
Happy reading
🍇🍇🍇
Zia dan anak-anak sekarang sudah dsampai di rumah. Zia merenung dengan semua kejadian yang ia lihat sendiri di sana tadi. Ia merasakan bagaimana dalam satu rumah terlihat sangat terpisah antara keluarga anak dan keluarga orang tua.
Saat makan malampun hidangan yang tersedia berbeda antara mereka, sungguh sangat miris hati Zia melihatnya.
Kekayaan dan kemewahan yang sangat silau dari luar ternyata redup akan arti kebahagiaan kebersamaan didalamnya.
"Fanny..."
Zia teringat Fanny disana, ia tidak menyalahkan Fanny ataupun benci dengan Fanny tapi yang ada rasa iba, Zia merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan Fanny kesedihan yang mendalam yang ia tutupin dan seperti ada sesuatu yang mengganjal tapi Zia gak tahu itu apa...
Jika yang lain berharap Zia bisa dilihat baik sendiri, Zia tidak mau itu, ia mau Fanny juga bisa berubah suatu saat...
"Bukankah semua terjadi ada sebabnya?" Ya, Zia yakin Fanny seperti pasti ada sesuatu yang membuatnya melakukan itu..
"Sudahlah, kalau dipikirin sekarang gakkan selesai, lebih baik tidur."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hua...Mama..mama..." Icha menangis memanggil mamanya..
"Kenapa sayang?"
"Hiks..Hikss...Mama ok ndak da.."Icha masih menangis mencari mamanya...
"Mama pergi kerja tadikan sama Abi?"
"Benekhan..?"
__ADS_1
"Iya ini kan hari Senin."
"Itha upa oma,, Itha impi adi mama eghi auh.." Icha masih tersedu dalam sisa tangisnya.
"Mamakan kerja, memang biasa pergi jauh kan? Jadi jangan sedih lagi." Icha menganggukkan kepalanya
Di kantor advertising sedang disibukkan dengan persiapan periklanan, Fanny yang biasa sangat sibuk dan antusias setiap semua hal yang ia kerjakan tapi kali ini ia merasakan kehilangan semangat, Fanny meminta waktu untuk menyegarkan pikirannya kembali.
Disinilah Fanny sekarang disebuah caffe shop, duduk melamun seorang diri sambil menikmati kopi pahit pesanannya. karena masih pagi terlihat Fanny hanya seorang diri disana.
"Hei Fanny melamun aja."
"Dena? Sudah lama gak ketemu. Duduk sini bareng gue."
"Iya, gue kan kemarin ikut suami gue tinggal diluar negeri sambil sekolah balik disana dan ini gue baru balik kesini lagi..."
Dena adalah sahabat Fanny dari SMA sampai kuliah mereka sangat dekat hingga apapun tidak mereka tutupin.
"Oke, selagi gue disini..Loe cerita dulu hidup loe sama gue.." Bukan tanpa sebab Dena bertanya seperti itu, ia merasakan ada sesuatu yang balik menyerang sahabatnya..
"Gue gak bisa kalau semua tidak sesuai yang gue mau Dena?! Gue gak mau jadi kayak ibu gue yang lemah ditindas mertuanya karena ibu hanya anak orang biasa dan tidak bisa apa-apa dan gue harus bahagia Dena, semua harus tahu gue bisa,
Gue..gue gak mau dikucilkan, gue benci mereka Dena,,gue benci mereka. Mereka tidak menyukai gue dan ibu gue, mereka menyiksa ibu gue Dena,.karena mereka semua ibu gue jadi gila ..Gue benciiii!! Mereka pasti mau membuat gue seperti itu, gue tidak lemah Dena! Loe tahukan gue kuat, iyakan?!"
"Ahhhh!!! "Tiba - tiba Fanny berteriak histeris tak terkendali sambil memejamkan matanya erat.
"Fanny...Fanny" Dena bangkit langsung memeluk Fanny "Tenangkan dirimu Fanny, tarik napas pelan-pelan. Ingat semua udah usai, loe sudah bahagia, buang napas berlahan, sudah tidak ada mereka buka mata loe berlahan Fanny..."
Fanny membuka matanya berlahan ia langsung memeluk erat Dena dengan kuat,
"Gue kenapa Dena? Gue gak mau kayak dulu lagi..Gue masih sehatkan Dena? Gue sudah sembuhkan Dena? Hu..hu..hu.." Fanny terus menangis dipelukan Dena.
__ADS_1
Inilah kenapa Dena sekolah lebih dalam lagi di bagian psikologi, ia ingin menyembuhkan sahabatnya,,sahabat yang paling ia sayangin.
"Apakah loe pernah ke psikiater lagi?" Fanny menggeleng dalam pelukan Dena " Apakah loe masih mengkonsumsi obat seperti dulu?" Fanny menggelengkan kepalanya lagi. "A..apakah loe mulai menusuk-nusuk boneka yang dulu pernah papa loe belikan?" Fanny menganggukkan kepalanya.
"Ya Allah Fanny." Dena kini ikut menangis memeluk sahabatnya, kenapa penyakitnya kambuh lagi....
"Loe harus berobat lagi Fanny, loe sudah kehilangan kendali diri loe lagi sayang..."
"Co..coba loe ingat,sejak kapan ada tanda- tanda ketakutan,marah dan was-was itu datang?"
"Sejak gue nikah Dena, sejak awal gue nikah. Gue pikir dengan nikah, gue tambah bisa melupakan semuanya tapi bayangan itu selalu datang Dena, Gue takut jika gue nurut gue bakal jadi kayak ibu gue... Gue benci mereka Dena karena mereka Gue kayak gini,,," Fanny terus menangis tiada henti hingga air matanya lelah berderai....
"Tenang,sekarang gue uda disini, loe harus tenang...gue harus bicara sama suami loe, dia berhak tahu keadaan loe."
"Ja..jangan Dena...Plis jangan... Gue gak mau mereka merendahkan gue atau sampai mas..mas Abi jadi takut sama gue...Gue benci sama diri gue sendiri kalau sudah hilang kendali Dena, bagaimana dengan mereka? Plis Dena gue gak mau mereka tahu.."
Fanny terus memohon pada Dena agar Abi dan keluarganya tidak tahu keadaan ia sekarang.
"Tapi loe harus janji ke gue, loe harus berobat jalan lagi. Gue akan bantu loe.." Dena menangkupkan kedua tangannya dipipi Fanny. Fanny mengangguk pasrah ia tidak mau sampai gila seperti ibunya.
"Gue ada permen, loe makan jika loe merasa hati loe mulai gundah atau ingin bertindak sendiri, tapi ini tidak bisa sering loe konsumsi loe harus sembuh Fanny."
Fanny menerima obat dari Dena dan menyimpan ditas sampingnya.
"Sekarang apa loe yakin nyuruh Abi nikah lagi? itu bukan karena emosi sesaat loe kan?"
"Awal ketemu Zia, Gue ngerasa Zia berbeda dia bisa membawa kebahagiaan, gue tulus ingin mas Abi bahagia Dena mas Abi sangat baik, Gue masih ingin gapai impian gue..tapi gak tahu kenapa sekarang diri gue seperti hilang kendali dan langsung marah saat semua tidak terjadi seperti ingin gue..."
"Ketakutan gue makin menjadi saat tiba-tiba pikiran gue mulai berkhayal kejadian buruk yang akan terjadi jika semua tidak seperti mau gue, pikiran gue tidak mau berhenti memberikan pikirannya yang buruk Dena."
"Loe hanya belum nerima yang sudah lalu Fanny, loe belum bisa melupakan dia juga kan?".....
__ADS_1
#Kasian Fanny dia ternyata depresi berat#
#bantu like,comment and vote ya dears#