
...LIKE DULU DONG!!!!...
...~...
Hari-hari berlalu, tanpa terasa sudah satu bulan Gadis berada di mansion mewah dan tidur bersama si bos.
Semua berjalan dengan baik, tetapi hubungan dia dan si bos tidak ada kemajuan, melainkan kerenggangan yang semakin tercipta diantara mereka.
Walau aktifitas bersenang-senang sudah jarang dilakukan si bos, tetapi tidur dengan bertelanjang polos antara si bos dan Gadis tak terlewatkan ditambah si lontong harus selalu masuk kedalam Goa milik Gadis tanpa ketinggalan pada saat malam tiba.
Seperti saat ini, tepatnya di pagi hari. Gadis sudah bangun terlebih dahulu dari si bos.
Ia mendapati tubuhnya kembali bertelanjang polos dengan si lontong masuk kedalam Goa miliknya, dan ia mencari pakaian yang semalam ia kenakan, nasib pakaian itu terongok di lantai dengan br** dan cidi yang serampangan berada.
Selalu dan selalu kebiasaan si lontong masuk kedalam Goa Gadis.
"Ish, kebiasaan. Gak seneng-seneng tapi si lontongnya masuk terus ke Goa milikku, mana pasti lengket banget, dan ini...Masih anget lagi si lontong, semoga aku lepas dia gak bangun," Keluh Gadis saat mendapati si lontong tetap bertengger didalam Goa miliknya dan masih terasa hangat.
Dengan perlahan-lahan ia melepaskan si lontong dalam Goa miliknya, hingga buliran-buliran keringat mengalir deras dari kening Gadis.
"Hufffft, buat ngelepasin si lontong aja buat aku keringetan, baik-baik dia bangun minta jatah lagi, gak kebayang aku di gempuur si lontong pagi pagi, sudah cukup lebih dari 2 minggu tidak meladeni si lontong, gak mau lagi aku di gempur dia, lebih baik aku cepetan mandi terus ke dapur bantuin Bibi Nam dan yang lainnya masak sarapan."
Dengan segera ia berjalan dengan santai tanpa malu tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya.
Toh, hanya ada dia dan si bos. Dan si bos juga masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Ia pun berjalan sembari memunguti semua pakaian beserta dalamnya untuk dimasukkan kedalam keranjang baju kotor.
Setelahnya ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket dari ulah si lontong.
Tak membutuhkan waktu lama Gadis sudah selesai mandi, kini dia masih dilapisi dengan bathrobe ditubuhnya.
Dengan terburu-buru ia berjalan menuju walk in closet, karena ia tidak si bos akan menerkam dia dan di perparah nanti ia akan disangka menggoda si bos dengan bathrobe yang melekat di tubuhnya tersebut.
Hitungan menit Gadis sudah menggenakan dress rumahan yang tidak terlalu mencolok, di tangannya ada bathrobe bekas ia gunakan dan meletakkannya di keranjang baju kotor.
Merias wajahnya sedikit dengan mengoleskan krim tabir surya atau sunblok di wajahnya untuk menghalangi pengaruh cahaya matahari yang dapat merusak kulit
atau sinar ultraviolet dari matahari sehingga tidak mengalami bakaran matahari pada kulit wajah.
Tak lupa ia berikan polesan sedikit lipbam supaya bibirnya tidak kering, sedikit menyemprot setiap sudut tubuhnya dengan parfum yang sudah tersedia di meja rias tersebut.
Saking asik merias wajah dan tubuhnya Gadis sampai lupa dengan rambutnya yang masih mencuat bak rambut singa.
"Oh My God, aku sampai lupa untuk menyisir rambutku yang seperti singa ini, hahaha. Saking asiknya ini mencoba semua alat make up disini, aku jadi lupa menyisir rambutku,"
Langsung saja ia sisir rambutnya, setelahnya ia bergegas keluar dari kamar menuju dapur, untuk membantu Bibi Nam dan asisten rumah tangga yang lainnya.
__ADS_1
...~...
Di Dapur
"Pagi semua!" Sapanya kepada Bibi Nam dan keempat asisten rumah tangga yang lainnya.
"Pagi juga nyonya," Jawab Bibi Nam dan keempat asisten rumah tangga lainnya.
"Kamu aja sana yang anterin ini kopi sama camilannya," Suara Fitri terdengar.
"Ish, kamu aja yang nganterin, kemarin-kemarin aku udah ya, kamu tuh belum," Timpal Yeni.
Kini duo FY berulah kembali, Gadis yang melihat pertengkaran kecil itu hanya bisa melonggo saja, tanpa mau ikut campur.
"Kalian ini buat malu aja, ada nyonya muda juga masih aja berantem masalah antar mengantar, lebih baik kalian berdua saja berdua yang mengantarkan kopi juga camilan kepada para penjaga di pos, kasian mereka sudah menunggu, hanya karena pertengkaran kalian ini, sudah sana!" Ucap Ratih yang sudah terbakar emosi melihat kelakuan duo FY tersebut.
Seketika duo FY itu diam, dan langsung saja mendorong troli yang sudah berisikan beberapa gelas kopi dan camilan menuju pos penjaga tersebut.
"Maaf nyonya, nyonya harus sampai melihat keributan yang dibuat sama duo FY itu, maklum mereka kalau sudah on pasti sukanya ributin yang gak jelas," Ucap Ratih dan Bibi Nam menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan ucapan Ratih tersebut.
"Benar Nyonya, kelakuan duo FY itu buat sakit kepala kalau dekat mereka, ini saja masih pagi sudah buat masalah. Apalagi kalau menjelang siang, gak tau lagi Bibi, Nyonya."
"Hahaha, aku malahan lucu melihat mereka seperti itu, jadi suasana gak terlalu tegang. Oiya, Bibi masak apa? Gadis bantuin apa, nih?" Ucapnya menyodorkan dirinya untuk terlibat dalam membuat sarapan pagi hari ini.
"Bibi masak nasi goreng berbagai bawang tanpa kecap permintaan tuan muda semalam, Nyonya."
Seketika Ratih menahan untuk tidak mengeluarkan suara ketawanya.
"Astaga, nyonya muda kadang-kadang polos sekali, masa iya masak nasi goreng gak pake garam yang ada rasanya hambar, yang ada tuan muda ngamuk besar pagi-pagi, dilempar semua yang ada di meja makan, gak kebayang deh." Gumam Ratih dalam hatinya.
Bibi Nam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ia bingung mau marah, kesal atau apalah, ia sangat bingung dengan kepolosan sang nyonya mudanya itu.
"Garam harus dong, Nyonya. Nanti yang ada hambar gak ada rasanya itu nasi goreng." Jawab Ratih dengan sudah menetralkan ketawanya dan ia juga melihat gelagat Bibi Nam yang sulit menjelaskan pada nyonya mudanya itu.
"Syukurlah, untung saja Ratih langsung sigap jawab, aku gak habis fikir dengan kepolosan nyonya ini, hufffft." Keluh Bibi Nam dalam hatinya.
"Betul yang dikatakan Ratih, Nyonya. Nyonya mau disiapkan apa untuk menu sarapannya?"
"Ini saja saya makan, Bi? Terus Gadis bantu apa ini? Lalu kemana Mbak Susi dan Mbak Retno?"
"Baik, nyonya duduk saja di ruang makan, ini juga sudah mau selesai. Dan untuk Susi juga Retno mereka sedang memasak untuk sarapan di paviliun belakang, Nyonya."
"Oh, tapi Gadis mau bantu siapin sarapan, Bibi!" Masih dengan kekeras kepalanya Gadis mau membantu.
"Baik, nyonya bawakan ini saja." Dengan menyodorkan buah pepaya yang sudah dikupas kulit dan dipisahkan biji-bijinya.
"Ini juga permintaan tuan muda, Bibi?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Iya, Nyonya. Semalam Pak Githo disuruh ke supermarket malam-malam hanya untuk membeli pepaya dan buah lainnya."
"Aneh, dia mau meninggal kali, Bi. Makanya dia minta aneh-aneh," Ucap Gadis dengan tanpa sadar.
Seketika Ratih yang tengah mencuci perabotan masak pun sedikit menjatuhkannya tetapi untung tak menimbulkan suara gaduh.
"Astaga, nyonya muda." Ratih hanya bisa berucap lirih dan geleng-geleng kepala melihat dan mendengar secara langsung ucapan si nyonya muda yang tidak disaring dahulu.
Tak berbeda dengan Ratih, Bibi Nam juga terkejut dengan ucapan nyonya muda yang ada dihadapannya itu.
"God, jangan kau dengarkan ucapan nyonya muda kami ini, dia hanya tidak tahu saja, God." Doa Bibi Nam dalam hatinya.
"Bukan seperti itu, Nyonya. Tapi, tuan muda itu sedang mengalami....."
Deringan telpon masuk dari sudut dapur, yang mengalihkan atensi Bibi Nam, dan dengan terpaksa harus menghentikan ucapnya.
"Maaf sebelumnya nyonya, Bibi angkat telponnya dulu," Bibi Nam segera mengangkat telpon, sedangkan Gadis meninggalkan dapur sembari membawa nampan berisikan buah pepaya yang segar dan juga dingin.
Tak berbeda jauh dari nyonya mudanya, Ratih melanjutkan acara cuci perabotan tanpa mau memikirkan lagi ucapan sang nyonya muda itu.
...~...
Ruang Makan
Ia menata nampan yang berisikan buah pepaya yang segar dan dingin tersebut.
Di meja makan sudah ada teh hangat, ayam rebus dengan potongan paha saja, telur dadar dan sosis goreng.
Seketika Gadis menelan air liurnya, melihat semua yang tertata di meja makan membuat ia ingin segera menyantapnya.
"Enak sekali, sampai-sampai air liur ku kayaknya bisa turun ke lantai, enak banget. Apalagi ini wangi nasi goreng bawang yang kaya Bibi Nam berbagai bawang tanpa kecap, aduh enak banget! Aku jadi ngiler."
Di saat ia masih sibuk dengan menatap makanan yang menggugah selera makannya, tiba-tiba saja ada sepasang tangan besar yang sudah bertengger di pinggang kecilnya tersebut.
...~...
T4 update☺️
Kira-kira chapter ini sedikit apa banyak yah🤭
Semoga masih ada yang mau mampir, membaca dan meninggalkan jejak like koment☺️
T4 ucapkan terima kasih kepada semuanya, tanpa dukungan kalian T4 tidak akan sampai sejauh ini, awalnya mau sudahan saja buat novelnya karena memang buat novel ini iseng dan membuang waktu kosong T4 selama seminar online.
Jaga kesehatan, ikuti ProKes kalau bisa vaksin yuks!!☺️
HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘
__ADS_1