Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 22


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


Pagi hari pun menampakkan kilau Cahya-nya, di salah satu kamar yang luas dan mewah.


Yaitu kamar Tuan muda atau si Bos.


Gadis yang tidurnya terusik oleh sinar matahari pun dengan perlahan-lahan matanya membuka tapi alangkah sakit seluruh tubuhnya seperti terhantam beban berat dan jangan lupakan pusatnya pun terasa perih dan kemungkin bengkak akibat kegiatan mereka sore hari kemarin tanpa henti serta hingga melupakan makanan yang dibawakan Bibi Nam juga makan malam.


"Shhhh...sakit semua badanku seperti ada yang ngehantam, mana pusat ku perih lagi, jangan bilang bengkak lagi, bener-bener laki-laki ini sangat kuat dan tenaganya tidak habis-habisnya menggempur tubuhku." Ringisnya kala mendapatkan tubuh bagian bawahnya perih juga seluruh badannya terasa sakit seakan-akan remuk bak dihantam oleh benda berat.


"Ini juga tangannya erat banget meluknya, aaaah...kenapa si lontong terus menerus masuk ke Goa aku, aku jadi tidak bisa leluasa." Sambungnya lagi.


Untuk pertama kalinya Gadis yang lebih awal dari si Bos.


"Tumben banget aku bangun lebih dulu dari dia, biasanya dia duluan, pasti dia menggempur tubuhku sampe dia benar-benar terpuaskan baru dia berhenti."


Gadis pun melepaskan pelukan si Bos dari pinggangnya dengan perlahan-lahan untuk tidak membangunkannya.


Di sandarkan badannya di kepala ranjang dan menarik selimut hingga batas lehernya ia pegang erat.


"God, kapan aku bisa lepas dari laki-laki ini, aku sudah berusaha menuruti semua kemauannya." Gumam Gadis dalam hatinya, tatapan matanya tertuju entah kemana.


"Bod**h, bod**h, bod**h...kenapa aku kemarin bisa sangat-sangat liar. Kenapa aku bisa se-agresif gitu, aku ini kemasukan apa coba buat malu aja, gimana ini ngadepin dia gak mungkin kan aku mengindari dia, secara aku gak bisa kemana-mana hanya di kamar kamar kamar, aku gak mau dibilang perempuan yang liat juga agresif, kemarin itu aku benar-benar gak tau bisa sampai segitunya dan gak bisa lagi mengontrolnya."


"Aku harus gimana jika dia ledekin aku dan mau lagi aku yang liar juga agresif, aaaaah...gimana ini? Gadis kamu benar-benar bod**h kenapa terbawa suasana." Merutuki kebodohannya dengan menjambak rambutnya dan mengatai dirinya bodoh.


Gadis yang masih asik dengan merutuki kebodohannya, tanpa sadar ada sepasang mata yang sudah bangun dan tersenyum penuh arti.


Ya, si Bos sudah bangun. Ia pun sedikit menaikan kepalanya hingga batas ketiak Gadis, lalu ia pun meraih pinggang Gadis juga langsung saja ia lahap habis dada Gadis yang ada di dekatnya.


His**ap**n demi his**ap**n pun ia lakukan tak ketinggalan ia gigit kecil ujung pent**l Gadis layaknya anak bayi yang mengigit karet dot miliknya.


Gadis yang masih dalam pemikirannya dan juga merutuki semua kebodohannya pun belum menyadari bahwa salah satu benda gantung kenyalnya sudah di lahap habis oleh si Bos.


Tangan si Bos pun merem**s benda gantung kenyal yang satunya dengan memelintir menariknya sangat keras.


"Shhhh, kenapa dadaku tiba-tiba kayak ada yang gigit." Ucapnya.


Ia pun menundukkan kepalanya dan disana ia lihat mulut si Bos tengah asik menghis**p dengan sangat rakus juga sebelah tangannya bermain-main di salah satu benda gantung kenyalnya.


"Ini orang gak ada hentinya, masih aja kayak gini, tiba-tiba bangun udah nen***n aja. Sampai-sampai aku gak sadar kapan dia bangun ini udah, sudahlah...malas aku ribut sama dia pagi-pagi. Biarin aja mau dia."


5 menit


10 menit


15 menit

__ADS_1


20 menit sudah Gadis menunggu si Bos untuk selesai dengan kegiatan menyusu si Bos.


Kini tangan si Bos merayap hingga berada di Goa Gadis dan hendak melakukan aksinya kembali, tapi sudah lebih dulu dilihat oleh sang empunya Goa itu.


Yang awalnya Gadis hanya diam pun segera mengeluarkan suaranya karena tangan si Bos sudah menuju Goa miliknya.


"Ini kok didiemin malah tambah ngelunjak yah, gak bisa didiemin, bisa-bisa aku akan cepat tua ini karena tubuhku remuk semua, eh tapi apa hubungan sama tua, udahlah..kalo orang lagi emosi apa aja benar." Gumamnya dalam hati.


"Tuaan, eh bukan maksudnya sayang. Sudah yah! Aku benar-benar capek juga badanku rasanya mau patah karena lelah. Kemarin juga kita gak jadi makan siang yang ke tunda, ralat-ralat makan sore dan malam, yah!" Ucapnya dengan mimik wajah yang ia buat sendu juga mengatupkan kedua tangannya tanda memohon.


"Tapi cium aku dulu, baru aku berenti." Negonya.


"Liciknya manusia satu ini, itu kan tubuh-tubuh aku kenapa harus dia yang nego, benar-benar aku dikelabui buaya buntung laknadd." Gerutunya dalam hati.


"Honey, jangan kau umpat aku dengan kata-kata kasar dalam hatimu, sudah ku peringatkan kamu hanya boleh didalam hatimu mencintai aku juga calon-calon anak kita kelak."


"Hemm." Hanya deheman yang Gadis berikan.


"Jawab aku dengan benar." Suara si Bos sudah naik satu oktaf tanda ia marah.


"Iya."


Gadis yang kesal pun segera mengalihkan wajahnya kearah lain, karena ia sudah muak dengan semua perintah yang si Bos berikan padanya.


Ciuman yang diminta si Bos pun tidak terlaksana, karena perdebatan yang mereka lakukan.


"Honey, sini dekatkan lagi tubuh mu jangan jauh dariku, nanti si lontong lepas, aku masih ingin berlama-lama dengan kamu sebelum aku pergi."


Gadis pun menuruti kemauan si Bos pun tidak lagi bersandar pada kepala ranjang sekarang ia sudah sama-sama satu bantal dengan si Bos dan jangan lupakan kedua tangan si Bos sudah bertengger di pinggang ramping Gadis serta tak ketinggalan si lontong masih betah berlama-lama di Goa Gadis.


"Apa katanya mau pergi, berarti aku bisa bebas lari dari kediaman laknadd ini." Gumamnya dalam hati dengan wajah yang berseri layaknya mendapatkan hadiah yang sangat mewah.


"Kau tidak akan bisa kemana-mana, buang semua keinginan yang ada di otak dan kepala mu, aku lebih cerdik darimu." Ucapnya masih menutup matanya.


"Cih, apakah dia cenayang, bisa tau aku mau lakuin apa, God help me." Gumamnya kembali.


"Jangan mengumpat ku, aku pasti akan tau apa yang akan kau lakukan."


Sekali lagi Gadis kaget dengan ucapan si laki-laki laknadd itu.


"Dan satu lagi, namamu sekarang bukan Gadis melainkan Tamara Gladyescya Beklerken." Ucapnya dengan matanya kembali tertutup dengan kedua tangannya memeluk erat Gadis.


"Tidak, namaku tetap Anindyta Gadis Putri."


Tolak Gadis dengan meninggikan suaranya, entah keberanian darimana tiba-tiba saja Gadis bereaksi seperti itu.


"Kau melawan ku, HAH." Sarkas si Bos segera membuka kedua matanya dan menatap tajam Gadis, jangan lupakan rahangnya sudah mengetat.


"Iya, kenapa. Itu adalah nama dari kedua orang tuaku, apa hak mu mengganti nama orang sembarangan."

__ADS_1


Tantang Gadis dengan sedikit menjauh dari si Bos dan menarik selimutnya supaya tidak kebuka, secara otomatis si lontong terlepas dari Goa Gadis.


"Kau melawanku, HAAH." si Bos pun tersulut emosi dengan menjambak kasar rambut Gadis dengan sekuat tenaga, yang mana beberapa helai Gadis pun jatuh di wajah Gadis.


"Hiks...hiks...hiks...sakit Tuan, sakit."


Gadis pun tidak kuat dengan jambakan itu pun menangis kesakitan.


Gadis sekuat tenaga melepaskan tangan si Bos yang masih menjambak rambutnya.


Akhirnya dengan sekuat tenaga ia pun bisa melepaskannya dengan sekali mengigit tangan si Bos serta ia menjatuhkan badannya di lantai marmer dan berangsur menjauh dari si Bos dengan selimut yang masih ia pegang erat untuk menutupi tubuh telanjang polosnya itu.


"Kau."


"Beraninya melawan aku, ini balasan-mu setelah aku sudah lebih lembut padamu jalan***g siala***n."


Si Bos pun sudah naik pitam, segera menghampiri Gadis yang sudah terlihat ketakutan serta tubuhnya bergetar hebat.


Sejauh apapun Gadis menyeret tubuhnya tetap saja si Bos bisa menangkapnya dengan keadaan telanjang polos dengan si lontong panjang berdaging itu bergoyang-goyang di tempatnya bersarang.


Gadis pun akhirnya tertangkap juga dengan seluruh tubuh ia selimuti dengan selimut yang ia bawa saat menjatuhkan dirinya ke lantai marmer kamar. Sedangkan si Bos berjongkok dengan mencengkram kuat kedua pipi Gadis dan di pastikan mulut gadis maju layaknya mulut ikan.


"Kau harus mau dengan nama yang aku berikan sekarang, karena kau sudah tidak virgin lagi ; kau sudah kotor ; kau sudah ku pakai ; kau sudah tidak bisa mendapatkan laki-laki lain selain aku, kau harus mau!! Ini bukan tentang aku meminta persetujuan mu tapi ini perintah yang harus kau lakukan, paham kamu jalan***g siala***n."


Si Bos pun menghempaskan kasar kedua pipi Gadis begitu saja, kepala Gadis pun terantuk pada ujung tiang kamar serta kepala Gadis tiba-tiba terasa pusing dan Gadis pun tak sadarkan diri.


Si Bos pun menolehkan kepalanya dan melihat Gadis tak sadarkan diri pun panik, serta ada cairan merah yang keluar dari belakang kepala Gadis.


"Honey, kau kenapa. Honey...bangun." Ia menepuk-nepuk pipi Gadis.


Hendak mengusap kepala Gadis pun ia mendapati darah yang keluar dari belakang kepala Gadis, ia pun segera menggendong Gadis menuju ranjang dan tidak lupa ia menyelimuti Gadis kembali.


"Apa yang sudah aku lakukan padanya, aku hilang control, aku tidak ingin dia membangkang semua perintahku, aku hanya mau ia menuruti semua keinginanku saja, apa itu susah." Ucapnya lirih dengan mengelus pipi Gadis.


Segera si Bos menghubungi Bibi Nam.


"Bibi, segera ke kamar ku bawakan kompresan dengan air hangat juga obat merah serta plester atau perban apalah yang bisa membuat darah berhenti dan hubungi Roy. Segeralah Bibi ke kamar."


Segera mematikan panggilan tanpa mendengar jawaban dari Bibi Nam.


Entah bagaimana respon Bibi Nam ketika mendengar penuturan sang majikan dalam panggilan tersebut.


"Semoga saja kamu tidak kenapa-kenapa, honey. Maafkan aku, maafkan aku yang terlalu terbawa emosi, jika saja kamu mau menurutinya tidak akan seperti ini."


"Maafkan aku."


Selalu ia ucapkan kata maaf maaf dan maaf, tapi selalu saja ia berbuat kasar pada Gadis.


Saat ini ia menyesal sangat sangat menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat pada Gadis, hingga Gadis tak sadarkan diri dengan bagian kepala belakangnya mengeluarkan darah yang tidak sedikit.

__ADS_1


__ADS_2