Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 24


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


Sepeninggal Suster Neli, kini suasana di dalam kamar si Bos pun masih terasa hening.


Bibi Nam yang merasa sudah tidak dibutuhkan lagi juga ia merasa atmosfer di dalam kamar ini sudah sedikit berbeda, segera ia pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Tuan, Bibi pamit untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda, permisi Tuan, Dokter Brand dan nak Roy."


"Iya, Bibi." Hanya Dokter Brand dan juga asisten Roy yang menjawab.


Si Bos yang enggan menjawab ucapan Bibi Nam terus saja menggenggam tangan Gadis.


"Jadi?" Tanya Dokter Brand.


Dokter Brand membuka pembicaraan.


"Roy, bisakah kau meninggalkan kami berdua saja disini, ada yang ingin ku bicarakan empat mata dengan Dokter Brand."


"Baik, Bos."


Dokter Brand sedikit paham akan tindakan si Bos pun untuk mengusir asisten Roy secara halus karena ia ingin berbicara hanya dengan ia yang notabene dokter keluarga sekaligus sahabatnya.


Hanya anggukkan kepala yang si Bos berikan, tak ketinggalan Dokter Brand menepuk pelan pundak asisten Roy juga memberikan senyumnya.


Kini kamar si Bos hanya tersisa Bos dan Dokter Brand, jangan lupakan Gadis yang masih belum sadarkan diri.


"Jadi?" Tanya Dokter Brand sembari berjalan menuju sofa yang berada di kamar tersebut.


"Apanya yang jadi?" Si Bos pun dengan santainya bertanya kembali.


Saat ini posisi si Bos duduk di tepian ranjang tanpa mau menolehkan wajahnya pada Dokter Brand, jangan lupakan tangannya tak mau melepaskan genggaman tangannya pada tangan Gadis.

__ADS_1


"Ck" Berdecih dengan jawaban yang diutarakan pada lawan bicaranya.


"Duduklah di samping ku, aku perkirakan dia akan bangun sekitar 1 jam lagi."


Si Bos enggan menuruti kemauan dokter sekaligus sahabatnya itu.


"Ck" Decihnya karena sahabatnya enggan duduk disampingnya.


Dokter Brand pun menarik nafasnya sebelum ia mengeluarkan semua yang ada didalam kepala juga hatinya.


"Haaah, aku sarankan kau lebih baik lepaskan dia, daripada ia meninggal dengan perlahan-lahan dengan semua tindakanmu yang tidak memiliki hati juga perasaan itu. Aku takut ia akan sangat trauma juga depresi lebih parahnya lagi mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri daripada ia hidup lebih lama lagi bersamamu.


"B**ngs**t!" Teriak si Bos dengan intonasi yang sangat tinggi, untungnya Gadis belum sadarkan diri.


Tidak terima dengan ucapan Dokter Brand, ia pun berdiri dan menghampiri Dokter Brand di sofa yang ia duduki, ia pun menarik kerah baju yang dikenakan oleh dokter tampan itu.


Dokter Brand tidak takut sama sekali, ia santai dengan menaikan sudut bibir atasnya tanda mengejek.


"Kenapa diam? Aku benar kan! Berfikirlah realistis jangan kau jadikan dia hanya sebagai budak pelampiasan-mu untuk menyalurkan hasrat bej**t sesaatmu."


"Apa kau bilang melepaskan wanitaku, kau lebih tak berperi kemanusiaan. Dia sudah ku nikmati. Aku mencintai dia bukan menjadikan dia budak pelampiasan-ku. Kau paham Dokter Brand yang terhormat."


"Cih, cinta apa kau terobsesi dengan kecantikan yang dimiliki oleh dia? Bisa kau jawab?"


"Ya, aku mencintai dia. Tepatnya cinta pada pandangan pertama."


"Omong kosong! Kau tau apa tentang cinta? Dan cinta pada pandangan pertama, cih! Jika kau mencintai dia pada pandangan pertama, kau lakukan pendekatan dengan cara manusiawi dan secara laki-laki, namun kau tak melakukan itu. Apa perlu ku ingatkan lagi tentang awal kau dapatkan dia? Kau mengambil ia paksa layaknya penculikan anak juga kau beri ancaman pada 2 perempuan yang berbeda generasi, bukan!" Ucap Dokter Brand.


"Dan ku pastikan kau juga sudah mengancam dia untuk menuruti semua kemauan gila mu itu, kan! Kau..." Ucapan Dokter Brand pun terpotong karena si Bos sudah terlebih dahulu mengeluarkan suaranya lagi.


"Cukup, kau tak perlu urusi urusan pribadiku, urusi saja urusan mu jangan kau terlalu ikut campur."


"Don." Panggil Dokter pada si Bos dengan nama kesayangan kedua orang tua si Bos.

__ADS_1


"Aku hanya ingin kau sadar, karena semua yang kau lakukan salah, kau akan membuat hidup dia menjadi sengsara tidak ada kata bahagia didalamnya, jangan lupakan Papih mu, aku sudah tau pasti Papih mu tidak akan merestui hubungan kalian."


"Dia dari kalangan bawah sedangkan kau putra tunggal dari keluarga...." Sekali lagi perkataan Dokter Brand terpotong.


"Sudah aku bilang urusi saja urusan mu, biarkan Papih menjadi urusanku, dengan cara apapun dan tanpa mau berpisah dengan wanitaku, dan kau perlu ingat namanya Tamara Gladyescya Beklerken, kau ingat itu jangan kau panggil wanitaku dengan kata 'dia'."


"Tapi, Don."


"Kali ini saja, aku mohon kau mengerti. Aku benar-benar mencintai Gladis-ku. Hanya dia wanita yang aku cintai dan dia akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak."


"Jika kau mencintainya, cintailah dengan sungguh-sungguh dan jangan kau paksa lagi berhubungan inti**m, tanpa kalian ada ikatan sebelumnya. Apa susahnya kau nikahi dia dulu baru kalian bisa bebas."


"Kau tidak tau Gladis-ku seperti apa sifatnya."


"Memang apa sifatnya. Dan setahuku nama dia Anindyta Gadis Putri anak yatim-piatu yang baru saja ditinggalkan selama-lamanya oleh kedua orang tuanya yang meninggal dalam tabrakan beruntun beberapa hari lalu, bukan?"


"Kau selalu memata-mataiku."


"Aku tidak memata-mataimu, aku hanya bertanya pada asisten Roy saja."


"Kau sudah rapi, sepertinya kau akan menemui clienmu bukan, berikan Gladis-mu ruang untuk bebas, dalam artian biarkan dia keluar kamar walau hanya di ruang utama atau bahkan berinteraksi dengan para asisten rumah tangga mu. Supaya ia lebih merasa hidupnya tidak seperti di kurung dalam sangkar layaknya burung."


"Satu lagi, sayangi dia serta kau cari tau apa yang dia sukai dan tidak ia sukai, belajarlah mencintai wanita dengan cara yang benar tanpa harus ia kau sakiti dan terluka.


Pikirkanlah nasihatku ini, aku ingin sahabatku ini tidak salah melangkah dan memiliki kehidupan yang bahagia bersama wanita yang kau cintai seumur hidupmu tanpa ada seorang pun yang mengganggu kalian kelak. Aku pamit kembali ke rumah sakit, kau juga segeralah bergegas jangan biarkan clienmu menunggu lama." Sebelum meninggalkan si Bos Dokter Brand pun menepuk pundak sahabatnya itu dengan maksud memberikan semangat.


...~...


Si Bos pun diam dengan semua ucapan sahabatnya itu, tapi di satu sisi ia tidak ingin ada seorang pun melihat kecantikan wanitanya, disisi lain perkataan Dokter Brand sekaligus sahabatnya ada benar juga.


"Apa aku salah dengan mengambil harta yang selama ini Gladis jaga selama ia hidup, juga mengancam orang-orang terdekat yang ia sayang dengan kata 'tidak akan melihat hari esok' aku sungguh ingin dia bahagia bersamaku. Apakah aku mengikuti semua kata-kata sahabatku, membiarkan Gladis keluar dari kamar dan berinteraksi dengan yang lainnya tanpa harus ku kurung terus menerus di dalam kamar.


"Semoga keputusan yang aku ambil tidak salah, semoga dan semoga."

__ADS_1


__ADS_2