Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 119


__ADS_3

Setelah menggerutu panjang pendek sang Mami pun menuju tempat yang diyakini dirinya, kalau-kalau sang calon menantu sedang di garap oleh putra luc-nutnya itu.


"Awas saja!!! Nanti akan aku pisahkan kamu anak menyebalkan, bukannya dinikahi dulu, ini mana langsung saja cetak bibit Beklerken, gak habis pikir aku, punya 2 laki-laki di sekitar ku yang memiliki pikiran messum, hidup pula. Awas saja!!!" Terus dan terus sang Mami komat-kamit bak mbah dukkun baca mantra.


Sampailah tiba di pintu yang dikatakan salah satu ART-nya tersebut.


DUG DUG DUG DUG


Bukannya memberi jeda atau mengetuk pintu kamar tersebut, sang Mami lebih suka mengendor dengan sekuat tenang, tidak memikirkan tangannya akan sakit.


"BUKA PINTUNYA!!!" Teriaknya tak segan-segan membuat keributan.


Sedangkan didalam kamar, sepasang 2 anak manusia yang berbeda kel-amin tengah tidur dengan nafas yang masih saling bersahut-sahutan. Tidak lupa selimut sudah menutupi tubuh polos keduanya.


"SHIII*T, Mami ini ganggu saja," Rutuk si bos yang tengah setengah meraih di alam mimpi pun harus terbangun oleh gedoran pintu dan sahutan teriak dari sang Mami.


"BUKA PINTUNYA!!!! BUKA!!!!!"


"Kalo gak dibuka yang ada, Honey. terbangun dengan suara cempreng, Mami. Lebih baik aku buka," Si bos pun mencium kening, hidung dan terakhir bibir pujaan hatinya sebelum ia benar-benar turun dari ranjang.


"Tidur yang nyenyak, Honey. Jangan bangun dulu, sebelum calon anakku sempurna didalam rah-immu," Ucapnya sembari mengecup perut sang pujaan dengan lembut disertai permohonannya.


Si bos pun beranjak dari ranjang, mengambil pakaian beserta celana yang berserakan di lantai. Lalu memakainnya. Tak lupa ia menoleh sebentar kearah ranjang untuk memastikan pujaan hatinya tidak terusik oleh teriak Maminya.


Ceklek


"Ada apa, Mi?" Tanyanya dengan tampang tidak merasa bersalah.


"Ada apa, ada apa! Kamu apain calon mantu, Mami?" Tanyanya sembari mendorong sang putra hingga mau tak mau pintu terbuka lebar. Untung saja pujaan hatinya sudah ia selimuti hingga leher.


"Crazy, Mami kekuatan darimana, sampai dorong kuat kayak tadi? Benar-benar lagi marah My Ibu Negara. Bisa runyam," Gumamnya dalam hati sembari mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan.


Si bos pun menutup kembali pintu kamarnya dan mengejar sang Mami, supaya tidak melakukan tindakan yang akan membangunkan pujaannya tersebut.


"OH MY GOD!!!!" Teriak sang Mami.


"Mi, pelankan suara, Mami. Honey, baru saja tidur, dia baru selesai menjalankan misi besar bersama diriku," Ucapnya tanpa melihat wajah sang Mami yang sudah dan hampir meledak.


"Oke, Mami akan bawa dia jauh dari kamu, sebelum kamu mengurus semua berkas untuk pernikahan kalian beserta pesta mewah untuk calon mantu, Mami."


"Tapi, Mi....


Ucapnya si bos pun terhenti, dikala sang Mami mengarahkan telapak tangannya, tanda berhenti untuk berbicara.


Sang Mami pun mengotak-atik ponselnya entah untuk apa, yang pasti ini sangat berbahaya bagi si bos.

__ADS_1


"Mi, please. Jangan kayak gini, aku gak bisa jauh dari, Honey. Mi, jangan marah. Aku itu sedang dan lagi berusaha untuk membuatkan calon-calon cucu Mami yang tampan, cantik dan menggemaskan untuk Mami dan Papi. Gimana mau jadi, kalau Mami pisahin aku sama, Honey?" Si bos berusaha bernegosiasi oleh sang Mami, tetapi sang Mami masih sibuk dengan ponselnya.


"Gawat, Mami ngapain coba lama banget pegang handphone dan itu ngetik apa juga gak keliatan. Sok-sokan banget itu pencerahan ponselnya segala di gelap-gelapin, kayak bisa kebaca aja. Coba dihitung mundur, kalau benar sampai hitungan 3 Mami tidak marah dan kesal fix Mami matanya sudah bener, eh salah maksudnya Mami tengah memakai softlens." Ucap si bos dalam hati.


Ia bingung karena sang Mami yang biasanya harus memakai kacamata dikala membaca majalah, koran dan memainkan ponselnya harus menggunakan kacamata. Karena sang Mami sudah tidak baik lagi penglihatannya.


"Satu, dua, Ti....


Kembali ucapannya dalam hati si bos terhenti dikala.


Pintu kamarnya di ketuk dari luar.


Tok Tok Tok


Sang Mami pun bergegas membukakan pintu tersebut dan mempersilahkan semua ART perempuan masuk.


"Masuklah, Bik," Pintanya dan ART hanya menundukkan kepalanya saja.


Mereka semua pun masuk beserta sang Mami yang tak lupa menutup kembali pintu kamar tersebut.


"Kenapa kalian kesini?" Tanya si bos.


Sebelum dijawab oleh semua ART perempuan, sang Mami sudah terlebih dahulu berbicara.


"Semuanya, tolong rapikan dan masukkan baju-baju dan semua peralatan calon mantu ku yang ada di lemari, baik meja rias, kamar mandi dan semuanya, tanpa terkecuali. Masukkan kedalam koper, jika tidak muat, ambil lagi koper yang ada di gudang. Ingat, jangan ada satu pun yang tertinggal. Dan untuk Bibi Nam tolong bangunkan calon mantu ku, bantu dia untuk bersih-bersih. Jika ia merasa lelah atau perih di bagian intinya, coba Bibi ambilkan salep, jika tidak ada, suruh dokter kita mintakan resep dan suruh salah satu security lain untuk menebus resep itu ke apotek terdekat." Perintah sang Mami panjang lebar.


"Mi, ada apa ini? Kenapa semua bibi ke kamar aku dan segala masukkin pakaian dan semua peralatannya, Honey? Honey, kan akan menikah dengan, Deon. Kenapa Mami usir dia?"


"CUKUP, DEON!! Cukup, kamu sudah bertingkah layaknya anak kecil yang direbut paksa mainnya. Mami hanya ingin membuat kamu introspeksi diri dan tidak lebih jauh kebablasan. Mau ditaruh dimana muka Mami, kalau orang-orang tau, kamu sudah menculik, menyekap, memperk-osa anak gadis orang. Yang ada kamu akan terkena hukuman yang tidak main-main."


"Mi, soal hukum. Kita bisa tutup mulut mereka dengan uang, beres. Dan tentang mulut-mulut sampah mereka, bisa kita bungkam mereka selamanya."


Deon, tetaplah Deon. Keturunan kedua langsung Beklerken. Ia akan selalu meremehkan segalanya dan menghalalkan segala cara. Tanpa mau menyadari apa yang ia ucapkan akan membangkitkan amarah sang Mami kembali.


"MULUT KAMU YANG SAMPAH, DEON!!! Kamu selalu bicara seperti itu dan menggunakan uang juga kekuasaan kamu. Tidak semuanya harus kamu bayar juga beli dengan uang. Dan ingat, Mami sangat-sangat kecewa dengan kamu. Kamu tidak ingat sudah melukai hati calon mantu Mami, dengan menculik, menyekap, memperk-osa dan pastinya ia trauma akan semua itu. Dan paling parah kamu ancam dia dengan semua kelemahannya. Kamu tidak lupa kan? Kalau calon mantu Mami itu perempuan? Mami kamu juga adalah seorang perempuan. Hati wanita mana yang akan senang melihat sesama kaumnya diinjak-injak harga dirinya seperti calon menantu, Mami. Ingat, introspeksi diri, urus semua berkas pernikahan sekaligus resepsi yang mewah sesuai keinginan Mami. Dan untuk semuanya lakukan semuanya. Kamu keluar, Deon. Mami sungguh kecewa dengan semua sikap kamu. Bibi Nam, usir anak luc-nut ini!"


Bibi Nam nampak ragu untuk mengusir anak majikannya tersebut.


"Tu-tu....


Deon yang diceramahi panjang kali lebar kali tinggi pun hanya diam, seakan-akan ia telah menyesali semua perbuatannya. Ia pun keluar tanpa harus diseret paksa oleh bibi Nam.


"Lanjutkan, Bi." Perintah sang Mami.


Semua ART perempuan pun melakukan tugas mereka yang sudah ditugaskan majikannya tersebut.

__ADS_1


Sedangkan sang Mami, ia duduk di tepi ranjang dengan memperhatikan wajah lelah calon menantunya tersebut.


Terlihat jelas wajah yang lelah, sangat lelah.


Ia elus rambut calon menantunya itu dan bergumam dalam hati.


"Maafkan Mami, maafkan Mami, yang memiliki putra yang tidak tau caranya menghargai wanita. Ia tidak bisa berbuat romantis pada lawan jenisnya. Maafkan Mami, kelak kalau kamu dan putra Mami menikah. Mami akan selalu membela kamu, karena kamu sangat-sangat mirip dengan sahabat Mami di masa lalu. Entah, sahabat Mami itu sedang berada dimana. Apa ia masih hidup atau dia sudah..... entahlah. Mami janji, sayang. Kamu sangat mirip dengan sahabatnya Mami dulu. Entah mengapa putra Mami itu memiliki sifat yang 13/50 dengan papinya itu. Mami saja pusing sendiri menghadapi mereka berdua. Mami harap kamu yang sabar yah, sayang."


Terus dan terus mengelus rambut calon menantunya sembari ia berbicara dalam hati.


"Nyonya," Panggil Bibi Nam.


"Iya, Bi" Jawab Mami tanpa menolehkan wajahnya, ia masih fokus memperhatikan wajah calon menantunya yang cantik dan tidak asing itu.


"Salepnya sudah saya ambil, mau kapan saya bangunkan, nyonya muda, Nyah?" Bibi Nam menunjukkan salep yang ada di tangannya.


"Nanti saja, Bik. Bibi bantu yang lainnya beberes, lebih cepat lebih baik, calon mantu ku ini pergi dari rumah." Jawab Mami masih dengan mengelus-elus rambut calon menantunya itu.


"Loh! Kenapa, Nyah?" Bibi kaget dengan ucapan majikannya tersebut.


"Supaya putra mes-um ku tidak terus menerus menggarap calon menantu yang cantik dan masih muda ini, Bik."


Bibi Nam hanya diam dan menganggukkan kepalanya saja tanda mengerti.


"Kalau begitu saya...


Ucapan Bibi Nam terhenti dikala sang nyonya berucap.


"Bik, aku mau tanya. Lebih baik bibi duduk atau ambil kursi."


"Baik, Nyah."


Segera Bibi Nam mencari kursi. Bibi Nam melihat kursi tepat di depan meja rias nyonya mudanya.


Ia pun segera membawa dan meletakkan, tepat dihadapan majikannya tersebut.


Setelahnya menempatkan kursi tersebut tidak jauh dari majikannya.


Kini, Mami Deon dan Bibi Nam saling berhadapan. Mereka masih berada di dekat ranjang dan beberapa ART perempuan sudah selesai dan tengah mendorong keluar beberapa koper.


"Kalian bawa semuanya, jika belum selesai nanti dilanjutkan. Saya mau berbicara dengan Bibi Nam. Kalian boleh keluar."


"Baik, Nyah." Jawab kompak beberapa ART perempuan sembari menarik tuas koper.


Setelahnya, Mami Deon pun memperhatikan wajah Bibi Nam yang tegang. Entah kenapa, Bibi Nam takut ditanya-tanya perihal calon menantu majikannya tersebut.

__ADS_1


"Bi, aku mau kamu jujur." Ucap seorang nyonya besar kepada ART di rumahnya yang paling senior.


Deg...


__ADS_2