
Setelah ada bala bantuan dari Duo FY dan Gadis sudah berada di ranjang dengan sudah diselimuti.
Duo FY pun pamit kembali ke dapur.
Tak lupa Mami Anggiya mengucapkan terima kasih kepada dua gadis pekerjanya itu.
Mami Anggiya pun sebentar duduk di tepi ranjang.
Tak lupa mengelus rambut calon menantunya juga terakhir mengecup kening Gadis dengan lembut.
"Tidur yang nyenyak, Sayang."
Setelahnya mami beranjak menuju sofa, ia tidak ingin mengganggu calon menantunya itu untuk istirahat.
Duduk di sofa dengan entah memikirkan apa, fikirannya melalang buana entah kemana.
"Caca, kamu dimana? Kenapa calon menantu aku ini mirip sekali dengan kamu? Kamu kemana, Ca? Aku dan mas Berto sudah cari ke rumah kamu dulu, sebelum keluarga kamu hancur dan tak tersisa dari mereka. Entah ini yang perbuat mas Berto atau ini dari balasan dari Tuhan yang telah menyakiti kamu. Tapi, tapi aku bersyukur keluarga kamu itu hancur dan tak tersisa. Hufft.... Ada ya, manusia seperti papa, mama juga saudara perempuan tiri kamu sejahat itu. Dan aku pun tidak tahu, kenapa kamu tidak....
Mami Anggiya pun bernostalgia.
~ FLASH BACK ON ~
Belasan Tahun yang lalu....
Sepasang laki-laki dan perempuan turun dari mobil sederhana. Mereka menuju pintu rumah yang terbilang mewah.
Tampilan keduanya pun sangat sederhana.
Tak lupa, sang pria menggenggam erat tangan sang wanita.
"Ini benar rumahnya, Yank?" Tanya sang pria.
"Benar, Mas. Aku gak salah kok," Jawab sang wanita.
"Sebentar aku yang tekan belnya." Lanjut sang wanita.
Tak lama pintu mewah itu pun terbuka menampilkan sosok wanita yang seumuran dengan wanita yang bersama laki-lakinya tersebut.
"Ngapain Lo dateng ke rumah gue, Anggi?" Tanya wanita yang membuka pintu rumah mewah itu dengan ketus.
Bukannya mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam rumahnya, ia malah memberondong pertanyaan, jangan lupa dengan raut wajahnya yang sombong juga tangan yang ia lipat tepat di depan dada.
Seketika itu ia menutup pintu rumah mewah tersebut dengan ia keluar juga.
"Aku datang kesini mau cari Caca. Cacanya ada?" Jawab wanita yang bernama Anggiya.
__ADS_1
Ya, sepasang laki-laki dan perempuan itu adalah Anggiya dan kekasihnya, ralat. Tetapi beberapa minggu lagi mereka akan bertunangan.
"Gak ada. Caca udah lama diusir sama papa dari rumah ini dan di coret dari Kartu keluarga. Sekarang dia gak tau dimana keberadaannya. Udah sana pulang," Jawabnya ketus.
"Kenapa diusir dan dicoret dari kartu keluarga?" Tanya Anggiya yang benar-benar bingung dengan semua ini.
Sedangkan si perempuan tuan rumah ini, sedari tadi mencuri pandang kearah laki-laki yang bersama Anggiya tersebut.
"Cih, banyak tanya Lo. Caca itu udah buat malu keluarga. Dia itu jual diri sama laki-laki atau om-om hidung belang. Foto dan video dia lagi dipuaskan sama tuh om-om dikirim ke ponsel papa gue. Dan Lo tahu itu, dia butuh uang juga kasih sayang. Lebih baik Lo pulang aja deh," Ucap wanita itu dengan memandang rendah Anggiya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kok aku gak tau masalah itu. Aku tahu Caca sifat dan sikapnya Caca seperti apa. Gak mungkin dia jual diri demi uang dan juga demi kasih sayang. Pasti ada yang jebak dia. Iya, pasti dia dijebak." Jawab Anggiya, tanpa tersinggung dengan cara melihat lawan bicaranya tersebut.
"Ah, Lo. Kayak gak tau aja. Dan siapa laki-laki yang Lo bawa ini?" Tanyanya sembari melirik Gilberto, karena sedari tadi ia mencuri pandang.
"Ah, sampai lupa aku kenalinnya. Ini mas Gilberto, kekasih ak....." Ucapan Anggiya terputus karena Gilberto yang memotongnya.
"Calon tunangan, Yank"
"Ah, maaf. Iya, ini kenalin mas Gilberto calon tunangan aku. Beberapa minggu lagi kami akan bertunangan. Dan mas Berto, kenalin ini..."
Lagi dan lagi ucapan Anggi terputus, kali ini bukan Gilberto sang calon tunangan yang memotong perkataannya, melainkan wanita yang membukakan pintu rumah mewah tersebut.
"Kenalin aku, Saras. Shintya Larasati Adiwiguna." Ucapnya dengan memperkenalkan nama dan tak lupa menggulurkan tangannya.
Ia pandang wajah laki-laki calon tunangan Anggiya tersebut.
Gilberto tak menanggapi uluran tangan perempuan di hadapannya.
Sedangkan Anggiya meringis mendapati calon tunangannya tidak mau berkenalan dengan Saras, saudara perempuan tiri dari Caca, sahabatnya itu.
"Cih, sombong banget nih cowok. Miskin juga. Cuman menang di tampang aja cakep dan kebule-bulean. Tapi tetap aja nol attitude dan gak ramah di hati dan dompet." Keluh Saras dalam hati karena uluran tangannya tak ada tanggapan.
"Calon tunangan Lo nih nemu dimana? Cakep sih tapi.... Sayang nol attitude juga kayaknya selevel banget deh sama Lo... Miskin, melarat, kampungan dan terakhir pasti dari kaum rakyat jelata." Ucap Saras, dengan semua ucapan yang kasar. Jangan lupakan caranya berbicara terlalu tinggi hati.
Seketika Gilberto naik pitam dikatai sedemikian rupa dengan perempuan itu.
Tidak tahu saja dia siapa Gilberto.
*Gilberto hampir-hampir menampar wanita yang ada dihadapannya tersebut, tetapi Anggiya, sang calon tunangannya menghentikannya dengan memeluk erat lengan tangannya. *
Saking eratnya dapat dipastikan lengan baju yang Gilberto kenakan pasti akan terlihat sangat dan amat kusut. Hasil dari cengkraman erat tangan Anggiya.
"Ah, kalau begitu aku pamit yah, Ras. Maaf ganggu."
Ucap Anggiya iya secepat mungkin pergi dari hadapan Saras, kalau tidak calon tunangannya itu akan berbuat nekat.
__ADS_1
"Dari tadi udah gue usir juga. Masih aja," Ucap Saras lalu ia masuk ke rumahnya dengan membanting pintu.
Sedangkan Anggiya dan Gilberto masih ada di dalam mobil dengan amarah Gilberto yang memuncak.
"Maaf yah, Mas. Aku gak kenalin nama mas dengan benar. Jadinya kamu dihina seperti itu sama Saras." Anggiya merasa bersalah, karena seorang Beklerken dihina sedemikian rupa oleh Saras.
"Huuft," Menghela nafasnya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, "Kamu gak salah, Yank. Malahan bagus kalau dia gak tahu kalau aku seorang BEKLERKEN. Tapi, aku gak terima dia menghina kamu seperti itu. Gayanya kayak orang kaya betul aja dia. Kamu tahu, dia sedari dia buka pintu, dia lihat-lihat aku terus, Yank. Kamu gak risih gitu!" Ucapnya pada Anggiya.
"Hehehe, aku gak merhatiin," Jawab Anggiya dengan polos.
"Susah, kalau punya calon pendamping hidup yang masih polos aja, walau udah pernah aku...."
Seketika ucapan Gilberto terhenti karena mulutnya sudah ditutup oleh tangan Anggiya.
"Nyalain mesin mobilnya. Kita harus cepat pulang nanti bapak ibu, mom dan dad kelamaan nungguin kita,"
"Iya-iya, bawel banget sih ini, istri aku," Ucapnya sembari mengacak-acak rambut wanitanya.
"Ish, rambut aku jadi berantakan tahu. Masih calon tunangan, Ingat."
Mereka pun meninggalkan pekarangan rumah mewah itu.
~ FLASH BACK OFF ~
Tiba-tiba pintu kamar Deon terbuka, dan menampilkan papi Berto.
Ia pun duduk di sofa, tepatnya di sebelah sang istri yang entah menyadari ia masuk atau tidak.
Grebb
Papi Berto pun memeluk perut sang istri, disaat bersamaan mami Anggiya pun tersadar dari lamunannya.
Ia terkejut, mendapati perutnya ada yang memeluk.
Ia lihat kedua pasang tangan yang memeluk perut. Tanpa di lihat siapa orangnya, mami Anggiya sudah tahu kalau itu sang suami.
Tak lupa papi Berto menciumm aroma wangi dari rambut juga mencium leher sang istri.
"Ngapain papi kesini?" Ucapnya ketus sembari melepaskan pelukan yang ada di perutnya dan ia beranjak dari sofa.
"Sweetheart..." Papi Berto tak sempat melanjutkan ucapannya, karena mami Anggiya sudah memotong perkataannya.
"Lebih baik papi keluar, sebelum mami benar-benar marah dan gak mau ngeliat muka papi lagi,"
"Huuuufft, lebih baik aku mengalah dulu dan jangan terbawa emosi. Bisa-bisa, Sweetheart benar melakukan itu. Aku gak mau." Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Papi Berto pun melingkarkan tangannya ke perut sang istri, "Baik, aku akan keluar."
Setelah mengucapkan itu ia cium rambut sang istri dan terakhir ia hadapkan wajah sang istri kearahnya lalu mencium kening juga bibir sang istri secepat mungkin.