
...LIKE DULU DONG!!!!...
...~...
Seharian ini Gadis hanya berada di dalam kamar, bergulung di dalam selimut tebalnya.
Perutnya sedari tadi tidak bisa diajak kompromi, selalu saja sakit dan terasa melilit.
Gadis selalu meringis dan ingin menangis, jika saja tidak ada Bibi Nam yang memberikan pijatan lembut pada area perutnya serta menenangkan nyonya mudanya itu.
Seperti sekarang ini waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore hari waktu setempat, Bibi Nam berinsiatif membawakan makan malam juga segelas air yang sudah ia buat dari berbagai macam rempah-rempah untuk di minum nyonya mudanya.
Ia berharap semoga dengan ia membiarkan minuman dari segala rempah yang menurutnya layak untuk dijadikan minuman hangat dan berharap juga nyeri dan sakit di bagian area perut nyonya mudanya dapat berkurang.
"Nyonya," Panggil Bibi Nam yang sudah membuka sedikit pintu kamar majikannya tersebut dengan kepala yang ia masukkan sedikit, karena beberapa jam lalu Gadis mengatakan jika Bibi Nam mau masuk untuk mengantarkan makanan atau minuman masuk saja tanpa mengetuk pintu. Karena Gadis benar-benar malas untuk membukakannya ataupun mengeluarkan suaranya hanya untuk menjawab panggilan dari Bibi Nam.
Sungguh perutnya sangat sakit, tidak biasanya ia mengalami datang bulan yang lebih menyakitkan dari bulan-bulan sebelumnya.
"Heem," Hanya gumaman yang terdengar dari mulut Gadis.
"Bibi bawakan makan malam, bibi paham pasti nyonya sulit untuk berjalan. Jadi, bibi bawa makan malam juga minuman dari berbagai jenis rempah-rempah, semoga saja dapat mengurangi rasa nyeri di perut, Nyonya muda,"
Lalu Bibi Nam segera mendorong trolley tersebut untuk dekat dengan nyonya mudanya.
Bibi Nam sudah duduk di tepian ranjang dengan sudah memangku sepiring kecil potongan buah pepaya serta menu lauk yang bibi Nam bawakan adalah potongan daging sapi yang di potong dadu dengan bawang bombai juga dilumuri kecap manis, bibi Nam juga membuatkan sup daging bening dengan beberapa potongan wortel juga brokoli di dalamnya, tak lupa juga jus yang dibuat bibi Nam dari tomat wortel dan juga sedikit perasan lemon menambah cita rasa jus tersebut.
"Nyonya, ayo makan dulu."
Bibi Nam segera membantu sang nyonya mudanya untuk bersandar di kepala ranjang, sungguh Gadis malas untuk menanggapi semua ucapan bibi Nam.
Alhasil, hanya anggukkan kepala saja yang Gadis tunjukkan.
Segera Bibi Nam menyuapi nyonya mudanya dengan beberapa potongan buah pepaya.
Gadis hanya diam dan membuka mulutnya, karena ia juga lapar.
Setelah memakan buah pepaya dan minum jus tomat beserta kawan-kawannya. Gadis yang hendak tidur pun di larang bibi Nam, karena bibi Nam akan menyuapi dia makanan utamanya.
Hanya bisa pasrah dan membuka mulutnya saja.
Suapan demi suapan bibi Nam berikan pada nyonya mudanya, ia berharap dengan dibuatkannya kembali minuman dari berbagai jenis rempah-rempah dapat segera mengurangi nyeri yang melanda nyonya mudanya tersebut.
Bukan karena ia takut akan di marahi oleh tuan mudanya, melainkan ia paham dan mengerti sakit yang dialami nyonya mudanya itu. Karena sangat- sangat menyakitkan.
"Tenang dan rileks, Nyonya. Bibi paham dan juga pernah merasakan nyeri dan juga sangat, pada saat kedatangan tamu bulanan seperti ini. Semoga dengan makan juga meminum air dari berbagai jenis rempah-rempah dapat mengurangi walau hanya sedikit saja." Kata-kata penenang yang bibi Nam ucapkan pada nyonya mudanya itu.
Sekali lagi, Gadis hanya bisa diam dan memberikan senyuman di bibirnya pada bibi Nam.
"Bibi pijit-pijit perut nyonya, nyonya bisa segera tidur. Semoga dengan tidur dapat mengurangi nyeri dan sakit ini,"
Segera bibi Nam memijat lembut area perut nyonya mudanya itu, sedangkan Gadis segera memejamkan kedua matanya, karena ia merasakan perih teramat perih.
"God, kasihan sekali nyonya muda aku ini, hanya sebatang kara. Kedua orang tuanya sudah meninggal tak ada sanak saudara yang ia miliki, di tambah ia harus berurusan dengan tuan muda yang dikenal dengan sifatnya yang pemaksa juga mudah sekali tersulut emosinya. Kasihan sekali anak yatim-piatu di hadapan aku ini, God." Gumam Bibi Nam dalam hatinya sembari salah satu tangannya masih memijat lembut area perut nyonya mudanya itu.
"Nasib nyonya hampir mirip dengan bibi, bibi juga sekarang sebatang kara. Tidak ada anak juga suami bibi, hanya orang-orang yang bekerja di mansion mewah ini saja yang sudah bibi Nam anggap sanak saudara juga nyonya sudah bibi anggap sebagai putri kandung bibi. Bibi berdoa semoga kehidupan di masa depan nyonya bersama tuan muda bahagia, terutama tuan besar juga nyonya besar merestui hubungan kalian yang tak lazim ini. Dimana tuan muda memaksakan kehendaknya, dari menculik juga memperkosaa nyonya muda dengan tidak berperikemanusiaan juga tidak mengizinkan nyonya muda keluar dari mansion ini hanya untuk menghirup udara disekitaran sini. Semoga hidup nyonya muda bahagia dan nyonya muda dapat mencintai tua muda juga merubah sikapnya yang pemaksa dan mudah tersulut emosi. Hufffft," Sekali lagi bibi Nam berdoa dan berharap dalam hatinya kelak kehidupan yang akan dijalani nyonya mudanya bersama tuan mudanya itu bahagia dan dilimpahkan suka cita serta mendapatkan restu dari tuan besar dan nyonya besar kelak.
Amin
Di rasa nyonya mudanya sudah hanyut dalam mimpi, bibi Nam mengatur kembali selimut untuk menutupi tubuh nyonya mudanya hingga batas leher dan tak lupa mengatur suhu ruangan kembali.
__ADS_1
Setelah itu, bibi Nam memutuskan keluar dari kamar sembari membawa semua peralatan sisa makan dan meletakkannya diatas trolley dan mendorong trolley tersebut dengan hati-hati supaya sang nyonya muda tak terbangun akan suara yang ditimbulkan dari trolley.
Sungguh malang nasib nyonya mudanya itu.
...~...
Berbeda jauh keadaan di mansion mewah, tepatnya di kamar utama Tuan mudanya.
Kini sang tuan muda tengah duduk santai di sofa ruangannya dengan duduk bersila dan memperhatikan asisten Roy merapikan semua berkas dokumen yang berserakan dan memasukan beberapa berkas juga peralatan kerja si bosnya kedalam tas kerja untuk dibawa pulang.
"Dasar bos si**l*n, apa-apa selalu aku yang mengerjakan. Mana si Robin sudah lebih dulu pulang, dia benar-benar tidak mau membantuku, awas saja kau Robin besok pagi ku buat kau keteteran dalam mengerjakan beberapa berkas yang deadline," Keluh asisten Roy dalam hatinya, merutuki semua tingkah partner kerjanya yang tak lain sekretaris Robin.
Sekretaris Robin beralasan pulang cepat karena ia ingin menjemput kedua orang tuanya dari kampung.
Sungguh waktu yang tidak tepat, di saat ia harus berurusan kembali dengan bosnya yang moodnya sedang hancur berantakan.
"Sudah?" Tanya si bos yang sudah sangat lama menunggu asistennya itu merapikan semuanya.
"Sedikit lagi, Bos!"
"CK, lama sekali. Aku sudah tidak sabar melihat nyonya muda mu itu."
"Cih, bilang saja kau sudah berhasrat ingin menjamah tubuh nyonya muda, sok sokan bilang gak sabar liat nyonya muda. Dasar bos maniak se*s," Hanya dapat menggumamkan dalam hatinya berbagai kalimat celaan yang ia tuju kepada bosnya tersebut.
Setelah beberapa menit, meja kerja bosnya sudah rapi dan juga tas kerja pun sudah berada di salah satu tangannya asisten Roy.
Segera asisten Roy memberitahu bosnya dan membukakan pintu ruangan dan si bos pun melenggang pergi begitu saja.
"Hufffft, nasib nasib," Sekali lagi mengeluh dan mengeluh yang bisa dilakukan asisten Roy.
Berlari kecil, asisten Roy menekan tombol lift dan mempersilahkan bosnya masuk terlebih dahulu.
Sampai akhirnya mereka sudah berada di dalam mobil, dengan asisten Roy yang berada di belakang kemudi. Sedangkan, si bos sudah duduk diam dengan kedua matanya sudah tertutup.
...~...
Tanpa terasa mobil yang dikemudikan oleh asisten Roy sudah terparkir dengan rapi di mansion mewah, dengan si bos yang sudah tidak sabaran melihat nyonya mudanya berjalan ralat berlari dengan tergesa-gesa.
"Selamat sore, tuan muda," Sapa bibi Nam juga Yeni yang berpapasan dengan tuan mudanya sesaat ia menuruni tangga dengan trolley dan dibantu oleh Yeni.
"Hem," Hanya gumaman yang diberikan tuan mudanya.
Tuan mudanya mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang, sedangkan Yeni sudah lebih dulu berpamitan dengan bibi Nam untuk membawa trolley tersebut.
Sungguh Yeni tidak mau bertatap muka langsung dengan tuan mudanya itu.
Karena ia takut dan wajah tuan mudanya itu sangat menyeramkan dengan banyaknya tato di wajah tuan mudanya tersebut.
Seakan paham dengan tuan mudanya yang mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan ini, bibi Nam pun mengeluarkan suaranya.
"Nyonya muda baru saja tidur setelah saya bawakan makan malam, Tuan muda. Juga nyonya muda tengah sa....."
Belum sempat melanjutkan ucapannya, tuan mudanya itu sudah berlari menaiki tangga dengan sangat tidak sabaran.
"God, kebiasaan!!!! Bibi belum selesai berucap tapi tuan muda sudah berlari saja, bibi mau bilang kalau nyonya muda tengah sakit akibat tamu bulanannya. Semoga tuan muda tidak meminta jatah kepada nyonya mudanya."
Setelah bermonolog sendiri, bibi Nam kembali berjalan menuju dapur dan memantau situasi dapur.
Sedangkan di lantai 3, tepatnya kamar tuan muda.
__ADS_1
Ia sudah membuka pintu dengan tidak sabaran dan terdengar bunyi seperti benda yang terjatuh.
BRAAAAAK
Tanpa melihat kearah pintu, Gadis sudah tahu siapa dalang dari pintu yang dibuka dengan tidak sabaran.
Yang tak lain si empunya kamar, tuan muda si laki-laki laknadd itu.
Gadis enggan membuka matanya ia benar-benar sakit dan capek untuk berurusan dengan laki-laki laknadd itu.
"Honey," Panggil si bos yang sudah duduk di tepian ranjang, "Bagaimana harimu hari ini, apa saja kegiatan mu. Kau tau aku sangat merindukan dirimu, Honey!!!!" Tanpa aba-aba si bos pun menarik paksa Gadis dan mendudukkannya dipangkunya.
Gadis hanya diam dan malas membuka matanya.
"Honey, buka matamu!!!!" Sarkasnya.
Gadis pun membuka kedua matanya dengan terpaksa dan sekali lagi ia hanya diam dan menuruti semua keinginan laki-laki laknadd itu.
Cuuuup
Ciuman panas diberikan si bos di bibir ranum milik Gadis, Gadis hanya diam tak membalas ataupun menolak.
Hingga tangan si bos sudah bermain-main dengan kedua benda kenyal gantung milik wanitanya tersebut.
"Aaahhhhhhh," De**s**h*an pun lolos juga dari bibir Gadis.
Segera si bos memposisikan kembali Gadis telentang dengan ia membuka paksa kain yang melekat di tubuhnya, sedangkan Gadis hanya diam dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
Hingga si bos sudah bertelanjang dengan polos.
Terpampang jelas si lontong sudah berdiri tegak dan kokoh, hingga ia menunggu giliran masuk menuju Goa milik Gadis.
Si bos dengan segera menindih wanitanya, ciuman dibibir pun langsung saja ia berikan sangat rakus juga panas sembari salah satu tangannya membuka semua pakaian yang melekat di tubuh Gadis dan hanya tersisa dalaman saja.
Setelah puas menciumi, mel***m*at dan menyes**a**p puas bibir ranum milik Gadis ia mencari pengait br** milik Gadis dan langsung saja ia his***p dan sesekali menggigit ujung pu***ing milik Gadis hingga.
"Aaaaaaahhhhhhhhhhh," Terus dan terus Gadis mende***s**h sangat hebatnya merasakan desiran yang sudah beberapa kali ia rasakan selama laki-laki laknadd itu menyetubuhinya.
"Aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh," Dessah panjang itu akibat si bos menggigit ujung pu***ing milik Gadis dan tak lupa memberikan jejak cinta di bagian tubuh atas Gadis.
Hingga tangan si bos turun ke bawah hendak membuka cidi milik Gadis dan membuka cidi milik Gadis dan mendapati adanya kain pembungkus tebal diantara rimba Goa milik wanitanya tersebut.
"SHI********T, jangan bilang kau sedang datang bulan," Umpatnya yang mendapati adanya pembalut yang menutupi Goa milik Gadis
Gadis hanya menganggukkan kepalanya saja, ia sudah malas menanggapi umpatan si laki-laki laknadd itu.
"SHI***********T, aku mau kau puaskan aku dengan cara lain!!!" Langsung saja Gadis dipangku kembali dan sekali lagi mencium bibir Gadis dengan sangat brutal dan dapat dipastikan bibir Gadis bengkak dan berdarah karena di gigit paksa oleh si bos.
Tangan Gadis pun ia arahkan pada si lontong yang sudah berdiri tegak, "Kau puaskan si lontong, dengan tanganmu yang bergerak keatas bawah!!!! Perintahnya pada Gadis.
"A...aku gak bisa, tu....sayang." Dengan terpaksa Gadis mengeluarkan suaranya, karena ini sudah melebihi batas.
"Seperti ini," Ucap si bos sembari mengambil salah satu tangan Gadis dan mengarahkan pada si lontong dan menggerakan keatas bawah dengan tempo awal pelan dan lama kelamaan menjadi cepat dan berhasrat.
"Aaaaaaaahhhhhhh, lebih cepat lagi, Honey. Aku tidak taaaahaan," Des****h si bos yang merem melek kedua matanya karena tangan Gadis yang sudah mengocok si lontong dengan sensu**al.
"Aaaaaaaaaaaashhhhhhhhhh," Pelepasan pun terjadi dan hingga beberapa menit sudah Gadis mengocok si lontong juga sudah banyak cairan kental berwarna kuning ia membasahi tangannya.
"Sayang, sudah ya. Aku...."
__ADS_1
...~...
...HEPİNİZİ SEVİYORUM...