Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 131


__ADS_3

Bar Refaeli


Kini tengah berhadapan seorang wanita yang sudah tidak muda lagi bersama laki-laki dengan perawakan tinggi, tatapan matanya tajam serta tubuh yang besar dan atletis.


"Bagaimana, Joe?"


"Sedikit ada titik terang dengan keberadaan putri mami, tapi..."


"Syukurlah, tapi, tapi kenapa, Joe?" Tanya mami veliz yang seketika menegang.


"Tetapi, panti asuhan dulu yang mami letakkan putri mami itu beberapa tahun lalu terkena bencana, yakni kebak..."


Mami veliz menyela ucapan Joe, "Iya, mami tahu, panti yang dulu dengan sangat tidak berperikemanusiaan mami letakkan putri cantik yang masih kecil dan merah itu, mami letakkan di pantai asuhan CC di daerah kota M, Joe."


"Mami, hufft." Seketika Joe menghembuskan nafasnya sangat kasar, ia harus extra sabar menghadapi mami yang tengah dilanda kebingungan terkait hilangnya kabar dari panti yang ia letakkan sang putri. "Mih, bisa Joe melanjutkan ucapan, Joe?" Mami veliz pun menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.


"Jadi, panti dahulu terkena bencana, yakin kebakaran. Dan syukurnya, tidak ada korban jiwa, hanya saja panti itu kehilangan banyak barang-barang berharga serta data diri anak-anak panti yang tinggal di sana. Dan anak buah Joe mengabarkan, jika panti asuhan CC yang ada di daerah kota M itu sudah beralih kepengurusan, yang mana sekarang yang mengurus panti itu adalah sanak saudaranya. Dan sanak saudaranya tersebut... Sanak saudaranya tersebut, tidak lah amanah, Mih. Semua anak-anak panti, beserta pengurus tidak terurus mereka luntang-lantung mencari donatur, kesana kesini, sampai akhirnya... Mereka semua ada yang membantu dan kembali hidup dengan tenang tanpa takut kekurangan dana juga aman. Yang Joe tahu, sekarang panti asuhan CC itu beralih nama yakni Rumah Singgah Kami Aman, Mih. Orang yang membantu itu, tidak bisa Joe lacak identitasnya. Sepertinya orang tersebut memiliki kekuasaan atau juga tidak mau diketahui identitasnya, Mih."


"Joe, mami itu bukannya tidak berterima kasih atau masa bodoo, bukannya mami tidak memiliki hati juga empati. Mami tidak ingin tahu siapa yang sekarang merubah nama panti asuhan CC menjadi Rumah Singgah Kami Aman, yang mami mau tahu itu, dimana keberadaan putri mami, Joe. Itu saja," Mami veliz pun seketika menangis terisak.


"Maaf, Mih. Joe, masih memerintahkan anak buah Joe, untuk meminta data diri seluruh anak dari Rumah Singgah Kami Aman, Mih. Pengurus rumah singgah itu tidak serta merta memberikannya, Mih. Walau sudah diberikan uang yang berlimpah, pengurus rumah singgah itu bahkan semuanya yang bekerja di sana tidak mau disuap bahkan diiming-imingi harta yang berlimpah, mereka semua menolak, Mih."


"Mih, Joe mau tanya. Siapa laki-laki yang sudah dengan tega mengambil kepera wanan, Mami?" Lanjut Joe bertanya.


"Mami juga tidak ingat dan malam itu mami diberikan obat perang sang oleh Valeri, Joe."


"Siapa Valeri, Mih?"


"Hufft, Valeri adalah kaka angkatnya William, pacar mami dulu waktu mami masih menengah atas, Joe. Valeri berkomplot dengan Saras, saudara tiri mami. Saat ini mami akan datang ke pesta ulang tahun teman sekelas mami, Joe. Namanya Ghita. Mami datang seperti biasa berdandan alakadarnya. Mami tidak didampingi sahabat mami, Joe.

__ADS_1


Sahabat mami itu harus ikut bekerja di rumah majikan kedua orang tuanya, Joe. Walau majikan kedua orang tuanya sangat baik padanya, tetapi sahabat mami itu terlalu rendah hati, ia tidak ingin ikut dalam pesta ulang tahun teman sekelas mami, Ghita. Ghita yang notebene adalah anak dari pengusaha batubara dari negara X. Dan di sana lah, awal kehancuran mami, Joe. Mami tiba-tiba saja mengambil minuman berwarna kuning entah apa itu, mami lupa.


Tiba-tiba mami minum dan sudah tidak ingat lagi, Joe. Bangun-bangun mami mendapati diri mami sedang tidur di ruangan yang mami sungguh asing. Dan mami terkejut ada tubuh laki-laki yang membelakangi mami, Joe. Mami langsung saja mencari pakaian mami malam itu yang berserakan di lantai, tanpa mengindahkan area inti mami yang sakit dan mami terpaksa tidak membersihkan tubuh mami, Joe.


Saat membuka pintu kamar tersebut, ternyata mami berada di hotel. Disaat bersamaan, datang papa, mama tiri juga saudara tiri mami, Joe. Mami di tam par oleh papa, mami, Joe. Diseret, rambut mami dijambak dan dipermalukan di khalayak ramai," Tumpah sudah isak tangis mami Veliz.


"Saat di looby, banyak orang hilir mudik berdatangan melihat semua itu, mami sangat malu Joe. Sampai di rumah mami di caci, di maki, dihina serta mami mendapati kenyataan jika semua kegiatan mami malam itu ada yang mengirimkan foto-foto beserta video yang tidak pantas untuk dilihat. Mami merasa di jebak. Mami tahu itu ulah siapa."


Sedari tadi Joe hanya diam, mendengar cerita mami Veliz.


"Siapa, Mih?"


"Ulah Saras, saudara tiri mami juga mama tiri ku, Joe. Dan dalang semuanya adalah Valeri. Entah Valeri ada dendam pada mami apa? Mami saja tidak pernah berurusan dengannya. Semenjak kejadian itu mami di usir dari rumah, dicoret dari kartu keluarga, tidak mendapatkan uang sepeser pun, Joe. Dan William.... William menelan mentah-mentah semua cerita yang di ceritakan oleh Saras juga Valeri, Joe. Hidup mami hancur, mami bingung mau kemana, mami saat itu bingung, hancur sudah hidup mami, Joe. Hingga akhirnya, mami tidak sengaja bertemu dengan ka Murti. Ka Murti lah yang menolong mami dari semua ini. Ka Murti mungkin di luaran sana menganggap dia wanita malam, wanita bin al tapi menurut mami, ka Murti itu adalah penolong mami, malaikat mami."


Hening


"Hingga tanpa terasa waktu terus berjalan, hingga kenyataan pahit kembali mami alami, Joe. Mami dinyatakan positif hamil, Saat itu mami tengah bekerja di tempat ka Murti. Mami tengah melayani salah satu customer mami pingsan dan dibawa ke rumah sakit oleh ka Murti. Mami hamil hampir 4 minggu. Bagai di sambar petir di siang bolong, mendengar kenyataan itu, Joe."


"Tidak apa, Joe. Supaya mami lega dengan semua ini. Sudah cukup lama mami pendam sesak dalam da da ini, Joe. Berbulan-bulan mami harus mengalami mu al mun tah yang membuat mami harus dilarikan terus dan terus ke rumah sakit. Hingga akhirnya, tepat di hari dimana mami melahirkan, dan mami memutuskan untuk meletakkan putri cantik mami ke salah satu panti asuhan itu, Joe."


"Sudah, Mih. Jangan diteruskan."


Mami Veliz pun mengiyakan. Dan menerima uluran tissue dari Joe.


Mami susutkan linangan air matanya tersebut.


"Baik, kalau seperti itu, antarkan mami kesana, Joe."


"Joe antar, tapi ini kondisi mami kurang sehat, lebih baik mami istirahat dulu dan jangan terlalu memikirkan ini semua. Ada Joe yang selalu di samping mami, tenang saja, Mih. Mereka tidak akan berpindah-pindah kembali. Karena dari yang Joe dengar dari anak buah Joe, si pemilik rumah singgah itu akan datang dalam waktu dekat, tetapi kapan datangnya anak buah Joe juga belum tahu pasti. Alangkah baiknya, kita lebih baik menemui si pemilik rumah singgah itu, Mih. Dan menanyakan semua data identitas anak-anak dari panti asuhan CC dahulu yang menjadi anak dari Rumah Singgah Kami Aman, Mih." Usul Joe, yang melihat keadaan mami yang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Oke,"


Mami Veliz terlihat murung juga tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Joe pamit, Mih."


"Kenapa terburu-buru, Joe?"


"Villia ingin aku datang, kami ingin makan seafood di daerah pantai dekat rumah neneknya Villia, Mih."


"Ya ampun...." Mami Veliz terkejut mendapati jika calon istri Joe tengah mengalami yang namanya mengidam, "Baik, baik, kau harus turuti semua kemauan calon istri mu itu, Joe. Jika, tidak... Nanti anak mu bisa-bisa lahir dengan air liuur yang melimpah, hahahah." Mami menjahili Joe.


Sontak saja wajah Joe memucat dan panik seketika, "Mih, jangan menakut-nakuti aku, aku akan menuruti semua keinginan Villia, Mih. Anak aku harus tampan atau cantik, tidak boleh ada air liuur yang berlimpah, Mih."


"Hahahaha, mami bercanda, Joe. Kenapa kamu serius-serius sekali, sih."


"Joe juga serius ini, Mih."


"Ya sudah sana kamu pergi, jangan kelamaan disini. Nanti anak kamu ileraan, baru tahu rasa kamu, Joe."


Sontak saja Joe berdiri dan melenggang pergi, "Joe pamit, Mih."


"Joe Joe Joe, kamu itu ada-ada saja. Putri mami, putri cantik mami, kamu dimana, nak? Mami kangen sekali sama kamu, semoga kelak kita bertemu dan kamu tidak marah dengan apa yang sudah mami perbuat padamu, nak. Bukan maksud mami membuang dan tidak mau merawat kamu sedari merah. Hanya saja, hanya saja mami tidak memiliki uang yang berlimpah juga kondisi keadaan sekitar yang tidak memungkinkan, mami tidak ingin kamu berada di tempat jaha nam ini, Nak. Semoga kamu tumbuh menjadi sosok yang cantik juga berhati lembut. Mami ingin sekali memeluk juga mengurus kamu dan membayar semua moment-moment yang hilang sedari kamu merah hingga saat ini, Nak. Maafkan Mami, Nak. Hiks hiks hiks hiks hiks."


Tumpah sudah air mata mami Veliz.


Hati ibu mana yang rela meninggalkan sang putri, yang masih merah. Bukan tanpa maksud, ataupun membenarkan semua ini. Tapi, mami Veliz memiliki alasan tersendiri.


...~~~...

__ADS_1


Di waktu bersamaan, Gadis masih menangis dalam kamar mandinya.


"Ibu, ibu, Gadis kangen, Gadis tidak kuat dengan semua ini....


__ADS_2