Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 127


__ADS_3

Jika mami Anggiya dan Deon tengah diselimuti rasa kebahagiaan, karena sebentar lagi mami Anggiya akan memiliki calon menantu dan Deon akan segera menikah dengan wanita yang sudah membuat dia tidak bisa lagi untuk berpaling ataupun jauh dari jangkauan dirinya.


Sedang papi Berto dia merutuki semua yang terjadi saat ini. "Sia-l... Kenapa juga Sweetheart terlalu antusias seperti itu? Lihat saja! Akan ku buat kau...." Ucapnya sembari melirik tajam pada wanita yang sudah menjadi amarah dan kekesalannya pada Gadis, calon menantu dan calon istri dari putra itu. "Jalangg sial-and tidak betah berada di kediaman BEKLERKEN." Gumamnya dalam hati merutuki semua kekesalannya pada Gadis yang tidak tahu apa-apa.


Gadis yang selalu menunduk, seakan-akan merinding, ia merasa ada seorang yang memperhatikannya sedari tadi.


Ia pun mengangkat sedikit kepalanya dan... tepat saat ia angkat kepalanya juga mengedarkan pandangannya, tak sengaja sorot matanya melihat papi Berto yang melihat dirinya dengan tatapan ditambah sorot mata yang seakan-akan mata tersebut seperti pedang yang mengeluarkan kilat, kilat itu menandakan kebencian, ketidak sukaan serta amarah yang sudah mendarah daging.


"Hiks hiks hiks, apa aku salah berada di tengah-tengah keluarga ini? Apa aku mau terjadi seperti ini? Tapi, tapi aku tidak mau dan tidak mau dihadapi semuanya dengan ini, bukan mau aku. Tapi, tapi kenapa papi Berto tidak menyukai aku, tidak menyukai aku berada disini, ditengah-tengah bersama mereka. Aku juga sebenarnya tidak mau dan bahkan beribu-ribu kali sudah meminta Deon untuk melepaskan aku, tapi... dia tidak mau dan dia malah berbuat kasar pada diriku, yang mana aku mengalami kekerasan yang sudah ia lakukan padaku, sungguh... aku tidak mau...." Gadis hanya bisa menangis dalam diam mendapati calon mertuanya, tepatnya, papi Berto yang tidak bisa menyembunyikan semua ketidak sukaannya pada dirinya itu.


Tiba-tiba saja Gadis tersentak, akibat elusan tangan yang diberikan oleh Deon kepadanya.


"Kenapa, Honey?" Tanyanya.


"Tidak ada," Jawab Gadis sekenanya saja.


Sebelum Deon menjawab kembali ucapan Gadis, mami Anggiya sudah melontarkan pertanyaan.


"Deon,"


"Ya, Mih."


"Mami kok belum liat asisten Roy sedari tadi? Biasanya dia selalu di samping kamu, bahkan ia lengket bak perangko dengan dirimu," Kekeh mami Anggiya.


"Oh, asisten Roy dia tengah mempertanggung jawabkan perbuatannya, Mih."


Jawaban dari Deon terasa ambigu oleh Mami Anggiya.


"Maksudnya apa, Deon? Mami kurang paham, coba kamu jelaskan!"


Papi Berto pun mendengarkan saja semua obrolan-obrolan istrinya bersama putranya tersebut.


"Iya, Mih. Jadi, beberapa hari lalu... Asisten Roy itu, dia menabrak seseorang, tepatnya, seorang pengendara sepeda motor dan sampai hari ini juga dia tidak menghubungi Deon dan pernah Deon telfon, aktif nomornya tapi tidak ia angkat-angkat juga panggilan dari Deon, Mih. Bahkan, ia mengabari Deon, saat dia menabrak seorang pengendara sepeda motor itu, tanpa menunggu jawaban dari aku, Mih. Asisten Roy seakan-akan sudah panik dan kalau menurut Deon seorang yang ia tabrak dalam keadaan tidak baik-baik saja."


Sungguh jawaban dari Deon yang panjang kali lebar kali tinggi dan terkesan berputar-putar, membuat sang mami diambang kebingungan.


"Kamu kok ceritanya buat mami pusing yah, Deon! Udah deh, yang intinya saja. Buat mami pusing, kamu!" Rutuknya


Deon hanya meringis dan tersenyum kecut mendapati respon dari sang mami yang sangat-sangat awkard sekali.


"HAH," Menghembuskan nafasnya dengan kasar dengan ucapan maminya yang diluar nulur eh nalar maksudnya. "Intinya, itu... Asisten Roy nabrak seorang pengendara sepeda motor, Mih. Titik gak ada koma, apalagi tanda seru, tanda tanya," Lanjut Deon.


"Ya ya ya ya,"


Disaat mami Anggiya dan Deon tengah adu argumen, papi Berto kini tengah mengotak-atik ponsel genggamnya tersebut.


"Bi Nam, tolong ambilkan tablet juga kacamata aku di kamar dan..." Ucapan papi Berto terhenti, karena ponselnya sudah direbut paksa oleh Mami Anggiya.


Diseberang sana bibi Nam bingung, karena majikannya itu diam dan hanya memberikan setengah perintah saja.

__ADS_1


"Halo tuan, ada apa yah? Tuan..." Panggil bibi Nam diseberang sana.


Mami Anggiya pun menjawabnya, "Halo bibi Nam, bibi lanjutkan saja pekerjaan bibi. Tidak usah menanggapi perintah dari suami saya, Bik. Terima kasih." Setelahnya mami Anggiya menutup telfon dan matanya kini menatap horor sang suami.


"Why??" Tanya papi Berto tanpa rasa bersalahnya.


"Why why why..." Mami Anggiya marah dan senewon sendiri. " Papi tuh yah, kalau mau apa-apa bilang saja sama mami, jangan apa-apa suruh pekerja disini mengambilkan benda-benda yang ada di kamar kita, itu kamar hal privasi, Pih. Paham!!"


"CK, iya iya, aku kan malas buat ambilnya, jika aku suruh kamu juga aku gak mau kamu capek, Sweetheart."


Ucapan papi Berto membuat Deon sana muak, ia seakan-akan mun tah.


"Weeek, mau mun tah Deon dengarnya, Pih. Sok Sokan manis."


"Diam kamu, Deon!!"


Kan kan kan, belum apa-apa sudah ajak gelut aja Deon ini.


"Sudah sudah, jangan berkelahi kalian ini. Deon, kamu jangan pancing papi dengan ucapan kamu, dan papi, papi juga jangan apa-apa menanggapi yang semua diucapkan dengan amarah, Pih. Mami tinggal ambil kemauan papi."


Setelahnya mami Anggiya meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya bersama sang suami. Untuk mengambil tablet juga kacamata sang suami.


Kini tinggal Deon, Gadis juga papi Berto.


"Cih," Decih papi Berto melihat sang putra yang mulai sok romantis dan tidak melihat adanya dirinya itu. "Gak usah pegang-pegang, memang mau nyebrang. Ingat! Kalian belum sah, dan kamu Deon, kalau bukan karena mami mu, papi gak bakalan restuin kalian berdua." Setelah mengucapkan kalimat tersebut papi Berto sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya tersebut.


"Whatever, Pih. Suka-suka aku, jangan dilihat."


Di tengah keheningan tersebut, tiba-tiba saja ponsel Deon yang ia letakkan diatas meja pun bergetar tanda adanya panggilan masuk.


"Honey, aku tinggal dulu. Aku mau terima panggilan dari seseorang."


"Iya," Jawab Gadis singkat sembari mengangkat kepalanya dan memandang sejenak Deon.


"Dan untuk papi, jangan sekali-kali papi berbuat nekat dengan calon menantu papi ini." Papi Berto hanya geleng-geleng kepala dan memberikan senyum meremehkan.


"Kamu disini dulu, Honey. Kamu baik-baik, jangan ladeni semua ucapan jahat papi yah, kamu diam saja. Dan kalau papi berbuat nekat ke kamu, kamu teriak saja. Aku tidak akan menutup pintu ruangan ini. Oke Cuup." Diakhiri dengan mencium singkat di bibir wanitanya, papi Berto yang melihat hanya berdecih saja dan tidak terprovokasi dengan ucapan putranya itu.


Setelah Deon pergi untuk mengangkat panggilan yang masuk dalam ponselnya.


Tinggal lah Gadis dan papi Berto.


"Lihat! Seberapa besar kamu mencekoki putra ku. Sampai-sampai dia membangkang diriku dan melawan aku, aku papinya. Dan ingat! Kau... jalangg sial-and tidak akan pernah bisa hidup tenang disini, akan ku buat kau menderita dan kau harus pergi jauh-jauh dari hadapanku juga dari kediaman ini."


Sungguh ucapan papi Berto sangatlah menusuk relung hati Gadis.


"Tapi Pap..."


Papi Berto menyela perkataan Gadis, "Aku bukan papi mu, dan aku tidak suka kau memanggil aku dengan sebutan itu. Panggil aku tuan, dan ingat panggil aku tuan disaat kita hanya berdua. Kau itu hanya wanita dari kelas rendahan dan hanya wanita jalangg yang miskin, tidak tahu asal usulnya dan hanya ingin mengguras semua harta kami dan hidup kaya tanpa susah payah." Semua umpatan yang sedari papi Berto tahan pun lepas juga ia ungkapkan pada Gadis, tanpa tahu Gadis merasa sakit hati.

__ADS_1


"Ba-baik, Tu-tuan," Jawab Gadis tergagap dengan suara serak menahan isak tangis yang seakan-akan ingin luruh.


Saat akan menanggapi ucapan Gadis, papi Berto mendengar suami pintu di dorong dan ia segera menyibukkan dirinya dengan memainkan ponsel genggamnya tersebut.


Dan Gadis pun kembali menundukkan kepalanya, dengan menahan semua kesedihannya.


Hancur sudah perasaannya, dituduh dan dicap sebagai wanita yang melakukan segala cara hanya untuk hidup enak dan masih banyak lagi ucapan yang membuat hatinya sakit, serasa di tusuk sembilu.


"Loh, kemana Deon , Pih?" Tanya sembari duduk di samping sang suami dengan meletakkan tablet juga kacamata sang suami diatas meja.


Papi Berto hanya mengedikan bahunya tanda acuh, ia segera memainkan tablet dan memakai kacamatanya itu.


"Ditanya malah gitu jawabnya," Keluh mami Anggiya.


"Sayang, Deon kemana?" Kini ia bertanya kepada Gadis, calon menantunya itu.


"Angkat telfon, Mom."


"Oh. Kamu kalau mau ke kamar, ke kamar saja, Sayang."


"Iya, Mom. Gadis duluan ke kamar yah mom tu- maksudnya papi,"


"Iya, Sayang. Ingat, jangan lupa kamu kunci kamar dan jangan bukakan pintu kamar kamu dari Deon,"


"Iya, Mom."


Gadis pun meninggalkan kedua calon mertuanya itu.


Kini, di ruang keluarga hanya ada papi Berto yang tengah sibuk dengan tabletnya dan mami Anggiya yang heran dengan raut wajah menantunya yang tiba-tiba tampak takut.


Entah takut pada siapa dan itu masih mami Anggiya pertanyakan.


"Kenapa calon mantu aku terlihat ketakutan dan tak nyaman? Apa yang dilakukan papi pada calon menantu ku itu? Mau ku tanya juga, gak bakalan tua bangka ini jawab jujur. Lebih baik aku nanti saja bertanya pada Gadis dari hati ke hati." Gumam mami Anggiya dalam hatinya.


Sejenak ia lihat sang suami yang terbuai oleh tabletnya, tanpa terusik dengan suasana yang sunyi sepi dan hening ini.


"Benar-benar ini si tua bangka, kalau udah main tablet lupa segalanya. Aku juga diacuhkan. Lebih baik aku ke kamar Gadis saja, calon menantu aku dan langsung menanyakan semua yang terjadi selama mereka berdua disini. Jangan sampai si tua bangka ini berkata yang tidak-tidak dan membuat hati calon menantu aku itu tertekan." Berucap lagi mami dalam hatinya


Mami Anggiya pun meninggalkan sang suami tanpa pamit, yang ditinggalkan pun tidak terusik dan seakan-akan tidak menyadarinya.


...~~~...


...Hay, maaf yah baru update...


...Jangan lupa dibaca dan beri saya like, komentar yang positif, dan kasih masukan yang membangun juga boleh. Bahkan kasih ide untuk kelanjutan cerita ini juga boleh banget loh!...


...Oiya, ada yang kirim pesan pribadi kepada saya. Yang mana ia bertanya mengenai GiveAway....


...Maaf saya tidak bisa memberikan GiveAway seperti penulis penulis yang lain, nanti kalau saya ada rejeki akan saya lakukan, tapi tidak dalam jangka waktu sekarang. Karena masih banyak keperluan yang harus saya dahulukan, yah🙏...

__ADS_1


...Terima kasih 🤗...


__ADS_2