Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 34


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


Di waktu bersamaan Gadis yang sudah puas dengan berkeliling paviliun belakang serta melihat pemandangan di sore hari di arah balkon pun meminta untuk kembali ke rumah utama.


"Bibi, ayo kita kembali ke mansion utama." Ajak Gadis dengan wajah yang sedikit lelah.


"God, Nyonya muda pusing atau ada yang sakit, wajah Nyonya berkeringat juga sedikit pucat." Ucap Bibi Nam sedikit panik.


"Haha, aku hanya capek, Bibi. Gak perlu panik, oke!"


"Bagaimana Bibi gak panik, nanti yang ada Bibi kena marah sama Tuan muda, Nyonya. Ayo! Kita segera masuk ke mansion utama." Ucap Bibi Nam sembari melingkarkan tangan Gadis diantara leher Bibi Nam.


Mereka pun segera bergegas menuju mansion utama dengan wajah Bibi Nam yang sedikit panik, jangan lupakan langkah kaki Bibi pun sedikit melambat.


"Bibi, jalannya bisa lebih cepat? Gadis sudah lelah ingin langsung jatuhin badan Gadis ke tempat yang empuk juga sejuk sambil tiduran." Ucap Gadis dengan mata yang sedikit terpejam.


"Baik."


Segera Bibi Nam menambahkan kecepatan dalam langkah kaki menuju mansion utama, karena sang Nyonya muda sudah terlihat sangat lelah dan membutuhkan tempat untuk ia menjatuhkan badannya yang terasa pusing tersebut.


Saat ini mereka sudah sampai di arah tangga menuju lantai 3, tepatnya menuju kamar utama si Tuan muda. Tetapi sudah dihentikan terlebih dahulu oleh Gadis, ia mengatakan hanya ingin bersantai di ruang keluarga saja dan ditemani suasana sejuk dari pendingin ruangan.


"Bibi, antar aku ke ruang keluarga. Aku gak mau ke kamar dulu."


"Tapi, Nyonya..." Ucapnya terpotong.


"Gadis mau tiduran di sofa sambil di sejukin sama pendingin ruangan, Bibi."


"Tapi di kamar Tuan muda juga ada, Nyonya."


"Plis, Bibi. Gadis maunya di ruang keluarga., yah, yah, yah, Plis." Ucapnya sekali lagi.


"Baiklah."


Terpaksa Bibi Nam menuruti semua keinginan Nyonya mudanya untuk diantar ke ruang keluarga.


Dalam hati Bibi Nam, mengapa tidak di kamar utama saja, toh sama-sama ada pendingin ruangan.


Benar-benar Nyonya mudanya itu sulit ditebak dan sifatnya itu bertolak belakang dengan Si Tuan muda.


Dibaringkannya Gadis oleh Bibi Nam dengan hati-hati.


"Apa nyonya butuh selimut atau bantal yang lebih empuk lagi?"


"Tidak usah, Bibi. Ini udah dari cukup." Ucapnya masih dengan mata yang terpejam.


"Benar, Nyonya?"


"Benar, Bibi. Bibi bisa lanjutin lagi pekerjaan yang tertunda karena sudah seharian ini bersama Gadis."


"Tidak apa, Nyonya. Itu sudah tugas Bibi. Kalau begitu Bibi pamit ke dapur lagi, mau cek apa Ratih dan yang lainnya sudah memasak hidangan untuk makan malam, jika Nyonya butuh sesuatu bisa berteriak memanggil saya atau yang lainnya."

__ADS_1


"Iya, Bibi."


Segera Bibi meninggalkan Gadis sendirian di ruang keluarga, sedangkan Gadis kini sudah memejamkan kedua matanya dan masuk kedalam tidur yang sangat lelap.


...~...


Mansion


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di gerbang yang menjulang tinggi.


Ya, mobil itu yang ditumpangi oleh si Bos dengan si pengendara yang tak lain asisten Roy.


Mereka membutuhkan waktu sedikit lama yakni 30 menit untuk bisa sampai ke mansion, karena mereka pulang di saat jam pulang kerja.


Gerbang yang menjulang tinggi itu memilik fitur canggih pun, secara otomatis terbuka dengan sendirinya tanpa harus bersusah-susah orang mendorongnya.


Mobil yang dikendarai langsung oleh asisten Roy pun terparkir tepat di pintu utama.


Dengan terburu-buru asisten Roy membuka pintu penumpang, tetapi si Bos masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, tanpa menyadari sudah beberapa kali asisten Roy memanggil.


"Bos, Bos."


Hingga suara asisten Roy yang sekali lagi berteriak memanggil sang Bos pun akhirnya mengalihkan atensi si Bos yang tengah melamun.


"Ah, rupanya sudah sampai." Ucapnya tanpa rasa bersalah.


Asisten Roy hanya menggaruk tengkuknya dan memberikan senyum kikuknya.


"Bawakan semua bawaan milikku ke ruang kerja seperti biasa." Perintahnya pada asisten Roy.


Asisten Roy pun sigap membawa tas kerja yang di dalam terdapat laptop juga beberapa berkas-berkas dokumen yang harus si Bos kerjakan malam ini juga.


Tanpa menunggu lama asisten Roy pun beranjak menuju lantai 2 tepatnya ruang kerja si Bos.


Sedangkan si Bos, entah mengapa ia ingin sekali menuju ruang keluarga saat ini.


Suasana mansion pun sepi, bisa dipastikan para pekerja sedang sibuk dengan mandi atau sedang menyiapkan makanan untuk para penjaga di paviliun belakang.


"Kenapa aku ingin sekali ke ruang keluarga, yah. Dan ini kenapa sepi? Apa Bibi Nam dan yang lain sedang sibuk memasak atau menyajikan makan malam untukku dan untuk di paviliun belakang? Sudahlah, aku ingin segera ke ruang keluarga."


Ia pun berjalan menuju ruang keluarga, yang sebelumnya jas ia sampirkan ke lengannya, diikuti lengan kemeja ia lipat hingga siku serta dasi ia longgarkan dan beberapa kancing kemeja ia buka.


Setelah sampai di ruang keluarga ia pun masuk dengan tanpa aba-aba, seketika matanya menatap tajam pada objek yang ia tatap.


Dilemparkannya jas dari lengannya secara serampangan.


"Honey, kenapa kamu tidur disini." Ucapnya saat mendapati wanitanya tertidur dengan sangat lelap di sofa ruang keluarga.


"Rasanya ingin aku peluk dan kuberikan dia ciuman, tapi saat ini tubuhku sangat kotor. Aku takut ia jadi sakit akibat aku belum membersihkan tubuhku. Sebaiknya aku cari Bibi Nam dahulu di dapur untuk bisa memantau kesayangan ku ini, takut-takut ia terjatuh karena asiknya tertidur."


Si Bos pun segera keluar ruangan itu menuju dapur untuk mencari Bibi Nam.


"Bibi Nam." Panggilannya.

__ADS_1


"Iya, Tuan muda." Bibi Nam pun segera menghampiri si tuan muda itu dengan sedikit berlari dari arah belakang, tepatnya sedang menggiris bawang hendak memasak untuk hidangan makan malam.


"Iya, Tuan." Ucapnya lagi.


"Tolong jaga Gladis-ku, aku mau mandi dulu, takut-takut ia serampangan tidurnya dan berakhir ia jatuh ke lantai."


"Baik, Tuan. Apa Bibi Nam minta Ratih atau Warti siapkan air hangat untuk berendam, Tuan?"


"Tidak perlu, aku tinggal." Ucapnya sembari mengecup singkat kening Gadis lalu ia menaiki tangga menuju kamar tidurnya bersama Gadis.


Setelah ia bertemu Bibi Nam di dapur dan mengutarakan maksudnya, ia pun bergegas menuju kamar untuk membersihkan tubuhnya.


Sengaja ia langsung menuju kamar tanpa mau menghampiri sang wanita pujaannya.


Tak langsung ia bawa Gadis dalam dekapannya, ia terlebih dahulu membersihkan tubuhnya, barulah ia akan membawa Gadis kedalam dekapannya dan ia bawa masuk ke kamar mereka.


Hanya butuh waktu 10 menit si Bos sudah berpakaian lengkap ala rumahan, dengan kaos putih yang membentuk tubuh atletisnya serta celana pendek hingga lutut bermotif army, dan jangan lupa masih adanya uap lembab dari tubuh juga rambut basahnya si Bos.


"Bibi, terima kasih sudah mau membantuku menjaga dia." Ucap si Bos saat sudah sampai di ruang keluarga dengan posisi ia berlutut dibawah tubuh Gadis.


"Tidak masalah, Tuan."


"Dan apa saja yang ia lakukan selama aku seharian di kantor, Bibi?" Tanyanya sembari tangannya tak lepas untuk mengelus pipi Gadis.


"Nyonya suka dengan bunga tulip seperti Nyonya besar, Tuan. Ia juga suka dengan suasana yang berada di balkon Paviliun dan menurut Bibi, Nyonya muda juga suka dengan berbau menanam bunga dan merangkai bunga seperti Nyonya Besar, Tuan."


"Itu saja?" Tanyanya lagi pada Bibi Nam.


"Dan seingat Bibi, Nyonya juga suka sekali dengan seekor dogi, karena pada saat Ratih tengah melakukan panggilan video dnegan anak dan suaminya, anak Ratih tengah memegang seekor anak dogi yang sangat lucu menurut Nyonya, Tuan."


"Baik, aku akan membelikan dia seekor dogi yang lucu, tapi dogi macam apa yang dia suka, aku juga bingung."


"Kalau Bibi boleh saran, Tuan bisa ajak Nyonya ke salah satu pets shop, disana Nyonya bisa memilih binatang apa yang ingin ia pelihara."


"Benar, kenapa aku tak berfikiran kesana, yah. Terima kasih, Bibi."


"Iya, Tuan sama-sama."


"Dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk hari ini sudah membuat dia bahagia. Ah, dan nanti bawakan makan malam kami ke kamar saja, seperti biasa, Bibi."


Tanpa menunggu jawaban dari Bibi Nam, ia sudah lebih dulu mengendong Gadis dan pergi menuju kamarnya.


"Astaga, aku harus sabar-sabar menghadapai tuan muda yang sedang di mabuk cinta." Hanya bisa bermonolong dalam hatinya Bibi Nam akan sikap tuan mudanya


Bibi Nam pun hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan tuan mudanya itu, segera ia menuju dapur tanpa mau membuang fikiran negatif dengan sikap dan sifat tuan mudanya tersebut.


...~...


Sekali lagi T4 minta maaf harus menggantungnya☺️


Terima kasih yang masih mau mampir, baca, kasih T4 like, koment☺️


Hepinizi seviyorum😘😘

__ADS_1


__ADS_2