Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 31


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


Gadis pun sudah sampai di kamar yang ia dan si Bos tempati dengan suasana hati yang bahagia.


"God, hari ini Gadis senang sekali sudah bisa keluar dari kamar yang membosankan ini, bisa lihat-lihat semua sudut rumah mewah ini, halaman yang diperuntukkan untuk menanam segala jenis bunga-bunga yang indah dan cantik serta bisa menikmati camilan juga minuman yang belum pernah aku nikmati sebelumnya. Pokoknya senang hari ini." Hanya bisa berbicara sendiri dan senyum indah tak lepas dari sudut bibirnya yang mungil itu.


"Lebih baik aku mandi, ini udah lengket banget, oiya, ambil baju di walk in closet, kata Bibi Nam tadi. Hadeh, orang kaya naro baju aja namanya aneh-aneh aja, aku aja naro baju di lemari kayu yang udah rapuh dimakan jaman, nah ini aku cari-cari ternyata tersembunyi, bingung sama pemikiran orang kaya. Udah ah, lebih baik aku mandi terus aku mau ngobrol sama Kakek Beno juga mau minta ditemanin sama Bibi Nam keliling rumah mewah ini." Ucapnya lagi.


Gadis pun lalu pergi ke kamar mandi, ia mengambil mengambil handuk juga pakaiannya di walk in closet yang beberapa jam lalu ia diberitahu oleh Bibi Nam, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Gadis keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian lengkap di tubuhnya.


Ia pun menuju meja rias untuk menyisir rambutnya, walau di meja riasnya sudah lengkap beberapa keperluan kecantikan untuk dirinya, tapi Gadis enggan menggunakannya, Ia lebih suka tampil polos tak berbalut riasan apapun di wajahnya itu.


"Hem, seger sekali rasanya, sisiran terus kita cari Bibi Nam buat nemenin aku ke paviliun belakang, terus cari Kakek Beno buat tanya-tanya tentang bunga yang indah dan cantik itu. Oiya, ngomong-ngomong bunga, bunga yang tadi dikasih Kakek Beno dimana aku simpan, yah? Semoga belum dibuang sama Bibi, itu kan bunga pertama yang aku liat dan langsung jatuh hati. Sudah siap, rambut sudah rapi. Aku gak mau pakai make up, sudah seperti ini saja." Ucap bermonolog sendiri.


Sekiranya sudah rapi, ia pun bergegas keluar hendak menghampiri Bibi Nam untuk ditemani menuju paviliun belakang, karena ia ingin melihat-lihat suasana disana, syukur-syukur Kakek Beno tidak keberatan di ganggu oleh nya.


...~...


Iya pun keluar dari kamar dengan perasaan tidak sabar dan menuruni setiap anak tangga selalu terburu-buru.


"Gak sabar rasanya, ini kenapa masih banyak sekali sih, anak tangganya. Jadi lama." Keluhnya dan ia pun tidak putus asa untuk menuruni semua anak tangga hingga ia tiba di lantai dasar dan melihat sekeliling ruang dan ah ternyata Bibi Nam tengah bersantai ria bersama asisten rumah tangga yang lainnya.


"Bibi." Panggil Gadis saat menemukan Bibi Nam tengah bersantai bersama beberapa asisten rumah tangga tersebut.


Semua asisten rumah tangga yang sedang bersantai pun refleks berdiri dari duduk santai mereka karena mereka mendengar juga sudah menghafal suara sang nyonya muda.


"Ah, maaf semuanya, Gadis ganggu, yah?" Ucapnya sungkan karena tidak enak melihat keadaan para asisten tersebut.


"Gak apa, Nyonya. Ini hanya bersantai saja. Ada yang bisa Bibi Nam bantu?"


"Tadinya mau minta anterin Bibi ke paviliun belakang untuk liat-liat aja, tapi Bibi sepertinya lelah, gak jadi deh." Ucapnya sedikit sendu.


"Bisa-bisa, Nyonya. Tadi Bibi sekedar santai-santai saja." Bibi Nam berkata jujur walau sebenarnya ia sangat lelah karena ia seharian sudah direpotkan dengan drama yang di perbuat oleh tuan mudanya sejak pagi hari.


Ya, memang itu sudah tugas dan kewajibannya.


"Ayo, Bi! Semuanya Gadis pamit, yah." Ajak Gadis penuh semangat dan tak lupa ia berpamitan kepada asisten rumah tangga yang lainnya.

__ADS_1


"Iya, Nyonya." Jawab Bibi Nam.


Dan ke-empat asisten yang tersisa di ruangan santai itu pun menjawab ucapan yang dilontarkan nyonya mudanya sebelum beranjak dari ruangan dan meninggalkan mereka semua untuk kembali melanjutkan bersantai yang tertunda itu.


"Ternyata nyonya muda kita imut sekali." Ucap Fitri


"Iya, imut dan sopan sekali tutur katanya, beda banget sama..." Tambah Yeni


"Sudah-sudah, kalian berdua ini kalau sudah bahas gosip pasti kompak." Ucap Mbak Ratih.


"Betul, Rat. Memang Fitri sama Yeni kalau ada gosip, yang mereka jadi klop dan pasti nyambung terus kayak aliran listrik." Timpal Mbak Warti.


Itulah beberapa ucapan yang dilontarkan dari keempat asisten rumah tangga yang bersantai bersama Bibi Nam.


...~...


Langkah demi langkah mereka tapaki.


Gadis pun bergelayut manja di lengan Bibi Nam dengan suasana hati yang riang dan gembira, jangan lupakan bibirnya tak pernah lepas dari senyum sumringahnya tersebut.


"Ah, Bibi....rasanya Gadis hari ini senang banget." Ucap Gadis dengan suara dan senyum yang kentara di sudut bibirnya.


Wajahnya pun memancarkan aura kebahagiaan yang terpatri.


"Hehe, rahasia."


"Astaga, Nyonya." Bibi Nam hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Nyonya ini, kadang bahasanya baku kadang juga bahasanya formal, Bibi jadi bingung sendiri mau nyeimbangin tutur kata nyonya muda ini, huufft...serba salah jadi kepala asisten rumah tangga seperti aku ini." Keluh Bibi Nam dalam hatinya, karena nyonya mudanya suka sekali berubah-ubah menggunakan kata-kata terkadang formal terkadang juga bahasa santai.


Mereka pun sudah sampai di pintu masuk paviliun belakang, suasana lumayan ramai terdengar dari banyaknya suara yang terdengar dan juga penglihatannya tersaji dihadapannya.


Karena apa?


Karena ada beberapa penjaga yang tengah bersantai saat pergantian sift.


Dan juga ada yang tengah menyesap kopi yang telah dibuat mereka.


"Sore, Nyonya muda." Sapa mereka kompak.


"Ah, kalian ini kompak sekali, panggil saja Gadis gak usah pake kata 'nyonya' karena aku bukan nyonya kalian." Ucapnya cemberut.

__ADS_1


"Gak bisa, Nyonya. Ini sudah perintah dari Tuan muda." Ucap kepala penjaga tersebut.


"Terserah kalian, lanjutkan saja santai-santainya."


Mood Gadis seketika pun buruk karena semua orang di rumah ini selalu memanggil ia dengan sebutan 'nyonya muda.



Walau di hatinya sedikit merasa bahagia, tapi ia tepis jauh-jauh, ia tidak mau berandai-andai terlalu tinggi.


"Bibi, ruangan mana yang bisa buat Gadis melihat pemandangan indah, Gadis bosan."


"Ayo, kita ke arah balkon belakang dengan melihat suasana indah dari kaca juga sudah tersedia sofa, dan mata nyonya langsung dapat melihat pemandangan itu."


"Ayo!"


Gadis sudah tidak sabar pun sedikit menarik tangan Bibi Nam.


Tempat yang di tuju sudah di depan mata, segera Gadis duduk dan matanya melihat pemandangan yang di halangi oleh kaca, tapi masih bisa dilihat oleh Gadis.


"Nyonya, Bibi siapkan coklat hangat, yah. Nyonya tunggu disini."


"Iya, Bibi."


Gadis pun melihat pemandangan itu dengan sulit diartikan.


Bibi Nam yang hendak membawakan coklat hangat pun mengurungkan diri, ia letakkan gelas berisi coklat hangat itu terlebih dahulu di meja sampingnya dan mengeluarkan ponsel serta membuka aplikasi kamera, setelahnya ia memotret wajah sang nyonya muda yang tengah melamun.




...~...


Maaf ya kalau visual untuk pemain wanitanya kurang berkenan🙏


Oiya, T4 mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang sudah mau mampir, membaca, meninggalkan jejak berupa like, koment dan juga memberikan vote kepada T4.


Jujur rasanya senang banget, T4 fikir novel ini gak ada yang minat buat mampir apalagi baca😉


Sekali lagi terima kasih yah, semoga kalian semua diberikan kesehatan;rejeki berlimpah dan selalu bahagia. Amin🙏

__ADS_1


hepinizi seviyorum😘😘


__ADS_2