Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 68


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


Beberapa jam kemudian setelah si bos pergi ke kantor, sedangkan Gadis benar-benar tertidur hingga waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat.


Bibi Nam yang sedari tadi sudah berada di dalam kamar tersebut hanya duduk diam di sofa yang berada disana.


Sebelumnya, Bibi Nam sudah membawakan sarapan pagi untuk nyonya mudanya yang ia bawa menggunakan trolley.


Tetapi, si nyonya mudanya masih betah bergulung didalam selimut tebal tersebut.


Hingga beberapa kali si nyonya muda gusar dalam tidurnya, bergerak kesana-kemari.


Bibi Nam yang melihat semua itu menghampiri sang nyonya muda.


"Nyonya," Panggil Bibi Nam yang sudah duduk di tepian ranjang sembari sebelah tangannya mengelus rambut nyonya mudanya yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya.


"Hiiiiisssh," Gadis meringis sangat hebat, kedua matanya yang masih tertutup. Keningnya yang sudah berkerut, sedangkan sebelah tangannya mencengkram kuat-kuat perutnya.


"Nyonya, nyonya. Bangun, Nyonya!! Ada apa?" Bibi Nam memanggil kembali dengan suara yang sudah begitu khawatir.


"Hiiiiisssh, sakit Bibi." Sekali lagi Gadis meringis dengan sangat hebatnya.


"Buka matanya dulu, Nyonya. Dan bangun dengan perlahan-lahan, supaya Bibi bisa mengetahui apa yang sakit, Nyonya!"


Gadis pun bangun dengan kedua tangannya mempererat pegangan pada selimut yang menutupi tubuh polosnya itu.


Gadis pun bersandar pada kepala ranjang dengan wajah yang sudah mengalirkan keringat bercucuran.


"Mana yang sakit, Nyonya?" Sekali lagi Bibi Nam bertanya dengan tak kalah khawatirnya.


"Sakiiiit, Bibi!" Hanya itu yang keluar dari mulut Gadis, tangannya tak lepas mencengkram kuat-kuat perutnya yang sakit tersebut.


Bibi Nam pun mengelus perut Gadis, guna sedikit mengurangi kesakitan yang dirasakan oleh nyonya mudanya tersebut.


Ia tidak tega melihat wajah pucat dan keringat bercucuran itu.


"Apa nyonya salah makan?"


"Tii...tiiidak, Gadis belum makan. Ini sepertinya Gadis sedang kedatangan tamu bulanan, Bibi. Sakiiiit. Hiks hiks hiks," Keluh Gadis yang sudah meneteskan air matanya.


"Astaga, nyonya sedang 'merah'. Ya sudah, Bibi siapkan tali barut juga air jahe untuk mengurangi sakit,"


"Bibi, Gadis gak butuh tali. Gadis butuh pembalut." Ucapnya masih dengan wajah yang menahan kesakitan tersebut.


"Tali barut itu sama saja dengan pembalut, Nyonya muda."


"Bibi aneh-aneh aja, setau Gadis pembalut ya pembalut, Bibi." Masih saja Gadis berdebat dan Bibi Nam pun memberikan respon tak kalah hebatnya.


"Nyonya, nyonya. Anak muda jaman sekarang pasti tidak tau asal muasal kata tersebut."


Gadis hanya diam, menahan kesakitan. Bibi Nam terus saja berkata tidak pergi membawakan Gadis pembalut yang ia minta.


"Nyonya. Pembalut itu memiliki sinonim yang banyak sekali atau kata lainnya, Nyonya."


"Setau Gadis pembalut saja Bibi, atau yang suka dipakai ibu setelah melahirkan itu namanya tampon. Udah itu aja yang Gadis tau, Bibi."

__ADS_1


"Nah, Bibi akan sedikit memberikan penjelasan kepada, Nyonya. Tetapi, apa nyonya mau mendengarkan juga bisa menahan sakitnya?"


"Iya, Bibi. Bisa." Jawab Gadis masih mencengkram kuat perutnya.


"Jadi, yang bibi ketahui persamaan kata atau kata lain dari penyebutan dari pembalut itu kira-kira ada 29. Nyonya bisa menghitungnya jika tidak percaya. Bibi mulai yah, yang pertama tadi yaitu Tali Barut, Pembarut, Pembebat, Saput, Lapisan, Selaput, Perban, Pemalut, Pembungkus, Pengebat, Pengikat, Penyalut, Kebat, Berkas, Cekak, Pembelit, Pemikat, Penambat, Penali, Pelapis, Sampul, Sarung, Bebat, Penutup, Selubung, Penyadur, Ambet, Lampin, dan Popok, Nyonya." Ucap Bibi Nam panjang lebar menyebutkan beberapa kata lain dari pembalut tersebut.


Gadis menghitung kata-kata tersebut, benar saja. Ada 29 kata lain dari pembalut.


"HAH!!!! Popok juga masuk dalam kata lain pembalut, Bibi?" Gadis terkejut saat kata terakhir yang diucapkan Bibi Nam.


"Iya, Nyonya!" Jawab Bibi Nam antusias.


"Bibi hebat sekali, tau saja sejarah pembalut," Gadis sekali lagi terkesima dengan pengetahuan Bibi Nam yang ia saja tidak ketahui.


"Nyonya, itu bukan sejarah dari pembalut itu hanya beberapa kata lain dari pembalut,"


"Hehehe, beda yah, Bibi?" Ucap Gadis dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menghilangkan rasa malunya.


"Iya, beda. Jadi sejarah awal pembalut itu. Tapi, Bibi mau mengambil atau tidak ada Bibi membeli pembalut juga minuman hangat untuk, Nyonya."


"Gak apa, Bibi. Nanti saja, Gadis penasaran. Bibi, tolong kasih tau Gadis, supaya Gadis tidak bodih-bodih banget,"


Maaf ya, diplesetkan


"Baik, Bibi akan jelaskan yang setahu Bibi. Tapi, Nyonya juga bisa mencari semua itu didalam ponsel milik nyonya,"


"Bibi, Gadis kan gak punya ponsel," Jawab Gadis dengan wajah sendunya.


Benar ia tidak memiliki ponsel, karena ponselnya tertinggal di rumah kedua orang tuanya yang sudah lama tidak ia kunjungi.


"Kasian sekali nyonya muda tidak memiliki ponsel di zaman seperti ini," Gumam Bibi Nam.


Gadis hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.


Bagaimana ia meminta sebuah ponsel, ia meminta pulang dan hidup bebas dari jerit si laki-laki laknadd itu saja tidak diberikan.


"Ah, lupakan saja nyonya. Nanti bibi kasih pinjam ponsel Bibi untuk nyonya muda gunakan," Bibi Nam mengalihkan pembicaraan.


"Gak usah, Bibi. Gadis juga gak butuh, buat apa juga Gadis punya ponsel. Nomor sahabat aku aja gak tau dan gak ingat." Wajah Gadis sedih sekali.


"Sudah, sudah gak boleh sedih-sedih. Bibi akan jelaskan sejarah dari pembalut, nyonya dengarkan baik-baik, oke!" Ucap Bibi Nam dengan sedikit candaan untuk mengalihkan suasana sedih di wajah nyonya mudanya itu.


"Iya, Bibi. Cepat jelasin, Gadis udah gak sabar." Ucap Gadis dengan memperbanyak posisi duduknya yang lebih dekat untuk mendengarkan semua penjelasan Bibi Nam.


Sebelumnya, Bibi Nam memberikan senyumnya pada nyonya muda. Setelahnya ia menjelaskan.


"Perempuan di dunia selalu memperingati International Women's Day pada 8 Maret. Bebicara tentang penemuan yang mengubah dunia perempuan, salah satunya adalah pembalut menstruasi." Bibi Nam melihat reaksi nyonya muda, kemudian melanjutkan kembali penjelasannya setelah melihat sang nyonya masih menikmati penjelasanya, "Tak bisa dipungkiri, pembalut sekali pakai adalah teknologi yang mengubah cara seluruh perempuan di dunia menangani 'tamu bulanan mereka. Tapi tentu saja, pembalut sekali pakai tidak begitu saja tercipta. Ada sejarah panjang tentang benda yang satu ini."


"Apa, Bibi?" Tanya Gadis yang masih fokus menikmati semua penjelasan Bibi Nam.


"Masa Kuno dalam sejarah, pada awal abad ke-4 di Yunani Kuno, pembalut pra-modern telah digunakan. Saat itu, perempuan menggunakan kain untuk menampung darah kewanitaannya. Selain kain, mereka juga menggunakan kapas atau wol domba dalam pakaian mereka untuk membendung aliran darah menstruasi..."


Penjelasan Bibi Nam terpotong karena Gadis sudah lebih dulu memotong.


"HAH!!!! Kain wol, Bibi?"


"Iya, Nyonya. Bibi lanjutkan ya, Nyonya."

__ADS_1


Gadis hanya menganggukkan kepalanya.


Bibi Nam kembali melanjutkan penjelasannya.


"Pemikir Yunani terkemuka Hypatia bahkan melemparkan kain bekas menstruasi tersebut kepada para pengagum laki-lakinya untuk mengusir mereka. Sebaliknya di China, para perempuan menggunakan kain yang diisi pasir sebagai pembalut menstruasi. Ketika kain itu cukup basah, mereka akan membuang pasir dan mencuci kainnya. Di masa Mesir Kuno, para perempuan menggunakan papirus sebagai alas haid mereka. Sebelum digunakan, papirus direndam dalam air terlebih dahulu." Ucap Bibi Nam panjang lebar.


Gadis dengan fokus mendengarkan semua penjelasan dari Bibi Nam.


"Bibi, papirus apaan. Aku gak tau sama sekali bahasa itu,"


"Baik," Jawab Bibi Nam sembari mengelus punggung tangan nyonya mudanya itu, "Papirus atau Papyrus nama ilmiah ; Cyperus papyrus adalah sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan untuk membuat kertas pada zaman kuno. Tanaman ini umumnya dijumpai di tepi dan lembah Sungai Nil. Kira-kira 3500 SM, bangsa Mesir Kuno sudah memanfaatkan papirus. Mereka pada saat itu membuat kertas dari kulit-kulit tipis atau kulit-kulit halus papirus, sebelum kertas ; seperti yang kita kenal sekarang, ditemukan."


Suara tepuk tangan memenuhi ruangan tersebut.


Prok


Prok


Prok


Prok


"Woaaah, Bibi hebat sekali!!!!" Puji Gadis dengan semangat, "Bibi keren, Gadis saja tidak tau sejarah dan kata lain dari pembalut,"


"Nyonya bisa saja, banyak kok di internet."


"Tapi, pengetahuan Gadis sedikit. Gadis juga malas buka-buka internet. Gadis sukanya liat-liat orang-orang makan, itu loh Bi. Yang muk muk gitu,"


"Hahaha, muk muk apa, Nyonya,"


"Itu, muk muk orang makan-makan di vidioiin, Bibi."


"Mukbang, Nyonya. Bukan, muk muk." Jawab Bibi Nam terkekeh.


"Hahaha, iya itu. Ah, jadi malu Gadis."


Mereka pun tertawa. Gadis pun turut menertawai kebodohan yang ia ucapkan.


"Bibi tinggal dulu, Nyonya. Bibi mau ambilkan pembalut juga buatkan nyonya minuman hangat. Lebih baik nyonya muda mandi terlebih dahulu, apa mau bibi siapkan air rendaman?"


"Tidak usah, Bibi. Biar Gadis saja yang siapkan, bibi ambilkan aja pembalut untuk Gadis. Maaf ya Bibi, bukannya menyuruh. Gadis minta tolong." Ucapnya dengan mata indahnya.


"Iya, Nyonya."


Bibi Nam pun segera bergegas meninggalkan kamar tersebut untuk mengambil pembalut juga membuatkan minuman hangat untuk nyonya mudanya.


Gadis pun bangkit dari ranjang, dan ia menolehkan matanya keatas ranjang.


Disana, sudah ada bercak darah yang sudah menempel.


"Astaga, darahnya sudah nembus lagi ke ranjang. Lebih baik aku segera mandi,"


Gadis pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaannya semalam bersama si laki-laki laknadd itu. Juga untuk membersihkan tubuhnya yang lengket dari keringatnya.


...~...


...T4 update, ada yang masih mau mampir, baca juga ninggalin jejak like koment gak yah😔...

__ADS_1


...HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘...


__ADS_2