Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 80


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


Kini si bos sudah sampai di mansion dengan suasana hati yang kacau balau.


Ia pun bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai 3.


Pada saat memasuki mansion utama ia berpapasan dengan bibi Nam, bibi Nam memberikan sapaan selamat datang tetapi sang tuan muda pergi begitu saja.


Dalam benak bibi Nam ada gerangan apa dengan tuan mudanya itu, wajahnya tampak kusut dan pakaian yang ia kenakan sudah tidak berbentuk lagi.


Jas tak ia kenakan, dasi pun sama sudah tidak bertengger di leher, serta kemeja yang sudah dibuka beberapa kancing dengan digulung secara serampangan.


Fix, tuan mudanya itu tengah dalam keadaan yang sangat-sangat kacau dan kalut.


Masuklah asisten Roy dengan nafasnya yang tersengal-sengal, jangan lupakan ia tengah menjinjing tas kerja tuan mudanya juga jas yang ditinggalkan begitu saja di dalam mobil, tepatnya di kursi penumpang bagian belakang. Alhasil, banyak sekali bawaan asisten Roy.


"Nak Roy," Sapa bibi Nam.


"Aahh, iya bibi. Caaapeeehk." Jawabnya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


"Ayo duduk dulu di ruang makan, supaya bibi ambilkan minuman untuk, nak Roy. Tas kerja dan jasnya biar bibi suruh Yeni antar ke ruang kerja dan ditaruh di bagian mesin cuci tuan muda." Ucap bibi Nam sembari mengambil jas juga tas kerja tuan mudanya itu.


"Makasih banget, Bibi."


Mereka pun bergegas menuju ruang makan dengan asisten Roy yang sudah duduk di kursi dengan sekuat tenaga mengumpulkan nyawa nafasnya terlebih dahulu.


Sungguh hari ini sangat luar biasa yang ia rasakan.


Lelah hati.


Lelah fikiran.


Juga lelah batin.


Bibi Nam yang sedari tadi membawa jas juga tas kerja tuan mudanya kepada Yeni, yang sebelumnya bibi Nam meminta tolong. Yeni pun mengiyakan tanpa rasa malas atau pun terbebani.


Kini bibi Nam membawa segelas air minum dingin juga seteko air dingin dengan menggunakan nampan di tangannya.


"Minum dulu, nak Roy. Tapi ingat, jangan terburu-buru nanti tersedak." Tawar bibi Nam sembari mengingatkan asisten Roy dalam minum dengan secara perlahan-lahan supaya tidak tersedak.


"Ah, iya. Makasih sebelumnya, bibi Nam. Maaf Roy selalu ngerepotin." Ucapnya sembari menenggak air minum dingin itu dalam beberapa tegukan besar untuk membasahi tenggorokannya yang kering dan sakit akibat ia berlari-lari mengejar bosnya itu.

__ADS_1


"Aah, nikmat sekali." Ucapnya sembari mengelap sudut bibirnya yang tersisa air minum tersebut.


"Sudah lebih baik, nak Roy?" Tanya bibi, karena bibi Nam sangat penasaran dengan raut wajah kusut tuan mudanya itu. Bibi Nam sudah berfikiran yang tidak-tidak.


Ia takut akan berakibat pada nyonya mudanya itu.


"Sudah. Apa yang mau bibi Nam tanyakan pada, Roy?" Ucap Roy telak dan tepat sasaran.


Bibi Nam tersenyum dan malu, karena asisten Roy sudah dapat membaca fikiran bibi Nam tersebut.


"Tuan muda ada masalah apa? Sampai sampai tiba di rumah kusut dan bibi sapa, tuan langsung pergi saja menuju lantai 3 kamarnya,"


"Hufffft, ceritanya panjang sekali, sampai-sampai aku pun dibuat pusing dan rasanya mau ngundurin diri aja jadi asisten si bos, Bibi." Suara asisten Roy sudah sangat lelah dan raut wajahnya pun tak kalah lelah dan adanya rautan kekhawatiran yang melanda.


"Ada apa, asisten Roy? Jangan buat bibi panik dan berfikiran aneh-aneh." Bibi Nam tak kalah khawatir juga panik seketika melanda dirinya.


Bukan tanpa sebab bibi Nam seperti itu, ia sekali lagi takut tuan mudanya itu melampiaskannya kepada nyonya mudanya yang saat ini tengah terlelap tidur dalam buaian mimpi indahnya.


Sebelum menceritakan semuanya kepada bibi Nam, tanpa adanya yang asisten Roy tambahkan maupun ia kurangkan. Ia menarik nafasnya panjang juga menghembuskan secara kasar.


Asisten Roy pun menceritakan dari si bos yang tidak mendapatkan jatah yang seperti biasa dari nyonya mudanya, walau sudah melakukan hal-hal lain seperti layaknya anak bayi yang menyusui, sampai bosnya itu menelpon dokter Brand untuk menanyakan mengenai berapa lama wanita selesai dengan tamu bulanannya hingga si bos pun mencari-cari solusi di laman internet mengenai berhubungan pada saat wanita tengah datang bulan apa boleh dan bagaimana cara yang baik dan benar.


Hingga kabar dari Key yang mengatakan jika tuan besar dan nyonya besar akan pulang dalam satu minggu terhitung dari hari ini.


"Itulah yang membuat bos kacau balau saat ini, Bibi. Ah, iya. Komputer di ruangan bos juga jadi sasaran empuknya, ia lempar hingga tidak terbentuk kembali. Sungguh jika saat ini ada masalah kembali, aku tidak tau jadi apa raut wajah si bos, Bibi." Ucap asisten Roy panjang lebar.


Sungguh hari ini apakah hari ia terakhir kalinya untuk bekerja di mansion ini.


Sungguh bibi Nam belum siap untuk di pulangkan ke kampung halamannya.


"Astaga, aku takut. Aku berbuat sesuatu hal yang sangat-sangat fatal. Aku mohon God jangan buat tuan muda murka saat ini."


Bibi Nam berdoa dalam hatinya, semoga kali ini tuan mudanya tidak melampaui kemarahannya seperti biasanya, jika tuan mudanya itu sedang marah.


Bibi Nam masih melamunkan segala sesuatu yang akan terjadi kepada dirinya dalam beberapa jam, atau bahkan beberapa menit kemudian.


Sungguh ia tidak memikirkan panjang dengan tindakan yang ia lakukan, demi membantu nyonya mudanya itu.


Yang bibi Nam takutkan ialah tuan mudanya akan bertindak kasar atau bahkan bertindak di luar nalar kepada nyonya mudanya itu. Kalau bibi yang diperlakukan seperti itu bibi akan menerimanya.


Tapi, ini nyonya mudanya yang selalu saja diperlakukan layaknya wanita bayaran.


Tubuh bibi Nam pun bergetar hebat disertai cucuran keringat membasahi kening bibi Nam.

__ADS_1


Semua gerak tubuh bibi Nam serta tubuh bergetar dengan cucuran keringat pun tak luput dari penglihatan asisten Roy.


Asisten Roy pun mengeluarkan suaranya, guna menanyakan ada apa gerangan dengan bibi Nam.


"Bibi, Bibi," Panggil asisten Roy pada bibi Nam.


Tetapi, bibi Nam tidak mendengar ataupun merespon panggilan dari asisten Roy.


Sekali lagi asisten Roy memanggil disertai dengan memegang tangan yang sedikit sudah mengeriput itu.


"Bibi, bibi ada apa? Kenapa wajah bibi pucat juga tubuh bibi bergetar hebat dengan cucuran keringat yang mengalir deras? Ceritakan pada Roy, Bibi." Ucap asisten Roy dengan sangat lembut disertai menyentuh tangan yang sedikit mengeriput itu.


Bibi Nam yang ditanya pun seketika mengeluarkan air mata. Asisten Roy yang melihat itu pun berdiri dan menghampiri bibi Nam dengan sedikit mengelus-elus punggung yang sudah sedikit renta itu tepat di samping bibi Nam.


"Nak, Roy. hiks hiks hiks," Tangis bibi Nam pun pecah. Asisten Roy yang melihat itu sudah dapat mengerti dengan semua ini.


Sungguh ia sangat dibuat lelah dengan drama yang terjadi seharian ini, ditambah bibi Nam berulah bersama nyonya mudanya itu.


Berkali-kali lipat lelah dan pusingnya asisten Roy.


"Katakan saja, Bibi. Mungkin Roy bisa membantu mencarikan solusinya!" Ucapan asisten Roy sedikit membuat bibi Nam lega, walau masih banyaknya rasa takut dan cemas melanda bibi Nam


"Bi...bibi... Bibi sudah melakukan hal yang sangat fatal. Yang mana, yang mana... Bibi menuruti semua keinginan nyonya muda. Bibi tidak bisa membantah ataupun menolak, itu... itu semua bibi ingat dengan ucapan tuan muda yang mengatakan selalu menuruti semua keinginan nyonya muda. Sungguh bibi sudah menolak, tapi... tapi nyonya muda memohon dengan raut wajah sendu dan juga hampir berlutut dibawah kaki bibi, nak Roy. Bibi bingung. Bibi takut." Jawab bibi Nam panjang lebar tanpa adanya yang ia tutup-tutupi.


"Astaga, Bibi!!!!" Asisten Roy yang terkejut pun sedikit meninggikan intonasi suaranya, "Bibi, tidak membantu nyonya muda untuk kabur dari mansion ini, Kan!!!!????" Tebak asisten Roy dan dijawab hanya gelengan kepala saja dari bibi Nam.


"Jawab, Bibi. Jangan diam saja, supaya Roy dapat membantu bibi Nam juga nyonya muda jika disudutkan oleh si bos, Bibi." Sungguh kesabaran asisten Roy tengah diuji.


Bibi Nam terus dan terus menggeleng-gelengkan kepalanya disertai isak tangisnya tanpa mau mengeluarkan suara.


Asisten Roy menjambak rambutnya dengan sangat kasar, sungguh harian yang sangat menyedihkan.


"Bibi....bibi takut, nak Roy." Hanya itu yang keluar dari mulut bibi Nam.


"Astaga, bibi Nam juga nyonya muda ini melakukan satu kesalahan, yang mana aku pun tidak tahu. Bibi Nam tidak mau menjawab secara lugas, bagaimana aku bisa membantu keduanya nanti. Jika, jika si bos sudah mengaung dengan sangat hebat. Aduh, sungguh sungguh kepalaku rasanya mau pecah saja melihat tingkah bibi Nam yang terlalu polos ini. Tidak bisa membedakan yang harus dituruti dan mana perintah si bos yang sebenarnya. Sudah tidak tau lagi lagi yang akan terjadi." Gumam asisten Roy dalam hatinya.


"Sudah, Bibi. Berhenti menangis dan jangan menyalahkan diri sendiri. Kita berdoa semoga si bos tidak melakukan hal-hal keji pada nyonya muda saat ini di kamar mereka."


"Iya....iya... Bibi Nam juga berharap seperti itu, nak Roy."


Kini suasana ruang makan pun hening, hanya terdengar sisa-sisa sesegukan bibi Nam saja.


Hingga terdengar suara teriakan dari si bos alias tuan muda nya.......

__ADS_1


...~...


...HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘...


__ADS_2