Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 120


__ADS_3

"Bik, aku mau kamu jujur!" Ucap seorang Nyonya besar kepada ART di rumahnya paling senior


Deg...


Seketika jantung Bibi Nam berdetak lebih cepat, keringat di tubuh dan telapak tangannya.


Bibi Nam terlihat sekali panik, ia mere-mas-re-mas apron yang masih ia kenakan.


"Gawat!! Aku harus jawab apa pada nyonya, nanti yang ada aku kena marah dan caci serta makian dari tuan muda. Aku serba salah." Gumam Bibi Nam dalam hatinya.


Mami Anggiya alias Mami Deon melihat raut wajah Bibi Nam panik pun tersenyum menyeringai.


"Sudah aku tebak!" Serunya saat melihat gerak-gerik Bibi Nam yang salah tingkah dan panik itu.


"Ma-maaksudnya apa, Nyah?" Ucap Bibi Nam tergagap seketika.


"Bibi.." Sejenak Mami Anggiya menghela nafasnya, ia ingin berbicara dengan Bibi Nam, ART yang paling senior di rumah ini.


"Bibi rileks saja. Saya ingin berbicara empat mata dengan Bibi, saya ingin berbicara dengan Bibi dari hati ke hati. Saya tau, Bibi ini adalah ART paling senior dan paling lama bekerja di rumah ini. Bibi bekerja semenjak Gilberto Beklerken masih muda,"


Gilberto Beklerken?


Kalian masih ingat kan!


Nama dari ayah Deon.


Bibi Nam hanya diam sembari memperhatikan raut wajah nyonya tersebut.


"Bik, aku ini sama kayak kamu. Aku hanya anak gadis yang beruntung bisa dipersunting, dicintai dan dihormati oleh seorang putra dari Tuan Besar Ghazam Beklerken, Opa dari Deon. Aku putri dari seorang supir pribadi Tuan Ghazam yakni, ayah ku, Hasan. Dan ibu, ibu hanya ART di rumah ini, Ibu Rania. Tidak pernah terbesit dalam benakku, aku bisa menjadi menantu juga istri dari keluarga kaya raya ini." Ucap Mami Anggiya dengan mata yang entah sudah berkaca-kaca.


"Nyah..."


"Tidak apa, Bik. Aku hanya sedang mengingat diriku ini, aku harus ingat dan harus selalu tahu diri, berasal darimana diri ini, Bik. Aku tidak mau terlalu terlena dengan harta yang bergelimang juga hormat. Aku sadar, Bik! Aku sadar diri ini siapa. Hanya karena Mas Berto yang jatuh cinta dengan seorang gadis miskin, gadis dari sepasang suami istri yang bekerja di rumah utama keluarga BEKLERKEN, Bik."


Sudah tumpah kini, tetes demi tetes air mata Mami Anggiya, iya masih mengingat dan selalu mengingat darimana asalnya dirinya tersebut.


"Nyah, sudah." Bibi Nam pun memeluk nyonya tersebut.


"Bibi paham, nyonya juga tidak sombong serta tidak semena-mena kepada kamu ART disini. Nyonya sangat baik dan teramat baik sekali." Menurut Bibi, nyonyanya kini tengah menghadapi amarah yang tengah memuncak, akibat kelakuan putra semata wayangnya yang entah sudah terbilang kelewat batas dan keluar jalur.


Setelah tenang, Mami Anggiya pun mengatur nafasnya. Dan bibi Nam pun sudah duduk kembali.


"Bik, aku mohon. Ceritakan yang bibi tahu, mengenai calon menantu aku ini," Ucapnya sembari menolehkan wajahnya pada Gadis, calon menantunya yang masih setia memejamkan kedua bola matanya.


Bibi Nam pun menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba saja Mami Anggiya beranjak dari tepi ranjang dan menuju pinta kamar.


Dan


Mengunci pintu tersebut.


Semua aktifitas Mami Anggiya pun mengalihkan atensi Bibi Nam.


"Bicaralah, Bik!"


"Hufft,"


Bibi Nam menghembuskan nafasnya kasar, ia harus berkata jujur, walau jujur itu berat dan menyakitkan.


Tapi, jika semua ditutup-tutupi, akan terbongkar juga akhirnya.


"Jadi beberapa minggu yang lalu, Tuan muda...

__ADS_1


"Bik, tolong paling Deon dengan tanpa embel-embel "tuan muda" , saya merasa risih saja." Ucap Mami Anggiya memotong perkataan Bibi Nam.


"Tapi, Nyah...


Mami Anggiya pun memberikan tanda geleng kepala, artinya ia tidak mau dibantah.


"Baik. Jadi, den Deon beberapa minggu lalu membawa seorang wanita yang tak lain nyonya Gadis, kami semuanya dikumpulkan di satu ruangan, lalu diberikan arahan oleh den Deon, serta den Deon mengatakan kalau wanita yang ia bawa adalah calon nyonya muda selanjutnya di keluarga BEKLERKEN, Nyah."


"Lanjut." Ucap Mami Anggiya.


"Kami yang tidak tahu menahu pun hanya mengiyakan tanpa memprotes ataupun bertanya banyak. Kami juga selama den Deon di rumah dan menghabiskan waktu dengan nyonya Gadis, dilarang untuk masuk ke rumah ini. Kami diperintahkan untuk menempati paviliun belakang. Selama den Deon belum memerintahkan kami untuk menginjakkan kaki kami di rumah ini, kami dilarang berkeliaran disekitaran taman depan ataupun mengendap-endap masuk kedalam rumah ini, Nyah."


"Lalu?"


"Kami pun menuruti semua yang den Deon ucapkan dan perintahkan, sebagian bodyguard ditempatkan di apartemen yang sudah pernah disiapkan oleh den Deon. Dan kami para ART perempuan terpaksa satu kamar beramai-ramai, Nyah."


Mami Anggiya geleng-geleng kepala dengan semua tingkah putra semata wayangnya tersebut.


"Lanjutkan, Bik!"


"Tepat saat beberapa hari, saya lupa pastinya, Nyah. Pas itu den Deon nelpon saya untuk datang membawa seprei bersih, keranjang kotor juga makanan untuk den Deon juga nyonya Gadis, Nyah. Tapi..."


"Tapi? Tapi apa, Bik? Jangan buat saya penasaran."


"Tapi, tapi saya disuruh memanggil den Deon terlebih dahulu, jika saya sudah memanggil dan tidak ada jawaban dari den Deon, saya barulah boleh masuk. Itu juga saya harus terburu-buru untuk melakukan semua tugas itu hanya seorang diri. Awalnya saya lihat kamar itu kacau balau, semua berserakan. Baju, celana, dalaman milik nyonya Gadis hancur seperti digunting oleh den Deon. Juga, juga saya melihat ada bercak darah di seprei yang saya ganti, Nyah."


"Jadi, calon menantu saya benar-benar masih suci, masih tersegel. Oh My God!" Mami Anggiya terkejut dengan semua ucapan Bibi Nam yang mengatakan jika calon menantunya itu masih "Peraw-an"


"Benar, Nyah. Den Deon juga mengatakan kalau nyonya Gadis adalah wanita yang sudah den Deon pilih untuk melahirkan cikal bakal keturunan selanjutnya dari Beklerken, Nyah."


Mami Anggiya kembali menghirup udara banyak-banyak. Entah ia seakan kehabisan oksigen mendengar semua penuturan Bibi Nam.


"Lanjutkan lagi, Bik." Sembari ia mengurut pelipisnya yang sedikit, karena seketika ia sakit kepala, mengetahui semua ini.


"OH GOD!!" Kembali memijit kepalanya.


"Bisa-bisanya kamu, Deon. Bertel-anjang disaat itu, coba kalau Bibi Nam sampai melihat kalian berdua. Mami sudah tidak bisa mentolerir semua kelakuan messum kamu." Gumam Mami Anggiya dalam hatinya, merutuki semua kelakuan messum putra semata wayangnya itu.


"Dan parahnya lagi, beberapa hari lalu sebelum nyonya dan tuan pulang. Den Deon marah besar dan nyawa nyonya Gadis hampir melayang. Saya ditelpon den Deon, diperintahkan untuk membawa kotak P3K juga tak lupa untuk menelpon, nak Roy. Saat saya sampai di kamar den Deon, nyonya Gadis sudah terbaring di kasur dan hanya berselimut tebal saja serta tak sadarkan diri. Saya melihat darah di tiang pilar dalam kamar den Deon, Nyah. Ternyata kepala belakang nyonya terantuk tiang pilar itu dan berdarah banyak dan anehnya saya, mengapa den Deon tidak menelpon dokter Brand, melainkan menelpon nak Roy, Nyah."


Mami Anggiya lagi dan lagi menggurut kepalanya yang seperti tertimpa beton.


"Saat den Deon menelpon saya pun suaranya panik, Nyah. Nak Roy sampai dan setelahnya menelpon dokter Brand. Tak lama datang dokter Brand dengan suster Neli. Memeriksa dan mengobati nyonya Gadis, dan diberikan infus. Saya juga mendengar sedikit adu mulut antara den Deon juga dokter Brand, Nyah. Yang mana dokter Brand menasihati den Deon untuk melepaskan nyonya Gadis, tetapi den Deon marah dan menarik kerah baju dokter Brand. Tapi, dokter Brand santai tidak takut ataupun mengeluarkan reaksi-reaksi aneh, Nyah. Saya tidak ingin jauh mendengar itu semua, jadi saya pamit undur diri, Nyah. Entah apa yang dibicarakan den Deon setelah saya berpamitan kembali ke dapur. Tiba-tiba saja, setelah dokter Brand pulang dan suster Neli masih menunggu cairan infus habis, kami semua dikumpulkan, lalu diberikan perintah untuk selalu menjaga dan terutama saya harus selalu disisi nyonya Gadis, Nyah. Saat itu penampilan den Deon sudah rapi dengan jas kerjanya, Nyah."


"Cukup panjang dan menguras emosi. Semua yang bibi Nam ceritakan sangatlah membuat hati dan semua darah yang mengalir ditubuh saya ini mendidih, Bik. Tidak habis fikir saya...


Tiba-tiba saja pintu kamar Deon digedor seseorang dari luar.


"Sweetheart, aku tahu kamu di dalam kamar anak cecengguk itu. Keluarlah, Sweetheart."


Ya, itu Gilberto Beklerken, suami Mami Anggiya, Papi Gydeon Beklerken.


Bibi Nam pun berdiri dan beranjak dari kursinya, tak sampai melangkah, tangan Bibi Nam sudah dicekal Mami Anggiya.


"Duduk saja, Bik. Tidak usah dibukakan!"


"Tapi, nanti tuan marah, Nyah." Raut wajah Bibi Nam panik.


"Gak apa, Bik. Ini saya akan kirim pesan ke suami saya."


"Baik, Nyah."


Entah sejak kapan Mami Anggiya sudah mengotak-atik ponselnya itu.

__ADS_1


TO: Suami tercinta💜


"BERIKAN AKU WAKTU UNTUK SENDIRI!!!!"


Seperti itu isi pesan yang Mami Anggiya kirim lewat pesan ponselnya.


Dan gedoran pintu pun terhenti, digantikan dengan langkah kaki yang banyak.


Mungkin dari luar tidak akan terdengar suara orang dari kamar Deon, tetapi suara dari luar sangatlah terdengar.


...~~~...


Beberapa saat sebelum penggedoran pintu kamar Deon yang dilakukan oleh Papi Berto.


Papi Berto tengah menunggu sang istri dengan gelisah di dalam kamar mereka.


"Kemana kamu, Sweetheart?"


Ia terus dan terus mondar-mandir berjalan di depan ranjang, menanti sang istri yang tak kunjung datang.


"Pasti dia ada di kamar anak cecengguk!"


Ia pun segera keluar kamar tak lupa mengantongi ponselnya di dalam saku celananya.


Sesampainya di kamar Deon.


DUG DUG DUG


Seperti halnya dengan sang istri, ia pun menggedor-gedor pintu kamar putranya tersebut.


"Sweetheart, aku tahu kamu di dalam kamar anak cecengguk itu. Keluarlah, Sweetheart."


Terus dan terus ia menggedor-gedor pintu yang tidak bersalah itu.


"Sialand, karena anak cecengguk itu, istri ku sampai mengabaikan aku. Lihat saja, aku akan buang dan lenyapkan wanita jalangg dan tidak tau asal-usul itu dari keluarga BEKLERKEN. Wanita yang hanya menggerogoti harta keluargaku saja, awalnya seakan-akan lemah, seakan-akan tak berdosa dan tak berdaya lama kelamaan akan kelihatan wujud asli wanita licik itu," Ucapnya entah dengan siapa.


Terus dan terus menggedor pintu, dan tak lama pesan masuk di ponselnya.


Ia buka dan seketika rahangnya mengeras setelah membaca pesan dari sang istri yang berisikan.


TO: Suami tercinta💜


"BERIKAN AKU WAKTU UNTUK SENDIRI!!!!"


Ia remas ponsel yang tidak bersalah itu dan tiba salah satu bodyguard lewat dihadapannya dan menundukkan kepalanya, tanda hormat.


"Kau bawa ini, dan letakkan di meja keluarga." Suruhnya sembari memberikan ponselnya.


Bodyguard itu pun langsung menjalankan perintah majikannya.


Sedangkan Papi Berto melangkah dengan langkah kaki yang tergesa-gesa dan dengan wajah memerah.


"Awas kamu, Deon. Ini semua karena kamu juga wanita sialand itu." Terus dan terus ia berkomat-kamit .


...~~~...


...Maaf saya baru update, karena saya baru saja mendapat musibah. Ibu saya meninggal, saat saya melahirkan putri pertama saya dan harus fokus ke kehidupan nyata....


...Maaf juga kalau ceritanya sedikit stuck disitu dan membuat bosan....


...Semoga masih ada yang baca, like dan komentar positif....


...Jangan lupa sebelum baca di like yah🤗...

__ADS_1


__ADS_2