
...LIKE DULU DONG!!!!...
...~...
Setelah beberapa menit lalu berhasil mengejar sang nyonya mudanya.
Bibi Nam beserta pak Githo pun kini sudah memasuki mobil. Dengan Gadis sudah duduk diam di kursi penumpang belakang.
Bibi Nam sudah duduk di samping pak Githo tepatnya di kursi depan.
Suasana menjadi sedikit canggung, karena wajah sang nyonya muda tampak diam dan mengalihkan wajahnya kearah lain.
"Pak Githo segera pulang, jangan pake lama. Lihat itu! Nyonya dalam keadaan tidak baik." Ucap Bibi Nam sedikit berbisik
"Siap, Bibi." Pak Githo tak kalah pelan menjawab ucapan Bibi Nam.
Setelah Bibi Nam juga pak Githo mengenakan safety belt alias sabuk pengaman, dengan perlahan pak Githo mengendarai mobil itu secara perlahan.
Suasana masih terasa hening, beberapa kali Bibi Nam mengajak bicara sang nyonya. Tetapi, nyonya mudanya hanya menjawab dengan deheman ataupun gunakan yang tidak jelas.
Seperti saat ini, Bibi Nam menanyakan kepada nyonya mudanya. Hendak di masaki apa menu hidangannya.
"Nyonya, mau Bibi buatkan apa untuk makan malam?" Ucapan Bibi Nam sekali lagi tak digubris Gadis, ia masih asik melihat kearah luar.
Entah ia sedang memikirkan apa.
"Sabar, Bi. Mungkin nyonya muda tengah capek," Hibur pak Githo yang benar-benar tidak tahu mengenai situasi saat ini yang dihadapi Gadis sang nyonya mudanya itu.
"Iya, pak Githo. Bibi hanya sedih melihat nyonya diam seperti ini. Sebentar lagi sudah sampai."
Perkataan Bibi Nam benar, tanpa memerlukan banyak waktu. Mereka pun sudah sampai di mansion mewah tersebut.
Penjaga sudah menekan tombol, secara otomatis gerbang itu pun terbuka dengan sendirinya.
Tepat di pintu utama, pak Githo melepaskan safety belt hendak membukakan pintu mobil untuk nyonya mudanya, tetapi nyonya mudanya sudah lebih dahulu membuka dan berlari kecil memasuki mansion mewah tersebut.
Pak Githo hanya bisa diam mencerna semuanya, sedangkan Bibi Nam yang paham situasi saat ini hanya memberikan kode kepada pak Githo untuk segera memarkirkan mobil tersebut di garasi, biarkan saja Bibi Nam yang membawa belanjaan juga menghampiri sang nyonya mudanya itu.
...~...
Gadis memasuki pintu utama dengan sedikit berlari, hingga ia menabrak Yeni yang hendak menuju dapur.
Bugh
"Astaga," Ucap Yeni kaget, seketika kemoceng yang ia bawa terjatuh.
Sedangkan pelaku penabrak tak lain Gadis, sudah lebih dulu menaiki tangga menuju lantai 3 dengan sangat tergesa.
Di lantai 3, Gadis membuka pintu dengan keras juga menutupnya pun tak kalah kerasnya, tak lupa juga ia kunci pintu tersebut dari dalam.
Ia jatuhkan tubuhnya diatas ranjang dengan posisi tengkurap.
Wajahnya ia tenggelamkan diantara ranjang juga bantal.
Kecewa, marah, kesal dan masih banyak lagi perasaan saat ini Gadis rasakan.
Seketika luruh juga air mata Gadis yang sedari tadi ia tahan serta membasahi ranjang juga bantal tersebut.
Hiks
Hiks
Hiks
Tangisan pun sudah memenuhi seluruh ruangan kamar tersebut, tangisan yang sangat amat memilukan, tangisan itu pula sangat menyayat hati bagi yang mendengar akan merasa iba dan ikut merasakannya.
"Hiks....hiks.... Kapan aku bisa bebas dari semua ini, lebih baik aku mati saja. Aku gak kuat, hiks... hiks... hiks..."
Masih banyak lagi keluhan yang Gadis keluarkan, hingga dipastikan matanya sudah membengkak serta hidungnya akan terasa perih juga tersumbat akibat lamanya ia menangis.
__ADS_1
Cukup lama Gadis menangis, hingga tangisan itu tak terdengar lagi, dan Gadis akhirnya terlelap dengan keadaan masih menyisakan bekas air matanya disekitar kelopak mata juga area kedua pipinya. Ia juga belum mengganti pakaiannya serta membersihkan dirinya walau sekedar mencuci kaki atupun tangannya.
...~...
Pukul 5 sore waktu setempat pun Gadis terbangun, ia membalikkan badannya dan menghadap kearah jam dinding berada.
Ia paksa matanya terbuka, dan seketika matanya membulat.
"Astaga, sudah jam 5 sore. Aku harus buru-buru mandi dan menyambut dia pulang."
Gadis pun bangkit dan memasuki kamar mandi dengan tergesa-gesa, tidak membutuhkan waktu lama untuk ia mandi.
Kini Gadis masih memakai bathrobe. Ia berjalan menuju walk in closet, untuk mencari pakaian yang membuat dia cantik.
Itu yang ia ingat ucapan laki-laki yang ia juluki 'laknadd' tersebut.
"Aku harus memilih baju yang seperti apa? Kata si laki-laki laknadd itu aku harus tampil cantik saat menyambut dia pulang, aku mana bisa memilih baju. Rata-rata baju disini bagus semua, aku gak tau selera dia seperti apa?" Keluhnya masih memilih beberapa pakaian yang menurut ia bagus-bagus semua.
Akhirnya setelah memilih ia kenakan langsung di area walk in closet, karena ia sudah tak punya banyak waktu, belum lagi ia berdandan.
"Aduh, harus dandan lagi. Kayak tadi aja yang didandanin Bibi Nam," Segera ia duduk di depan meja rias dan didepannya sudah ada cermin.
Ia bubuhkan bedak sedikit di wajahnya lalu ia beri lipstik berwarna pink di bibirnya, tak lupa ia sisir rambut juga memberikan parfum diantara tubuhnya.
Ia lirik lagi jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 6 waktu setempat.
Yang mana beberapa menit lagi, laki-laki yang ia juluki 'laknadd' itu akan segera sampai.
Segera ia keluar dari kamar dan menuju ruang tamu untuk menyambut si tuan muda alias si bos.
Dan benar saja bunyi klakson mobil asisten Roy sudah terdengar di telinganya, ia terburu-buru menuruni tangga dan akhirnya sudah sampai tepat dimana bel pintu utama berbunyi. Tanda seseorang yang sudah membuat hari-harinya kacau seketika.
"Selamat sore, Nyonya muda." Sapa asisten Roy dengan senyumnya, ia pun segera mengulurkan tas yang ada ditangannya kepada Gadis, "Ini tas kerja tuan muda,"
Gadis pun hanya menerimanya, tak tahu harus berucap apa lagi.
Ia pun refleks melihat kearah belakang asisten Roy, tetapi ia tidak menemukan laki-laki laknadd itu.
"Ah, tuan muda sedang menerima telpon dari nyonya besar, Nyonya muda. Sebentar lagi akan kesini," Dengan sedikit memberikan sang nyonya muda senyuman, berharap akan adanya ucapan timbal balik.
Tetapi, masih sama. Sang nyonya muda hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya tersebut.
Hingga suasana canggung menerpa diantara asisten Roy juga nyonya mudanya.
"Astaga, aku bingung mengajak bicara nyonya muda. Sedari tadi aku didiami saja, hufffft. Sangat mengesalkan." Batin asisten Roy seakan-akan meronta-ronta dengan sikap sang nyonya mudanya itu.
Hingga akhirnya hawa gelap tiba-tiba saja tercipta.
Asisten Roy pun melihat dengan langsung aura yang ditimbulkan nyonya mudanya itu sedikit menyeramkan, atas keterdiamannya.
Akhirnya, si bos pun yang sedari tadi belum memasuki pintu utama, karena adanya panggilan dari maminya tersebut.
Tanpa malu segera ia peluk Gadis dengan kedua tangannya sudah bertengger di pinggang Gadis serta mencuri ciuman di bibir Gadis tanpa malu adanya asisten Roy yang menyaksikan aksi bosnya tersebut.
"Si**l***n, si bos tidak tau malu. Asal peluk juga ciuman dihadapan ku. Dia tidak memberikan wajah padaku, si******l," Gerutu asisten Roy dalam hatinya.
"Segeralah kau pulang, Asisten Roy!" Perintahnya tanpa mengalihkan wajahnya, karena ia lebih asik memeluk wanitanya.
Segera asisten Roy menunduk dan berpamitan pulang.
Si bos masih dengan memeluk Gadis, kini tangannya sudah menutup pintu utama.
...~...
Mereka masih di depan pintu, tetapi bedanya pintu utama sudah si bos tutup. Tapi, posisi mereka sangat intim, masih dengan pelukan.
"Aku kangen sekali kepadamu, Honey!" Ucapnya dengan segera ia mencium bibir Gadis dengan sangat panas.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, si bos me**lum**at bibir Gadis habis-habisan, menggodanya supaya Gadis membuka mulut sebelum kemudian dia menyelipkan bibirnya sendiri, mencecap dengan lidahnya, menyentuh titik-titik menyenangkan dan nikmat di bibir Gadis dan mengambil kenikmatannya sendiri.
__ADS_1
Setelah ciuman yang panas itu berakhir, si bos akhirnya mendapatkan kekuatannya untuk melepaskan diri.
Nafas mereka berdua masih terengah dan bibir Gadis nampak basah juga merah merona dan sedikit bengkak
"Sayang!"
Dengan panik Gadis melepaskan pagutan si bos yang penuh hasrat di bibirnya, dia lalu berusaha untuk mendorong dada si bos menjauh. Nafasnya masih tersengal-sengal akibat ciuman panas yang dilakukan si bos pada dirinya itu.
"Ah, maaf. Aku selalu lupa diri jika sudah mencium dirimu, lebih baik kau tunggu aku di meja makan. Aku akan mandi terlebih dahulu, tidak akan lama. Sini tasnya biar kau yang bawakan. Janji tidak akan lama," Ucapnya sembari mencium sekilas bibir Gadis dan meninggalkan Gadis untuk segera menuju lantai 3 dan membersihkan dirinya terlebih dahulu.
...~...
Gadis segera menuju ruang makan dan menyibukkan dirinya, padahal yang sebenarnya terjadi Gadis dalam keadaan gugup melandanya.
Benar saja, si bos menepati ucapannya.
Tidak lebih dari 10 menit si bos sudah selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang sedikit basah dan ia hanya menggunakan bathrobe berwarna hitam pekat.
Tiba-tiba saja Gadis yang tengah menata piring pun terpesona melihat ketampanan si bos.
Sungguh ia sangat tampan dan juga seksi
Mulutnya terbuka sedikit dengan matanya yang tak berkedip melihat ketampanan laki-laki dihadapannya tersebut.
"Tidak lama, kan!" Ucapnya sembari mencium puncak rambut Gadis, Gadis hanya diam karena ia masih terpesona dengan perwujudan si bos saat setelah mandi.
Segera ia menetralkan keterpesonaannya.
Kini si bos sudah duduk di kursi tempat ia biasa, dan sedang menunggu Gadis menuangkan nasi beserta yang lainnya.
"Silahkan makan, Sayang."
Gadis sengaja memanggil si bos dengan kata 'sayang' supaya si bos tidak marah.
Sebenarnya Gadis sedikit gugup, ia telah menuangkan sepiring penuh nasi berserta lauk juga sayurannya.
Tanpa diduga si bos menarik tangan Gadis.
Alhasil Gadis yang belum siap pun melingkarkan kedua tangannya di kedua sisi leher si bos. Gadis terduduk dipangkuan si bos.
"Lebih baik kita seperti ini posisinya. Dengan begitu kita bisa makan sepiring berdua, biar aku suapi kamu!" Ucapnya dengan nada memerintah tak ayal Gadis hanya bisa menuruti saja.
"Tap...."
Perkataan Gadis terhenti setelah si bos mencium bibir Gadis dengan sembarangan.
"Diam dan turuti saja semuanya!!"
Segera saja si bos memulai acara makan malam mereka.
Benar si bos menyuapi Gadis, tetapi diselingi oleh ciuman-ciuman panas yang si bos berikan pada Gadis.
"Sayang, makan dulu." Ucap Gadis karena ia benar-benar lapar.
"Baiklah," Si bos pun menuruti ucapan Gadis dan kembali menyuapi Gadis juga dirinya, hingga sepiring nasi berserta lauk juga sayurannya sudah habis dimakan oleh mereka berdua.
Kini si bos memberikan minum dengan gelas yang sama dengannya.
"Minumlah," Segera Gadis meminumnya tanpa penolakan, toh dia juga sangat haus.
Tanpa diduga si bos......
...~...
...Maaf sedikit🙏...
...Teruntuk Kaka inisial 'As'. Terima kasih sudah bersedia mampir, membaca dan meninggalkan jejak like koment hingga chapter 63. Kaka berkomentar sedikit pedas seperti cabai, tetapi saya salut juga ke Kaka masih mau mengikuti novel saya sampai saat ini. Saya tidak marah dengan komentar Kaka walau sedikit rasa kesal tetapi suami saya sudah menguatkan itu semua. Semoga Kaka membaca chapter ini yah☺️...
...Maaf juga tidak bisa kreji seperti sebelum-sebelumnya karena dari kemarin malahan dari kemarin kemarinnya lagi T4 mengalami mual muntah juga kepala pusing jika berlama-lama didepan layar ponsel😖...
__ADS_1
...Suami bilang berhenti saja jika sudah capek, tetapi T4 masih mau menuangkan semua ide yang ada didalam fikiran T4, tetapi jika sudah mulai absurd T4 undur diri dari NT dan kembali menjalani aktifitas sebagai ibu rumah tangga semestinya juga menjadi T4 yang biasa mengurusi suami juga yang lainnya☺️...
...T4 HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘...