
Zia sekarang lebih banyak melamun, sudah terhitung 3 hari dari hari pemakaman Farhan. Rindu sudah pasti.
"Ma, Mama" Panggil Saf
"Eh iya nak. Uda pada siap semuanya?" tanya Zia
"Kami sudah siap dari tadi ma, tapi mama seperti tidak sadar kami menunggu mama." Keluh Saf lagi.
"Ma hayuk, kata mama semalam mau jumpa ayah. Aif kangen ayah ma. Kenapa kita gak diajak kesurga sama ayah ma? kapan ayah balik lagi ma?" Tanya Aif
"Maaf kan mama ya sayang, mama kebanyakan melamun, Aif ayah uda sama Allah. Ayah sekarang tidak disini nak tapi ayah pasti selalu ada dihati Aif, mendoakan Aif, menyayangi Aif dari surga."
"Tapi Aif kangen ayah ma." Isak Aif, semenjak beranjak malam setelah pemakaman baru ini Aif bertanya ayahnya, mungkin dia sudah merasakan kangen akan sosok ayah yang ada biasa di sekitar rumah. Apalagi tadi pagi keluarga sudah pada pulang ke rumah masing-masing. Hingga rumah kecil ini lebih terasa kosong lagi.
"Aif gak boleh nangis, ntar ayah sedih loh. Aif mau ayah sedih?" Pertanyaan Zia hanya dijawab gelengan kepala oleh Aif.
Saf yang melihat bagai mana Zia membujuk Aif juga ikut tersedih. Bukannya dia tidak tahu atau mendengar setiap malam saat semua terlelap Zia menangis dalam keheningan terkadang terdengar suara yang ditahan pakai bantal agar tidak terdengar sedang menangis.
Saf tahu itu karena dia suka terbangun saat mendengar ada suara isakan yang tertahan. Mamanya yang pura-pura kuat dan tersenyum dihadapan mereka ternyata sangat rapuh sekali.
__ADS_1
"Adek Aif tahu gak? Kemarin Bunda di ngaji kakak cerita. Kalau orang tua kita disurga bakal sedih kalau kita sedih dan bahagia jika kita bahagia. Adek Aif gak boleh nangis lagi, adek Aif harus rajin ngaji dan hapal Alquran biar ayah disana bangga sama adek. Ntar adek bisa kasih mahkota di kepala ayah kalau adek hapal alquran." Bujuk Saf
" Bener kak ntar Aif bisa kasih ayah mahkota? Tapi Aif takut ayah masuk neraka karena Aif nakal." Aif tiba-tiba nangis histeris.
"Siapa yang bilang gitu?" Tanya Saf
"Bang Muaz bilang, Aif nakal ayah masuk neraka."
"Ayah sekarang ada disurga kok Aif, karena adek kan sering doai ayah, kirim bacaan surah ke ayah, adek juga udah pakai hijab. Itu uda bakal bantu ayah masuk surga." Jelas Saf
"kalau gitu Aif gak mau sedih lagi, Aif harus pinter ngaji dan rajin doain ayah. Aif juga bakal terus pakai hijab biar ayah gak diseret ke neraka." Semangat Aif
"Itu baru adek kakak. Bareng kita biar bisa jadi anak sholeh. Tos dulu kita dong." Pinta Saf.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas, Zia dan anak-anak datang berkunjung mas. Maaf baru hari ini kami datang. Jujur Zia belum sanggup gak ada mas disamping Zia. Tiap malam Zia rindu pelukan mas, candaan mas bahkan Zia rindu mas buat kesel Zia.
Zia akan berusaha kuat mas. Doakan ya mas hati Zia kuat. Mas disana jangan sedih dan khawatir karena kami disini akan selalu bahagia dan mendoakan mas. Anak-anak juga kangen sama mas. Kehangatan mas akan selalu kami rindukan terutama kisah kita yang takkan terlupakan." Ucap Zia didekat nisan Farhan dengan suara pelan tidak mau anaknya bersedih.
__ADS_1
"Ma, kakak uda berdoa buat ayah. Adek gimana? Saf menanyakan adeknya sudah selesai apa belum.
"Sudah kak." jawab Aif
" Ya sudah, ayo kita pulang. hari juga sudah mendung takut ntar kehujanan. Biar gak kesorean juga sampai rumah" Ajak Zia sama anak-anaknya.
Merekapun bangkit meninggalkan kawasan pemakaman.
"Sampai jumpa lagi mas.. Kita pasti bakal bertemu dan berjumpa lagi." ucap Zia dalam hati
Sesaat menunggu taksi Zia seperti melihat seseorang..
"Dia kan...?" Sambil Zia mengingat lelaki itu tapi dia tidak mau menebak, ngapai dia disini? Mungkin dia salah orang.
"Kenapa ma?" Tanya Saf
"Gak apa-apa nak. Ayo masuk kita pulang." sahut Zia
#happy reading#
__ADS_1
#Semoga selalu semangat membacanya dears..#
#like,comment and vote ya biar makin keluar hayalan ni.ha ha#