Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 40


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


"Bagaimana pun, Gadis gak bisa berbuat apa-apa...." Ucapan Mamih Veliz terhenti karena adanya ketukan pintu kamar Shaybila dari luar.


Tok


Tok


Tok


Mamih Veliz memberi kode dengan meletakkan telunjuk jarinya di depan bibirnya tanda diam.


"Shaybila, nenek bawakan minuman untuk bos kamu," Ucap Nenek Memey dari luar.


"Gimana ini, Mih. Nenek denger gak yang kita bicarain?" Shaybila seketika gugup.


"Bila," Panggil lagi Nenek Memey, karena tak ada sahutan dari dalam kamar tersebut.


"Udah kamu tenang jangan gugup, segera jawab ucapan nenek kamu, Bila."


"Iya, Mih,"


"Masuk aja, nek."


Shaybila menarik nafasnya dan menetralkan rasa gugupnya di hadapan sang nenek, takut-takut sang nenek mendengar semua pembicaranya bersama Mamih Veliz.


Nenek Memey pun masuk dengan membawa nampan berisikan segelas teh hangat dengan beberapa camilan biskuit.


"Kebiasaan kamu kalau sudah ada teman ngobrol nenek panggil-panggil gak disahutin. maaf ya nak Veliz, Nek Mey hanya punya ini aja di dapur," Keluh Nenek Memey sembari meletakkan nampan berisikan segelas teh juga camilan biskuit di meja samping tempat tidur Shaybila.


Nenek Memey mengoceh sembari mengambil kursi di sudut kamar Shaybila, untuk ia duduki dan ia hadapkan di samping juga di hadapan Shaybila.


"Gak apa, Nek Mey. Malah Veliz yang merasa gak enak juga ngerepotin padahal Veliz bisa ambil sendiri,"


"Gak enak kenapa? Hanya ini aja kok, gak repot. Di minum sama di makan camilannya," ucapnya sembari duduk di kursi yang sudah ia ambil dari sudut kamar Shaybila.


"Iya, Nek Mey."


Mamih Veliz pun meminum teh tersebut.


"Nak Veliz, sudah punya anak berapa?"


Pertanyaan yang Nenek Memey ajukan membuat suasana hati Mamih Veliz sedikit menohok dan membuat sang Mamih memikirkan putri cantiknya yang masih juga belum diketahui keberadaannya dimana.

__ADS_1


"Emm, Veliz belum pernah menikah, Nek Mey." Jawabnya sedikit tersenyum paksa.


"Loh, kenapa gak menikah saja. Nak Veliz ini kan cantik, masa iya gak ada laki-laki yang suka sama nak Veliz. Apa nak Veliz yang terlalu memilih, jangan terlalu memilih yah, nak Veliz."


Mamih Veliz hanya tersenyum kikuk, sedangkan Shaybila sudah melihat perubahan raut wajah sang Mamih yang mulai badmood.


"Nenek ini kepo banget sama urusan pribadi Bos, Bila. Nenek gak jadi nemenin Kakek berjemur, ini lumayan masih jam setengah 10. Kasian Kakek sendirian berjemurnya."


Shaybila sengaja mengalihkan pembicaraan, ia takut kalau sang Nenek lebih dalam lagi pertanyaannya mengenai kehidupan Mamih Veliz.


"God, Nenek lupa. Untung kamu ingetin, bisa-bisa itu aki-aki ngambek. Apalagi, tadi nenek marahin. Kalian lanjut lagi, nenek gak ganggu lagi."


Tanpa menunggu jawaban dari Shaybila, Shaybila yang melihat reaksi sang nenek pun bernafas lega tapi ia masih tidak enak dengan Mamih Veliz.


"Mih, maafin Nenek Memey. Nenek gak tau apa-apa tentang Mamih, yang nenek tau kalau Mamih Bos, Bila." Ucap Shaybila merasa tidak enak hati.


"Gak apa, wajar kok nenek kamu tanya-tanya. Apalagi, di umur Mamih yang sudah mendekati setengah abad ini. Kamu santai aja, kayak sama siapa aja."


"Ralat, Mih. Umur Mamih on the way 41 tahun. Jangan tua-tuain lah, aku aja mau di mudain. Ini Mamih mau di tuain umurnya. Sekali lagi Shaybila minta maaf atas nama Nenek Memey,"


"Astaga, gak apa Bila. Santai aja, sayang."


"Sebenarnya Shaybila penasaran sama cerita masa lalu Mamih, tapi Bila gak mau maksa Mamih buat cerita sama Bila. Semoga putri cantik Mamih segera ketemu dan para detektif segera menemukan titik terang, kasian Mamih hidup sebatang kara seperti Gadis." Gumam Shaybila dalam hatinya sembari ia memeluk erat tubuh Mamih Veliz.


Mereka pun saling berpelukan dan melanjutkan obrolan mereka mengenai Gadis hingga Shaybila pulang dengan suasana hati juga keningnya yang berdarah.


"Mamih pulang dulu, yah. Kamu lekas sembuh, kamu gak usah antar Mamih, biar Mamih bisa sendiri. Oke!"


"Iya, Mih. Maaf gak bisa antar sampe depan, karena ini kepala Bila benar-benar pusing banget kalau bangun dari tempat tidur,"


"Iya, gak apa. Lekas sembuh kamu. cuup." Mamih Veliz mencium kening Shaybila layaknya mencium putri kandungnya.


Tak lupa Mamih Veliz pun berpamitan dengan kedua paruh baya yang tak lain, kakek juga nenek Shaybila.


...~...


Di waktu yang bersamaan, tepatnya di mansion mewah si Bos.


Gadis yang mengerjabkan matanya karena sinar matahari mengenai kulit wajahnya.


"Eunghhhh," Leguhnya saat merasakan sinar matahari mengenai kulit wajahnya.


"Pagi, nyonya muda," Sapa Bibi Nam yang sudah menunggu Gadis lama di dalam kamar tersebut, Bibi Nam pun sudah diberikan izin dari si empunya kamar, yakni si Tuan muda alias si Bos.


"Jam berapa ini, Bibi?"

__ADS_1


"Jam 10.00, nyonya. Nyonya mau minum air hangat dulu apa langsung mandi dengan air berendam di buthup hangat biar Bibi siapkan?"


"Nanti dulu, aku gak mau ngapain-ngapain dulu, Bibi. Mau ngumpulin nyawa dulu." Ucapnya sembari duduk bersandar di kepala ranjang dengan tak lupa menarik selimut hingga batas pinggangnya.


Ia edarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan kamar tersebut.


"Tuan sudah berangkat dari pagi, nyonya."


Seakan tahu apa yang tengah dicari Gadis, tapi Gadis tak memberikan respon apa pun.


"Astaga, nyonya muda ini terlalu gengsi jika dia lagi mencari tuan muda, apa jangan-jangan nyonya muda sudah membuka hatinya untuk tuan muda, semoga saja." Gumam Bibi Nam dalam hatinya.


"Haaaah, kenapa baju tidur aku kayak gini?" Tanya Gadis saat menyadari baju yang ia kenakan berbeda dengan yang ia pakai saat malam hari.


"Tadi Bibi menemukan stelan baju tidur berwarna merah terjatuh di bawah ranjang, nyonya."


"APAAH!"


Gadis terkejut dengan apa yang Bibi Nam ucapkan.


"Kurang ajar pasti laki-laki laknadd itu yang sudah menggantinya dengan kemeja dia, dan ini kenapa bagian tubuh bawahku sedikit lengket. Kurang ajar, dia benar-benar laki-laki bastard, melakukannya di saat aku sudah tidur. Benar-benar mani*k ****." Masih banyak lagi umpatan yang ia keluarkan dalam hatinya untuk si Bos.


Bibi Nam yang paham akan situasi pun hanya bisa diam dan melihat reaksi nyonya mudanya itu.


"Astaga, tuan muda benar-benar sudah menggilai nyonya muda, sampai-sampai nyonya muda tidur juga ia melakukannya." Gumam Bibi Nam dalam hatinya sembari geleng-geleng kepala.


Dugaan Bibi Nam juga Gadis salah, karena si tuan muda hanya memasukkan si lontong kedalam Goa saja tanpa ada kegiatan senang-senang.


Karena Tuan muda atau si Bos sudah tergila-gila pada tubuh Gadis terutama si lontong yang sudah biasa masuk kedalam Goa milik Gadis saat ia ingin tidur.


"Nyonya......


...~...


Yey🥳🥳 T4 upload sehari 3 kali seperti minum obat☺️


T4 sudah upload jam 20.48 semoga lolos review cepat🙏


Maaf ya jika chapter ini membosankan🙏


Senang rasanya masih ada yang mampir, membaca, meninggalkan jejak like, koment dan hadiah☺️


Buat yang hanya scroll juga makasih yah☺️


Seperti biasa T4 minta koment kalau ada kalimat yang tidak bagus dan tipo, ya☺️

__ADS_1


HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘


__ADS_2