Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 128


__ADS_3

Kini Deon tengah menerima panggilan, ia tanpa fikir panjang duduk di ruang tamu.


Segera ia sentuh layar hijau yang ada di layar ponselnya tersebut.


"Ya, hallo." Jawab Deon.


"Malam, Bos. Maaf saya Key. Maaf jika saya malam-malam menghubungi bos." Ucap seseorang di sebrang telpon tak lain, Key, Bodyguard sekaligus mata-mata Deon yang bertugas untuk memata-matai papinya selama papi juga maminya berkeliling dunia.


"Tidak masalah. Ada apa, Key?"


"Bos saya meminta maaf. Jika saya dalam bertugas tidak profesional. Maaf jika saya lalai. Saya tidak memberitahu pada bos jika tuan besar dan nyonya besar akan pulang ke ibukota secepat ini. Dan saya pun satu hari sebelum tuan besar dan nyonya besar pulang, saya dikabari seseorang melalui ponsel adik saya. Yang mana, seorang polisi yang mengabari jika adik saya Bulan, dia menjadi korban tabrak lagi. Tanpa fikir panjang saya langsung meninggalkan semua pekerjaan saya, yang ada di pikiran saya adalah keselamatan adik saya, Bulan. Karena hanya Bulan, satu-satunya keluarga yang tersisa. Hanya, Bulan yang tersisa di dunia ini, Bos. Tanpa menelpon ataupun memberikan kabar kepada, Bos. Maaf jika saya lancang dan bersikap tidak profesional, Bos. Saya siap untuk di hukum, Bos."


"Kali ini saya maafkan. Lebih baik kamu fokus kepada kesehatan adik kamu, saya beri kamu cuti. Kembali bekerja setelah adik kamu benar-benar sudah sembuh total dan keluar dari rumah sakit. Kirimkan alamat rumah sakit dimana adik kamu dirawat, beserta ruang rawat adik kamu. Jika saya senggang, besok saya akan datang untuk menjenguk."


"Baik, Bos. Akan saya kirimkan alamat beserta kamar rawat adik saya. Sekali lagi saya ucapkan maaf dan terima kasih, Bos."


"Hemm," Panggilan pun dimatikan sepihak oleh Deon.


Tak butuh lama, pesan masuk dari Key pun ia bukan ia baca.


"Rumah sakit HH, Calendula 12. Semoga adikmu lekas sembuh, Key. Aku tahu, hanya tersisa Bulan, satu-satunya keluarga yang tersisa. Ayah mu meninggal saat bertugas di medan pernah 10 tahun lalu dan ibu mu meninggal 5 tahun kemudian. Kamu dan Bulan menjadi yatim-piatu. Dan usia Bulan juga pasti masih sangat kecil saat ditinggal ayah dan ibu mu. Sungguh aku tidak mau merasakannya. Walau aku kejam, tapi aku masih memiliki hati nurani. Lebih baik aku kembali ke ruang keluarga untuk dekat dengan Gadis." Ucapnya setelahnya ia kembali ke ruang keluarga.


...~~~...


Beberapa menit sudah mami Anggiya meninggalkan sang suami di ruang keluarga seorang diri.


Ia sudah cukup bersabar menghadapi sang suami, jika sudah sibuk dengan tabletnya.


"Mih, pap....." Seketika papi Berto menghentikan ucapannya, ia melihat sekitar ruang keluarga yang kini tinggal ia seorang.


"Sia-l, aku ditinggalin sendirian, ini pasti karena wanita jalangg itu." Umpat kekesalannya pada Gadis yang tidak tahu apa-apa.


"Lebih baik aku ke ruang kerja dan merombak semua yang telah aku susun." Setelah berucap entah pada siapa, papi Berto pun beranjak dari duduknya sembari membawa tabletnya tersebut.


Sudah sampai di depan pintu ruang keluarga, tiba-tiba saja Deon masuk dan mengernyit heran dengan sang papi yang keluar.


"Mau kemana, Pih?" Tanyanya.


"Bukan urusanmu. Minggir!"

__ADS_1


Papi Berto pun menab rakkan bahunya pada sang putra.


"Cih, biasa aja kali, Pih." Sungguh Deon sangat kesal dengan sang papi yang bawaannya selalu saja ingin mengajak ge lut.


"Hon.... Lah, kenapa sepi?" Kini ia kembali terkejut mendapati ruang keluarga sepi.


"Kemana my honey dan mami? Sudahlah, lebih baik aku ke kamar my honey,"


Kini Deon menuju kamar tamu yang ditempati oleh Gadis, ia tidak tahu saja, kalau sang mami sudah lebih dahulu datang dan akan memonopoli Gadis.


Dan terhindar dari singa lapar, Deon.


...~~~...


Ruang Kerja


Papi Berto sudah sampai beberapa menit lalu di ruang kerja, tak lupa ia kunci pintu tersebut, supaya tidak ada yang lancang tiba-tiba masuk.


Ia tidak mau semua rencana yang ia susun rapi itu gagal dan mendapatkan amukan dari sang istri, mami Anggiya serta amukan putranya satu-satunya, Deon.


Ia hidupkan komputer dan larut dalam semua rencana yang kini ia susun.


10 menit


15 menit


20 menit


Dan akhirnya 30 menit sudah ia berkutat didepan layar komputer.


"Akhirnya, selesai juga dan tinggal ku berikan ke wanita jalangg itu dan ku suruh dia untuk melakukannya. Dan ini..." Ucapnya sembari membuang kertas yang sudah ia rem as-rem as dan ia buang ke tempat sampah yang sudah tersedia di ruang keluarga tersebut. "Selesai, kini aku sudah bisa menekan wanita jalangg sial-and itu, lebih cepat lebih baik. Tapi, aku tidak boleh gegabah, aku harus lihat situasi dan kondisi. Salah-salah, aku yang terkena amukan singa-singa di rumah ini."


Sungguh, papi Berto memberikan julukan pada anak dan istrinya dengan kata 'singa' tanpa menyadari ia juga singa.


Setelahnya, ia matikan komputer ia menuju kamar, karna waktu sudah menunjukkan tengah malam.


Ia akan bersiap untuk melakukan 'hal itu' pada sang istri.


"Tidak sabar aku, Sweetheart sudah janji akan melakukan 'hal itu' sekarang, lebih baik aku cepat ke kamar dan bersiap."

__ADS_1


...~~~...


Lantai 2, tepatnya kamar mami Anggiya dan papi Berto


Papi Berto membuka pintu kamarnya, mendapati kamar kosong.


Ia masuk dan memanggil-manggil sang istri.


"Sweetheart, Sweetheart...."


Ia berjalan menuju pintu kamar mandi, ia buka dan kembali memanggil-manggil sang istri, tetapi kosong, tidak mendapati sang istri di dalam kamar mandi.


"Sia-l, dimana dia? Coba di walk in closet,"


Tanpa menutup pintu kamar mandi, papi Berto kembali mencari sang istri ke ruang walk in closet.


Kembali ia panggil-panggil sang istri, tetapi nihil... sama saja sang istri tidak ada di ruangan itu.


"Sweetheart, kamu dimana?? Sia-l sia-l sia-l, kemana dia. Apa mungkin dia di kamar wanita jalangg itu. Menyebalkan, aku harus tidur sendirian. Huuftt, sabar sabar, aku harus sabar. Jangan aku menghampiri dia disana, lebih baik aku tidur saja. Tapi, aku tidak akan tinggal diam, jika wanita jalangg itu menghasut istriku."


Papi Berto pun mengambil piyamanya dengan serampangan tanpa mau berhati-hati, bahkan kita sudah tercecer sudah pakaian yang tidak bersalah itu di lantai yang dingin.


Kemudian menggunakannya.


Baju yang sedari ia pakai ia, buang entah kemana.


Seperti itulah papi Berto jika tidak diurusi sang istri.


Lihat, nanti sang ibu negara akan mencak-mencak melihat keadaan ruang walk in closet yang sangat-sangat berantakan dan dipastikan akan memarahi papi Berto panjang kali lebar kali tinggi.


Jika suasana hati papi kesal karena ia tidak mendapati sang istri di kamarnya, sama halnya dengan Deon.


Ia ingin mengendap-endap masuk ke kamar tamu, yang ditempati Gadis. Tetapi, hanya kekecewaan yang ia dapati.


Kamar tersebut terkunci dari dalam, terdengar suara-suara tawa dari kedua wanita kesayangan itu.


"Sia-l, mami ini benar-benar sudah menguasai dan memonopoli Gadis, aku tidak bisa berduaan dengannya. Siiiialll," Rutuknya.


Deon pun pergi begitu saja menuju kamarnya dengan disertai gerutuan yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2