Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 43


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


Ruang Makan


Beberapa menit lalu Gadis sudah rapi dengan tampilannya, yang mana semua berkat tangan ajaib Bibi Nam yang membuat sang nyonya muda lebih lebih cantik lagi.


Dihadapannya sudah tersedia berbagai jenis hidang, seperti nasi goreng dengan tersedianya telur dadar juga telur ceplok, roti dengan berbagai jenis selai serta ada juga berbagai jenis buah-buahan diatas meja makan.


Jangan lupakan Gadis yang hanya duduk sendiri di kursi ruang makan, tetapi ada masih ada asisten rumah tangga yang lainnya seperti Bibi Nam beserta Ratih juga Yeni.


Mereka bertiga sedang menata hidangan di meja makan, setelahnya mereka berdiri di hadapan sang nyonya muda dengan terhalang oleh meja juga kursi.


Paham dong hehe.


Mereka bertiga tetap berdiri hingga sang nyonya muda makan, karena ingin melayani dengan baik seperti yang diperintahkan oleh tuan muda mereka.


"Semuanya sudah selesai dihidangkan, Nyonya. Nyonya mau makan roti apa nasi goreng?" Tanya Bibi Nam.


"Nasi goreng aja, Bi. Gadis lagi laper-lapernya hehe."


Hendak mengambil nasi goreng dan menuangkan di piringnya, tetapi sudah lebih dahulu diambil alih oleh Ratih.


"Mbak Ratih, Gadis bisa ambil sendiri." Ucapnya sedikit kesal dengan sikap sigap sang asisten.


"Biar Mbak Ratih saja, Nyonya. Nyonya mau pake telur ceplok apa dadar?"


"Nasi goreng aja, Mbak."


"Segini cukup, Nyonya?" Tanya kembali Mbak Ratih saat sudah menyendokan 2 sendok centong nasi goreng.


"Dikit lagi, Mbak. Gadis lagi laper-lapernya ini."


"Segini masih kurang apa mau dikurangi?"


"Cukup, cukup. makasih Mbak Ratih." Ucap Gadis dan memberikan senyuman pada Mbak Ratih.


"Sama-sama, Nyonya."


Mbak Ratih pun mundur dan segera berdiri kembali dibarisan dekat Bibi Nam.


"Hehe, ini sih udah gak bisa dibilang sarapan pagi Mbak Ratih, makan siang juga kecepatan."


"Jadi makan apa dong, Nyonya?" Tanya polos Yeni.


"Astaga, Yeni jangan mulai lagi!" Keluh Ratih.


Gadis yang bingung pun hanya bisa melihat reaksi asisten rumah tangga tersebut.


Seketika Yeni menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Nyonya, sudah jangan ditanggapi pertanyaan Yeni itu," Ujar Mbak Ratih kembali.


"Ah, iya. Gadis makan dulu semuanya."


"Baik, kami semua ke belakang nyonya mau lanjut lagi." Pamit Bibi Nam.


Gadis hanya mengangguk sembari memasukan suapan nasi goreng kedalam mulutnya.


Kini hanya terdengar bunyi dentingan suara sendok dan piring saling bertabrakan.


Tidak membutuhkan lama, akhirnya Gadis sudah selesai dengan sarapan pagi yang terlambat itu.


Ia juga sudah meminum air hangat dihadapannya, sebelumnya ia sudah meminta Bibi Nam untuk mengambilkan.


"Terima kasih, God. Gadis masih bisa diberi nafas dan juga masih bisa merasakan makan juga minum," Gadis hanya bermonolog.


"Ke ruang keluarga aja deh, gak mungkin langsung ke kamar nanti yang ada aku tidur lagi,"


Gadis pun beranjak dari ruang makan menuju, ruang keluarga.


Di Dapur


"Astaga!! Kenapa aku lupa?" Ucap Bibi Nam sedikit kencang, dan itu mengakibatkan Susi dan Retno yang tengah memasak pun mengalihkan wajahnya kehadapan Bibi Nam.


"Ada apa, Bi?" Tanya Retno.


"Ah, tidak apa-apa hanya lupa buat susu nyonya muda juga vitamin yang biasa di suruh tuan muda minum untuk nyonya muda,"


"Maaf, maaf Bibi terlalu over yah, kalian lanjutkan kerjaan kalian. Dan Fitri kemana dari tadi gak keliatan batang hidungnya?" Tanya Bibi Nam pada Susi juga Retno.


"Dia sakit perut dari tadi keluar masuk terus, Bi." Jawab Retno.


"Oh, sudah kalian kasih obat?"


"Sudah, ini dia lagi tiduran supaya lebih enakan lagi badannya," Timpal Susi.


"Yaudah, kita lanjut lagi kerjaan kita."


Susi dan Retno mengangguk kepalanya tanda setuju.


Bibi Nam segera membuat susu juga vitamin yang biasa tuan mudanya perintah untuk diminum oleh nyonya muda.


Setelah siap Bibi Nam membawa segelas susu yang masih panas dan ada pula air hangat tak ketinggalan juga vitamin yang masih dalam tempatnya.


"Loh, nyonya kok gak ada?" Ucapnya saat melihat meja makan tidak ada orang sama sekali. "Mungkin nyonya ada di ruang keluarga, yaudah, Bibi kesana saja."


Bibi Nam pun segera menuju ruang keluarga.


Ternyata sang nyonya muda tidak sendirian, ia bersama Kakek Beno.


Kakek Beno beberapa menit lalu masuk dan mendengarkan suara-suara tawa dari dalam ruang keluarga, alhasil Kakek Beno masuk dan mendapati nyonya mudanya sedang tertawa sendiri, entah hal apa yang membuat hati nyonya nya itu bahagia.

__ADS_1


"Kakek Beno sudah ada disini rupanya?"


"Iya, Bibi. Lihat Kakek Beno bawain Gadis bunga, cantik kan!" Ucap Gadis yang menjawab semua pertanyaan Bibi Nam.


Dengan suasana hati yang baik ia terus menerus tersenyum.


Bibi Nam juga Kakek Beno saling tatap karena mereka juga ikut bahagia dengan suasana hati sang nyonya muda.


Meletakkan nampan yang Bibi Nam dengan hati-hati di meja yang tersedia di ruang keluarga.


Tanpa membuang kesempatan, Bibi Nam mengambil ponselnya yang ada di apron.


Ia buka aplikasi kamera dan segera mengambil foto sang nyonya muda.



"Nyonya cantik sekali," Puji Kakek Beno.


"Betul, nyonya cantik sekali dan penuh kebahagiaan," Timpal Bibi Nam setelah mengambil gambar Gadis dan juga sudah ia kirimkan pada tuan mudanya itu.


"Kakek sama Bibi ini berlebihan, pakaian juga dandan serta bunga yang dibawakan oleh Kakek Beno inilah yang membuat Gadis cantik," Elaknya.


"Benar, Nyonya. Coba Kakek punya cucu laki-laki sudah Kakek jodohkan sama kamu,"


"Sebelum Kakek jodohkan sudah kena amuk duluan sama tua muda, haha." Timpal Bibi Nam.


Seketika suasana ruang keluarga pun ramai oleh tawa dan obrolan-obrolan ringan.


"Nyonya, ini diminum dulu susu juga vitaminnya."


Bibi Nam menyerahkan air hangat juga vitamin untuk segera diminum oleh nyonya mudanya itu, tanpa menolak Gadis segera mengambil vitamin dan meminum dengan air hangat.


"Susunya masih panas, tunggu beberapa menit diminum setelah minum obat, Nyonya."


"Iya, Bibi." Gadis masih dengan tangan memegang bunga berwarna merah muda itu.


Kakek Beno pun sudah izin terlebih dahulu untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Nyonya, Bibi tinggal ke belakang dulu, kalau ada apa-apa panggil Bibi saja,"


"Oke, Bibi." Ucapnya tanpa menolehkan wajahnya, karena ia lebih terfokus pada bunga-bunga berwarna merah muda tersebut yang ada ditangannya.


Bibi Nam memakluminya, dan tanpa kata Bibi Nam segera menuju arah belakang guna melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


...~...


Lolos review gak yah kali ini, semoga lekas lolos review☺️


Tidak bosan-bosannya T4 berterima kasih kepada semuanya yang masih mampir, membaca, meninggalkan jejak berupa like, koment juga hadiahnya☺️


Makasih juga atas koment yang 'menyentuh hati T4', akan T4 usahakan ceritanya lebih muter-muter lagi, supaya Kaka yang koment suka☺️

__ADS_1


HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘


__ADS_2