Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 121


__ADS_3

Kita tinggalkan Papi yang sedang menggerutu panjang pendek dengan semua kata-kata mengumpatt untuk sang putra.


Dikarenakan sang istri lebih memilih bersama dengan wanita yang ia sebut "sialand" tersebut.


Kini di dalam kamar Deon, tuan muda keluarga Beklerken.


Bibi Nam dan Mami Anggiya masih terdiam membisu.


"Kenapa nyonya gak bukakan pintu saja, yah? Nanti yang ada urusannya makin runyam dengan tuan. Saya jadi serba salah, mau menuruti nyonya tapi satu sisi juga saya membela nyonya. Saya tahu betul, bagaimana perangai tuan Berto. Nyonya Gadis pun pasti nanti jadi sasaran tuan Berto. Semoga yang ada dalam pikiran saya ini tidak terjadi. Amin." Gumam Bibi Nam dalam hatinya sembari memperhatikan nyonyanya itu.


"Bik, aku minta pendapat, Bibi. Menurut bibi, aku harus bagaimana?" Tanya Mami Anggiya pada Bibi Nam tetapi pandangan mata Mami Anggiya entah kearah mana melihat.


"Maksudnya, nyonya apa yah? Bibi kurang paham, Nyah."


"Hufft," Mami pun menghela nafas sebentar. "Lupakan saja, Bik. Apa masih ada yang mau Bibi Nam ceritakan? Atau masih ada yang terlewat, Bik?" Kini Mami Anggiya sudah fokus menatap bibi Nam.


"Masih, Nyah."


"Dilanjutkan, Bik!"


"Baik. Jadi, pada saat nyonya Gadis sudah sembuh, saya urus dari mandi, berpakaian juga untuk makanan nyonya Gadis, Nyah. Dan saat saya tawari untuk memasak, tepatnya itu saat sarapan yang sudah kesiangan, sekitar jam 10, Nyah. Nyonya Gadis meminta saya siapkan roti beberapa lembar roti untuk ia panggang dan beberapa selai serta minuman. Setelah itu, saya tinggalkan nyonya Gadis untuk mengolah sendiri roti bakarnya, sedang saya menyiapkan minuman hangat, seperti teh hangat, air hangat, susu hangatnya, Nyah. Lalu..."


Ucapan Bibi Nam terhenti, dikala Mami Anggiya memberikan tanda berhenti dengan tangan diarahkan ke arah Bibi Nam.


Mami Anggiya mengernyit keningnya tanda heran.


"Kenapa banyak sekali lembaran roti, Bik?"


"Saya juga tidak tahu, Nyah."


"Lanjutkan, Bik"


"Setelah semua tersaji, dari beberapa lembar roti bakar yang sudah matang juga beserta minuman hangat di letakkan di meja makan, saya pamit lanjut ke dapur. Tetapi, selang beberapa menit Yeni mendengar suara perempuan menangis. Awalnya saya dan rekan lainnya tidak mendengar, tetapi kami menegur Yeni yang mengada-ada dengan pendengarannya. Dan ternyata, tidak lama kami berdebat, kami semua juga mendengarnya. Saya pun menghampiri suara yang kami yakini itu suara nyonya Gadis, Nyah. Ternyata, nyonya Gadis teringat mendiang kedua orang tuanya yang sudah meninggal, Nyah. Tangisan nyonya Gadis membuat saya terasa teriris-iris, Nyah. Dalam isak tangisnya, Nyonya Gadis ingin pulang ke rumah mendiang kedua orang tuanya, ia tidak mau berada disisi den Deon, Nyah."


Bibi Nam tanpa sadar sudah meneteskan air matanya, ia pun seperti merasakan kesedihan yang dialami oleh nyonya mudanya itu.


Perjalanan hidup nyonya mudanya, seakan-akan mengingatkan ia dengan mendiang suami juga mendiang putranya yang sudah lama meninggal dunia.


Mami Anggiya pun beranjak dari tepi ranjang dan memeluk bibi Nam.


"Bibi harus kuat, saya tahu. Bibi kangen dengan mendiang suami dan mendiang putra, Bibi. Bibi harus kuat dan doakan selalu mereka, Bik."


"I-iya, Nyah." Jawab Bibi Nam dengan suara serak.


"Sudah-sudah, nanti saya ikutan sedih. Nanti saya mengingat mendiang kedua orang tua saya juga, Bik. Saya juga anak yatim-piatu. Kita boleh mengenang masa lalu, tapi jangan berlarut-larut. Bukannya saya menyuruh Bibi Nam untuk melupakan mendiang suami juga putra Bibi, yah."


"Iya, Nyah. Bibi paham, kok. Jadi, kapan kita bangunkan nyonya Gadis, Nyah?"


"Biarkan dia tidur dulu, Bik. Bibi boleh melanjutkan pekerjaan, Bibi. Nanti kalau ada apa-apa saya panggil atau hubungi, Bibi. Dan untuk koper lainnya, ditunda dulu saja. Saya ingin berdua dengan calon mantu saya ini, Bik."


"Baik, Nyah. Kalau begitu bibi pamit lanjut ke dapur."


Mami Anggiya hanya menjawab dengan anggukan kepala, sejurus kemudian bibi Nam pun beranjak dari kamar tuan mudanya tersebut.


Kini dikamar hanya tertinggal Mami Anggiya dan juga Gadis.


Mami Anggiya pun beranjak dari tepi ranjang menuju pintu untuk menguncinya kembali.


Berjalan kearah sofa yang tersedia di kamar sang putra. Mami Anggiya pun langsung duduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Pak... Bu.... Anggi kangen bapak dan ibu. Hiks hiks hiks" Tumpahlah sudah air mata Mami Anggiya, ia teringat dengan kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal disaat Deon berusia 5 tahun, sedangkan sekarang putranya sudah berusia 33 tahun.


"Pak, Bu. Jika saja bukan bapak yang selamatin Deon dari mobil yang hampir menabrak Deon, pasti Deon yang meninggal dan ibu, ibu juga selamatin aku dari orang-orang yang hampir mau menculik aku dulu, hiks hiks hiks hiks hiks. Aku kangen bapak juga ibu. Aku bingung, pak-bu. Kenapa suami dan putraku memiliki sifat dan tabiat yang sama. Sama-sama menjerat wanita yang lemah dari kalangan rendah seperti Anggi juga calon menantu aku, Pak-Bu."


Mami Anggiya entah berbicara dengan siapa, tanpa disadari Gadis sudah terbangun, karena terusik dengan suara isak tangis dari seseorang.


Gadis pun berusaha bangun dan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.


Ia mengedarkan pandangannya, mencari dimana suara isak tangis itu berada.


Dan ternyata, suara itu berasal dari wanita yang baru beberapa jam ia kenal.


"Mom," Panggilnya lirih.


"Aaah, iya sayang. Kamu baru bangun?" Tanya sang Mami dengan buru-buru ia hapus air matanya juga menetralkan suara seraknya.


Berjalan kearah ranjang, Mami Anggiya pun tak lupa menebarkan senyum kearah calon menantunya itu.


"Maaf yah kamu jadi terganggu sama suaranya, Mom." Mami Anggi duduk di tepi ranjang sembari tangannya mengelus-elus rambut calon menantunya itu.


"Gak kok, Mom. Gadis juga mau bangun."


Mami Anggiya pun mengerti dan menganggukkan kepalanya.


"Mau makan atau minum?"

__ADS_1


"Minum saja, Mom. Maaf ngerepotin,"


"Santai aja, Sayang. Kayak sama siapa aja," Ucapnya sembari mengambilkan segelas air minum yang tersedia di meja nakas dekat ranjang.


"Minumlah,"


Gadis pun segera meminumnya. Ia minum dengan sekali teguk, ia merasa sangat-sangatlah haus.


"Mau lagi?"


Bukan tanpa alasan Mami Anggiya menawari, karena dari cara minum saja dapat dipastikan calon menantunya itu sangatlah haus.


"Sudah cukup, Mom."


Mami pun menerima gelas yang sudah kosong itu dan meletakkan kembali.


Ia elus-elus rambut calon menantunya itu sembari memperhatikan wajah calon menantunya itu.


"Mom boleh bertanya, Sayang?"


"Tanya saja, Mom." Jawab Gadis masih dengan selimut ia dekap erat supaya tidak merosot.


Mami Anggiya pun paham dan merasa kasihan dengan calon menantunya itu.


"Lebih baik kamu mandi saja dulu, Sayang. Sebentar mom siapkan air hangat, kamu jangan kemana-mana,"


"Gak usah, Mom. Aku..."


Ucapan Gadis terhenti.


"No, protes-protes. Diam dan turuti semua keinginan, Oke!"


"Iya, Mom."


Mami Anggiya pun beranjak dan berjalan menuju kamar mandi guna menyiapkan air hangat dengan menuangkan essentials oil.


Beberapa menit sudah dilewati, kini Gadis sudah berpakaian rapi juga wangi. Tak lupa Mami Anggiya menyisir rambut juga mendandani calon menantunya itu.


"Wah, kamu memang cantik, Sayang. Meski tanpa makeup, pakai makeup tambah cantik. Kita duduk di sofa. Mom mau lanjut pertanyaan, Mom."


"Iya, Mom."


Gadis masih berjalan dengan tertatih-tatih, karena efek yang ditimbulkan Deon yang menggempur dirinya habis-habisan.


Mami Anggiya yang melihat cara jalan Gadis dari sebelum dan sesudah mandi sama saja. Sama-sama tertatih-tatih.


"Pelan-pelan saja sayang jalanya. Mom tahu pasti inti kamu masih sakit,"


Gadis hanya tersenyum kecil.


Sampailah mereka di sofa dan Mami Anggiya menuntun perlahan calon menantunya untuk duduk, dan mengatur supaya nyaman.


"Sudah nyaman, Sayang? Atau mau Mom bantu pakaikan salep?"


"Terima kasih, Mom. Gak perlu kayaknya, udah biasa juga."


"Oke, kamu mau makan langsung atau mau nyemil?"


"Masih kenyang, Mom."


"Oke, nanti kalau sudah lapar bilang ke mom, supaya mom panggil Bibi Nam untuk menyiapkan makanan untuk kamu dan mom,"


Hanya dijawab anggukan kepala oleh Gadis tak lupa senyumannya yang manis itu.


"Oke, mom mau lanjut bertanya. Mom ingin kamu bercerita secara detail bagaimana kamu bisa sampai berhubungan dengan putra mom itu? Dan jangan ada yang ditutup-tutupi!"


"Sebelumnya perkenalkan nama Gadis, Anindyta Gadis Putri. Tapi, anak mom mengganti nama Gadis. Menggantinya dengan nama Tamara Gladyescya Beklerken, Mom. Gadis gak suka, Mom.


Gadis yatim-piatu, kedua orang tua Gadis meninggal kecelakaan beberapa bulan lalu. Bapak dan ibu ditabrak sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dan si pengemudi sedang dalam pengaruh obat-obatan juga minuman keras dari seorang warga yang menceritakan kepada Gadis, Mom. Dan masalah bagaimana Gadis bisa berakhir disini.... Awalnya Gadis ingin mencari kerja ditempat sahabat Gadis bekerja, di salah satu club malam....


Mengalirlah cerita dimana ia berada di club malam milik Mamih Veliz, juga tak menutupi-nutupi apapun yang ingin ia kerjakan di club malam itu sebagai 'penghangat ranjang' walau di tolak sang Mamih dan diberi pekerjaan yakni mengurusi keuangan club malam, tetapi naas... Malam hari ia datang ke club malam itu, bertepatan dengan Deon yang datang juga berkunjung. Dan mendapati dirinya, sahabatnya dan Mamih Veliz saat mereka tertawa.


Dapat dikatakan Deon terpesona atau jatuh cinta pada pandangan pertama, tetapi caranya salah. Ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan wanita yang sudah ia klaim kepemilikannya.


Ia ancam Mamih Veliz dengan meratakan bangunan club malam yang sudah menjadi milikinya.


Mengancam Sahabatnya dengan menyodorkan kepada anak buahnya dan di perk-osa dengan bersama-sama, kakek dan nenek sahabatnya pun tak ketinggalan diancam akan dibunuh.


Dan dari sana juga ia menjadi lemah tak berdaya.


Ia pasrah dengan semuanya, walau ia pernah sesekali berontak dan berakhir ia terantuk tiang pilar di kamar ini dan berakhir tak berdaya.


Hanya bertahan, dan pasrah saja ia lakukan.


"Seperti itu, Mom." Akhirnya Gadis selesai menceritakan semuanya dengan diakhiri lelehan air matanya yang menetes.

__ADS_1


"Maafin putra mom yang badjingan itu yah, Sayang. Maafin hiks hiks hiks hiks,"


"Gak apa, Mom. Gadis juga sudah ikhlas." Ucapnya sembari menghapus jejak air mata Mami Anggiya.


Mereka berdua pun sama-sama saling menghapus air mata.


Kini dengan suasana hati yang sudah sesantai dan tidak semellow beberapa menit lalu.


"Sayang, kamu ingat kan awal kita bertemu. Mom bilang kamu mirip sekali dengan sahabat mom dulu pas masih remaja?"


"Ingat, Mom."


"Apa kamu punya foto keluarga, ah maaf kalau mom lancang. Mom hanya ingin membuktikan saja."


"Tunggu sebentar yah, Mom. Gadis ambilkan."


Gadis ingin berdiri tapi sudah dicekal tangannya oleh Mami Anggiya.


"Boleh mom saja yang ambilkan, kamu tunjukkan saja dimananya. Mom kasihan melihat kamu jalan yang tertatih-tatih. Lebih baik kamu duduk aja."


"Baik, Mom. Ada di bawah ranjang, tepatnya sebelah kanan, Mom. Maaf merepotkan."


"Gak apa, Sayang. Mom senang kok. Mom ambil sebentar."


Mami Anggiya pun menuju ranjang dan mengambil sesuatu dibawah ranjang, dengan sedikit ia angkat ranjang yang terasa sedikit berat tapi empuk itu.


"Di tas ini, Sayang?" Tanyanya.


"Iya, Mom."


"Kenapa tasnya lusuh sekali ini, ini tas jaman apa? Kenapa Deon tidak memberikan Gadis tas yang baru, apa tuh anak tahunya hanya daerah slengki-slengki aja? Seperti papinya itu. Memang keturunan Beklerken tidak bisa ditebak." Gumam Mami mendapati tas calon menantunya itu yang sudah lusuh dan bukan eranya lagi.


Segera ia bawa dan menghampiri Gadis, calon menantunya itu.


"Ini, Sayang." Ia berikan tas itu kepada Gadis.


Gadis pun menerimanya dan memberikan senyuman kepada sosok wanita yang kini sangat baik kepada.


Ia cari selembar foto usang ia beserta kedua orang tuanya itu.


"Ini, Mom. Foto aku pas umur 5 tahun dan 13 tahun, selebihnya aku dan mendiang kedua orang tuaku tidak pernah lagi foto studio,"


Mami Anggiya pun melihat dengan mata yang harus teliti.


Karena foto tersebut benar-benar sudah usang juga sudah sedikit lecek dan hampir-hampir jika terkena air, dipastikan akan lebih cepat melebur menjadi satu.


"Kamu dari kecil sudah cantik dan menggemaskan, Sayang. Pantes saja...." Komentar Mami Anggiya.


"Pantes apa, Mom?"


"Pantes saja, putra luc-nutnya mom tergila-gila sama kamu dan tidak rela melepas kamu yang cantik ini,"


"Mom berlebihan, Gadis biasa aja, Mom. Mom terlalu berlebihan menilai Gadis,"


"Mom benar, Sayang."


Mereka pun tiba-tiba terdiam, Mami Anggiya fokus melihat dengan seksama foto Gadis dengan mendiang kedua orang tuanya itu.


"Kenapa kok gak mirip yah? Gadis ini mirip sama siapa? Ah, aku gak boleh asal tuduh, tapi kok bener yah! Gadis tidak ada kemiripan dari mendiang kedua orang tuanya, apa jangan-jangan Gadis ini benar anak dari sahabat aku dulu. Tapi.... Coba saja aku tahu dimana keberadaan Caca, dan keluarga Caca sudah benar-benar meninggal semua. Mereka meninggal dengan cara tragis. Aku heran dengan Papa, Mama tiri juga saudara perempuan tirinya itu."


Gumam Mami Anggiya dalam hatinya.


Larut dalam lamunannya, tanpa sadar Gadis sudah terlelap kembali.


"Ya ampun, calon mantu aku tidur lagi. Pasti dia sangat lelah. Tapi kalau dia tidur seperti ini, yang ada tubuhnya sakit semua. Minta tolong Duo FY alias Fitri dan Yeni untuk membantu memindahkan calon mantu aku ke ranjang. Ngapain juga minta bantuan putra luc-nut ku, yang ada nanti digempur lagi calon mantu ku yang malang ini."


Segera ia menghubungi bibi Nam dan Duo FY memerintahkan untuk datang ke kamar putranya tanpa bantahan.


Kini Gadis sudah berada di ranjang, segera Fitri juga Yeni izin untuk kembali ke dapur.


Mami Anggiya pun berterima kasih kepada dua anak rusuh itu. Dan dijawab senyuman dan tawa keduanya.


Disaat Fitri dan Yeni keluar, tiba-tiba saja suara mengagetkan keduanya.


"Buat apa kalian disini!!!!!"


Duo FY......


...~~~~...


...Maaf yah saya baru update, dikarenakan harus urus putri saya yang masih butuh saya extra, juga harus mengurus suami....


...Doakan saya, dan suami saya segera mendapatkan pekerjaan yah....


...Amin🙏...

__ADS_1


...Jangan lupa beri like dan komentar positif 🤗...


__ADS_2