
...LIKE DULU DONG!!!!...
...~...
Beberapa jam sebelum salah satu bodyguard yang bertugas untuk mengawal wanitanya itu menelpon dirinya.
Si bos tengah berkutat dengan berkas-berkas dokumen yang harus ia periksa sebelum ia bubuhi tanda tangannya tersebut.
Tengah berkutat dengan berkas-berkas dokumen, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan sosok asisten Roy yang masuk.
Ia lihat sekilas lalu si bos kembali fokus dengan pekerjaan tersebut.
"CK, kenapa wajahmu itu? Jelek sekali, seperti ditagih hutang oleh seorang debt colector, saja!" Sarkas si bos tanpa menolehkan wajahnya.
"Tidak ada apa-apa, Bos. Hanya bosan dengan kepenatan ini." Elaknya dan tanpa dipersilahkan duduk terlebih dahulu, asisten Roy sudah duduk di kursi tepat dihadapan bosnya tersebut.
"CK, kalau berbohong lihat orang dahulu!" Ucap si bos, kini ia letakkan berkas-berkas dokumen tersebut dan punggungnya bersandar di kursi kebesarannya tersebut.
Asisten Roy yang dicibir hanya diam tanpa menjawab apapun.
"Apakah sudah ada kabar dari Key, Roy?"
"Belum, Bos. Bos!! Jangan-jangan Key ketahuan oleh tuan besar yang telah memata-matai tuan besar?" Asisten Roy dengan beberapa hipotesanya tersebut.
"Kau ini, Key itu orangnya cerdik tidak akan ketahuan. Jika ketahuan ia akan pintar untuk menjawabnya. Mungkin saja dia sedang sibuk diatas ranjang dengan wanita berdada besar juga des**h*aan yang merdu di telinga." Ucap si bos sedikit frontal.
Asisten Roy hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, mendengar ucapan bosnya yang sudah melewati batas normal tersebut.
Tanpa membuang waktu mendengar ucapan bosnya yang diluar nalar, ia pun pamit undur diri untuk kembali ke meja kerjanya tersebut.
Si bos hanya menganggukkan kepalanya saja, melihat sikap asisten tersebut.
Ia memejamkan kedua matanya dan kedua tangan ia lipat didepan dada.
Sungguh hari ini ia tidak bisa fokus, karena fokusnya hanya pada wanitanya. Yakni 'Gadis' seorang.
Ia masih menerka-nerka bagaimana tampilan wanitanya itu.
Apakah Bibi Nam mendandaninya sangat cantik hingga semua mata terpusat pada wanitanya tersebut?
Apakah wanitanya tersebut menjadi incaran laki-laki diluaran sana?
Masih banyak pemikiran pemikiran negatif yang ia fikirkan mengenai Gadis.
Hingga bunyi deringan ponselnya mengalihkan atensinya.
__ADS_1
Ia lihat nama si penelpon. 'Pengawal C'
Ada apa gerangan didalam lubuk hatinya bertanya-tanya.
Segera ia jawab panggilan tersebut.
"Katakan!!!"
Pengawal C : Maaf mengganggu, Bos. Nyonya muda.........
Pengawal C pun mulai mengatakan jika nyonya mudanya tidak sengaja menabrak seorang perempuan paruh baya, lalu perempuan paruh baya itu seperti kenal dekat dengan nyonya mudanya dan mengetahui nama nyonya mudanya itu. Ditambah perempuan paruh baya itu ingin memeluk nyonya mudanya tetapi dihalangi oleh salah satu rekannya, dan nyonya mudanya marah hingga berteriak.
Ia juga menceritakan adanya seorang perempuan muda dengan potongan rambut sebahu juga sedikit tomboy bersama laki-laki paruh baya. Mereka sama-sama mengenal dekat dengan nyonya mudanya itu. Sekali lagi nyonya mudanya hampir dipeluk oleh perempuan muda tersebut. Untung saja sudah lebih dahulu rekan lainnya menghalangi juga memberi peringatan, tetapi nyonya mudanya terus bersikeras ingin lebih dekat kepada ketiga orang tersebut. Alhasil ia berinisiatif menelpon dirinya alias si Bos.
"Segera berikan ponsel ini pada nyonya muda!! Aku ingin berbicara dengannya. Sekarang juga!!"
Pengawal C : Baik, Bos. Maaf tunggu sebentar.
Ketika pengawal C mendekat kepadanya, Gadis pun sadar akan tindakannya yang dapat membahayakan ketiga orang yang sangat ia sayangi itu.
Pengawal C : Nyonya, maaf. Bos ingin berbicara dengan nyonya muda!
Seketika tubuh Gadis menegang, dan tangannya bergetar dengan hebat.
"Si....siapa?" Tanyanya ulang untuk memastikan pendengarannya.
Ucap kembali si pengawal tersebut.
Dengan sekuat tenaga Gadis mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan secara perlahan-lahan.
"Ha....haloo." Ucapnya dengan suara bergetar kentara sekali.
"Good, good. Sudah berani melawan, rupanya! Akan ku pastikan ketiga orang tersebut akan lenyap hari ini juga. KAU MENGERTI!!" Sarkas si bos diujung sana dengan suara dinginnya.
"Bu...bukan begitu. Maaf, maaf. Aku hanya refleks. Aku mohon tuan jangan lenyap kan mereka, aku mohon!"
Tanpa sadar Gadis memanggil si bos dengan sebutan 'Tuan'
"Apa kau bilang!!!" Kembali dengan suara kerasnya.
Gadis yang bingung dengan kemarahan di bos pun secara refleks mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau panggil aku dengan sebutan 'Tuan', HAH!!!" Ucapnya dengan menekan kata 'Tuan' tersebut.
"Astaga, stupiiiid stupiiiid. Kamu Gadis. Dia kan gak mau kamu panggil dengan sebutan 'Tuan'" Keluh Gadis dalam hatinya.
__ADS_1
"Ma....maksudnya, Sayang. Aku, aku hanya refleks bertemu dengan mereka. Ku mohon jangan lenyap kan mereka. Aku mohon." Ucap Gadis dengan suara yang sedikit tertahan karena ia menahan air matanya yang sebentar lagi akan jatuh mengenai kedua pipinya.
"Baik, tetapi aku ada syarat!" Ucap si bos diujung sana dengan bibir yang menyeringai.
"Aku sudah tau apa syarat, tidak akan jauh-jauh dari area sla***k****ngaan." Keluh Gadis dalam hatinya.
Ia sengaja tidak menjawab pertanyaan si bos.
"Apa kau masih mendengarkan aku, HONEY!!!!" Terdengar suara gemertakan gigi yang beradu tanda si bos menahan amarahnya, menunggu jawaban dari wanitanya tersebut.
"Ah, iya iya. Aku masih mendengarkan mu."
"Berikan ponsel ini kembali pada pengawal C supaya mereka bergegas menghabisi ketiga manusia tidak berguna itu!"
"Jangan, jangan. Aku mohon. Baik, baik. Apa syaratnya, Sayang? Aku akan lakukan, tetapi dengan syarat kau juga jangan menyentuh Shaybila, kakek juga nenek. Aku akan menuruti semua keinginan mu."
Hanya bisa pasrah, karena ia tidak mau Shaybila, kakek Mail juga nenek Memey dalam bahaya.
Biarlah ia menjadi jaminan keamanan ketiga orang tersebut, asal mereka selamat dari cengkraman si bos yang jahat itu.
"Good, persiapkan dirimu secantik mungkin nanti malam. Aku ingin melihat performa mu saat menyambut kedatangan ku saat pulang dan juga pelayanan servis mu yang membuat aku puas, Honey."
"Ba...baik."
"Kalau begitu kau lanjutkan kegiatan mu di mall, kau bisa habiskan semua uang yang sudah aku kirim melalui Bibi Nam, jika kurang akan aku kirimkan kembali. Sampai jumpa nanti malam. Ingat!! Persiapkan dirimu secantik mungkin, dan sambut aku dengan baik. Jika tidak, kau tau sendiri risikonya, Honey."
Tanpa menunggu jawaban dari wanitanya, si bos pun memutuskan panggilan secara sepihak.
Gadis pun mengembalikan ponsel tersebut kepada pengawal C. Dengan sigap si pengawal tersebut mengangkat tangannya dihadapan Gadis dengan telapak tangan yang sudah ia ulurkan dengan paham Gadis meletakkan ponsel tersebut diatas telapak tangan pengawal C.
Ia paham, pengawal C tidak mau bersentuhan tangan dengan dirinya. Mungkin sudah berjanji kepada laki-laki laknadd itu yang dianggap bosnya tersebut.
Mood Gadis kini sudah hancur, ia tidak ingin kemana-mana. Ia hanya ingin pulang dan masuk kedalam kamar juga mengunci pintu itu, kemudian wajahnya ia selipkan diantara bantal juga ranjang.
"Nyonya," Panggil Bibi Nam.
"Kita pulang, Bibi. Gadis ngantuk." Ucapnya dengan berjalan lebih dahulu tanpa menunggu jawaban dari Bibi Nam.
"Pasti nyonya muda diancam kembali oleh tuan muda," Tebak Bibi Nam.
"Bibi bicara apa?" Tanya pak Githo, yang samar-samar mendengar ucapan Bibi Nam.
"Tidak ada. Ayo, kita susul nyonya muda. Nyonya mengatakan mengantuk ingin segera tidur."
Kini Bibi Nam juga pak Githo mengejar nyonya mudanya yang sudah berjalan terlebih dahulu dengan suasana hati yang dipastikan sangat-sangat hancur redam.
__ADS_1
...~...
...HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘...