Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 27


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


BB GROUP


Tepatnya di lantai 15 seorang pria tampan serta tubuh atletisnya dibalut dengan jas hitam mahal tengah melamun.


"Apa aku sudah benar membiarkan Gladis keluar dari kamar?


Kalau dia sampai kabur dan mengelabuhi Bibi Nam dan yang lainnya gimana?


Ini semua salah si Dokter sok tau itu, yang menasihati ku untuk lebih lembut dan memberikan Gladis kebebasan, tapi kenapa aku juga mau-maunya mengikuti semua ucapan yang ia lontarkan kepada ku itu.


Tapi kan aku sudah suruh Bibi Nam mengikuti Gladis kemana pun dia melangkah dan semua gerak-geriknya yang aneh aku suruh Bibi Nam untuk merekamnya.


Tapi aku masih saja gelisah dan seakan-akan akan terjadi sesuatu pada Gladis-ku, ah aku ini seakan-akan, ah!! Sudahlah." Ucapnya bermonolog sendiri di ruang yang luas dan mewah itu.


Ternyata pria tersebut adalah Si Bos, Si Bos sudah menamai Gadis dengan nama Gladis tanpa meminta pendapat ataupun persetujuan dari si empunya nama.


Larut dalam lamunannya ia tidak mendengar ketukan pintu ruangannya yang sudah beberapa menit di ketuk, tapi si empunya ruangan tidak mendengar, alhasil si pengetuk pintu pun memberanikan diri masuk.


"Bos." Panggil seseorang.


"BOS!" Ucapnya sedikit meninggalkan suaranya.


"Kau! Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dimana sopan santun-mu asisten Roy, jangan karena aku sudah berbaik hati padamu, kau sudah ngelunjak, Roy?"


"Bos saja yang tidak dengar, saya sudah puluhan kali mengetuk pintu hingga lihat tanganku memerah, lalu aku panggil masih juga melamun." Ucapnya berucap secara menggebu-gebu.


Seseorang itu asisten Roy.


"Ck, banyak drama kau ini, lalu kau mau apa?"


"Ini semua laporan yang harus Bos tanda tangani.


Bos sebenarnya kau ada apa? Sejak kita berangkat sampai sampai Bos seperti ada masalah?" Tanyanya.


"Haah, aku masih tidak bisa terima kalau Gladis keluar dari kamar, aku takut dia kabur serta mengelabuhi Bibi Nam dan yang lainnya. Apa aku salah dengan yang aku lakukan, ini salahku yang mengikuti semua ucapan si dokter sableng itu."


"Maaf ya, Bos. Sebenarnya itu keputusan yang baik untuk Nyonya muda supaya ia tidak tertekan dan ia tidak terlalu benci dengan Bos. Kalau saya boleh saran, Bos sebaiknya lebih bertanya apa yang disukai dan tidak disukai oleh Nyonya muda serta Bos sekarang lebih lembut lagi dalam berbicara dan bertindak. Dan jangan memaksa kehendak Bos untuk 'itu'.


Terus adalagi Bos, kalau bisa Bos bertindak layaknya pria yang mendekati wanita dengan sewajarnya seperti Bos berbuat romantis, gitu." Ucap asisten Roy panjang lebar.


Hanya deheman yang ia berikan pada asisten Roy, ia pun membubuhkan tanda tangannya di berkas laporan tersebut.

__ADS_1


"Bos, 5 menit lagi kita akan meeting karena clien kita sudah on the way menuju ruang meeting." Ucap asisten Roy sembari melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


Sudah selesai dengan membubuhkan tanda tangan, si Bos hendak mengambil ponselnya yang berbunyi tanda pesan masuk, tapi asisten Roy sudah menginstruksikan untuk segera bergegas.


"Mari, Bos." Ajak asisten Roy pada si Bos karena mereka harus tepat waktu.


Si Bos yang tidak ada pilihan lagi pun tidak jadi membuka ponselnya, karena clien ini sangatlah menguntungkan kedua belah pihak.


...~...


BAR REFAELI


Tok


Tok


Tok


"Masuk." Ucap seseorang dari dalam ruangan.


Seorang pria pun terlibat memasuki ruangan dengan wajah datar dengan perawakan tubuh tinggi besar.


"Wah, ternyata kau yang datang, Joe." Ucap Mamih Veliz mengalihkan membaca buku di meja kerjanya pada pria yang tak lain Joe bodyguard Mamih Veliz yang tidak pernah diketahui oleh seseorang.


"Iya, Mih." Jawabnya datar.


Joe pun duduk di sofa.


"Kau mau minum apa, Joe?" Tanya Mamih Veliz pada Joe.


"Yang dingin, Mih."


"Oke, tunggu yah." Tangan Mamih Veliz pun membuka kulkas yang berada di ruangan tersebut. Diambilnya minuman dingin itu 2 kaleng untuknya dan untuk Joe.


"Ambillah, Joe." Mamih pun menyerahkan minuman dingin berkaleng sembari mendudukkan bokongnya di sofa.


Tanpa sungkan Joe pun segera membuka dan meminum habis minuman kaleng tersebut.


"Kau darimana?"


"Biasa dari mengikuti Bos arogan misterius itu." Ucapnya datar.


"Kau dan Bila sama saja mengubah nama panggilan."


Joe tidak menanggapi ucapan Mamih Veliz, Mamih hanya geleng-geleng kepala pada salah satu bodyguard yang unik ini.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa sudah ada kabar baik?"


"Sudah, dia sekarang ada di BB Group di jalan xxxx."


"Kau hebat sekali, sudah dapatkan yang aku dan Bila mau, ngomong-ngomong Bila, aku harus segera menelponnya."


Mamih Veliz pun merasa senang karena baru beberapa hari bodyguard bernama Joe sudah menemukan dimana si Bos Misterius itu berinvestor.


Sungguh Joe dapat diandalkan.


Mamih Veliz pun selesai menelpon Bila, ia selalu menebarkan senyum karena ia juga Bila akhirnya bisa tahu keadaan Gadis, karena mereka akan menemui si Bos Misterius itu dan menanyakan kabar Gadis.


"Mih." Panggil Joe.


"Ah, iya ada apa, Joe?"


"Sepertinya si Bos arogan itu tidak bisa kita dekati dan feeling aku merasa banyak rahasia dibalik semua itu, serta aku tidak percaya jika itu wajah aslinya." Joe mengeluarkan pendapatnya.


"Kamu ini, namanya juga kita juluki si Bos Misterius ya pasti banyak rahasia, masalah wajah Mamih tidak paham asli palsu."


"Mungkin saja dia memakai topeng."


"Ah, kau ini kebanyakan nonton drama atau membaca novel seperti Gadis, ngomongin Gadis Mamih jadi kangen sama Gadis walau baru beberapa kali bertemu." Ucap Mamih menerawang kedepan.


"Tapi aku lihat sekilas Mamih ada miripnya juga sama Gadis dan juga Bila."


"Ck, kamu ini semua juga pada bilang gitu, Mamih sudah pernah lihat foto keluarga Bila, Bila itu mirip ayahnya tapi kalau Gadis Mamih belum pernah melihat foto keluarga Gadis."


"Oh." Joe hanya ber oh ria saja.


"Tapi mengapa aku bisa lihat kalau Gadis sedikit mirip Mamih versi kalem." Ucap Joe dalam hatinya.


"Joe, Joe, bagaimana dengan kekasihmu? Apa dia sudah mau kau ajak menikah?"


"Emm" Jawab Joe.


"Jawablah dengan benar Joe."


"Dia sudah hamil 6 minggu, Mih."


"Astaga, kau..kau..jadi kau..astaga Joe." Mamih Veliz kaget mendengar penuturan sang bodyguard yang terkesan datar itu.


Joe hanya cuek dengan mengedikan bahunya.


"Kau ini, bisa bicarakan baik-baik jangan asal kau celup dia hingga berbuah, astaga. Kekasihmu bukannya masih sekolah dan satu tahun lagi ia baru lulus, Oh God." Memijat keningnya Mamih merutuki semua tingkah Joe diluar nalar.

__ADS_1


...~...


__ADS_2