Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 85


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


Bibi Nam pun beranjak dari tepian ranjang menuju walk in closet untuk menyiapkan pakaian sang nyonya muda.


Ia memilihkan pakaian yang anggun dan elegan, ia akan sebisa mungkin untuk memperbaiki semua kesalahan yang ia perbuat.


Demi apapun, bibi Nam pusing menghadapi masalah yang silih berganti.


Berharap masalah satu ini tidak membuat sang nyonya muda dan juga tuan mudanya bisa menghadapinya.


Bibi Nam pun memilihkan dress selutut berwarna peach untuk sang nyonya mudanya itu.


Setelahnya ia meletakkan dress beserta yang lainnya di tepian ranjang, bibi Nam keluar dari kamar utama Tuan mudanya itu menuju dapur untuk membawakan sarapan pagi untuk nyonya mudanya.


Kini di kamar utama tidak ada siapa siapa lagi.


Sedangkan di kamar mandi, tepatnya di bathtub kosong, Gadis tengah duduk dengan linangan air mata. Kedua tangannya ia gunakan untuk memegang kedua kakinya yang ia tekuk.


Ia tengah menangis dengan sesegukan tanpa ia keluarkan air matanya.


"Hiks, hiks, hiks....I..ibu, A...ayah...Gadis kangen. Gadis ingin dipeluk kalian. Gadis kangen, Gadis gak mau hidup di dunia ini yang sangat kejam. Hiks hiks hiks," Terus dan terus menangis tanpa mengeluarkan suaranya, sungguh kini keadaan Gadis sedih dan ia hanya ingin berada di sisi kedua orang tuanya saja.


Hingga beberapa menit sudah Gadis hanya diam dengan sisa-sisa sesegukan tanpa mau melakukan aktivitas mandinya.


Ia pun keluar dari kamar mandi, ia hendak menaiki ranjang. Tetapi ia melihat dress beserta keperluan dirinya yang lainnya pun.


Ia lemparkan itu semua ke lantai tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Kini ia sudah memposisikan dirinya dalam tidur dengan selimut yang melekat hingga batas lehernya.


Sungguh beberapa menit ia menangis dalam diam membuat dirinya mengantuk kembali.


Tidak membutuhkan waktu lama, Gadis sudah berada dalam alam mimpi indahnya.


Bibi Nam masuk tanpa mengetuk pintu kamar tersebut, ia kaget dengan dress dan beserta keperluan sang nyonya mudanya itu sudah teronggok di bawah lantai.


"Astaga, kenapa dress dan juga keperluan nyonya muda sudah berada di lantai?" Bibi Nam segera memungutinya dan memasukkannya kedalam keranjang baju kotor yang tersedia di dalam kamar tersebut.


"Huuuufffftttt, pasti ini ulah nyonya muda. Sungguh bibi merasa bersalah, pasti nyonya muda masih marah dan lihat!!! Dia tertidur lagi, huuuufffftttt. Sungguh bibi sangat sangat merasa bersalah." Bibi Nam berucap pada nyonya mudanya yang tengah tertidur lelap.


Ia dorong kembali trolley yang ia bawa, dimana menu sarapan pagi untuk nyonya mudanya sangat sangat banyak dan lezat.


Itu semua perintah dari tuan mudanya.


Bibi Nam sudah memposisikan trolley tersebut, tepat di dekat meja nakas.


Sungguh bibi Nam kali ini diberikan kesempatan untuk masih bekerja di kediaman tuan mudanya tersebut.


"Nyonya, nyonya. Ayo bangun! Sarapan dulu, baru tidur lagi," Panggil Bibi Nam dengan menyentuh tangan mungil Gadis.


Gadis yang sudah nyenyak dalam tidurnya pun terganggu oleh suara bibi Nam yang mengatakan ia harus bangun untuk memakan sarapan paginya.


Dengan malas Gadis membuka kedua netra matanya.


"Aku tidak lapar, Bibi. Buang saja makanan itu semua." Ucap Gadis dengan tatapan yang kosong.


"Tapi, tapi nyonya sedari malam kemarin tidka ada yang masuk dalam perutnya, Nyonya." Bibi Nam pun sudah memegang piring yang sudah berisikan nasi berserta kawan-kawannya.

__ADS_1


Kini bibi sudah memegang sendok hendak menyuapi nyonya mudanya.


"Makan yah, Nyonya. Bibi suapi saja, mungkin nyonya malas untuk makan sendiri. aaaaaaaaa," Dengan sekuat tenaga bibi Nam memaksa nyonya mudanya untum memakan sarapannya dengan ia menyuapinya.


"Aku bilang aku tidak lapar, bibi Nam ini tuli apa bodoh, HAH!!!!" Ucap Gadis kasar dengan intonasi yang tinggi sembari mendorong piring yang berada di tangan bibi Nam jatuh ke lantai.


"Astaga," Ucap bibi Nam teriak mendapati kenyataan bahwasanya sang nyonya muda kini dalam keadaan amarah yang memuncak.


Alhasil, semua isi sarapan pagi untuk dirinya hancur berantakan beserta piring. Hanya tersisa sendok yang di pegang oleh bibi Nam.


"Astaga, Nyonya." Sekali lagi hanya bisa mengucapkan kalimat tersebut, sungguh bibi Nam terkejut akan tindakan nyonya mudanya sekarang.


"Sudah aku katakan, aku tidak lapar. Bibi ini tuli apa bodoh. Sana bereskan semua, setelah itu keluar dari kamar ini dan jangan lagi masuk dengan mengantarkan makanan apapun untukku. Biarkan saja aku mati kelaparan, itu sangat berguna. Aku sudah tidak tahan lagi hidup disini, dibawah tekanan laki-laki laknadd itu," Akhirnya Gadis mencurahkan semua isi hatinya.


Gadis pun kembali memaksa dirinya tertidur dengan memiringkan tubuhnya dan menghadap kearah lain, sungguh ia sudah muak dengan semua ini.


Sedangkan bibi Nam memunguti semua pecahan piring dan membersihkan kekacauan yang ditimbulkan oleh nyonya mudanya.


Setelah bersih, bibi Nam keluar dari kamar sesuai ucapan dan perintah sang nyonya mudanya itu.


Sebelum bibi Nam keluar, bibi Nam mengucapkan sesuatu yakini.


"Maafkan bibi Nam, Nyonya. Ini semua salah bibi. Bibi tidak marah akan ucapan dan tindakan nyonya pada saya. Tapi, tapi nyonya sudah tidak makan sedari kemarin malam ditambah perut nyonya hanya diisi beberapa lembar roti saja sejak kemarin pagi, sungguh itu akan berakibat pada perutnya yang akan sangat sangat sakit. Bibi Nam tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menuruti semua keinginan nyonya saja,"


Bibi Nam pun keluar dengan mendorong trolley dan menutup kembali pintu kamar tuan mudanya.


Gadis sebenarnya merasa bersalah atas ucapan dan tindakannya yang kasar tersebut, tapi kini emosinya sedang tidak stabil.


Ia pun kembali memaksa dirinya untuk tidur, karena ia pasti akan di ganggu lagi dengan kedatangan laki-laki laknadd yang akan memaksanya untuk makan.

__ADS_1


...~...


...HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘...


__ADS_2