
...LIKE DULU DONG!!!!...
...~...
Bibi Nam yang sudah berpakaian layak untuk pergi ke mall, yang sebelumnya sudah meminta saran kepada Fitri maupun Yeni pun. Kini tengah memasuki kamar utama Tuan mudanya.
Ia ketuk pintu tersebut, setelah menunggu jawaban dari kamar tak kunjung adanya jawaban.
Akhirnya, Bibi Nam memutuskan untuk masuk kedalam kamar tersebut.
Bibi Nam mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan didalam kamar tersebut, tampak sepi.
Ia bertanya-tanya kemana sang nyonya mudanya.
"Loh, kok sepi? Nyonya kemana? Masa iya masih berendam? Coba aku ketuk pintu kamar mandinya juga panggil, Nyonya."
Segera Bibi Nam menuju pintu kamar mandi, mengetuk juga memanggil sang nyonya mudanya tersebut.
"Nyonya....nyonya....." Panggil Bibi Nam sembari mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
Dirasa tidak ada jawaban, Bibi Nam kembali memanggil juga mengetuk pintu kamar mandi kembali.
"Nyonya....nyonya....nyonya apa masih berendam?" Panggil Bibi Nam dengan menaikan intonasi suaranya.
"Ah, iya Bibi, Gadis masih berendam ini ketiduran. Masuk aja Bibi, gak dikunci."
Segera Bibi Nam memegang handel pintu dan membukanya dengan perlahan-lahan.
"Astaga, nyonya." Pekik Bibi Nam mendapati nyonya mudanya masih berendam dengan posisi kepala bersandar di kepala bathup.
"Nyonya, sudah yuk kita bersih-bersih! Kulit nyonya sudah berkerut pasti sudah kedinginan, sini Bibi bantu."
Gadis hanya diam dan tidak menolak ucapan Bibi Nam.
Ia terlalu asik dengan berendamnya sampai lupa waktu.
"Nyonya, lain kali jangan seperti ini. Jika tuan muda sampai tahu, bisa bahaya Bibi. Ini juga apa karena nyonya menuangkan essentials oilnya jadi nyonya nyaman?" Ucap Bibi Nam panjang lebar sembari menggosokkan punggung sang nyonya muda dengan shower puff.
"Iya, Bibi. Gadis terlalu asik dan terlalu nyaman juga terbawa suasana rileks tanpa sadar sudah lama berendam, eh berakhir ketiduran. Tenang tuan muda Bibi gak akan marahin Bibi, nanti aku yang belain Bibi dari amukan si singa mecuum itu," Jawab Gadis dengan sedikit candaan.
"Nyonya ini bisa saja, ini sudah tinggal nyonya siram dengan air shower Bibi keluar dulu. Nyonya bisa kan!"
"Iya, Bibi bisa!"
Bibi Nam pun keluar dari kamar mandi, Gadis bangkit berdiri dan juga membuka tutup bathup untuk membuang air bekas berendamnya, kemudian ia membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa sabun yang ada pada tubuhnya dengan menggunakan shower.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Gadis keluar dengan menggunakan bathrobe.
"Ini pakaian yang bisa pilih. Apa nyonya suka?" Tanya Bibi Nam sembari menunjukkan pakaian itu kehadapan sang nyonya muda.
"Bagus, aku bawa dan ganti ke kamar mandi dulu, Bibi. Bibi disini dulu, bantu Gadis untuk berdandan cantik supaya gak malu-maluin pergi ke mall."
Tanpa menunggu jawaban Bibi Nam, Gadis masuk kedalam kamar mandi lagi guna memakai pakainya.
"Astaga, tuan suruh Bibi buat nyonya jangan dandan terlalu cantik dan nyonya minta didandani supaya cantik dan gak malu-maluin pergi ke mall. Astaga, ini buat Bibi pusing. Bibi harus ikutin kata-kata siapa, God." Bibi Nam pusing dengan kedua majikannya tersebut.
__ADS_1
Yang satu ingin wanitanya jangan berdandan terlalu cantik dan satunya lagi ingin tampil cantik supaya tidak membuat malu saat menginjakkan kakinya di mall yang akan mereka datangi.
Sungguh Bibi Nam berada diantara keputusan yang sulit.
Tapi, ia akan tetap mengikuti perintah sang tuan muda. Yakni, membuat nyonya mudanya tampil yang biasa tanpa membuat dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang. Serta tak membuat tuan mudanya murka atas dandanan sang nyonya muda yang terlalu mencolok dan menjadi pusat perhatian banyak orang tersebut.
Beberapa menit kemudian, setelah mendadani sang nyonya muda dengan natural.
Kini mereka sudah berada didalam mobil, dengan pak Githo yang mengendarai.
Bibi Nam duduk didepan samping pak Githo, sedangkan Gadis berada di kursi belakang penumpang.
Sebelumnya ia ingin Bibi Nam duduk bersamanya, tetapi Bibi Nam sudah mengatakan ingin duduk didepan bersama pak Githo supaya tidak mengantuk.
Tetapi itu hanya alasan Bibi Nam saja.
Mau tak mau Gadis duduk sendiri di kursi penumpang belakang saja.
Di belakang mobil mereka sudah ada beberapa mobil pengawal yang mengikuti mereka, tanpa mereka ketahui.
...~...
Hanya butuh 45 menit waktu tempuh yang mereka butuhkan menuju mall ternama di kota tersebut.
Kini Gadis beserta pak Githo sudah memasuki mall, sebelumnya pak Githo menggunakan layanan parking valet.
Tujuan pertama mereka ialah toko pakaian wanita.
Gadis tertarik dengan beberapa baju dan hendak mengambil untuk ia beli, tetapi setelah ia lihat harganya. Matanya membulat tak menyangka baju yang menurut dia sudah paling sederhana ia dibandrol dengan harga jutaan rupiah. Ia letakkan kembali baju tersebut, tetapi diam-diam Bibi Nam mengambilnya.
Terus dan terus mengelilingi toko pakaian tersebut, tetapi tidak ada yang diambil Gadis.
"Astaga ini kenapa baju-baju pada harganya diatas 2 juta? Gak ada gitu yang harga seratus ribuan gitu, padahal ada yang aku suka, kenapa baju saja seharga harga satu buah sepeda motor. Dasar orang kaya, hanya satu lembar baju saja segitu banyaknya mereka gelontorkan uang, lebih baik aku nanti ajak Bibi Nam juga pak Githo ke pasar tradisional saja untuk beli baju aku. Disana kan murah-murah juga bisa ditawar," Gumam Gadis dalam hatinya.
Gadis yang fokus dengan fikirannya tanpa tahu Bibi Nam sudah menuju kasir membayar semua baju-baju yang beberapa kali di pegangnya.
Pak Githo membantu membawakan barang belanjaan tersebut bersama Bibi Nam setelah semuanya dibayar.
Gadis yang tidak melihat jalan pun karena fokus dengan gerutuannya dalam hati, menabrak seorang perempuan paruh baya.
Bugh
"Maaf, Nenek." Ucap Gadis. Ia belum melihat wajahnya nenek tersebut karena ia sudah menundukkan wajahnya takut-takut ia terkena omelan sang nenek tersebut.
"Gadis!" Panggil nenek tersebut.
Seketika Gadis mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang ia tabrak juga memanggil namanya tersebut.
"Nenek Memey!!!"
Mereka pun hendak berpelukan, tetapi sudah lebih dulu dihadang pengawal si bos dengan berpakaian orang biasa.
Pengawal A : Maaf, jangan mendekat. Beri jarak kepada nyonya muda kami.
Nenek Memey yang refleks pun seketika menjauh dan wajahnya terlihat terlihat menegang.
__ADS_1
"Kalian siapa? Kenapa kalian menghalangi aku untuk memeluk nenek Memey? Nenek ini, neneknya sahabat aku, KENAPA!!!!"
Kesabaran Gadis habis sudah, ia berteriak.
Seketika pandangan orang-orang tertuju padanya, Bibi Nam juga pak Githo yang mendengar suara teriakan Gadis pun menghampiri arah suara tersebut.
"Nyonya ada apa?" Tanya pak Githo.
"Iya, nyonya ada apa? Kenapa teriak-teriak?" Timpal Bibi Nam dengan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Itu, ada beberapa orang yang menghalangi aku untuk memeluk nenek Memey, nenek ini neneknya sahabat aku Bibi. Neneknya Shaybila, Bibi ingat, kan!!"
Bibi Nam hanya menganggukkan kepalanya, ia kenal betul beberapa orang tersebut yang menyamar dengan pakaian orang biasa adalah para pengawal suruhan tuan mudanya.
Tiba-tiba saja suara perempuan melengking pun terdengar.
"Nenek, kenapa jalan sejauh ini dan kenap...."
Ucapannya terhenti, karena ia mendapati sahabat yang sudah lama ingin ia lihat dan ingin rasanya ia memeluk sahabatnya tersebut.
Dengan refleks ia berjalan mendekat dan lebih dulu ia dihadang kembali dengan pengawal lainnya.
Pengawal B : Nona, jangan mendekat. Anda siapa? Mundur!
"Minggir!!!!! Aku ini sahabat Gadis, bukan penjahat. Minggir!!!!!!" Kini Shaybila sudah kehabisan kesabarannya dan berteriak untuk bisa bertatapan langsung juga ingin memeluk sahabatnya itu.
Pengawal B : Nona jika anda mendekat se-inci lagi, nona akan berurusan dengan bos kami.
Ucapan pengawal B tersebut dekat telinga Shaybila, seketika Shaybila mundur dan wajahnya turut menegang.
Ia ingat semua ancaman dari si bos sok misterius itu, jika ia berani menampakkan wajahnya dihadapan sahabatnya tersebut.
Orang-orang yang ia sayangi akan dibunuh oleh si bos sok misterius itu.
"Nenek, ayo kita pulang! Kakek ayo kita pulang!" Ajak Shaybila dengan segera.
Gadis yang sedari tadi melihat itu semua, hanya bisa diam.
Ia pun sadar akan tindakannya yang melawan para pengawal, ia akan berhadapan dengan si bos.
Ia tidak mau Shaybila, nenek Memey juga kakek Mail terkena imbas dengan ia membangkang ucapan si bos tersebut.
Lamunan Gadis terhenti karena salah satu pengawal memberikan ponselnya dan hendak meminta Gadis menjawab panggilan tersebut.
Pengawal C : Nyonya, maaf. Bos ingin berbicara dengan nyonya muda!
Seketika tubuh Gadis menegang, dan tangannya bergetar dengan hebat.
"Si...siapa?" Tanyanya ulang untuk memastikan pendengarannya.
Pengawal C : Bos ingin berbicara dengan, Nyonya muda.
Ucap kembali si pengawal tersebut.
"Halo......
__ADS_1
...~...
...HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘...