Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 21


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


Di dalam kamar mandi si Bos pun segera melepaskan topeng kulit wajah itu, karena ia sudah tidak sanggup lagi merasakan gatal yang ditimbulkan.


"Aku harus kuat, aku harus bertahan dengan penyamaran ku ini, aku ingin orang-orang lebih menerima aku apa adanya terutama wanita-ku."


"Semoga saja pengorbanan aku dengan memakai topeng sial**n ini membuahkan hasil yang baik, aku tidak mau sampai Mami juga Papi tau akan ini, bisa-bisa Mami ceramahi ku panjang kali lebar kali tinggi, huuh. Berharap juga Mami juga Papi pulang berkeliling dunia masih lama, atau gak sampai Gadis benar-benar hamil dan kami direstui tanpa ada drama sebelumnya."


Si Bos pun mencuci wajahnya dengan sabun khusus mencuci wajah pria, setelahnya ia keringkan dengan handuk lalu handuk bekas ia pakai ditaruh di keranjang baju kotor.


Dibukanya lemari kecil yang berada di atas dinding-dinding kamar mandi untuk mengambil topeng kulit wajah yang baru.


"Untung masih sisa satu, apa Bibi Nam tadi membawa lagi? Mana tadi aku gak sempat liat di troli lagi, yaudah nanti aku liat lagi dan kalo ada langsung aku simpan seperti biasanya aku simpan."


Setelah memakai topeng wajah kulit ia segera keluar dan menghampiri Gadis.


Matanya terpaku pada kotak hitam yang berukuran sedikit besar, sudut bibirnya terangkat.


"Memang Bibi Nam paling bisa diandalkan." Gumamnya dalam hati.


Segera ia hampiri troli dengan membawa kembali kotak hitam tersebut kedalam kamar mandi.


"Honey, aku ke kamar mandi lagi yah! Kamu tunggu disini."


Gadis masih dalam keadaan melamun dan tidak mendengar ataupun melihat kedatangan si Bos.


Disimpannya kotak hitam tersebut di lemari atas seperti biasanya.


Ia pun dengar melangkahkan kakinya menuju ranjang tidurnya bersama Gadis, karena ia sudah tidak sabar untuk melihat pertunjukan yang akan segera Gadis lakukan padanya juga pada si lontong panjang berdaging itu.


"Honey." Panggilannya sembari mendekatkan troli makanan di samping ranjang, serta panggilan itu membuat lamunan Gadis terhenti


"Ah, iya."


"Kenapa kamu melamun, honey. Kamu melamun kan apa? Cerita sama kesayangan kamu ini, heem." Ucapnya sembari mengangkat tubuh Gadis kedalam pangkuannya.


"Gak ada, aku hanya capek saja."


"No, No, No, kamu tidak boleh capek. Kamu harus melakukan yang aku suruh tadi, aku tidak akan membiarkan kamu tidur. Tapi sebaiknya kita makan dulu baru kita bisa bersenang-senang, honey. Pasti kau butuh tenaga ekstra untuk memuaskan aku juga si lontong ini." Ucapnya sembari memasukkan kembali si lontong panjang berdaging itu kedalam Goa Gadis.


"Emm." Hanya deheman yang mampu Gadis keluarkan.


Si Bos yang sibuk melihat apa saja makanan yang dibawa oleh Bibi Nam, berbeda dengan Gadis yang tengah mengumpat kan kembali kata-kata kasar untuk si Bos.


"Selalu saja urusan s1**ngk**ng***n tidak pernah absen dari otak laki-laki ini, tapi dia juga membuat aku ikut merasakan sensi yang belum pernah aku rasakan, Oh God.. aku ini munafik sekali. Tapi..tapi aku penasaran kenapa dia bisa menato semua wajahnya, apa gak sakit. Aku mau bertanya tapi takut, nanti dia akan kasar." Gumamnya dalam hati.


"Ada apa, heem?" Tanyanya sembari merapikan surai lembut hitam legam rambut Gadis.


"Aku mau tanya, Tuan."


"No, sayang." Ucapnya sembari mengoyang-goyangkan jari telunjuknya tanda tidak setuju dengan panggilan 'Tuan'.


"Aku ingin bertanya, sayang. Apa boleh? Aku harap sayang jangan marah atau nanti berbuat kasar nanti padaku."


"Iya, aku janji. Cuup" Jawabnya dengan mencuri ciuman singkat di bibir Gadis.


"Kenapa seluruh wajahmu dihiasi banyak tato, sayang? Apa kau tidak sayang dengan wajah yang Tuhan berikan padamu, juga apakah kedua orang tua mu tidak akan marah dengan kau menato seluruh wajahmu ini."


Ucap Gadis seraya mengelus wajah si Bos dengan lembut hingga si Bos menutup matanya karena merasakan tangan halus dan lembut Gadis mampu membuat dia bereaksi sangat cepat dan si lontong jangan tanya lagi sudah kembali on fire.


******...kenapa hanya disentuh Gadis tubuhku merasa panas juga si lontong bereaksi sangat cepat, semoga saja dia tidak sadar kalo ini hanya topeng wajah kulit bermotif tato." Gumam si Bos.


"Kenapa tidak kamu jawab, sayang?" Tanyanya lagi karena si Bos masih tidak mau menjawab dan tangan Gadis belum juga berhenti mengelus wajah si Bos.


"Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan darimu, honey? Kalau kau saja masih mengelus-elus wajahku dengan tangan halus dan lembutmu ini." Jawabnya sembari menahan tangan Gadis untuk tidak mengelus kembali ke wajahnya.


"Kenapa?" Tanya Gadis.


"Karena dengan tanganmu ini, kau sudah membuatku beraksi serta tubuhku berdesir hebat jangan lupakan si lontong yang sudah bangun, honey." Jawabnya dan mencium punggung tangan Gadis dengan lembut.


"Aku akan jawab tapi aku ada syarat?" Negonya.

__ADS_1


"Kau curang, aku hanya bertanya. Kenapa harus ada syaratnya, lebih baik aku tidak usah tau jawabanmu." Gadis pun dengan berani mengeluarkan pendapatnya juga mengerucutkan bibirnya tanda kecewa serta kesal.


Sedikit-demi sedikit Gadis sudah mampu beradaptasi dengan si Bos dan tidak lagi merasa takut hanya saja ia masih belum sepenuhnya menerima si Bos dalam arti kata 'cinta', melainkan ia sudah sedikit nyaman berada di sisi si Bos.


"Oke, fine. Aku jawab, kau jangan ngambek. Bibirmu juga jangan kau buat seperti bebek rasanya ingin sekali ku lu**m**t habis dan tak tersisa."


Gadis yang mendengar ucapan si Bos pun reflek menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Kau ini, menggemaskan sekali."


Si Bos yang merasa gemas dengan tingkah Gadis pun memeluknya erat dan mencium aroma tubuh Gadis bagaikan candu untuknya.


"Ada apa dengan jantungku, kenapa deg-degan gini, apa aku memiliki penyakit jantung." Ucap Gadis dalam hatinya karena merasa jantungnya berdetak dengan sangat cepat.


"Kenapa wajahmu merah, sayang? Apa kau demam?" Tanya si Bos karena wajah Gadis seketika memerah bak kepiting rebus yang baru dimasak.


"Aku sehat, cepatlah jawab. Jangan mengalihkan pembicaraan."


"Oke, kau ini galak sekali, tapi aku suka. Ku harap kau juga akan galak nanti pada saat kau diatas tubuhku."


"Cih."


"Honey." Panggilnya dengan mimik wajah yang sedikit marah.


"Kenapa?" Tanya Gadis santai, ia tidak melihat perubahan raut wajah si Bos.


"Kau tidak boleh berdecih seperti itu dihadapan ku, kau hanya boleh mengeluarkan kata-kata yang indah dari mulut imut-mu ini, honey."


"Oke."


"Kedua orang tuaku, tidak tau kalo aku menato semua wajahku, karena mereka terlalu sibuk berkeliling dunia..?" Perkataannya terpotong oleh Gadis.


"Kenapa kau tidak mengabari mereka dan mengatakan kau menato habis wajahmu, kau nanti bisa-bisa di coret dalam ahli waris."


"Honey, dengarkan aku dulu, tadi kau yang minta aku menjawab pertanyaan mu, lihat sekarang kau yang memotongnya."


"Oke-oke."


"Kau ini, tidak menyayangi wajahmu sendiri, pasti menato seluruh wajah membutuhkan uang dan pastinya banyak darah yang keluar pada saat prosesnya. Aku sangat takut dengan wajahmu yang penuh gambaran tidak jelas itu, alangkah baiknya jika wajahmu apa adanya, tanpa harus kau rubah. Dan bukannya jelek melainkan tidak indah saja dilihat."


Bijaknya Gadis dalam memberikan pendapatnya.


Sekali lagi ia mengelus wajah si Bos dengan sangat lembut.


Entah keberanian darimana Gadis memulai ciuman di bibir dan si Bos tak menyia-nyiakan itu semua dan menyeimbangkan ciuman dari Gadis.


Sebelumnya si Bos mendorong sedikit menjauh troli berisikan makan tersebut supaya tidak menganggu aktifitasnya bersama Gadis.


"Sungguh aku ingin waktu berhenti saat ini, untuk menikmati gairah Gadis."


Si Bos pun hanya bisa mengikuti semua yang dilakukan Gadis, toh dia juga menikmatinya tanpa harus berbuat kasar.


Mendorong tubuh si Bos hingga tertidur diatas ranjang dengan Gadis yang masih diatas tubuh si Bos.


Perlahan Gadis mencium kedua mata si Bos lalu turun ke leher, tak lupa meninggalkan jejak maha karyanya yang spektakuler.


Dada atletis si Bos pun tak terlewatkan dari ciuman juga maha karya Gadis.


Si Bos hanya dapat mend***s**h akibat perlakuan yang Gadis berikan padanya.


Jangan lupakan tangan halus dan lembut itu meraba juga mengelus bulu-bulu halus yang ada di dada atletis si Bos juga memainkan pent**l milik si Bos dan mencium serta menghi**s**p seperti yang si Bos lakukan padanya."


"Eeuunggh.....aaaaasssh, hooneeehy..keenapah kau sangath enerjik kali ini, lakukan terus dan terruuush, honey." Hanya bisa menikmati semua yang Gadis lakukan pada tubuhnya.


Gadis tidak mendengar perkataan si Bos, ia sibuk dengan tubuh atletis yang ada dihadapannya.


Lalu turun kearah perut dan menj**l**t lagi pusar si Bos dengan lidahnya terus dan terus membuat si Bos mengeluarkan suara indah layaknya ia berganti posisi dengan Gadis.


"Ho...hooneeehy... kaaauuuh jaahngaan siksha aku. Cepatlah."


Si Bos yang sudah tidak dapat menahannya pun ingin memutar posisi, tapi kekuatan darimana Gadis tidak mau berpindah posisi.


Terus dan terus turun hingga mencapai paha si Bos pun tak lolos dari serangan yang diberikan Gadis.

__ADS_1


Posisi Gadis saat ini, kepalanya berada di bawah di kaki si Bos dan kaki Gadis berada diantara ceruk leher si Bos kanan dan kiri, sedangkan Goa Gadis tepat berada diatas wajah si Bos. Tak menyia-nyiakan kesempatan si Bos pun melahap habis Goa Gadis dengan lidahnya yang menari-nari didalamnya dan sekali-kali mengigit kacang kecil yang ada didalamnya.


"Aaaaaaassssh, saaayaaang kau jajaahngaan..."


Pergerakan Gadis terhenti saat si Bos yang tidak tinggal diam pun mengacak-acak Goa nya tersebut.


"Sudah kau lanjutkan saja, mari kita sama-sama."


Seketika Gadis menurut dan kedua paha si Bos kanan dan kiri sudah ia beri maha karya.


Kini Gadis saatnya naik menuju si benda keras panjang dan berdaging itu.


"Astaga, apa aku harus." Lirihnya tapi masih bisa didengar oleh si Bos, sedangkan tangannya sudah memegang si lontong.


"Lakukanlah, aku ingin mulut mungilmu bermain dengannya."


Tanpa aba-aba si Bos pun sedikit mengangkat kepalanya dan salah satu tangannya sudah mencapai kepala Gadis dan membuat Gadis menunduk secara otomatis si lontong masuk kedalam mulutnya, tanpa rasa bersalah si Bos kembali terlentang dengan bantal yang ada di kepalanya.


"Sudahlah, lanjutin aja."


Gadis juga si Bos pun larut dalam kenikmatan yang mereka buat untuk pasangan mereka, tanpa mengenal lelah.


Belum puas dengan posisi di atas ranjang si Bos pun memiliki ide bersenang-senang di sofa yang ada di kamarnya.


Si Bos pun membawa Gadis dalam gendongannya masih dengan si lontong didalam Goa dan Gadis masih asik dengan mencium bibir si Bos tanpa henti. Gadis masih berada diatasnya dengan duduk di pangkuannya.


"Honey, kita sudah di sofa kamu mau kan ganti gaya, aku mau sensasi yang lain, kau turuti saja kemauan-ku, oke!"


Gadis hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Pinter, aku suka kamu yang menurut denganku tanpa harus aku berbuat kasar padamu, honey. cuuup."


Si Bos pun memberikan ciuman terdahulu lalu memegang erat pinggang ramping Gadis dan menyuruh Gadis mengoyang-goyangkan pinggulnya naik-turun.


Hingga 20 menit mereka melakukannya diaatas sofa, Gadis sudah mendapatkan kenikmata. sudah berkali-kali, sedangkan si Bos belum sama sekali.


Hitungan menit pun membuat si Bos ingin mengeluarkan cikal bakal junior-juniornya didalam Goa Gadis. Ia tidak ingin ada cikal bakal junior-juniornya yang terbuang sia-sia jika dikeluarkan di sofa karena tempatnya yang kurang dalam pelepasannya.


"Sayang sepertinya kita kembali ke ranjang kembali, lebih enak di tempat yang permukaannya empuk dan lembut."


"Aaaahkuuu...ikut saja sayang." Gadis yang masih terbawa suasana pun hanya menurut dan menikmati semua kegiatannya.


Kini kegiatan mereka pun berubah posisi dengan si Bos berada diatas dan Gadis dibawah dengan masih menetralkan deru nafasnya yang terasa tersengal-sengal.


Si Bos pun melakukan aksinya hingga Gadis sudah mendapatkan 3 kali kenikmatan, sedangkan ia belum sama sekali.


Hingga pukul 23.00 waktu setempat si Bos masih saja melakukan kegiatan senang-senangnya tanpa henti.


Mereka pun melupakan makanan yang Bibi Nam bawa pada sore hari dan juga melupakan makan malam hanya karena kegiatan bersenang-senang mereka itu.


"Sayang, sudah aku ngantuk."


"Tidak, aku belum dapat yang aku mau, tapi kau sudah dapat 3 kali, tunggu aku mendapatkanya baru aku berhenti, kau bisa tidur saja, honey. cuup."


Setelah menyuruh Gadis tidur , Gadis pun benar-benar tidur karena kelelahan menghadapi tenaga yang dimiliki si Bos. Kemudian ia melanjutkan tugasnya diatas tubuh Gadis untuk mendapatkan kenikmatannya, hingga hitungan menit si Bos pun mendapatkan kenikmatannya dan menyemprotkan banyak cikal bakal junior-juniornya di Goa Gadis.


Bukan si Bos namanya jika hanya mendapatkan satu kali kenikmatan, hingga ia berkali-kali mendapatkan kenikmatan barulah ia tumbang dan tidur di samping tubuh Gadis dengan si lontong panjang berdaging sudah keluar dari Goa, sedangkan Gadis sudah terlelap.


"Kau ini, baru sekali memimpin sudah lelah seperti ini, tapi aku bersyukur kau sedikit-sedikit mau menerima ku, honey. Semoga akan ada banyak calon-calon junior kita didalam perutmu, honey."


Cuuup.


Diciumnya perut Gadis serta mencium kening juga bibir Gadis. Si Bos pun menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang polos mereka.


"Selamat malam, sayang. Mimpi indah semoga besok kau tidak berubah menjadi brutal kembali."


Ia pun menarik tubuh Gadis menghadapnya, mereka pun tidur dengan berpelukan dengan si lontong panjang berdaging itu lagi-lagi masuk kedalam Goa nya.


...~...


Berharap lolos riview🤲🤲 Karena ini sudah lebih dari 2000 kata😅😅 Maaf kalau ada yang tidak suka cerita novel T4🙏🙏


hepinizi seviyorum😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2