
...LIKE DULU DONG!!!!...
...~...
Di saat si bos tengah merutuki kebodohannya yang telah membuat Gadis celaka hingga tak sadarkan diri hanya bisa menyesal dan selalu mengucapkan kata maaf tanpa ada jawaban dari Gadis.
Hingga beberapa menit Bibi Nam datang dengan membawa kompres dengan air hangat juga membawa kotak P3K yang berisikan obat-obatan didalamnya dengan menggunakan troli.
Bibi Nam pun mengetuk pintu kamar tuan mudanya, dan di persilahkan masuk oleh si tuan muda.
"Tuan."
"Emm" Hanya deheman yang ia berikan
"Ini semua yang Tuan minta." Ucapnya dengan menyerahkan kotak P3K.
"Taruh saja, Bibi." Ucapnya lagi tanpa mengalihkan pandangannya pada Bibi Nam.
Bibi Nam diam dan bingung, katanya taruh saja, taruh dimana. Tapi Bibi Nam meletakkan tepat di depan kaki ranjang.
"Tuan, apa nyonya muda tidak dipakaikan pakaian terlebih dahulu." Tanya Bibi Nam karena melihat pundak Nyonya mudanya tidak berbalut kain.
"Ambilkan saja pakaian Mamih yang sekiranya muat di badan wanitaku, Bibi. Dan jangan lupakan beserta dalamnya." Sekali lagi dia tidak mengalihkan pandangannya pada Bibi Nam.
"Baik, Tuan. Bibi segera mengambil dan mengantarkannya kepada tuan."
Bibi Nam segera pamit dan berjalan menuju lantai 2 tepatnya kamar Tuan dan Nyonya Besar Bos nya.
Jika Bibi Nam sedang mencari pakaian yang cocok untuk Gadis, berbeda dengan si Bos yang tengah mengobati kepala belakang Gadis yang terluka hanya dengan seadanya saja.
"Maafkan aku, honey. Bukan maksudku untuk mencelakai kamu...tapi ini diluar kendaliku, aku lost control dengan apa yang aku perbuat, maafkan aku sekali lagi." Ucapnya sembari mengobati luka itu hanya seadanya saja.
...~...
Lantai 2, tepatnya kamar Tuan dan Nyonya Besar Bos pun Bibi tengah berada.
Mencari-cari pakaian dari potongan kemeja , blouse atau dress yang cocok untuk di tubuh ramping nyonya mudanya tersebut.
Akhirnya iya menemukan dress yang lumayan panjang jika dikenakan oleh nyonya mudanya, karena nyonya besarnya tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan nyonya mudanya tersebut. Dress tersebut dengan lengan seperempat juga berwarna pastel disertai motif bunga di seluruh dress tersebut, tidak ketinggalan mencari br* yang sesuai dengan ukuran nyonya mudanya walau Bibi Nam hanya mengira-ngira saja serta tak lupa dalaman celana.
Sepasang sandal serta aksesoris rambut pelengkap pun tak luput dari pandangan Bibi Nam.
Semuanya sudah siap ia segera kembali ke kamar tuan mudanya dan menyerahkan semuanya.
Kembali ia mengetuk pintu kamar tersebut dan tuan mudanya memberikan izin lalu masuklah Bibi Nam dan hendak memberikan tawaran untuk memakai pakaian tersebut pada nyonya mudanya.
"Tuan, ini Bibi sudah bawakan dress yang lumayan cukup di badan nyonya muda dengan br* juga ****** ********, ah iya dengan sepasang sandal juga aksesoris rambut pelengkapnya, biar saya bantu bantu saja, Tuan?" Bibi menawarkan dirinya.
"Tidak usah Bibi, biar saya saja. Bibi bisa bersihkan kekacauan ini dan jangan sekali-kali menolehkan wajah untuk sekedar mencuri pandang pada wanitaku yang belum berpakaian lengkap ini."
"Baik, Tuan." Bibi Nam pun segera melaksanakannya tanpa mau berdebat terlebih dahulu.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Gadis sudah mengenakan pakaian di tubuh rampingnya itu.
__ADS_1
Dalam keheningan pun Bibi Nam bertanya sembari merapikan semua yang terlihat kacau.
"Tuan? Apa sebaliknya nyonya muda dibawa ke rumah sakit atau saya panggilan Dokter Brand?" Tanya Bibi Nam.
"Tidak, Bi. Aku sudah suruh asisten Roy datang kesini."
"Hah, kenapa asisten Roy yang dipanggil, memang asisten Roy seorang yang bisa tau apakah luka yang didapatkan oleh nyonya muda tidak berbahaya, tuan ini ada-ada saja." Hanya mampu bermonolog dalam hatinya.
Bibi Nam yang tidak paham maksud Tuan mudanya pun diam dan tidak menanyakan lagi.
Suasana hening kembali, karena tidak ada lagi pertanyaan dan Bibi Nam hanya bingung membersihkan apalagi karena sudah bersih dan rapi. Ingin keluar dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda tapi ia takut kena amukan lagi, jadilah Bibi Nam hanya diam dan berpura-pura sibuk saja.
...~...
Halaman rumah mansion mewah pun kedatangan mobil yang sudah asing lagi yaitu mobil asisten Roy.
Asisten Roy pun menapakan kakinya untuk pertama kali ke rumah utama bos nya itu sesuai dengan perintahnya si bos alias tuan muda mansion mewah ini.
Segera ia turun dari mobil yang ia kendarai sangatlah cepat.
"Siala**n...dia taunya hanya menyuruh datang cepat tidak tau aku lagi banyak berkas-berkas dokumen yang harus aku kerjakan karena dia tidak ingin berjauhan dengan wanitanya, cih."
Asisten Roy terus menerus mengeluh dan mengumpat kan kata-kata kasar pada bosnya karena ia tengah sibuk dengan pekerjaannya akhir-akhir ini, tapi si bos seenaknya menyuruh ia datang ke mansion mewah ini tanpa mau ditolak.
Langkah demi langkah ia tapaki hingga ia berada di lantai 3 tepatnya di depan pintu kamar bosnya tersebut.
Tak lupa ia mengetuk pintu terlebih dahulu, salah-salah ia tanpa permisi akan terkena cacian juga amukan.
"Masuklah, Roy!" Suara perintah dari si empunya kamar.
Asisten Roy pun perlahan memegang hendel pintu dan terbukalah pintu kamar bosnya dengan perlahan.
Disana ia tengah melihat Bibi Nam yang ia tahu sedang berpura-pura merapikan semua kekacauan didalam kamar tersebut, karena ia dapat lihat semua sudut sudah rapi dan berisih.
Sedangkan bosnya tengah duduk di tepian ranjang dengan tangan masih menggenggam erat tangan wanitanya.
"Bos."
Panggilnya sembari berjalan mendekatkan sedikit kearah bosnya itu dan sebelumnya ia sudah menyapa Bibi Nam terlebih dahulu dengan anggukan kepalanya.
"Bagaimana, apakah masih bisa diundur jadual meeting hari ini?"
"Tidak bisa, Bos. Mereka sudah memberikanku kelonggaran waktu, takut-takut mereka akan membatalkannya."
"Baiklah, apa boleh buat ini juga demi masa depan dan jika Papih tau aku akan kena amukannya lagi, dan lagi-lagi akan membahas masalah yang membuatku muak."
"Baik, Bos. Bos apakah nyonya muda seharusnya segera kita bawa ke rumah sakit, karena lukanya berada di belakang kepala, Tuan?"
"Tadi sudah aku obati dengan seadanya saja, tapi kau suruh Dokter Brand datang kesini dalam waktu tidak lebih dari 30 menit dan suruh dia bawakan semuanya. Paham."
"Siap, Bos."
Asisten Roy sudah mengerti kata 'bawakan semuanya' tertuju pada alat-alat penunjang jika benar Gadis butuh dijahit ataupun kekurangan cairan dan perlu diberikan suntikan cairan vitamin juga infus.
__ADS_1
"Kau duduk saja di sofa dan Bibi Nam segera gantikan aku disini dengan mengelus rambut wanitaku, aku ingin mandi dan bersiap-siap."
Tidak membutuhkan waktu lama si Bos pun keluar sudah dengan bathrobe segera ia menuju walk closet yang tidak diketahui oleh Gadis.
Bersamaan keluarga si Bos dari walk closet, Dokter Brand pun sudah datang dengan di dampingi salah satu perawat.
"Apalagi yang kau lakukan, sud..."
Belum selesai berbicara pun ucapan Dokter Brand sudah dipotong oleh si tuan muda.
"Kerjakan yang semestinya kau kerjakan sesuai dengan profesi pekerjaanmu, tanpa perlu mengurusi urusan pribadiku."
Asisten Roy yang tadinya fokus mengerjakan sesuatu dalam ponselnya pun segera berdiri dan memasukkan kembali ponselnya kedalam jasnya. Ia pun sudah berada di samping si Bos alias tuan mudanya itu.
"Cih." Umpat Dokter Brand.
Walau berdecih Dokter Brand pun segera mengeluarkan peralatan-peralatannya.
Dari mengukur tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu, mata, dan terakhir hendak membuka dress Gadis pun untuk mengecek perut Gadis, sudah lebih dahulu di tepis oleh si Bos.
"Kau mencari-cari kesempatan, itu tidak usah kau yang lakukan. Hanya aku yang boleh melakukannya."
"Cih, posesif."
"Baiklah, aku malas berdebat denganmu. Hasilnya sejauh ini dia lumayan kelelahan juga kurang cairan dan.." Sengaja ia memberikan jeda.
"Dan apa, bod**oh" Si Bos sudah tak sabar dengan ucapan Dokter Brand.
"Dan...Dan ku pastikan ia mengalami sedikit depresi. Sebenarnya apa yang kau lakukan dengan wanita secantik ini." Ucapnya sekilas melihat wajah Gadis yang benar-benar cantik.
"Ku congkel matamu, jangan kau pandang wanitaku, sudah berikan ia cairan infus atau apalah dan buat ia sehat lagi, segeralah!"
"Iya-iya."
Dokter Brand pun segera memasangkan infus yang didalamnya sudah berisikan vitamin yang di butuhkan oleh Gadis.
"Sudah, aku malas berlama-lama denganmu yang emosian. Suster Neli bergegaslah kita untuk pergi dari sini."
Suster ber-name tag Neli pun merapikan alat-alatnya kedalam tas yang ia bawa.
"Sudah semua, Dokter Brand."
"Kau turunlah terlebih dahulu, Suster Neli."
"Baik, saya permisi Dokter, Tuan juga Bibi Nam."
Suster Neli sudah beberapa kali datang ke mansion mewah ini dan juga sedikit tau tentang Bibi Nam dari Dokter Brand.
Suster Neli pun sudah meninggalkan 3 pria dewasa juga 1 wanita paruh baya.
...~...
Mohon beritahu T4 kalau ada kata-kata yang tidak bagus juga salah dalam pengetikan yah.
__ADS_1
...Terimakasih....