
...LIKE DULU DONG!!!!...
...~...
Di belahan dunia, nan jauh disana. Seorang laki-laki paruh baya tengah menenggak teh hijau kesukaannya dalam beberapa tegukan besar untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Karena sedari tadi ia sudah berteriak untuk mendapatkan informasi yang ia inginkan dari seorang laki-laki yang sudah terkapar lemah di bawah lantai marmer tersebut.
"Sudah ku katakan, bukan! Kau itu harus bekerjasama dengan laki-laki tua ini, bukan dengan si cecenguk itu. Jadi, apa yang kau ketahui? Ceritakan dengan segera dan aku tidak menerima pembohongan!" Sarkas laki-laki paruh baya itu, dengan mata abu-abunya menatap tajam kearah pria yang sudah terkapar lemah tersebut.
Pria tersebut masih diam, ia masih menutup mulutnya dengan rapat. Ini semua ia lakukan karena ia sudah berjanji pada seseorang yang sudah membantunya dalam banyak hal.
"Baik, rupanya kau setia dengan si cecenguk itu! Bagaimana jika ku buat adik perempuan mu itu celaka dan ku suruh anak buah ku untuk memperk***sanya dengan cara yang bi**d**b. Bagaimana?"
Laki-laki itu tiba-tiba tubuhnya memegang, adik perempuan satu-satunya yang ia miliki akan dihancurkan oleh anak buah laki-laki tua ini.
Ini seperti dia memakan buah simalakama.
"Maafkan aku yang berkhianat," Ucapnya dalam hati.
Entah meminta maaf pada siapa.
Apa pada seseorang yang sudah membantunya dalam banyak hal?
Perlahan tapi pasti ia mendongakkan kepalanya serta menatap laki-laki paruh baya itu.
"Dia memiliki seorang wanita yang sekarang............."
Banyak yang ia ceritakan tanpa menutupi, mengurangi ataupun menambahkan.
Ia sudah pasrah akan semua risiko yang akan ia terima dari seseorang yang sudah sangat membantu dalam kehidupannya tersebut.
Demi adiknya
Demi saudara kandungnya
Demi keluarga yang tersisa di muka bumi ini
__ADS_1
Demi apapun ia sesungguhnya tidak ingin berkhianat, namun ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa, jika sudah mengancam keselamatan adik perempuan yang ia miliki satu-satunya di dunia ini.
Ia pun sudah dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan tersebut, kini hanya tersisa laki-laki paruh baya itu saja.
Ia masih menerawang jauh.
Dalam hatinya berkata
Bagaimana bisa
Apa bagusnya
Laki-laki paruh baya itu terus dan terus saja berfikir, bagaimana, kapan, cara apa.
Supaya keinginan ia terwujud
Tak boleh ada yang diluar nalar dia
Ketika ia masih bergulung dalam fikiran dan menentukan cara yang efektif dan halus, tiba-tiba saja pintu ruangan itu diketuk.
Tok
Tok
Tok
Seketika masuklah seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik, elegan juga menampilkan senyum sumringahnya.
"Kenapa lama sekali? Aku sudah selesai memasak. Ayo! Kita makan malam," Ucapnya dengan bermanja-manja.
"Iya, ini juga aku mau menghampiri mu. Kau saja yang tidak sabaran." Elaknya dengan mencubit manja dagu perempuan paruh baya itu.
"Kau ini," Jawabnya dengan menampar lengan laki-laki paruh baya itu, "Ayo! Aku sudah lapar."
"Ayo, kau ini brisik sekali." Jawabnya lagi dengan segera merangkul perempuan paruh baya itu lalu mereka keluar dan menuju ruang makan.
Mereka pun makan malam hanya berdua, seakan-akan mereka tengah melakukan makan malam romantis ala-ala anak muda.
__ADS_1
...~...
Mansion Mewah
Gadis tengah duduk di sofa ruang keluarga, dengan televisi yang sudah menyala dan menayakan kartun busa berwarna kuning juga bintang laut berwarna merah muda.
Ia terlarut dalam kartun tersebut, suara tawanya terdengar sampai dapur.
Seakan-akan melupakan semua kejadian yang terjadi saat sarapan pagi.
"Hahahaha, kalian lucu sekali. Hahahaha." Tawanya dengan memegang perutnya seakan-akan sudah dikocok habis-habisan oleh si kartun tersebut.
Bibi Nam yang datang untuk mengantarkan camilan juga minuman hangat pun ikut terbawa suasana.
Ia pun tersenyum melihat nyonya mudanya itu tertawa dengan sangat lepas, seperti tidak ada beban dalam hidupnya.
"Permisi, Nyonya."
"Ah, Silahkan Bibi. Maaf Gadis lagi fokus sama si kuning dan merah muda, jadi gak sadar Bibi sudah ada di depan ku, maafkan Gadis, Bibi."
"Gak apa, Nyonya. Ini Bibi bawakan camilan biskuit biasa dan teh hijau hangat untuk menemani nyonya menonton kartun."
"Woah, makasih banget, Bibi. Harusnya gak usah, aku bisa ambil sendiri."
"Ini sudah tugas Bibi, Nyonya. Oiya, Nyonya mau kita jalan-jalan ke mall atau ke tempat yang nyonya ingin kunjungi?" Tanya Bibi Nam yang sudah meletakan camilan dan teh hijau tersebut diatas meja.
"Emm, aku belum tau. Nanti saja kalau aku sudah memikirkannya, Bibi. Nanti aku kasih tau ke Bibi, Oke!"
"Baik, Nyonya. Bibi kembali ke belakang, kalau perlu sesuatu panggil Bibi saja. Permisi, Nyonya."
"Iya, Bibi. Semangat!!" Ucap Gadis dan ia pun kembali fokus pada kartun tersebut.
Hingga tak terasa televisi itulah yang menonton nyonya muda.
...~...
...Tak bosan-bosannya T4 mengucapkan terima kasih kepada semuanya yang masih mau mampir, baca dan meninggalkan jejak like koment☺️...
__ADS_1
...HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘...