
...LIKE DULU DONG!!!!...
...~...
Mansion Mewah
Tepatnya di kebun halaman depan mansion mewah, Gadis sudah dapat melihat pemandangan yang sangat indah serta menyejukkan mata, hati juga fikirannya yang beberapa menit lalu dilanda kesedihan akibat merindukan mendiang kedua orang tuanya.
Saat ini Gadis tengah berjalan santai di sekitaran bunga yang indah, sesekali ia mencium wangi dari bunga tersebut atau bahkan ia berjongkok untuk dapat melihat lebih intens lagi bunga-bunga tersebut.
Tibalah ia di salah satu bunga yang menarik hatinya untuk lebih dekat lagi, disana ada sosok laki-laki paruh baya yang tengah menyirami bunga itu juga sedikit membersihkan rumput-rumput liar diantara bunga itu.
"Kakek." Panggil Gadis pada laki-laki paruh baya itu.
"Ah, iya nyonya." Laki-laki paruh baya itu tengah asik dengan kegiatannya, ia dikejutkan oleh suara Gadis.
"Maaf sudah mengagetkan, Kakek." Ucap Gadis sedikit merasa tidak enak hati.
"Tidak apa, nyonya. Ada yang bisa Kakek bantu?" Tanyanya.
"Kakek kenapa dicabutin itu bunga hijaunya? Terus itu bunga apa? Cantik sekali, Gadis jadi mau minta, boleh?"
"Ah, itu rumput liar nyonya, kalau tidak dicabut dan dibersihkan ia akan menjadi benalu dan bisa membahayakan kehidupan bunga indah ini juga yang lainnya, nyonya. Dan itu bunga tulip namanya, nyonya. Nanti Kakek Beno buatkan rangkaian bunga tulip yang cantik dan indah khusus untuk nyonya muda yang lembut dan cantik."
"Kakek...Jangan buat Gadis malu, jangan godain Gadis."
Gadis malu akan ucapan sang Kakek Beno yang mengatakan ia cantik, tapi memang Gadis cantik dengan tubuh ramping, kulit putih juga tutur katanya lemah lembut sekali.
Gadis yang tengah bercengkrama dengan Kakek Beno, tidak menyadari jika Bibi Nam diam-diam merekam semua aktifitas Gadis yang tengah tertawa lepas. Senyum indah itu dapat membius siapa saja yang melihat, juga tawanya yang menampilkan kecantikan yang alami didalam tubuhnya.
"Nyonya, Bibi Nam berharap nyonya dapat mempertahankan senyum dan tawa di sudut bibir dan hidup nyonya, jangan ada kesedihan lagi dalam hidup nyonya, juga bukalah sedikit hati nyonya untuk tuan muda, kelak nyonya akan mengerti semua sifat dan sikap tua yang sesungguhnya." Bibi Nam hanya bisa berdoa dalam hatinya untuk kehidupan bahagian tuan dan nyonya mudanya kelak sembari merekam semua aktifitas Gadis.
Gadis yang menyadari tengah di rekam Bibi Nam pun menghampirinya.
"Bibi jangan di rekam, Gadis malu."
"Tidak apa nyonya, mau Bibi foto kan?"
Gadis yang suasana hatinya sudah lebih baik lagi pun mengiyakan.
Dengan segera Bibi Nam memotret semua gerakan Gadis, Kakek Beno pun menyerahkan beberapa tangkai bunga yang sudah ia ikat menjadi satu bagian utuh.
"Nyonya, coba berpose dengan bunga-bunga indah ini dan berikan senyuman yang indah." Ucap Kakek Beno dengan menyerahkan salah satu bunga tulip yang sudah ia petik.
"Baik, terima kasih Kakek sebelumnya."
"Bibi, ayo foto lagi. Harus cantik yah, Bibi. Hehehe."
Bibi Nam pun tidak menyia-nyiakan moment ini, segeralah ia mengambil beberapa pose Gadis.
Ada banyak foto yang Bibi Nam ambil, tetapi hanya beberapa yang bagus, tidak lupa Gadis ingin melihat hasilnya.
"Wah, Bibi pandai mengambil gambar, aku jadi terlihat cantik." Ucap Gadis.
"Bukan Bibi yang pandai mengambil foto, memang nyonya yang sudah cantik saja, jadilah hasilnya juga cantik tak bercacat."
"Bibi...Jangan mengodaku seperti Kakek Beno." Ucap Gadis malu dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tak menyia-nyiakan kembali Bibi Nam mengambil pose Gadis kembali.
"Memang cantik nyonya muda, benar yang Bibi Nam bilang. Kakek saja terpesona melihat kecantikan dan kelembutan nyonya, padahal kita baru sekali bertegur sapa."
"Kakek...Jangan godain lagi."
Hahaha
Tawa pun pecah dari Kakek Beno juga Bibi Nam, mereka terlihat senang karena melihat Nyonya mudanya itu tersipu malu, lihat wajahnya saja sudah memerah padam ditambah kulitnya seputih salju jadi terlihat sekali.
__ADS_1
"Bibi Nam segeralah kedalam rumah karena matahari sudah sangatlah terik." Ucap Kakek Beno.
"Baik, ayo nyonya." Ajak Bibi Nam.
"Tapi kenapa Kakek Beno malah masih di luar dan betah dengan matahari, aku ingin lebih lama disini, aku ingin bantu Kakek Beno bercocok tanam."
"Tidak bisa, nanti yang ada Kakek Beno terkena marah oleh Tuan muda." Ucap Bibi Nam.
"Benar yang diucapkan Bibi Nam, sebaiknya nyonya muda masuk kedalam rumah sekedar menikmati tayangan televisi atau membaca majalah dengan di suguhkan camilan juga minuman dingin."
"Baiklah, tapi Kakek jangan lupa bawakan bunga tulip yang sudah dirangkai yah, Gadis suka sama bunga itu, Gadis jatuh hati pada pandangan pertama, hehehe." Gadis pun menyerahkan kembali bunga yang tadi Kakek Beno berikan kepadanya untuk dirangkai dengan bunga lainnya.
"Siap."
"Bye bye bunga-bunga cantik dan indah."
Kakek Beno geleng-geleng kepala melihat kelakuan nyonya mudanya itu.
Bibi Nam pun mengajak Gadis masuk kedalam rumah, karena matahari sudah sangatlah terik.
...~...
Tibalah mereka di sofa, tepatnya di ruang keluarga.
"Nyonya mau dibuatkan apa?" Tanya Bibi Nam.
"Emm, apa yah. Aku bingung, Bi. Apa Bibi ada saran?"
"Oke, Bibi Nam buatkan yang spesial untuk nyonya, sembari menunggu camilan dan minuman, nyonya lebih baik bersantai dengan menonton televisi atau mau panggilkan Ratih atau Fitri untuk memijat nyonya?"
"Tidak, aku nanti saja nontonnya mau duduk santai aja, Bi. Kasian Mbak Ratih juga Mbak Fitri kalau harus pijitin saya, mereka juga pasti sudah capek dengan urusan dapur dan lainnya."
"Baik, kalau begitu Bibi tinggal."
Gadis menganggukkan kepalanya dan ia pun duduk diam sembari matanya ia pejamkan.
Benar di luar sangat panas, disini ia duduk nyaman dengan sofa yang empuk ditambah ruangan yang dilengkapi pendingin ruangan, Hem nikmat mana lagi yang kau dustakan.
"Maaf nyonya mengganggu."
"Ah, iya. Apa sudah jadi rangkaian bunga tulip nya Kakek?" Tanya Gadis antusias walau ia sedikit masih merasakan pusing akibat tidur yang setengah jalan.
"Sudah, ini untuk nyonya muda yang cantik juga lembut hatinya."
"Kakek bisa aja, Gadis jadi malu." Ia pun menerima rangkaian bunga tersebut dengan hati bahagia.
"Terima kasih Kakek."
"Kembali kasih, nyonya. Kakek kembali lagi ke paviliun belakang."
"Kakek sudah selesai yah!?"
"Iya, nyonya."
"Oke, Kakek istirahat saja kasian Kakek pasti kepanasan, apa mau Gadis ambilkan minuman dingin?" Tawar Gadis.
"Tidak usah, nyonya. Sebelumnya terima kasih, lebih baik kakek di paviliun saja pasti sudah ada yang lainnya yang biasa membuatkan Kakek teh hijau."
"Oh, Oke." Jawab Gadis sesekali mencium bunga tulip tersebut.
Kakek Beno pun kembali ke paviliun belakang, sedangkan Gadis tengah asik memeluk rangkaian bunga tulip tersebut, seakan-akan ia tidak mau melepaskan bunga-bunga indah dan cantik tersebut.
Di Dapur
__ADS_1
Bibi Nam di bantu oleh Ratih dan Warti membantu membuat camilan sedangkan Fitri dan Yeni di bagian minuman, supaya pekerjaan lebih cepat agar nyonya muda mereka tidak terlalu menunggu lama.
Sebelumnya Bibi Nam sudah mengirimkan kembali video rekaman si nyonya muda pada tuan muda, tapi masih sama tidak ada balasan bahkan belum ada tanda-tanda dibaca oleh tuan mudanya itu.
"Kita buat camilan juga minuman kesukaan tuan muda? Memang tuan muda udah pulang yah, Fit?' Tanya Yeni rada lemot.
"Ish, udah kerjain aja jangan banyak mulut."
"Ck, kamu menyebalkan." Gerutu Yeni yang tidak mendapatkan jawaban dair Fitri.
"Sudah-sudah jangan pada mulai ya ribut-ributnya, supaya cepat ini selesai kasian nyonya muda nungguin, bahaya kalo sampe tuan tau kita tidak layanin nyonya dengan baik." Ucap Warti kala mendengar keributan yang dibuat oleh kedua anak perawan tersebut.
"Iya, Mbak Warti." Jawab keduanya kompak.
Bibi Nam juga Ratih hanya geleng-geleng kepala, karena sudah terbiasa melihat keributan yang ditimbulkan oleh **duo FY** itu.
Hingga lebih dari 45 menit camilan juga minuman yang mereka buat sudah selesai.
"Akhirnya." Ucap mereka semua karena tidak sia-sia mereka berkutat lebih dari setengah jam dan sedikit sulit membuatnya.
"Semuanya, terima kasih. Yaudah kalian boleh lanjut lagi atau ada yang langsung mandi juga boleh ini juga hampir mau sore, semoga nyonya tidak bosan dan kita tidak telat kasih nyonya camilan juga minuman ini." Ucap Bibi Nam pada mereka berempat.
"Amin, Bibi."
Camilan dan minuman yang sudah siap diletakkan di troli makanan dan disusun rapi, Bibi Nam pun berjalan sembari mendorong troli makanan tersebut dengan pelan-pelan.
Bibi Nam pun masuk kedalam ruang keluarga dengan masih mendorong troli makanan dengan hati-hati, tiba-tiba kedua matanya melotot.
...~~~~~...
Maaf yah disini T4 belum membuka jelas nama pemain laki-lakinya, hehehe mau buat kalian penasaran. Semoga kalian yang baca tidak bosan yah. Kalau bosan boleh mampir ke novel lain😉
jangan bosan ya walau hanya mampir, kalau bisa baca juga tinggalkan jejak😉
__ADS_1
hepinizi seviyorum😘😘