Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 130


__ADS_3

Papi Berto yang kesal dan sedikit terganggu oleh keributan yang dibuat oleh sang istri dan putranya itu pun, kini sudah berada di ruang kerja.


Ia pusing dengan keributan yang terjadi di ruang keluarga beberapa menit lalu, jadilah ia kini tengah duduk di kursi kerja dengan dihadapannya terdapat sebuah komputer yang sudah ia nyalakan.


Tak lupa juga ia kunci ruang kerja itu.


"Sungguh berisik sekali my Sweetheart and my son. Selalu meributkan si wanita jalangg sial-and itu. Apa-apa ribut, aku pusing mendengarnya. Dan ini bagaimana caranya aku kasih...." Ucapnya sembari memegang secarik amplop berwarna cokelat yang selalu ia bawa dalam saku celananya tersebut.


"Huuft, gimana mau kasihnya. Selalu ada my Sweetheart and my son. Apakah akan berhasil? Jangan sampai Mom dan Daddy lebih dahulu datang ke rumah ini, bisa gagal rencana aku. Ditambah lagi... Pasti mom memihak pada my Sweetheart and my son dan wanita jalangg itu. Arrrrghgg" Papi Berto seketika pusing dan mengacak-acak rambutnya.


Sungguh, ia bingung dengan semua ini. Mau melakukan rencana, tetapi...belum apa-apa sudah menyerah.


"Aku harus bisa dan harus lihat situasi sekitar dan kondisi.. Kondisi saat aku akan memberikan amplop cokelat ini ke wanita jalangg itu. Aku ingin wanita jalangg sial-and itu tidak betah dan tidak bertahan lama bersama my son. Putra satu-satu milik aku harus menikah dengan wanita yang sederajat. Aku tidak mau lagi terulang seperti waktu itu...."


Ucapan papi Berto terhenti dikala suara dering ponselnya berbunyi, tanda ada panggilan masuk.


"Ada apa Josh menelpon ku? Tumben sekali, kebetulan aku sedang buruk hatinya, kali saja dia bisa jadi teman cerita keluh kesah aku. Aku sudah seperti anak perempuan dan remaja saja." Kekeh papi Berto sebelum mengangkat panggilan yang masuk dalam ponselnya tersebut.


"Hay, Josh.... Gimana kabarmu di sana?" Tanya papi Berto pada seseorang yang menelpon dirinya.


"............."


"Aku juga baik. Kau main sekali-kali ke rumah ku, Josh."


".............."


"Kau selalu saja sibuk dengan bisnis-bisnis mu itu. Ku tahu, kau selalu saja melebarkan sayap bisnis mu di seluruh dunia. Kau itu sudah tidak terhingga nominal uang mu, Josh. Hahaha" Lanjut papi Berto dengan diiringi tawa.


"..............."


"Bagaimana dengan wanita yang dahulu pernah kau ajak bercin ta dulu, Josh? Apa dia sudah memberikan dirimu seorang anak?"


"................"


"Apaaaaah!!!!" Papi Berto terkejut, hingga tubuhnya tegak seketika, "Apa maksud mu, Josh?"


".................."


"Jadi, wanita yang kau sewa dari salah satu club malam itu tidak mengirimkan kau seorang wanita? Lalu?"


"................."


"Berarti wanita yang kau sewa itu telat datang dan ada seorang gadis yang masih tersegel alias masih pera wan yang telah kau jam ah dan kau hancurkan kesuci annya? Pada malam itu kau pakai pengaman, Josh? Bisa-bisa wanita yang salah kau jam ah itu telah menerima bibir bibit premium mu, Josh. Bisa jadi itu cikal bakal keturunan mu, Josh."

__ADS_1


"................."


"Apa perlu ku bantu carikan?"


"................"


"Sulit itu, Josh. Jika kau saja pas malam itu sangat mabuk dan diperparah wanita itu juga langsung kabur, tak meninggalkan jejak. Kalau saja kau dan wanita itu benar menjadi pasangan. Aku mau berbesanan dengan mu, Josh. Tapi, anak mu harus perempuan, karena anak ku, Deon seorang laki-laki tampan seperti papinya." Ucap papi Berto membanggakan sang putra.


".................."


"Okelah, semoga kau secepatnya menemukan wanita itu. Dan lebih cepat, lebih baik kau urus bisnis mu di sana. Dan kembali ke ibukota, lebih baik kau cari dengan aku, jika kau sudah kembali ke ibukota."


"...................."


"Kau ini, seperti sama siapa saja. Aku ada maksud terselubung dengan membantu dirimu, Josh. Karena aku ingin berbesanan dengan mu, Josh."


".................."


"Ada, tapi ya... Aku kurang suka dengan pilihan putra ku itu. Tapi, apa boleh buat."


"..................."


"Oke, Josh. Kabari aku jika kau ingin ke ibukota, aku sendiri yang akan menjemput dirimu di bandara."


"..................."


"Kasihan sekali kamu, Josh. Bisnis mu lancar, tetapi percintaan mu sungguh rumit, Josh. Kenapa juga kau waktu itu menyewa seorang wanita dari kalangan yang tidak tahu asal usulnya diperparah, wanita itu dari club malam. Huuuftt, pusing aku dengan kelakuan mu, Josh. Kedua orang tua mu pun tidak melarang dirimu melakukan itu, mereka memberikan dirimu kebebasan memilih pasangan hidup, yang mana akan menjadi pendamping hidupmu, sampai akhirnya kita kembali ke Yang Maha Kuasa. Aku berdoa semoga wanita yang kau cari-cari bisa ditemukan jejaknya dan aku berharap dia mengandung juga melahirkan seorang putri yang cantik." Entah papi Berto menginginkan jika Josh, sang sahabat lamanya, sewaktu kuliah dahulu di negara V dapat berbesanan dengan dirinya.


...~~~...


Jika papi Berto tengah memikirkan nasib sang sahabat lama, berbeda dengan seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan juga gagah walau usianya sudah tidak muda lagi.


"Tuan," Panggil seseorang dengan tablet yang ada ditangannya.


"Ya," Jawab sekenanya.


"10 menit lagi ada pertemuan dengan direktur Crois Sant dari perusahaan Nikel."


"Emmm, dan bagaimana pencarian wanita yang sudah berpuluh-puluh tahun itu, apa sudah ada titik terang?"


"Maaf, tuan. Detektif yang kita sewa belum menemukan jejak wanita tersebut, dikarenakan dari CCTV dahulu di salah satu hotel yang pernah tuan kunjungi, tengah rusak dan tidak ada satu CCTV pun yang mengarah ke kamar hotel yang tuan huni."


"Sulit sekali aku menemukan dia, Frans. Aku yakin kalau dia mengandung juga melahirkan anak ku. Karena malam itu, aku tidak memakai pengaman. Kau tahu, kalau aku sekali main tidak akan cepat, pasti lama dan aku mene mbakkan semua bibit-bibit premium ku ke ra him wanita itu, Frans."

__ADS_1


Laki-laki yang sedari tadi melaporkan jobdesknya kepada sang bos bernama Frans hanya bisa diam, ia bingung untuk menanggapinya.


"Kasian tuan, di usianya yang seharusnya sudah berumah tangga dan memiliki anak juga istri, ia masih betah dan bertahan dengan satu wanita. Yang mana wanita tersebut pun tidak ia ketahui identitas dan jejaknya. Aku yang ikut bersama tuan sedari aku lajang sampai aku memiliki cucu, aku masih bertahan di samping tuan untuk setia dan mengabdi kepada tuan. God, berikan mukjizat untuk tuan ku ini, segera dekatkan dan berikan titik terang dimana keberadaan wanita dimasa lalu tuan ku ini, God. Kedua orang tuanya pun masih harap-harap cemas dengan keadaan anaknya, tuan ku ini. Mereka selalu mendukung dan tidak memaksa tuan untuk menikah dengan gadis ataupun wanita di luaran sana. God, ku mohon." Frans berharap ada titik terang dengan semua ini, ia merasa iba dan kasian dengan nasib bos, sekaligus tuannya itu.


...~~~...


Papi Berto pun meninggalkan ruang kerja menuju ruang keluarga, ia sangat pening dengan segalanya.


Disaat ia menuruni tangga, ia melihat target yang ia tunggu-tunggu.


Tetapi, target tersebut tidak melihat keberadaannya.


Hingga tiba di satu anak tangga, papi Berto pun berucap.


"Berhenti," Ucapnya entah pada siapa.


Seseorang yang diperintahkan berhenti pun menolehkan pandangannya pada papi Berto, terlihat gugup dan ketakutan sekali orang tersebut.


Papi Berto pun sudah berada tepat di hadapan seseorang tersebut, hanya berjarak 3 langkah saja.


"Ambil, dan baca dengan baik-baik. Setelah kau baca dan kau pahami, kau bubuhkan tanda tangan mu. Kau bisa baca kan! Kau bubuhkan tanda tangan mu, dibacaan yang harus kau bubuhkan tanda tangan. Kau paham!!!" Papi Berto berucap dengan kasar sembari memberikan secarik amplop berwarna cokelat yang telah ia ambil dari saku celananya.


"Ba-baik, pa maksud ku , Tuan." Ucap seseorang tersebut tak lain Gadis. Ia mengambil secarik amplop berwarna cokelat itu dengan tangan gemetar dan mata yang sudah memerah menahan isak tangis.


"Good. Nanti akan ku minta jika waktu yang tepat. Ingat! Jangan sampai ada yang tahu, kau harus simpan itu di tempat yang aman. Jika sampai ada yang tahu, kau akan tahu akibatnya. Paham!!!"


"Pa-paham, Tuan."


Papi Berto pun meninggalkan Gadis seorang diri, papi Berto kembali menaiki tangga dengan senyum merekah di bibirnya dan disertai siulan yang menandakan ia tengah berbahagia.


Berbeda dengan Gadis.


Setelah kepergian papi Berto, Gadis kembali memasuki kamar dan tak lupa ia kunci dari dalam, membawa secarik kertas yang berwarna cokelat masuk kedalam kamar mandi.


Tumpah sudah air mata dan kesedihan Gadis.


Ia di gertak, dihina dan selalu dikasari oleh papi Berto, mungkin Gadis sudah terkena yang dinamakan "Mental"


Tangisan Gadis belum juga berhenti, ia menumpahkan kesedihan terus dan terus.


Perlahan tapi pasti, ia buka secarik amplop dan ia ambil secarik kertas berwarna putih yang telah banyak kata-kata.


Bukannya berhenti menangis, tetapi Gadis bertambah sesak membaca isi kertas putih itu.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks hiks hiks. A-aku hah-harus apa??" Ucapnya yang masih dengan sesak di dada, membaca bait demi bait kalimat yang tertuang di kertas tersebut.


__ADS_2