
...LIKE DULU DONG!!!!...
...~...
GADIS POV
Aku terbangun saat ku dengar suara orang yang tengah mengobrol di dalam kamar, ku buka perlahan kedua mataku dan mengedarkan pandanganku kearah suara tersebut, ternyata Bibi Nam tengah mengobrol dengan seorang perawat perempuan yang terlihat akrab di sofa tak jauh dari ranjang yang aku tiduri saat ini.
Aku ingat tidak menggunakan pakaian pun refleks menarik selimut hingga batas leherku, tapi aku lihat kearah tubuhku sudah terpakai pakaian yang pas ditubuh ku dan dapat aku pastikan dress ini sangat anggun juga cantik.
Bibi Nam dan perawat cantik itu tidak menyadari jika aku sudah bangun, aku hanya melihat interaksi mereka dengan kepalaku bersandar di kepala ranjang dan ku lihat tangan kanan ku terpasang jarum infus dan sebenar lagi cairan infus itu akan habis.
Ku edarkan pandanganku ke seluruh ruang dalam kamar mencari laki-laki laknadd itu,
Pasti laki-laki laknadd itu sudah pergi karena sebelum pertengkaran yang mengakibatkan aku lupa semuanya pun ia mengatakan akan pergi, entah pergi kemana aku tidak mau tau kemana.
Mau di tidak kembali juga aku tidak perduli.
Aku lebih baik dikurung didalam kamar sendirian daripada berdua dengan laki-laki laknadd itu, dan itu bisa dia manfaatkan untuk terus-menerus menggempur tubuhku hingga aku tak berdaya.
Aku masih ingat kejadian pada saat laki-laki laknadd itu mengganti namaku seenaknya dia, aku yang tidak terima nama yang diberikan kedua orang tuaku diganti begitu saja oleh laki-laki yang sangat aku tidak sukai, walau kemarin malam aku bersifat liar dan agresif itu hanya semata-mata aku menuruti keinginannya, tapi aku juga menginginkannya.
MUNAFIK
Bisa dibilang aku pun munafik, tapi aku akan membuka hatiku jika ia memperlakukan aku lebih lembut, tidak mengekang kebebasan aku dan memanusiakan aku lagi tanpa memandang diriku sebagai alat nafsunya saja.
Pertengkaran tadi pagi pun ia menyebut aku 'jal**ng' aku pun tidak terima, aku perempuan yang belum pernah melakukan hal 'itu', bahkan dia lah laki-laki yang mengambil cium**n pertamaku dan juga mengambil harta yang ku jaga hingga usiaku 18 tahun ini tapi dia masih menyebutku jal**ng.
Jika aku jal**ng lalu dia apa? Laki-laki yang memiliki fantasi yang diluar nalar dan jangan lupakan hal gila yang tak pernah aku mau lakukan di dunia ini adalah menggoreskan satu tinta tato di tubuhku aku tidak mau, tapi dia menato seluruh wajahnya.
Aku ingin sekali pulang ke rumah peninggalan kedua orang tuaku, tapi bagaimana aku bisa?
Semoga saja ada keajaiban yang menghampiriku untuk lepas dari laki-laki laknadd itu.
Aku terus berbicara dalam diriku tanpa menyadari jika Bibi Nam juga perawat cantik itu menghampiri ku.
Perawat cantik itu sudah melepaskan jarum infus yang tadi terpasang di tanganku.
Bibi Nam sedari tadi mengajakku berbicara tapi aku hanya dengan pikiranku saja, aku enggan membuka suaraku tanpa aku mogok bicara.
"Nyonya, apa sudah lebih baik?" Bibi Nam mengajakku bertanya lagi padaku, tapi aku tetap tidak menanggapinya.
__ADS_1
"Nyonya ini Suster Neli, Suster Neli ini Nyonya muda kami namanya Gladis."
Suster Neli pun ingin menjabat tanganku tapi tidak aku gubris, aku juga mendengar Bibi Nam mengenalkan aku pada Suster Neli dengan nama 'Gladis' sudah ku pastikan itu ulah si laki-laki laknadd.
Berani sekali dia mengganti namaku dan pasti sudah ia umumkan pada semua pekerja dia.
"Namaku Anindyta Gadis Putri, bukan Gladis." Akhirnya aku membuka suara dengan tatapan dingin.
"Tapi tuan muda bilang nama Nyonya Gladis bukan Gadis."
"Namaku G-A-D-I-S GADIS ingat itu." Ucapku dengan intonasi meninggi.
Bibi Nam yang hendak mengeluarkan suaranya pun dihentikan oleh suster Neli dengan mengusap halus bahu Bibi Nam yang aku lihat.
"Salam kenal Nyonya muda, saya Suster Neli salah satu perawat keluarga Tuan Beklerken."
Suster Neli yang paham akan suasana hatiku pun mengajak aku mengobrol dengan ia duduk di tepian ranjang dengan Bibi Nam sedikit memberi tempat untuk Suster Neli duduk.
"Nyonya, apa ada yang sakit atau Nyonya mau keluar untuk melihat tanaman anggrek hutan yang baru saja Paman Beni tanam?"
"Tidak." Jawabku singkat.
Seakan paham dengan raut wajah dan situasi yang biasa diciptakan oleh tuan mudanya, Bibi Nam pun bersuara.
"Tidak" Sekali lagi aku menolak.
Aku hanya ingin pulang, aku akan mogok bicara dan makan supaya si laki-laki laknadd itu mau memulangkan ku ke rumah peninggalan kedua orang tuaku.
Aku benci disini, aku tidak betah, dan aku tau diri batasan.
Tidak mau terlena dengan semua yang ia berikan padaku.
Pada akhirnya kedua orang tuanya akan menghinaku, mencibirku juga mencaci-makiku saja. Parahnya aku diusir tanpa rasa manusiawi.
Aku tahu semua itu dari salah satu novel yang sering aku baca, dimana seorang laki-laki kaya raya dan seorang wanita miskin akan berakhir dengan perpisahan karena kedua orang tua sang laki-laki tidak menyetujui hubungan itu.
Ck, aku merasa seakan-akan aku sudah memiliki hati saja pada laki-laki itu dan seperti dia sudah menyatakan cinta saja padaku.
"Nyonya, ayo kita ke dapur. Apa Nyonya bisa memasak, bagaimana kita memasak masakan kesukaan Nyonya, emm?" Bibi Nam tidak pantang menyerah membujukku untuk keluar dari kamar.
Mataku berbinar, aku pun menyetujui untuk keluar dari kamar menuju dapur.
__ADS_1
Kami bertiga pun keluar dan menuruni tangga, hingga di persimpangan dapur, Suster Neli pun izin kembali ke rumah sakit karena tugasnya sudah selesai.
Karena awalnya ingin kembali ke rumah sakit bersama Dokter Brand, ternyata infus ku belum habis, alhasil Suster Neli pun ditinggalkan dan akan diantar oleh supir keluarga Beklerken.
Bibi Nam juga aku sudah sampai di dapur.
Bibi pun segera memberi ruang untukku, sebelumnya ia meminta beberapa asisten rumah tangga yang sedang memasak untuk keluar untuk memberikan aku kebebasan didalam dapur.
"Nyonya mau masak apa? Supaya Bibi siapkan."
"Aku butuh roti tawar, selai kacang juga coklat. Dan aku ingin 2 gelas air putih hangat serta 1 gelas teh hangat, bisa Bibi buatkan?"
"Baik Bibi Nam akan segera ambilkan dan buatkan kedua minuman itu."
Roti tawar, selai kacang dan coklat pun sudah ada dihadapanku, segera aku ambil teflon dan hendak menyalakan kompor tapi aku bingung cara menyalakan kompor karena kompor di rumah ini berbeda dengan kompor yang ada di rumahku.
Bibi Nam yang mengerti kebingungan ku segera membantuku menyalakan kompor listrik tersebut, aku yang lupa dengan butter juga gula pun menanyakan tempat penyimpanannya, tapi Bibi Nam yang ingin mengembalikannya.
Setelah siap semua bahan yang diperlukan, aku segera membuat roti bakar di teflon, aku tidak mengerti cara menggunakan pemanggangan roti orang kaya.
Sedangkan Bibi Nam tengah membuat teh hangat.
Hanya butuh beberapa menit roti bakar buatan ku pun siap dan tertata rapi di piring yang sudah aku letakkan.
Ada 3 piring roti bakar, masing-masing piring berisikan 1 roti dengan selai yang berbeda-beda.
Bibi Nam pun membantu ku membawakan piring tersebut, hendak ia bawa kedua piring tapi aku menolak hanya piring yang dengan selai coklat dan butter gula saja yang aku bawa.
Karena apa?
Karena itu spesial
Kini aku sudah duduk di ruang makan, dihadapanku sudah ada air hangat juga teh hangat dengan 3 piring roti bakar dengan berbagai selai disana.
Bibi Nam sudah kembali ke dapur, hanya aku disini tengah memandang semua yang tersaji dihadapanku dengan tatapan sendu.
Aku ingat jika dulu mendiang Ibu suka sekali membuatkan sarapan untuk aku juga Ayah roti bakar dengan selai yang berbeda
Jika Ayah suka selai coklat dengan teh manis sebagai temannya, sedangkan aku suka sekali dengan selai kacang dengan butter yang banyak dan teman minumnya dengan air putih hangat, tapi aku dengan Ibu sedikit ada kesamaan Ibu suka roti panggang dengan diberi butter juga sedikit diberi gula minumannya sama halnya dengan aku hanya perlu air putih hangat saja.
Seketika aku ingat semua kenangan kedua orang tuaku.
__ADS_1
Tak terasa air mataku pun luluh dengan sendirinya, masih ingat jelas didalam ingatanku semua kenangan indah bersama Ayah juga Ibu.
Ayah, Ibu...Gadis kangen.