Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 44


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


Setelah ia ditinggal sendirian di ruang keluarga, Gadis masih asik dengan memandangi bunga berwarna merah muda tersebut dan memeluknya dengan sangat erat.


"Gadis bersyukur sekali dikelilingi oleh orang yang sayang dan perhatian sama Gadis, tapi semoga mereka seperti itu bukan karena disuruh sama si laki-laki laknadd itu. Apalagi Kakek Beno sudah aku anggap sebagai kakek aku sendiri dan Bibi Nam sudah Gadis anggap layaknya ibu kandung Gadis, hufff...aku bahagia tapi nanti saat malam dan si laki-laki laknadd itu pulang suasana hatiku jadi hancur karena dia. God, kapan aku bebas dari cengkraman laki-laki laknadd itu."


Selalu saja yang ia inginkan lepas dari cengkraman si Bos.


Ketika hendak mengambil segelas susu yang ada dihadapannya dengan berbarengan meletakkan bunga tersebut, tiba-tiba saja segelas susu itu tumpah mengenai dress yang ia kenakan. Parahnya lagi, Gadis secara refleks melindungi bunga merah muda tersebut daripada dress yang ia kenakan.


"Aduh!! Kenapa aku ceroboh banget, sih!! Untung bunganya gak ketumpahan susu ini, kan jadi rusak nanti untuk hanya kena dress yang aku pake, kalau baju kan bisa ganti. Nah, kalau bunga ini aku gak tega untuk membuangnya apalagi ini pemberian dari kakek Beno, pasti kakek Beno sudah susah payah merangkainya."


Gadis lebih mementingkan bunga merah muda itu daripada dress yang ia tidak tahu saja harga dan juga sangat limited edition.


"Ganti baju dulu, dan kamu disini saja yah manisnya, Gadis." Ucapnya pada rangkaian bunga merah muda tersebut.


Segera ia beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya untuk segera mengganti pakaian dengan yang bersih.


Tidak membutuhkan waktu lama, Gadis sudah berganti pakaian yang lebih simpel lagi.


Ia pun membawa gelas kosong yang beberapa menit lalu masih terisi kan susu, tapi bukan ia minum tapi tidak sengaja tersenggol dan terbuang sisa-sisa tanpa Gadis minum.


"Bibi, maaf tadi susunya belum sempat Gadis minum," Ucap Gadis saat ia di dapur dan tepat Bibi Nam tengah sedikit santai.


"Tapi isinya sudah kosong, Nyonya." Bibi Nam bingung dengan ucapan nyonya mudanya itu.


"Hehehe, tidak sengaja kesenggol sama Gadis trus tumpah kena dress yang Gadis pake tadi, lihat Bibi! Gadis sudah ganti baju, kan!"


"Astaga, Nyonya. Bibi baru sadar, tapi nyonya terkena panasnya tidak?" Bibi Nam sedikit khawatir.


"Gak, Bibi. Tadi tumpah udah lebih dingin, untung bunga yang Kakek Beno kasih gak kena tumpahannya, untungnya juga tadi Gadis refleks ngelindungin bunganya, hehehe."


"Astaga, nyonya muda ini gak tau apa harga dress yang ia pakai tadi itu sangat mahal, harganya saja beberapa bulan gaji Bibi dan juga nak Roy bilang itu dress yang limited edition," Gumam Bibi Nam dalam hatinya.


"Bibi Nam buatkan lagi susunya, tapi lebih hangat tidak panas dan supaya bisa langsung diminum, nyonya."


"He'em. Gadis ke ruang keluarga lagi, tapi Bibi... Gadis minta tolong, untuk membersihkan sisa-sisa tumpahan susu di ruang keluarga."


"Baik, nyonya."


Gadis pun segera kembali ke ruang keluarga.


Bibi Nam larut dalam lamunannya.


"Kenapa hari ini aku gak fokus, tadi pagi lupa bawa baju untuk nyonya saat mandi dan ini kenapa aku buatkan susu dengan air panas, kan jadi tidak langsung nyonya minum dan alhasil jatuh terbuang sisa-sisa, aku segera buat lagi saja susunya, bisa bahaya jika nyonya hari ini tidak minum susu, ini sudah perintah Tuan muda."


Segera Bibi Nam membuatkan segelas susu hangat setelah ia larut dalam lamunannya, karena kecerobohan yang ia perbuat dari pagi hingga saat ini.

__ADS_1


"Nyonya, ini susunya hangat bisa segera nyonya minum dengan pelan-pelan,"


Bibi Nam yang sudah membawa segelas susu hangat pun segera meminta nyonya mudanya itu meminumnya langsung dan juga dengan hati-hati.


"Baik, Bibi."


Segera Gadis menenggak segelas susu itu dalam beberapa tegukan besar.


"Untung saja nyonya langsung menurut tanpa banyak tanya dan penolakan, aduh....kenapa masih pegang bunga itu lagi. Bisa-bisa seharian nyonya duduk disini tanpa mau keluar rumah, Bibi harus buat nyonya menghirup udara supaya ia tidak bosan. Itu perintah tuan muda."


Segala cara Bibi Nam lakukan untuk membuat nyonya mudanya itu tidak bosan juga ia berusaha menjalankan tugas dan perintah tuan mudanya itu.


"Apakah nyonya mau berkeliling lagi halaman belakang yang disudut utara?"


"Mau mau mau, Bibi." Gadis sangat antusias dengan ajakan Bibi Nam.


"Tapi, bunganya jangan dibawa-bawa diletakkan diatas meja ini saja, Nyonya."


Ucapan Bibi Nam membuat Gadis sedikit melototkan kedua matanya.


"Tidak akan hilang kok!" Seperti paham akan raut wajah Nyonya mudanya, yang enggan lepas dari delapan si bunga merah muda itu.


"Benar yah, Bibi. Gak bakalan ilang apalagi dibuang!"


"Bibi jamin, Nyonya."


"Tapi..."


"Kenapa, Bibi?"


"Tapi, nyonya yakin pakai baju seperti itu, nanti nyonya kepanasan."


"Gak apa, Bibi. Biar kena angin langsung, hehehe."


"Huffffff.....Nyonya ini keras kepala sekali," Gumam Bibi Nam dalam hatinya melihat kekeras kepalaan sang nyonya mudanya ini.


Akhirnya perdebatan itu dimenangkan oleh Gadis, Bibi Nam hanya pasrah dengan kemauan nyonya mudanya yang tidak mau mengganti pakaian dengan yang lebih tertutup lagi.


Bukan tanpa alasan, karena pakaian itu seperti tangtop.


Bisa kalian rasakan mengenakan pakaian seperti tangtop disaat jam sudah menampakkan mataharinya layaknya diatas kepala.


Sungguh panas sekali.


...~...


Saat ini mereka sudah sampai di halaman belakang, tepatnya disudut paling utara mansion ini.


Halaman ini bisa dikatakan sebagai hutan buatan, karena banyaknya pepohonan yang tumbuh juga suasananya benar-benar sejuk.

__ADS_1


Kini Gadis tengah berada di bangunan bercorak rumah liliput dan ia sedang berpose layaknya foto model.


"Bibi,"


"Iya, Nyonya."


"Kenapa gak bilang ada hutan buatan ini, ini benar-benar sejuk dan banyak pepohonan yang tumbuh juga menjulang tinggi. Dan ini rumah liliput," Ucapnya dengan bersandar di bangunan yang ia sebutkan tadi.


Tanpa membuang-buang moment langkah, Bibi Nam sekali lagi mengambil ponselnya dari dalam apron yang masih ia kenakan, kemudian ia buka aplikasi kamera dan mengambil beberapa gaya Gadis, Gadis yang sadar akan bidikan kamera Bibi Nam pun hanya pasrah dan tanpa penolakan seperti biasanya.




"Cantik," Ucap Bibi Nam lirih.


"Harus segera aku kirim ke tuan muda," Gumam Bibi Nam dalam hatinya.


"Bibi, Bibi Nam." Panggil seseorang dari kejauhan.


"Ada apa, Susi?"


Seseorang itu Susi, yang berteriak-teriak sembari berlari menuju hadapan Bibi Nam.


"Haaah Haaaah Haaaah....iiihhtuuuh..." Ucap Susi dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena ia berlari-lari.


"Tarik nafas dulu, dan baru bicara."


"Supir box pengantar kebutuhan selama sebulan sudah tiba dan dia sudah biasa dengan Bibi, dia maunya sama Bibi."


"Lalu nyonya dengan siapa? Sama kamu yah, Susi!"


"Susi tidak bisa bibi. Susi tengah memasak tidak bisa ditinggal. Maaf nyonya, bukan maksud Susi tidak mau menemani, nyonya muda berkeliling." Ucapnya tidak enak hati pada sang nyonya muda.


"Gak apa Gadis bisa sendiri, hanya disini kok. Gak akan kemana-mana juga, Bibi dan Mbak Susi lanjutin aja pekerjaannya, Gadis nanti juga segera tidur siang, kalau sudah selesai nikmatin udara sejuk ini,"


"Baiklah, hati-hati jangan terlalu lama nanti nyonya kepanasan, kami tinggal dulu, Nyonya."


Bibi Nam juga Susi pun sudah meninggalkan Gadis sendirian di hutan buatan tersebut, Bibi Nam sungguh melupakan...


...~...


T4 upload jam 21.00 waktu setempat di kalian jam berapa🤔


Maaf yah kalau chapter ini dan juga novel ini membosankan🙏


T4 mengucapkan terima kasih sekali atas dukungan semuanya yang masih mau mampir, baca dan meninggalkan jejak like koment☺️


HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘

__ADS_1


__ADS_2