Kesakitan Sang Gadis Malang

Kesakitan Sang Gadis Malang
KSGM 51


__ADS_3

...LIKE DULU DONG!!!!...


...~...


Di waktu bersamaan, tepatnya di kamar utama si bos lantai 3.


Si bos tengah menepuk-nepuk ranjang yang disebelahnya, dengan mata yang masih memejam guna ia mencari keberadaan sang wanitanya, ketika tidak ketemu ia pun membuka matanya paksa dan mendapati disebelahnya tak ada orang.


"Kemana dia? Shi***t, aku ketangkap basah sama dia selalu memasukkan si lontong ke Goa miliknya. Bod***h bod***h," Keluhnya sembari mengacak-acak rambutnya.


"Lebih baik aku segera mandi, anggap saja tidak melakukan apa-apa dan juga anggap saja tak terjadi apa-apa, ya betul. Itu lebih baik." Hanya bisa bermonolog.


Ia pun segera bangun dari tidur nya dan dengan santai berjalan dengan keadaan telanjang polos dengan si lontong yang dapat dipastikan bergoyang-goyang kesana-kemari.


Seperti biasa ia masih mengenakan topeng kulit wajah bermotif tato itu. Walau tidak terasa nyaman, tetapi ia tetap memakainya guna melancarkan misinya tersebut.


Walau kadang terasa perih dan gatal, ia masih tetap bertekad memakai topeng wajah tersebut.


"Aku harus sabar, tinggal beberapa langkah lagi, topeng-topeng ini akan ku buang karena tidak akan ku perlukan lagi, tapi masalah ku tak cukup sampai disini, masih ada 2 orang lagi yang harus bisa ku kasih pengertian juga ku bujuk supaya mau mengiyakan semua permintaan ku ini, semoga saja mereka mau mengiyakannya."


Setelahnya ia segera menyegarkan tubuh dan fikirannya dengan mandi air dingin.


Hanya butuh beberapa menit tubuh si bos sudah terbalut dengan bathrobe, sebelumnya ia keringkan wajahnya terlebih dahulu lalu memakai kembali topeng wajah kulit tersebut selama seharian penuh.


Ia pun berjalan keluar menuju walk in closet, memilih kemeja beserta jas dan juga dasi yang ia gunakan.


Tak lupa juga sepatu pantofel dengan ujung depan yang sedikit lancip dan mengkilat berwarna hitam telah terpasang di kedua kaki kiri dan kanannya.


Si bos berkaca sebentar untuk melihat penampilannya.


Di walk in closet terdapat cermin yang tingginya melebihi tinggi badan si Bos, juga ada beberapa keperluan penunjang penampilan si bos mulai dari berbagai jenis parfum dan tak lupa minyak rambut si bos.


Di rasa penampilannya sudah rapi, juga rambut sudah ia beri minyak rambut alias pomede dan disisir sesuai belahan yang ia sukai.


Sebelum keluar dari kamar ia mengambil ponselnya terlebih dahulu yang sedang ia isi dayanya sejak malam, ia cabut dan meletakkan kembali kabelnya ditempat semula.


Ponsel ia masukkan kedalam kantung jas miliknya.


Ia pun bergegas keluar kamar dan menuju ruang kerja untuk mengambil tas kerja.


Tas sudah berada di tangan, ia menuju ruang tamu dan meletakkan tas tersebut.


Melangkahkan kakinya menuju ruang makan dan mendapati punggung kecil yang sangat ia hafal bentukannya.


Tanpa menunggu lama-lama ia segera memeluknya dengan erat.


Greb


"Pagi, honey." Sapanya sembari mengendus-endus aroma wangi tubuh yang melekat pada wanitanya tersebut, yang tak lain adalah Gadis.

__ADS_1


"A..aaa..aku sedang menata buah pepaya diatas meja," Jawabnya sedikit gugup.


"Sudah, sudah, kamu jangan membantu mereka, sudah tugas mereka menata dan memasak ini semua. Dan kamu hanya duduk diam saja. Aku tidak mau kau membantahku dan ikuti semua kemauan ku, mengerti!" Ucapnya tegas sembari membalikkan tubuh Gadis tepat menghadap dirinya.


Ia pun memberikan kecupan di kening juga di kedua pipi Gadis.


Menuntun Gadis untuk duduk, yang sebelumnya sudah ia tarik kursi tersebut dan mempersilahkan Gadis duduk dan barulah ia duduk juga.


"Bagaiman dengan tidurmu, honey. Nyenyak?" Tanyanya sembari tangan kirinya mengelus-elus tangan kanan Gadis.


Yang ditanya hanya bisa diam membisu disertai rasa gugup juga takut menjadi satu kesatuan.


Gadis hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya, ia belum berani menatap wajah laki-laki laknadd tersebut.


Seakan paham dengan gaya tubuh Gadis, si bos pun memakluminya. Tangannya masih mengelus tetapi sudah tidak di tangan melainkan di rambut Gadis.


Masih banyak lagi obrolan yang dikeluarkan oleh si bos dan Gadis hanya bisa diam juga hanya anggukkan kepala sebagai jawabannya.


Hingga Bibi Nam datang dengan membawa si primadona pagi ini yang tak lain nasi goreng bawang tanpa kecap tersebut serta sebotol minum ukuran 1liter sudah terisi air jeruk di dalamnya.


Tidak perlu ditulis berbagai bawangnya, kan! Kalian semua sudah paham pasti hehehe.


"Pagi, Tuan muda," Sapa Bibi Nam dengan tangan masih memegang mangkuk berukuran besar tempat nasi goreng serta sebotol berukuran 1liter tersebut.


"Pagi, Bi." Jawabnya, tangannya kini mengelus-elus tangan kanan Gadis.


"Silahkan, Bibi. Botolnya segera berikan ke asisten Roy, supaya tidak ketinggalan. Ah, sampai lupa saya, sama bilang ke dia bawakan tas kerjaku, sudah ku letakkan di ruang tamu,"


"Baik, Tuan muda,"


Bibi Nam pun segera meletakkan si primadona tersebut di tengah-tengah.


Tuan mudanya tengah mengambil buah pepaya dan sudah ia letakkan di piring kecil dan memotong-motong dengan ukuran yang kecil dan memakannya segera.


Sudah kebiasaan si bos jika memakan nasi sebelumnya harus memakan buah terlebih dahulu.


Sedangkan Gadis masih diam membisu tanpa mau bergerak mengambil hidangan didepannya.


Tak jauh berbeda Bibi Nam masih setia berdiri untuk melayani tuan dan nyonya mudanya tersebut.


Si bos sudah selesai memakan buah pepaya dan meminum air hangat yang sudah disediakan, kemudian ia melirik kearah Gadis.


Ia ingin sekali Gadis yang mengambilkan nasi goreng tersebut dan menuangkannya ke atas piring tersebut.


Namun apalah daya, Gadis masih tidak mengerti dan seakan-akan naluri tuan muda dan Bibi Nam tersambung kuat.


Bibi Nam menawarkan dirinya menyangka nasi goreng tersebut dengan isyarat dan dijawab oleh anggukan kepala si bos.


"Hufffft, dia masih tidak bisa melayani aku dengan baik. Apa aku harus segera mengikat dia secara resmi baru dia melayani aku dengan benar? Huffft," Keluhnya dalam hati.

__ADS_1


"Sabar, Tuan muda." Ucap Bibi Nam lirih tepat di telinga si bos.


"Bibi, segera kasih pada asisten Roy botol tersebut dan tas saya ada di ruang tamu. Jangan lupa sediakan asisten Roy minum juga camilannya!"


"Baik, Tuan. Maaf sebelumnya sudah Bibi buatkan nak Roy teh hangat juga beberapa camilan dan ia juga sudah santai di teras depan, Tuan. Bibi permisi mau antar botol ini."


"Silahkan, Bibi."


Si Bos pun segera memakan sarapan nasi gorengnya tanpa menghiraukan Gadis yang masih menuangkan nasi goreng pada piringnya.


Ada rasa kecewa di lubuk hati si bos, tapi itu semua juga tidak luput dari kesalahannya juga.


Akhirnya ia pun mengeluarkan suaranya.


"Makanlah, makanan jangan kau pandangi saja, aku tak akan marah jika kau makan sarapan hari ini, emm!" Ucapnya lembut dan kembali melanjutkan makannya.


Gadis pun segera mengambil nasi goreng tersebut dan menuangkan ke atas piringnya dengan sangat banyak.


Si bos hanya bisa menggelengkan kepalanya saja tanpa mau bersuara.


"Dia itu lapar apa doyan, nasi goreng dia ambil dengan banyaknya, sampai-sampai piringnya saja tak kelihatan lagi. Badan kecil tapi makan banyak, untung sayang!" Gumamnya dalam hati.


Hingga beberapa menit si bos sudah menyelesaikan sarapannya dan hendak berpamitan dengan Gadis, sedangkan Gadis hingga beberapa suap saja pun akan selesai.


"Aku berangkat kerja dulu, kau tak usah mengantar ku sampai depan. Habiskan saja sarapan mu. Ingat! Jangan pergi ke hutan bagian utara itu lagi, juga kau harus selalu ditemani oleh Bibi Nam. Jika sampai aku menerima kabar seperti kemarin lagi. Jangan harap Bibi Nam bisa kembali bekerja disini tanpa ku bayar gajiannya sepersen pun juga para pekerja yang bertugas pada sift saat kau menghilang. Sama bernasib dengan Bibi Nam dipecat dan tidak ku berikan gaji pada mereka sepersen pun. Ingat itu!" Ucapnya dengan tegas.


Gadis hanya bisa menunduk sembari mencengkram kuat sendok yang ada di tangannya.


Tanpa menunggu persetujuan Gadis, si bos menarik Gadis kedalam pelukannya. Dengan otomatis Gadis melepaskan sendok nya dan terdengar suara sendok yang terlempar keatas piring.


Prang


Di peluknya Gadis, ia hirup aroma tubuh Gadis dalam-dalam supaya ia semangat dalam bekerja.


Kemudian si bos dan Gadis bertatap tanpa aba-aba ia pun mencium bibir Gadis secara lembut juga dengan durasi yang lumayan lama.


Dirasa pasokan oksigen Gadis berkurang, si bos pun segera menyudahi ciuman tersebut.


"Baik-baik di rumah, honey. Cuup." Kecupan terakhir di kening Gadis ia berikan.


Ia pun berjalan dengan santai menuju asisten Roy, sedangkan Gadis masih diam terpaku dengan semua itu.


Seakan-akan ia bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, hanya bisa diam dan pasrah.


...~...


Makasih masih mau mampir, membaca dan meninggalkan jejak like koment☺️


HEPİNİZİ SEVİYORUM😘😘

__ADS_1


__ADS_2