
Beberapa menit setelah ia mendapati pesan singkat dari sang istri, yang mengatakan "BERIKAN AKU WAKTU SENDIRI" seketika Papi Berto pun marah dengan kenyataan, bahwa sang istri lebih memilih membela wanita yang ia juluki "sia-land".
Papi Berto pun beranjak dari depan kamar sang putra dengan mulut yang terus menerus menggerutu panjang pendek, jangan lupakan umpatan juga makian yang kasar yang tertuju entah itu kepada sang putra maupun wanita yang dibawa sang putra ke kediamannya ini.
Terus dan terus saja menggerutu "Lihat saja nanti!!! Aku pastikan dan aku lakukan untuk kalian berdua, terutama kepada kamu, wanita jalangg pembawa sia-l." Ia melangkah dengan mulut yang tak henti bergumam. Seketika ia merogoh saku celananya, "Cih, kemana ponsel milikku? Sia-l, aku lupa menyuruh salah satu bodyguard untuk meletakkan di ruang keluarga. Bod0h, aku harus ke ruang keluarga," Merutuki semua keterlupaanya mengenai ponselnya yang mana salah satu bodyguard untuk meletakkan ponselnya di ruang keluarga.
...~~~...
Sesampai di ruang keluarga, Papi Berto pun duduk dan tak lupa mengotak-atik ponselnya dan dengan hitungan menit pun seketika ponselnya berbunyi.
"Dimana kamu, Ricko?" Tanyanya pada seorang di seberang sana.
Kalian masih ingat Ricko?
Ricko salah satu bodyguard sekaligus supir pribadinya yang suka sekali bertanya jika diberikan perintah.
Bisa kalian baca di KSGM 104, walau hanya sebatas sebentar dia muncul.
".........."
"Segera ke ruang keluarga dan bawakan saya secarik kertas. Ah, bukan, bawalah beberapa lembar kertas beserta pulpen dan materai. Satu lagi, bawakan juga amplop. Jangan pakai lama," Segera ia matikan panggilan sepihak.
Seperti biasa, dipastikan Ricko yang di sebrang sana akan memaki dan juga bisa saja terbiasa dengan sikap tuannya itu.
Seenaknya saja mematikan panggilan, padahal ia yang menghubungi terlebih dahulu dan seharusnya ia yang mematikannya.
Bukan begitu aturannya.
Kembali pada Papi Berto yang sudah meletakkan ponselnya di meja, kini tengah tersenyum menyeringai. Entah apa yang kini yang ia pikirkan.
Sungguh sulit menebak apa yang sedang direncakan oleh seorang Gilberto Beklerken ini.
Pintu ruang keluarga pun di ketuk.
Seorang pria muda tampan dan badan yang atletis datang dan memberi hormat dengan menundukkan kepalanya.
"Tuan,"
"Hmm, mana yang aku minta," Tanyanya langsung tanpa menjawab sapaan dari Ricko. Ya, yang datang Ricko.
Papi Berto pun menjulurkan tangannya.
Ricko segera memberikan semua yang diperintahkan tuannya itu.
"Good, kau boleh keluar. Kau juga bisa istirahat, seperti biasa sudah ku kirim uang untuk jajan mu," Setelah mengucapkan itu Papi Berto langsung saja ia larut dengan apa yang kini ia akan tulis, sedangkan Ricko masih mencerna semuanya.
"Sia-land, gue baru juga sampe dan mana ini disuruh buru-buru. Udah sampe disuruh keluar lagi. Kalo gue gak butuh uang dan udah mentok kerja sama tuan Berto udah keluar deh gue. Sabar sabar, ngadapin tuan Beklerken yang satu ini, ah bukan. 2 Beklerken yang menyebalkan." Batin Ricko mengumpat tuannya dan juga anaknya.
Papi Berto pun menoleh "Ngapain kamu masih disini!! Sana keluar, jangan mengumpat aku dalam hatimu!! Apa kau masih mau kerja disini, Ricko????" Sarkas Papi Berto dengan amarah yang kini mulai mendidih kembali.
Ricko yang tersadar dalam umpatannya pun mengangguk meminta maaf, "Maaf tuan, kalau begitu saya pamit."
"Hmm,"
Ricko pun segera meninggalkan ruang keluarga dengan menghela nafasnya sangat kasar dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, guna menenangkan pikirannya untuk menghadapi tuannya tersebut.
"Lebih baik minta maaf daripada ngejawab bisa panjang urusannya," Ucapnya lirih saat sudah keluar dari ruang keluarga.
"Kamu kenapa nak Ricko?" Tanya seorang wanita padanya.
"Akh, Bibi Retno. Gak kok. Bik, aku minta kopi dan cemilan." Ucapnya dengan mengalihkan pembicaraan.
"Kamu minta sama Bibi yang lain aja, saya lagi mau ke luar sebentar. Maaf yah, nak Ricko."
__ADS_1
"Gak apa, Bik. Hati-hati."
Bibi Retno hanya tersenyum dan berlalu. Ricko pun berlalu juga menuju dapur.
...~~~...
Di ruang keluarga
Papi Berto pun sudah sibuk dengan kertas-kertasnya dan ia pun sedang fokus dengan apa yang telah ia tulis di kertas tersebut.
Tak lupa, wajahnya yang terus menerus mengeluarkan senyum menyeringai.
Setelah selesai menulis entah tulisan mengenai apa, salah satu kertas ia tempelkan materai dan salah satunya tidak. Tak lupa kedua kertas ia masukkan kedalam amplop coklat.
"Lebih baik aku simpan dulu ini di kamar. Ah, jangan. Lebih baik aku bawa terus, jika terjatuh dan ditemukan orang disini, kalau yang menemukan pembantu disini yang ada diberikan pada istriku. Ya, lebih baik ku bawa terus dan jangan dikeluarkan sebelum waktunya. Sekarang waktunya memberikan pelajaran kepada putra luc-nut ku yang sudah membawa wanita jalangg ke rumah ini," Tak lupa ia masukkan amplop coklat kedalam saku celananya beserta ponselnya.
Keluar dan menaiki tangga satu demi satu, "Cih, kenapa harus naik tangga, ini karena istri ku tidak mau ada lift di rumah. Lebih baik ku rombak lagi, dan membuat lift. Kalau seperti ini aku bisa capek harus turun tangga." Keluhnya mendapati ia harus menaiki tangga ke lantai 2 menuju ruang kerja.
...~~~...
Ruang kerja lantai 2
Kini Deon tengah duduk di kursi kerjanya dengan tubuh atasnya tidak berlapis kain alias telanjang dada dan dengan celana pendek.
Ia tengah melempar dan menangkap bola kastinya itu.
Ia lempar dan ia tangkap terus seperti itu. Fikirannya sedang kalut.
"Apa yang nanti mami perbuat atas semua yang aku lakuin ke Gadis. Bisa-bisa mami benar-benar menjauhkan aku sama Gadis. Belum lagi papi, pasti papi juga tak akan tinggal diam dengan aku membawa Gadis, tuh laki-laki tua itu pasti tidak setuju aku dengan Gadis. Gadis hanya wanita dari kalangan yang dibawah keluarga kami dan bukan dari keluarga yang utuh juga pendidikannya tidak sepadan dengan semua kriteria calon menantu papi, arrrgggh." Keluhnya dengan melempar keras bola kasti dan tapi masih bisa ia tangkap dengan tepat.
Sesaat fikirannya tengah kalut, tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya di buka paksa dari luar.
Entah siapa yang berani melakukannya.
Papi Berto membuka pintu ruang kerja paksa dan wajahnya sudah memerah.
Tanpa kata permisi dan mengetuk pintu ruang kerja itu.
Tak lupa menutupnya dengan keras juga.
Sungguh malang nasib pintu itu.
Berjalan dan berhenti tepat di hadapan putranya, dihalangi oleh meja.
"Cih," Deon berdecih melihat orang yang telah membuka paksa pintu ruang kerjanya.
Dengan wajah yang masih menahan amarahnya yang sudah sedari tadi mereda kini memuncak karena sudah mendapati orang yang telah membuatnya marah.
"DASAR ANAK LUC-NUT. ANAK SIALAND!!!! Karena kau," Tunjukknya, "Istri ku marah dan tidak mau ku temui,"
Dengan wajah tanpa berdosanya, Deon berkata, "Kenapa datang-datang sudah marah-marah. Dan lupa untuk mengetuk pintu dulu, ah. Salah tanpa permisi dulu. Datang-datang marah-marah dan menuduh aku, Pih? Rileks kan dulu otot-otot papi supaya tidak tegang." Selalu saja ia santai dalam menanggapi amarah sang papi.
"Dasar anak sia-land, karena kau membawa wanita jalangg yang tidak tahu asal-usulnya dan itu membuat istriku selalu membelanya dan memilih bersama wanita jalangg itu," Papi Berto menumpahkan kekesalannya pada sang putra.
"Come on, Pih. Yang kau sebut 'istriku' itu adalah mamiku dan wanita yang kau sebut 'jalangg dan tidak tahu asal-usulnya' itu adalah calon menantu mu. Dan harus papi INGAT," Deon menekan kata 'ingat'. Ia pun melanjutkan perkataannya, "Dan harus papi ingat, namanya Gadis. Dan, kalau papi lupa, akan aku ingatkan lagi. Gadis itu anak yatim-piatu juga asal-usulnya juga jelas." Tekan Deon.
"PERSETANN!!! Mau yatim-piatu. Tetap saja, wanita yang berlagak lemah, tak berdaya. Wanita dari kalangan rendahan, akan selalu mengincar pria-pria kaya raya. Awalnya saja berlagak lemah, dan setelah pria itu sudah tergila-gila dan terjerat. Dan pria itu tidak bisa jauh dari wanita seperti itu, ia sudah dipastikan akan memeras habis harta pria kaya raya itu!!!!"
"CUKUP, PIH!" Deon pun berdiri, ia sudah hilang kesabarannya dan meletakkan bola kastinya diatas meja kerjanya, "Harus papi INGAT!!!" Kembali Deon menekankan kata 'ingat', "Papi ingat, darimana mami berasal? Tidak lupa bukan?" Tanyanya dengan senyum meremehkan.
"Mami juga dari gadis kalangan rendahan, seperti yang papi ucapkan. Apa perlu Deon ingatkan!!! Ah, mami itu adalah seorang gadis belia yang menjerat seorang pria mapan, tampan juga LAPUK!!!" Kembali dan lagi Deon tekan kata 'lapuk', "Dan gadis itu putri dari seorang supir pribadi dan pembantu di rumah utama HG Elit. Apa papi INGAT!!!!" Sarkas Deon telak.
Papi Berto diam dengan rahang yang sudah mengeras.
__ADS_1
"SIA-LAND," Papi Berto mati kutu dan tidak dapat membalas perkataan putranya tersebut. Ia pun pergi meninggalkan putranya dengan amarah yang masih memuncak.
Papi Berto pun hendak membuka pintu tetapi sebelumnya ia berucap, "Akan ku singkirkan wanita jalangg rendahan itu dari sisimu dan ku singkirkan dari keluarga BEKLERKEN. Tidak akan mudah ia bertahan juga bernafas dengan tenang dan selalu akan ku singkirkan dengan cara apapun. KAU CAMKAN ITU!!!" Setelahnya ia buka paksa pintu dan tak lupa menutup dengan di banting keras.
Setelah mendengar perkataan sang papi sebelum keluar dari ruang kerja, Deon marah dan melempar bola kastinya tepat kearah lemari kaca.
Dan
Pyaaar
Bunyi kaca yang pecah
Pecah sudah dan berserakan sudah piala-piala penghargaan milik Deon.
Bukan hanya lemari kaca saja yang menjadi sasaran amarah Deon, semua benda-benda yang ada diatas meja pun ia lempar serampangan. Laptop pun tidak lepas dari lemparan amukan dari Deon itu.
Sungguh semua benda mati yang tidak bersalah.
"SIA-LAND!!!!! Awas saja, jika papi benar-benar menyentuh dan menyingkirkan wanitaku, tak segan-segan aku pun bertindak lebih. Aku tidak akan memandang kau adalah papi ku. Kau juga akan menjadi musuh ku."
...~~~...
Papi Berto pun berjalan dengan masih dengan amarah, tak lupa ia akan menyusun rencana yang sudah ada dalam benaknya.
Ia berjalan menuju lantai 3, dimana sang istri kini berada.
Setelah sampai, ia mendapati kedua anak gadis yang bekerja di kediamannya tengah tertawa dengan renyahnya.
Ia tidak suka itu.
"SEDANG APA KALIAN DISINI!!!!"
Kasian sekali duo FY kena imbas amarah papi Berto
Deg
Jantuk kedua duo FY berdetak cepat dan oksigen dalam paru-paru mereka seketika terasa habis.
Layaknya ikan yang dilepaskan dari air menuju darat.
"Ka-kaaami," Fitri menjawab dengan tergagap. Tak lupa menundukkan kepalanya, mereka berdua takut menghadapi tuan rumah Beklerken. Terutama, tuan Berto dan tuan Deon.
"Jawab yang benar!" Sungguh papi Berto kesal dengan keduanya.
"Kami baru saja dari kamar tuan muda, kami baru saja membantu nyonya untuk menggotong nyonya Gadis ke...." Ucapan Fitri terhenti, karena sudah dipotong papi Berto.
"SIAPA YANG KAU SEBUT NYONYA MUDA, HAH!!!"
Sungguh papi Berto tambah memuncak amarahnya, mendapati seorang pekerjanya mengatakan jika wanita yang dibawa putranya ke kediaman Beklerken dengan sebutan 'nyonya muda'.
Fitri dan Yeni kembali ketakutan, mereka berdua masih menundukkan kepalanya.
"Ingat, dia bukan nyonya muda disini. Dia hanya wanita jalangg yang tidak tahu asal-usulnya. Enyah!!!"
Tanpa fikir panjang duo FY pun berlari menuruni tangga tanpa mengucapkan permisi kepada tuan rumah yang sangat menakutkan itu.
"Bisa-bisanya mereka sebut wanita jalangg itu nyonya muda. Cih"
...~~~...
...Maaf yah saya baru update, semoga masih ada yang menunggu....
...Jangan lupa baca, like, dan beri komentar positif. Terima kasih 🤗...
__ADS_1