
Setelah sang suami keluar dari kamar sang putra juga meninggalkan dirinya untuk memberikan waktu.
Kini mami Anggiya pun kembali duduk diatas sofa.
"Hufft," Membuang nafasnya dengan kasar, "Maafkan aku, Pih. Bukannya aku marah dan tidak mencintai kamu lagi, tapi... Tapi aku sedikit kecewa dan menyesalkan semua tindakan dan ucapan kamu. Apa kamu tak ingat? Apa kamu tidak mengingat? Berasal darimana aku ini?" Mami Anggiya entah berbicara dengan siapa.
"Pih, aku juga sama seperti Gadis. Aku berasal dari kalangan rendahan. Kedua orang tua aku bekerja di kediaman utama Beklerken. Ayah ku hanya seorang supir pribadi tuan besar Beklerken dan ibu ku juga pembantu rendahan yang juga bekerja di kediaman kedua orang tua dirimu, Pih. Begitu susahnya kamu merestui dan menyukai Gadis. Tidak kah kamu menerima Gadis menjadi calon menantu dan calon istri untuk putra satu-satunya kita, Pih!?"
Mami Anggiya sedikit kecewa dan menyesalkan sikap sang suami yang dengan terang-terangan tidak menyukai Gadis.
"Aku ingin memberimu sedikit jera. Aku ingin melihat sampai mana kamu tidak mau menerima Gadis. Aku seperti ini juga demi kelangsungan hidup putra satu-satu kita, Pih. Buanglah ego mu dan kekeras kepala kamu itu,"
Masih berbicara entah dengan siapa mami Anggiya.
"Kemana sosok pria lembut dan penyayang yang aku kenal itu? Hufft, aku seperti orang gilaa, entah aku bicara dengan siapa. Toh, dia juga tidak mendengar. Aku hanya ingin kamu tidak egois dan menerima Gadis, calon menantu kita. Aku ingin kamu benar-benar menerima itu semua, tanpa adanya rencana licik dibelakangnya, Pih. Apa susah?"
Seketika itu juga kepala mami Anggiya pusing dengan semua yang terjadi hanya dalam beberapa jam saja ia sampai di kediamannya bersama sang suami.
"HAAH...." Membuang dan buang kembali nafasnya, "Hufft, kenapa kamu tiba-tiba berubah, Pih? Kamu lupa? Kalau aku ini istri mu, istri mu juga berasal dari kalangan rendahan! Kenapa aku ulang-ulang kalimat itu, CK."
"Apa itu semua karena.....
Ucapan mami Anggiya terhenti, karena tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka kembali.
Dan kali ini sang empunya kamar yang membuka dan masuk.
"Lihat lah! Baru juga masuk, matanya sudah jelalatan kemana-mana. Tahu saja kalau Gadis tengah tidur, dasar anak luc-nut." Lirih mami Anggiya, yang mendapati sang putra yang tidak rela lama-lama berjauhan dengan Gadis, calon istrinya itu.
Mami Anggiya memicingkan kedua matanya, ia heran dengan putra satu-satunya itu, kenapa masih juga tidak memakai baju dan hanya mengenakan celana pendek. Dan jangan lupakan ia berkeliaran kemana-mana.
"Cih, masih juga telanjang da-da, lihat lah! Tuh lontong, pasti gondal-gandul kemana-mana. Sesuai gerakan pemiliknya, CK." Mami Anggiya merutuki semua sikap sang putra yang terkesan terlalu santai dan bisa-bisa yang melihat akan melihat hal yang vul-gar.
"Deon!" Panggil mami Anggiya.
__ADS_1
Deon pun tersenyum dan ia mengalihkan pandangan matanya kearah sang mami dan menghampiri kearah sofa yang tengah mami Anggiya duduki.
Duduk disebelah sang mami, "Iya, Mih."
"Kenapa kamu belum pakai baju juga? Apa kamu mau pamer, HAH!!! Tubuh jelek aja segala di pamerin itu, Cih." Komentar sang mami.
"Mami, mami lupa? Mami kan yang suruh Deon keluar dari kamar Deon sendiri. Alhasil, aku masih berpenampilan seperti ini. Dan ini tubuh aku bagus, Mih. Lihat lah!" Tunjuk Deon pada tubuh kotak-kotaknya itu.
"Cih, hanya lekukan tidak jelas gitu saja. Kamu terlalu bangga." Kembali sang mami Anggiya melontarkan kata-kata yang sedikit nyelekit untuk putranya itu.
"Whatever! This is the best body, I work out to get an athlete's body like this. Masih aja dibilang jelek. Dasar mami, Gak sadar, suaminya juga memiliki bentuk tubuh seperti aku." Gumam Deon dalam hatinya.
(Terserah! Ini adalah tubuh terbaik ku, aku berolahraga untuk mendapatkan tubuh atlet seperti ini.)
"Harus bisa membujuk dan merayu mami, harus. Aku gak mau di jauhkan dari wanitaku," Gumam Deon kembali dalam hatinya.
"Mih," Panggil Deon.
"Emmm," Hanya gumaman yang dijawab sang mami.
Tetapi, mami Anggiya langsung menepis dan melepaskan genggaman tangannya, yang di genggam oleh Deon.
"MUSTAHIL!!!" Mami Anggiya menekan kata itu.
"Deon janji, Mih. Deon akan mengizinkan Gadis pindah kamar da..." Ucapan Deon terhenti karena di potong sang mami.
"Itu sudah pasti, mami sudah memindahkan semua barang-barang juga keperluan semua Gadis ke kamar tamu. Dan kalian benar-benar akan berjauhan. Ingat itu, Deon."
"Duh, susah banget deh ngerayu dan bujuk mami. Ini juga mulut salah ngomong." Ucap Deon dalam hati dan menepuk mulutnya yang salah berbicara kepada sang mami.
"Oke. Deon tidak akan meminta Gadis untuk melakukan 'hal itu'. Mami bisa pegang dan buktikan ucapan Deon. Mami bisa dan suruh Gadis selalu mengunci kamarnya, supaya Deon tidak bisa masuk kamar tamu yang ditempati sama Gadis, Mih."
"Lalu?"
__ADS_1
"Mami bisa pegang semua ucapan Deon. Kalau Deon berbohong, mami bisa hukum Deon apa saja."
"Gak janji, Mih. Lontong ku ini sudah terbiasa masuk kedalam Goanya, Gadis. Semoga aja mami percaya." Gumam Deon dalam hati.
"Semoga saja benar yang semua yang diucapkan Deon, putraku itu. Mami hanya ingin kamu menghormati dan menghargai Gadis. Selayaknya kamu yang menghormati dan menghargai mami juga oma kamu, Nak. Mami bukannya marah atau tidak menyukai itu semua. Hanya membuat kamu lebih peka dengan perasaan seorang wanita. Yang mana wanita itu masih suci dan masih belum tersentuh oleh seorang pria manapun. Tapi, semua itu telah kamu renggut paksa. Mami tidak mau Gadis, calon menantu mami itu trauma dan tidak bisa nyaman berada di sisi kamu. Kamu itu salah cara pendekatan dengan seorang wanita, Nak. Huuft, LIKE FATHER, LIKE SON. Tidak papinya, tidak anaknya. Sama-sama pemaksa. Tetapi, kenapa daddy Ghazam beda dari mereka. Apa mas Berto benar-benar keturunan dari daddy Ghazam. Hufft, pusing aku melihat kelakuan duo BEKLERKEN." Gumam mami Anggiya dalam hatinya sembari menelisik kedua mata sang putra untuk melihat kesungguhan itu. Apa benar atau hanya di mulut saja.
"Oke, dan kamu urus semuanya dengan cepat. Dan setelah ini mami akan menelfon opa dan oma. Mami akan memberitahukan kepada opa dan oma perihal rencana pernikahan kamu."
"Iya, Mih. Makasih, Mih." Deon yang senang dan bahagia akan ucapan sang mami pun, langsung saja mencium pipi sang mami.
"Kamu terlihat bahagia dan benar-benar sudah mencintai Gadis. Gadis itu wanita yang tepat, Nak. Mami berdoa, kelak kamu dan Gadis menjadi keluarga yang bahagia, harmonis dan dilimpahkan cinta dan kebahagiaan. Aamin." Doa mami Anggiya dalam hatinya.
"Akhirnya mami bisa aku bujuk dan aku rayu. Akhirnya mami setuju dengan semua ucapan aku dan gak susah-susah banget untuk bujuk mami. Yang sudah itu bujuk papi, CK." Keluh Deon dalam hatinya.
"Tapi..."
"Tapi apa, Mih?"
"Kamu bujuk papi untuk merestui dan memberikan izin kamu menikah dengan Gadis." Seketika raut wajah yang bahagia, terganti dengan tatapan kecut.
"Mami tahu sendiri. Papi tidak mau, tadi saja aku baru bertengkar besar di ruang kerja, Mih."
"Kenapa gitu?"
"Ya gitu lah, Mih. Lebih baik," Deon segera mengambil kedua tangan sang mami, "Lebih baik mami saja yang bujuk papi, yah yah yah, Mih." Mohonnya pada sang mami.
Menganggukkan kepalanya, "Iya."
"Yes, yes, yes."
"Kamu mandi sana,"
"Iya, Mih." Deon pun segera menuju ke kamar mandi dan meninggalkan sang mami.
__ADS_1
"Huuft, kini tinggal si tua bangka yang harus dibujuk. Eh, tua bangka juga dia suami ku. Dia kesayangan aku, hahaha."