya acuh dan kembali sibuk dengan ponselnya.
Kini ruang keluarga hanya ada mami dan Deon.
"Deon, kamu hari ini mau kemana?" Tanya mami Anggiya.
"Aku mau menjenguk adiknya Key, Mih." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya itu.
"Sakit apa adiknya, Key?"
"Semalam sih Key bilang adiknya menjadi korban tab rak lari, Mih." Kini pandangan Deon melihat mami Anggiya.
"Oh My God, Serious?"
"Buat apa Key bercanda dengan ucapannya, Mih."
__ADS_1
"Oh, Oke. Sampaikan salam mami untuk Key dan adiknya. Katakan maaf jika mami tidak bisa menjenguk adiknya yang sedang sakit. Dan jangan lupa bawakan buah tangan untuk adiknya Key, dari mami yah, Deon. Mami mau ke kamar mau bersiap."
"Oke, Mih."