
Malam pun datang, kini semua keluarga anggota Beklerken sudah duduk dengan hening.
Hidangan makanan sudah disajikan oleh bibi Nam dan yang lainnya.
Hanya suasana keheningan yang terasa di ruang makan tersebut.
Karena beberapa menit, bahkan jam yang lalu.
Mereka masih sibuk dengan pertikaian-pertikaian mengenai hubungan Deon dan Gadis.
Yang paling menentang ialah sang tuan rumah BEKLERKEN, Papi Gilberto Bahari Beklerken.
Ia dengan terang-terangan tidak menyukai Gadis.
Tetapi, karena sang istri yang marah dan merajuk tidak akan tidur satu kamar ia pun hanya bisa pasrah.
Walau pada kenyataannya, ia mempunya seribu, bahkan berjuta-juta cara untuk Gadis tidak menjadi menantu dari keluarga BEKLERKEN.
"Makanan sudah tersaji semua, tuan, nyonya." Ucap bibi Nam memecah keheningan yang ada di ruang makan itu.
"Terima kasih, Bik. Bibi dan yang lain silahkan makan juga," Jawab mami Anggiya.
Bibi Nam dan yang lain pun pamit menuju dapur.
"Sayang, Gadis," Panggil mami Anggiya.
Gadis yang sedari tadi menundukkan kepalanya, karena ia takut bersitatap dengan papi Berto pun akhirnya mengangkat kepalanya dan menjawab, "I-iiyaaa, Mom."
"Makanlah, jangan malu-malu,"
"Em,"
__ADS_1
Semuanya pun makan dengan suasana yang hening.
Sedari tadi papi Berto hanya diam dan mengamati situasi, ia tidak akan gegabah.
"Sabar, kalau aku marah-marah, membuat suasana ribut, yang ada istri ku marah dan aku akan berakhir tidur sendirian. Lebih baik aku diam saja. Tunggu tanggal mainnya, jalangg sial-and" Gumam papi Berto dalam hatinya.
Mami Anggiya pun menyuruh sang putra untuk mengambilkan beberapa lauk juga sayur kedalam piring sang calon menantu.
Ia ingin suasana rumah ini dan tepatnya, suasana saat makan malam di ruang makan terasa hangat, tidak ingin adanya huru-hara seperti beberapa jam yang lalu.
Beberapa menit sudah mereka sudah menyelesaikan makan malam, kini mereka sudah berada di ruang keluarga dengan berbincang ditemani cemilan juga minuman hangat.
"Deon," Panggil sang mami membuka percakapan.
"Iya, Mih,"
"Lebih cepat kamu urus semua pernikahan kamu dengan Gadis. Mami juga sudah menelpon opa dan oma, jika kamu akan menyelenggarakan pernikahan,"
Ia sudah berjanji untuk tidak akan satu kamar dan melakukan hubungan suami istri dengan Gadis sebelum mereka menikah.
Tetapi, siapa yang tahu itu?
Janji tinggal janji
Janji hanya di mulut saja
Tetapi, semoga saja Deon benar-benar melakukannya dan tidak berdusta dengan sang mami.
Sedangkan papi Berto, ia pun sudah pasrah walau semua rencana yang ia susun masih ia simpan rapi dan akan ia keluarkan disaat yang tepat.
Deon menganggukkan kepalanya, sedangkan Gadis seperti biasa, ia akan diam jika tidak ditanya. Tak lupa, Gadis pun menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dan mulai urus semua, jika urusan gaun pengantin dan juga cincin nikah kalian, biar urusan mami. Mami nanti akan ditemani oma. Dan juga kita harus meminta pendapat dari Gadis. Iya kan, Sayang!" Mami Anggiya pun menoleh kearah Gadis juga meminta jawaban dari Gadis, sedangkan Gadis, ia terlalu larut dalam lamunannya.
Sehingga semua atensi mengarah kearahnya.
"Honey," Panggil Deon yang berada di samping Gadis, ia sentuh lengan tangan calon istrinya itu.
"Ah, iya," Jawab Gadis terkaget.
"Kamu kenapa? Melamun?" Tanya sang mami.
"Aaa-aku, tidak melamun kok, Mom."
"Oh," Mami Anggiya yang tahu hanya ber-oh-ria saja, "Selagi kita menunggu Deon mempersiapkan semuanya. Kalau opa dan oma datang, kamu." Tunjuk mami kepada Gadis. "Kamu, mami dan oma akan fitting baju pernikahan. Semoga ada yang cocok sama kamu. Mami udah gak sabar." Mami Anggiya terlalu excited dengan semuanya.
Ia sudah terlalu lama menunggu saat dimana sang putra akan menikah.
Ia tidak akan kolot dalam menentukan calon menantunya itu.
Ia tidak terlalu memilih.
Karena, mami Anggiya sadar ia siapa dahulunya, ia tidak mau membuat calon menantunya itu tidak nyaman dekat dengan dia juga keluarganya.
Mami hanya ingin, ia, suami, anak dan calon menantunya itu dekat tidak ada celah saling menyakiti satu sama lain.
Karena ia sejak masih duduk di bangku menengah atas, sudah ikut kedua orang tuanya untuk bekerja di rumah utama di kawasan HG Elit.
Dan di sana, majikan kedua orang tuanya, yang tak lain Daddy dan Mommy Gilberto Bahari Beklerken sangat sayang kepadanya.
"Semoga keluarga kelak menjadi keluarga yang haru, hangat dan saling merangkul satu sama lain. Layaknya, daddy Ghazam dan mommy Wulan. Aamin." Doanya dalam hati.
Papi Berto hanya diam, "Sia-l, kenapa juga Sweetheart terlalu antusias seperti itu. Lihat saja, akan ku buat kau...jalangg sial-and tidak betah berada di kediaman BEKLERKEN." Gumamnya dalam hati.
__ADS_1