
Setelah Deon masuk ke kamar mandi, Gadis pun terbangun dari tidurnya.
Mami Anggiya pun menghampiri sang calon menantu dan menanyakan keinginan sesuatu kepada calon menantunya itu.
Dan Gadis tidak menginginkan apa-apa dan mengatakan ingin mandi. Karena hari sudah sore.
Mami Anggiya pun mengiyakan dan membantu calon menantunya itu berdiri.
Mami Anggiya pun mengantarkan Gadis menuju kamar tamu, yang akan ditempati Gadis dalam beberapa hari entah lama atau cepat.
Selama Deon, putranya mengurus semua berkas dan segala hal pernikahannya.
Kini hanya tersisa Deon yang baru saja membuka pintu kamar mandi dan mendapati kamarnya kosong.
"CK, mami pasti sudah bangun Gadis untuk keluar dari kamar." Keluh Deon.
Padahal yang sesungguhnya sang mami tidak membangunkan Gadis, calon menantunya itu.
Melainkan, Gadis bangun dengan sendirinya.
Ya, terserah pemikiran Deon saja.
...~~~...
Di kamar tamu
Gadis sudah segar, setelah ia mandi.
Tak lupa mami Anggiya menyiapkan baju yang akan dikenakan dirinya.
Begitu perhatiannya mami Anggiya kepada calon menantunya itu.
Membuat Gadis terharu juga tersanjung. Gadis merasa sangat disayangi juga merasakan sosok pengganti ibunya yang sudah meninggal dunia beberapa bulan lalu.
Kini, tepatnya sudah 2 bulan kedua orang tuanya meninggal dan sudah 1 bulan ia sudah berada di kediaman BEKLERKEN.
Tidak ada terbesit dalam hatinya menjadi anggota keluarga, bahkan menjadi calon istri sekaligus calon menantu dari keluarga BEKLERKEN yang dapat ia pastikan kaya raya itu.
Mami Anggiya pun pamit untuk kembali ke kamarnya untuk mandi.
Gadis pun mengiyakan dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada mami Anggiya.
...~~~...
Lantai 2
Tepatnya, kamar kedua orang tua Deon.
Papi Berto tengah duduk di sofa tengah memegang tabletnya, entah tengah melihat nilai grafik sahamnya atau hanya sekedar bermain-main saja.
Sejak ia diusir sang istri, papi Berto hanya memegang tabletnya saja, tanpa melakukan aktifitas yang merusak atau memakai entah pada siapa saja.
Papi Berto kali ini hanya diam, entah apa yang tengah ia fikirkan.
Mami Anggiya pun masuk kedalam kamarnya bersama sang suami.
Ia mendapati sang suami tengah duduk di sofa dengan tablet yang ia pegang.
__ADS_1
Ia lihat pakaian sang suami, suaminya masih memakai pakaian tadi pagi. Tertanda sang suami belum mandi.
"Lebih baik aku mandi dulu. Semoga selepas aku mandi dia bisa aku ajak berbicara dari hati kehati. Dan lihat! Dia belum mandi, dan masih saja memegang tabletnya itu. Gak ada kerjaan selain pegang tuh tablet. Hufft, buat kesal saja. Mana gak liat aku masuk lagi." Keluh sang mami dalam hatinya.
Papi Berto yang melihat sang istri masuk kedalam kamar, pura-pura tidak melihat dan berpura-pura sibuk dengan tabletnya.
"Lebih baik aku pura-pura gak lihat dia masuk dan pura-pura aja aku lagi sibuk dengan tablet ku ini." Gumam papi Berto dalam hatinya.
Mami Anggiya pun masuk kedalam ruang walk in closet, mengambil dan membawa pakaian yang akan ia kenakan setelah mandi.
Segera, setelah ia dapatkan pakaian. Mami Anggiya masuk kedalam kamar mandi, tanpa mau bersusah payah mengeluarkan suaranya.
Sama halnya dengan sang suami.
"Dia benar-benar mendiamkan aku. Sebegitu kuatnya kekuatan wanita jalangg itu, sampai-sampai istriku saja, tidak mau mengajak aku berbicara. Awas saja, dasar jalangg sial-and." Ucap papi Berto lirih.
Merutuki semua kekesalannya pada Gadis. Dan berfikir Gadis lah dalang dari semua ini semua.
Tetapi, papi Berto tidak introspeksi diri.
Beberapa menit sudah, mami Anggiya telah segar, setelah mandi.
Ia duduk didepan meja rias dan merias wajah juga menyisir rambutnya.
Sedangkan papi Berto pun masuk kedalam kamar mandi, tanpa membawa pakaian apapun.
"CK, kebiasaan papi itu. Gak pernah mau membawa baju kedalam kamar mandi." Keluh mami yang mendapati sang suami yang telah terbiasa tidak membawa pakaian kedalam kamar mandi.
Dapat dipastikan jika sang suami nanti, hanya menggunakan bathrobe atau bahkan tidak memakai apapun, alias tela-njang polos keluar dari kamar mandi dan beredar dalam ruang kamar itu tanpa rasa malu.
Walau ia sedikit kecewa kepada sang suami, ia tidak lupa tugasnya sebagai sang istri.
Yakni, menyiapkan segala keperluan sang suami.
Beberapa menit sudah papi Berto selesai mandi.
Lihat!
Ia hanya mengeringkan tubuhnya dan keluar kamar mandi dengan tampilan polos, tak ada sehelai benang yang menutupi tubuhnya yang masih kekar dan atletis itu.
"Cih, pakai handuk atau bathrobe, Pih. Jangan keluar dari kamar mandi telanjang gitu. Gak takut aku sedang bersama salah satu ART kita, apa?" Akhirnya mami Anggiya mengeluarkan suaranya juga.
"Emmm," Hanya gumaman saja yang dijawab sang suami.
"Cih, dia masih marah kah sama aku. Harusnya aku yang marah sama dia." Keluh sang mami dalam hatinya
Papi Berto pun tanpa malu memakai pakaian juga celana dihadapan sang istri.
"Mau aku lihat, seberapa jauh kamu betah aku diami, Sweetheart." Seringai kecil terbit disudut bibir papi Berto tanpa diketahui oleh sang istri.
"Duh, papi masih marah. Gimana aku mau ajak dia bicara. Yang ada aku sendiri bingung. Susah deh, hufft. Gimana ini?? Aduh, pusing. Huuft, Semoga saja mau diajak bicara. Aku tuh sebenarnya gak mau lama-lama berjauhan sama dia. Ini, kenapa aku terkesan yang salah sama dia. Dan dia yang ngambek. Harusnya kan aku. Ah, ya sudah lah. Lebih baik aku mengalah, demi Deon, putraku. Dan juga demi Gadis, calon menantu aku.
Mami Anggiya pun menghampiri sang suami dan membantu mengancingkan kancing kemeja yang hendak dikenakan sang suami.
"Pih," Panggil mami sembari mengancingkan kancing kemeja sang suami.
"Emm," Kembali hanya deheman yang keluar dari mulut sang papi.
__ADS_1
"Mami mau ngobrol sama papi, bisa?"
Hanya anggukan kepala yang diberikan sang papi.
Mami menuntun sang suami duduk di tepi ranjang, sedangkan mami Anggiya mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut sang suami yang basah, karena baru selesai mengeramasinya.
Setelah membawa handuk kecil mami Anggiya pun segera mengeringkan rambut sang suaminya, "Pih, dari tadi kenapa belum mandi?" Memulai pembicaraan .
Tidak mungkin ia langsung tabraak pembicaraan, mami Anggiya ingin berbasa-basi terlebih dahulu pada sang suami.
"Males." Jawab sekenanya sang suami.
"Huuft, kenapa juga kamu malas? Biasanya juga kamu selalu tak tahan dengan panas yang sedari tadi pasti kamu berkeliaran kemana-mana."
Papi Berto memicingkan kedua matanya, menelaah semua pertanyaan atau bahkan pernyataan sang istri.
"Ya males aja," Kembali menjawab dengan singkat dan terkesan dingin juga datar.
Setelah setengah kering handuk kecil diletakkan ke keranjang kotor yang berada di sudut ruangan dan mengambil sisir dari meja riasnya.
Segera mami Anggiya menyisir rambut sang suami.
Disela-sela menyisir rambut sang suami mami Anggiya pun bertekad langsung bertanya mengenai hal sensitif yakni, "restu sang suami untuk pernikahan putranya, Deon dengan Gadis, calon menantunya."
"Pih, mami mohon papi merestui pernikahan Deon dan juga Gadis yah, Pih. Mami mohon." Terucap sudah kalimat itu dan aktifitas menyisir pun sudah selesai.
Mami Anggiya pun duduk disebelah sang suami, dengan memegang kedua tangan sang suami.
"Huuft," Papi Gilberto pun membuang nafasnya kasar, "Oke, papi merestui mereka."
Mami Anggiya yang mendengar pun bahagia, seketika ia memeluk sang suami.
"Makasih, Sweetheart."
"Cih, giliran ada maunya panggil aku dengan kata 'Sweetheart' Tadi saja marah dan tidak ada kata sayang itu yang aku dengar." Keluh papi Berto dalam hatinya yang mendapati sang istri yang berucap manis dengan memanggil dengan kata kesayangan mereka itu.
"Tapi..."
"Tapi apa, Pih?" Mami Anggiya merasa deg-degan dengan kata 'tapi' yang terlontar dari mulut sang suami.
"Aduh, kenapa ada kata tapi tapi sih segala. Aku udah senang malah di jatuhin lagi. Emang dasar si papi ini." Keluh mami Anggiya dalam hatinya
"Tapi, jika Gadis terbukti wanita itu tidak baik dan hanya mengincar harta dan menguras semua harta milik kita. Papi tidak akan segan-segan untuk memenjarakannya bahkan dapat papi pastikan dia akan hilang dari muka bumi ini."
Gleek
Mami Anggiya seketika menelan ludahnya dengan susah payah.
"Mami pastikan kalau Gadis itu wanita yang baik, jauh dari kata 'matre', mami yang jadi jaminannya, Pih. Dia itu seperti mami dulu. Mami jadi ingat masa-masa kita dulu saat...
Ucapan mami Anggiya terhenti, karena sang suami yang menghentikannya.
"Udah, Mih. Papi laper," Ucap papi Berto sembari menarik tangan istri itu ia ajak ke ruang makan, karena sudah waktunya makan malam.
Mami Anggiya hanya mengikuti tanpa protes, mami Anggiya merasa bahagia.
Dan dapat dipastikan Deon pun sama bahagianya seperti dirinya.
__ADS_1